
"Boleh... memangnya ada aturan tidak boleh ngomong kangen?" Seruni balik bertanya pada Shaka.
"Bukan begitu, Ser. Kalau aku bilang kangen sama kamu, boleh tidak? Ada yang marah tidak?" Shaka menatap Seruni dengan tatapan mengandung umpan.
Seruni buru-buru mengalihkan pandangan matanya. Takut hatinya tidak kuat menahan pesona Shaka. Karena melihat Shaka, selalu mengingatkan Seruni pada sosok ayahnya diwaktu muda.
"Kok tidak dijawab sih?" Shaka menepuk pelan lengan Seruni.
"Tidak ada yang marah, Bang. Bilang kangen boleh. Asal tidak nyuruh aku ngomong, aku juga kangen, Bang. Jangan! Karena aku belum sempet kangen, Abang sudah muncul lagi." Seruni menjawab dengan sedikit candaan.
"Kamu bisa saja. Mau cek barang pesananmu sekarang atau nanti?" tanya Shaka sembari mengamati kaki Seruni yang bengkak dan memar.
"Nanti saja, Bang... Abang baru sampai, nanti capek."
"Ini kenapa? Kok bisa begini? Sakit tidak?" Shaka berjongkok dan melihat keadaan kaki Seruni lebih dekat.
"Ini sudah mendingan jauh. Berkat Bang Sayaka." jawab Seruni sembari menunjuk Sayaka yang kebetulan lewat di depan mereka, membawa clurit, hendak mencari rumput.
"Hati-hati Bang Sayaka, Semangat!" teriak Seruni sembari melemparkan senyum terbaiknya.
"Terimakasih, Ndhuk. Pasti semangat. Beberapa hari lagi Siti akan lahiran, tambah anak semakin banyak makanan yang harus dicari. Ya sudah saya berangkat dulu. Permisi Pak Shaka," pamit Sayaka langsung berbalik badan dan berjalan menjauhi Shaka dan Seruni begitu saja.
Pernyataan Sayaka barusan, menyisakan pertanyaan besar pada benak Seruni. Tentang sosok Siti dan anak-anak yang dimaksud Sayaka. Sepengetahuannya, Sayaka belum menikah, apalagi punya anak. Seruni akan bertanya pada Bu Sajad nanti.
"Kita masuk saja, Bang!" Seruni mengajak Shaka masuk ke dalam rumah.
Shaka mengangguk setuju sembari mengikuti langkah kaki Seruni yang pelan karena kakinya belum pulih benar.
"Kok, Sayaka manggil kamu, Ndhuk?" Shaka memberi pertanyaan dengan wajah curiga.
"Kan Seruni iki wong jowo mas, nek umure luwih enom, yo ditimbali Ndhuk. Nek luwih tuwo yo ditimbali Mbak. (Seruni ini orang jawa, mas. Kalau lebih muda dipanggil Ndhuk, kalau lebih tua dipanggil Mbak)." Seruni mencari alasan setepat mungkin.
Shaka mengangguk mengerti, dia paham betul bahasa jawa. "Besok ada praktek,Ser?" tanyanya.
"Mau nata barang-barang yang nitip sama Abang di puskesmas. Tapi rencananya sih tidak semua di letakkan di sana. Karena sepertinya banyak yang tidak menyukai keberadaanku di sini. Jadi, biar yang penting-penting disimpan di sini saja. Buat jaga-jaga kalau ada yang nekat." Seruni sedikit berbisik saat mengatakannya.
Shaka menatap penuh kekaguman pada Seruni. Kecantikan, kebaikan budi, kecakapan dan kecerdasan, semua ada di sana. Setiap manusia tentunya memang memiliki kekurangan. Namun, sampai saat ini Shaka belum menemukan hal itu pada Seruni.
"Silahkan diminum kopinya, Nak Shaka" Bu Sajad meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja.
"Terimakasih, Bu," ucap Shaka.
"Ibu tinggal ke belakang sebentar. Pak Sajad masih rapat melalui video sama orang kabupaten, karena mau ada pembangunan jalan katanya," jelas bu Sajad tanpa diminta.
"Video conference?" Seruni menegaskan maksud Bu Sajad pada Shaka dan dijawab hanya dengan sebuah kedipan mata yang sangat lembut dari laki-laki itu.
"Aku disini lama, Mau tidak aku ajak keliling pelosok-pelosok Dusun ini?"
Mendengar pertanyaan sekaligus ajakan Shaka membuat mata Seruni seketika berbinar. "Tentu saja mau, dengan senang hati."
"Besok setelah kamu selesai di puskesmas, ya. Bawa alat-alat standart pemeriksaanmu, obat dan vitamin. Perjalanan seru harus dimulai, jangan disia-siakan dan mari kita membuat kenangan," Shaka begitu bersemangat.
"Cantik," puji Shaka dalam hati.
Tidak berapa lama kemudian, Bu Sajad mengajak Seruni dan Shaka untuk makan. Pak Sajad pun sudah bergabung bersama mereka. Setelah makan siang bersama, Shaka dan Seruni kompak menurunkan barang-barang pesanan Dokter cantik itu dari mobil Pak Mayor.
"Akhirnya beres juga." Seruni meregangkan badannya yang lumayan lelah karena barang pesanannya ternyata cukup banyak.
Seruni tampak meneliti beberapa barang, banyak yang jumlahnya lebih dari yang tertulis dipesan yang dikirimkan olehnya. Termasuk memeriksa motor matic baru yang akan digunakannya sehari-hari.
"Bang, ini kok jumlahnya lebih banyak ya. Antibiotik, obat flu, vitamin dan susu bayi?" Seruni terus mengulang meneliti tulisan diponsel dengan barang yang ada di sana.
"Sengaja dilebihkan. Karena itu akan cepat habis dan berguna di sini. Makanya, aku bilang. Petualangan dimulai besok." Shaka menjawab dengan santai.
"Jadi aku kurang berapa bayarnya?" Seruni melihat saldo tabungan di layar ponselnya. Sudah menipis.
"Tidak perlu. Cukup periksa aku saja sekarang. Sepertinya aku sedang demam," pinta Shaka tiba-tiba.
Seruni langsung menempelkan punggung tangannya di kening Shaka lalu di tengkuk lehernya. "Tidak panas, Bang. Coba Bang Shaka berbaring di situ." Seruni menunjuk kursi panjang di ruang tamu. Shaka menurut saja, dan langsung berbaring dengan pasrah.
Seruni mengambil stetoskop di kamarnya lalu digunakan itu untuk memeriksa Shaka, "Normal lho, Bang."
Dokter itu kemudian menghitung denyut nadi Shaka dan dalam kondisi normal juga. "Bang Shaka, semua normal ini."
"Benarkah? Padahal aku merasa Demam." Shaka tetap pada pendiriannya.
"Apa yang Bang Shaka rasakan?" tanya Seruni, antara heran, khawatir dan juga curiga.
"Lemes, Ser. Kakiku seperti tidak bertulang. Mau melangkah rasanya berat. Pikiranku tidak fokus, seperti sedang mengalami halusinasi. Sejauh mata memandang, hanya satu bayangan yang berhasil aku tangkap." Shaka beringsut berdiri perlahan.
Seruni mulai tau arah pembicaraan Shaka. "Dasar, modus. Bilang saja jablay," ledek Seruni.
Shaka terkekeh. "Lagian, kamu jadi perempuan tidak peka sekali."
Seruni mendengus kesal sembari mencebikkan bibirnya.
"Aku mau ke camp perbatasan dulu. Besok aku jemput kamu jam berapa?" Shaka bertanya sembari menatap Seruni penuh arti.
"Jam sepuluh saja, Bang. kita naik apa?"
"Naik motor. Pakai motor dari tempatku saja. Aku pamit dulu. Jangan kangen. Besok kita masih ketemu lagi." Shaka terus menggoda Seruni.
"Bang... pernah ditimpuk Dokter belum sih?" Seruni pura-pura kesal.
"Sering, Ser. Dokter militer lebih galak daripada kamu." Shaka berjalan ke belakang mencari keberadaan Pak Sajad dan Bu Sajad yang sedang bergantian mewarnai rambut mereka yang sudah beruban.
Shaka pun langsung pulang begitu selesai berpamitan dengan Bapak dan Ibu Sajad. Bersamaan dengan itu, Sayaka datang dari merumput. Seruni mengikuti Sayaka dari belakang, karena tidak tahu kalau di balik penggungnya ada perempuan yang selalu membuatnya deg-degan, Sayaka langsung memutar tubuhnya tanpa permisi, membuat Seruni oleng, karena rumput yang diangkat di atas kepala Sayaka menampar wajahnya dengan sempurna.
Seruni hilang keseimbangan, tubuhnya oleng ke samping, Anehnya saat jatuh. Seruni merasakan benda yang empuk menyambutnya. Pantas saja meski jatuh terhuyung dengan posisi tengkurep, dia tidak merasakan sakit.
"Ndhuk!" Teriak Sayaka, terlihat sangat khawatir.