SERUNI

SERUNI
BAB 55 Kamar Yang Dingin



Seruni masuk kembali kedalam kamar kostnya,Pak Salam saat itu tengah duduk selonjoran di atas tempat tidur.


"Dia sudah pulang?"Tanya beliau kepada putrinya yang duduk di dekatnya.Seruni mengiyakan,wajahnya menampakkan gurat keraguan.


"Kenapa??Apa ada yang kamu pikirkan nak??"Tanya Pak Salam lembut.


"Seruni bingung Pak"Jawab Seruni dengan pandangan melantai.


"Tidak usah bingung,kamu pasti lebih tahu siapa yang terbaik diantara mereka?"


"Seruni enggan Pak untuk menyakiti hati diantara mereka, jujur... Seruni tidak tega menyakitinya Pak"


"Tapi kamu wajib memilih, jika tidak.... kamu harus menjauhkan diri dari mereka"


Gadis itu terdiam, Ia sungguh dilema.


"Seruni harus ke mana Pak?"


Pak Salam menatap putrinya penuh kasih.


"Boleh Bapak bertanya?"


Seruni menjawab dengan anggukan kepala.


"Siapa di antara mereka yang Seruni sayang?"


DEGH!!


Pertanyaan Pak salam membuat degup jantung Seruni seakan berhenti.Kepalanya menggeleng lemah.Bulir air mata mengalir perlahan di kedua belah pipinya.


"Jika saja Seruni bisa jujur, Seruni masih sangat mencintai Tuan Muda Pak.Tapi dia sudah beristri"


"Lalu kenapa kamu menerima cinta yang lain?"


"Pak Bos sangat baik sama Seruni, dia juga perhatian sama Seruni.Entahlah Pak?"


"Sepertinya dia serius ingin melamar kamu? kalau nanti benar kamu menikah dengan dia sedangkan hatimu masih mencintai orang lain, gimana?"


"Seruni pasrahkan aja sama Allah Pak... Seruni sendiri bingung"


Pak Salam menghela nafas panjang, Ia seperti mati akal.


___


Dengan semangatnya,sepulang dari tempat kostnya Seruni.Leo langsung bersiap-siap menuju rumah orang tuanya.Sudah lama Ia tidak pergi mengunjungi orang tuanya, sejak Ia memutuskan untuk keluar dari rumah itu.Dia tidak pernah datang lagi,meskipun hanya sekedar mengunjungi ibunya.


Saat Leo baru saja sampai di halaman rumah orang tuanya, ia sedikit gugup dan detak jantungnya berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya.Tapi ia harus bisa mendapat restu orang tuanya.Karena ia sudah memantapkan pilihan kepada Seruni,gadis yang tidak begitu lama ia kenal.


Setelah menghela nafas beberapa kali,Leo mulai menekan bel di sisi pintu.Tak perlu menunggu lama,daun pintu terbuka perlahan.


"Leo"Seru seorang wanita tua yang masih berpenampilan modis tersenyum tak percaya.


"Mama"Jawab Leo penuh sebak di dada.Ny Nila merenggangkan kedua tangannya,Leo langsung berhambur memeluk sang Ibu.Diciuminya pipi Leo penuh kerinduan oleh Ny Nila.


Dibingkainya wajah sang putra dengan tatapan penuh kasih.


"Kenapa Leo tega sekali meninggalkan Mama?"Ucapnya Lirih.


"Maafkan Leo Ma"Laki-laki itu langsung hilang kejantanan nya,air matanya mengalir penuh sesal.Ny Nila menghapus air mata yang membasahi pipi putranya dengan kedua ibu jarinya yang mengerut.


"Papa mana?"Tanya Leo ingin segera menemui sang Ayah.


"Ada ada..ayo masuk"Ny Nila menarik tangan putranya, menuntunnya masuk ke dalam.


"Pa...Leo datang"Seru Ny Nila masih dengan rona kebahagiaan.Leo langsung menghampiri sang Ayah yang menatapnya tanpa ekspresi.Pria itu berlutut di kaki ayahnya,menciumi tangan sang Ayah yang bertumpu pada sebatang tongkat penyangga tubuh.


"Tahu juga kamu pulang?"Suara Tuan Baya datar dan mendalam.Jika seorang tidak mengenalnya pasti akan langsung menilai pria yang sudah berumur ini sangat sadis dan kejam.


"Maaf kan Leo Pa"Leo tertunduk dengan tubuh masih bersimpuh.Ia tidak berani untuk bangkit sebelum Ayahnya memberi perintah.


"Pa...ijinkan Leo bangun,lantainya dingin loh.Kasihan dia"Timpal Ny Nila yang memang sangat menyayangi putra bungsunya.


"Katakan dulu apa maunya datang kemari?Jika tidak ada yang ia mau dari kita,tidak mungkin anak nakal ini menemui kita Ma"Jawab Tuan Baya.


"Tapi biarlah dia duduk di kursi dulu Pa"Nya Nila tidak mau mengalah.


"Katakan apa tujuan mu datang?"Sambung Tuan Baya.


"Emmm Leo mau menikah Pa"Jawab Leo dengan keberanian yang ia kumpulkan.


"Dengan gadis itu?"


Leo menggeleng


"Dengan gadis lain"


Tuan Baya berdehem beberapa kali,menekan rasa gatal di tenggorokannya.


"Papa hanya ingin Riris yang menjadi menantu Papa"Jawab Tuan Baya kemudian.


"Tapi Leo tidak mencintai nya Pa"


"Cinta saja yang kamu utamakan,tidak kah kau ingin berbakti kepada orang tuamu?"


"Pa,,, Leo akan menuruti segala keinginan Papa asal jangan urusan jodoh.Leo ingin menikah dengan orang yang Leo cintai"


Tuan Baya menatap anak mata putranya.Disana terpancar kesungguhan hati si anak bungsunya.


"Kau harus mengurus perusahaan setelah ini"


Leo berbinar mendengar ucapan sang Ayah.


"Jadi Papa setuju?"Tanyanya masih kurang yakin.Ny Nila memegang pundak putranya.Beliau juga turut bahagia mendengarnya.


"Kapan kamu akan membawanya kesini?"Tanya beliau masih dengan nada tegas dan mendalam.


"Secepatnya Pa"Jawab Leo yakin.Tuan Baya mengangguk pelan.Ny Nila memeluk putranya penuh haru.Akhirnya suaminya bisa searah dengan putra bungsu mereka.


...----------------...


Roy tidur terlentang dengan berbantal dua lengannya yang terlipat dibawah kepalanya.Dalam pikirannya merangkai rencana bagaimana caranya agar tujuannya cepat tercapai.Ia tidak bisa lagi jika harus menanggung derita jauh dengan Seruni.


Hanya karena statusnya yang sudah beristri membuatnya akan kehilangan gadis yang ia cintai.Ia tidak bisa akur dengan takdir jika itu harus terjadi.Apapun caranya,ia akan menghalalkan asal ia bisa memiliki Seruni.


Helaan nafas panjang membumbung menggapai angannya.Hanya tinggal menunjukkan kepada publik kelakuan istrinya agar ia bisa menghancurkan mereka.Setelah itu ia tinggal memohon perceraian kepada Pengadilan Agama Pusat.Roy rasa itu akan mudah,karena bukti sudah ada ditangannya.


Tok tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar membuyarkan semua angan yang tercipta.Roy melihat ke arah pintu tanpa bergeming.Apakah Sherly yang mengetuk pintu?Untuk apa dia masih datang ke kamarnya?Bukankah ia sudah punya kamar pribadi dengan selingkuhannya?


Ganggang pintu bergerak ke bawah dengan sangat pelan,lalu daun pintu terbuka perlahan.Roy mengamati semuanya,sampai kepala Sherly menyembul diantara sela pintu.Wanita itu tersenyum begitu tahu Roy sedang menatap lurus ke arahnya.


Dengan malu-malu Sherly masuk dan menutup pintu dengan rapat dibalik punggungnya.


"Kamu belum tidur?"Sapanya dengan langkah mendekati tempat tidur.Roy diam tak menjawab, Sherly duduk di bibir kasur menghadap suaminya.


"Aku kangen kamu Roy"Bisiknya sambil membelai dada bidang yang terhampar milik laki-laki yang ia cintai.Roy menepisnya dengan kasar.


"Bukankah disana sudah ada selimut bernyawa yang menghangatkan mu"Ketus pria itu sinis.


"Aku tidak pernah mencintai Rafa,aku hanya mencintai mu Roy.Aku terpaksa bersamanya hanya untuk mendapatkan anak"


"Kenapa kita tidak cerai saja dengan baik-baik?dan kamu bisa bersama dengan Rafa dan kalian akan memiliki status yang jelas"Roy memberikan usulan meskipun itu hanya memanipulasi keadaan.


"Memangnya kamu sudah punya uang untuk membayar semua tanggungan Papamu?"Sherly tetap bersandiwara dengan rencananya.


"Apakah pengabdianku kepada perusahaan mu tidak bisa melunasinya?"


"Tidak!!"Sherly menggeleng cepat.Roy tersenyum sinis,ia benar-benar muak dengan istrinya itu.


"Roy,aku ingin kita membesarkan anak ini selayaknya seorang Ayah dan Ibu yang baik.Kamu mau kan?"


"Apakah kamu pikir aku sudi melakukannya?"


"Roy...kamu tidak punya pilihan"


Sekali lagi Roy tersenyum kecut.


"Pergilah jika kedatanganmu hanya untuk membuat mood ku kurang baik"Roy berbalik memunggungi istrinya.Sherly menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan.Ia bangkit dengan perasaan mendongkol lalu keluar dari kamar yang dulu pernah ia tempati bersama suaminya itu.Kamar yang dingin jauh dari kehangatan.