
Shakala menoleh ke arah Sayaka. Lalu tersenyum tipis begitu menyadari wajah pria di sampingnya tersebut tampak mengeluarkan keringat namun sedikit pucat. Ini bukan kali pertama dia menghadapi seseorang yang tidak nyaman berada di dalam lift. Shakala pernah mengalami hal serupa ketika dia mengajak dua orang pemuda pegunungan untuk mengikuti acara pelatihan di sebuah hotel di Lombok.
"Kalau kamu pakai tangga, sampainya bisa satu jam, Yaka." Shakala mencoba menenangkan Sayaka.
Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka, empat orang perempuan muda masuk ke dalam sana dan berdiri tepat di depan Sayaka dan Shakala yang reflek memundurkan badan mereka. Waktu terasa berjalan semakin lama. Pria tersebut menundukkan pandangannya. Celana hotpants sejengkal dari pinggul dan atasan model bolong yang memamerkan punggung putih mulus perempuan-perempuan di depannya itu sungguh bukan pemandangan yang biasa bagi Sayaka. Dia terus beristighfar dalam hati.
Akhirnya, sampai juga mereka di lantai 25. Sayaka sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya yang sedari tadi ditahan mati-matian. Mabuk pesawat belum usai, kini sudah ditambah mabuk lift. Sungguh Sayaka sangat merindukan kebun, sungai dan kandang ternaknya. Aroma therapy bunga Lavender yang menyambutnya begitu masuk ke dalam hotel, rasanya masih kalah menenangkan dengan aroma khas kotoran siti.
"Pak Mayor, saya belum dikasih kunci sama kakak resepsionis tadi. Saya kok lupa tanya juga tadi. Bagaimana ini kita masuknya?" Sayaka mulai kembali bingung. Saat dia menemui resepsionis dia hanya mengatakan sudah pesan kamar atas namanya. Dan setelah memberikan kartu Identitas, perempuan yang berjaga di sana hanya memberikan sebuah kartu bertuliskan 2569 kepadanya yang langsung dia berikan pada Shakala.
"Kunci apa, Yaka?" Shakala mengernyitkan keningnya sembari berhenti tepat di depan pintu kamar bertuliskan nomor sesuai card key yang dia pegang.
"Buat buka ini, Pak Mayor." Sayaka menunjuk gagang pintu yang berada di depannya. Sedikit bingung dengan hasil pengamatannya. Karena tidak ada lubang anak kunci yang dia dapati di sana.
"Oh ...." Shakala langsung menempelkan card key di sana. Lalu dengan santai pria tersebut memutar gagang pintu hingga membuat kamar tersebut terbuka lebar.
"Ini tempatmu beristirahat selama di Surabaya, Ka. Rupanya Seruni ingin membuatmu nyaman. Hotel ini termasuk hotel terbaik di sini," jelas Shakala dengan perasaan sedikit iri dengan keberuntungan Sayaka yang mendapatkan hati dan juga perhatian luar biasa dari Seruni.
Sayaka tidak menjawab ucapan Shakala. Dia masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Pria itu masih mencari-cari stop kontak listrik yang bisa membuat lampu di sana menyala.
Menyadari kebingungan Sayaka, Shakala pun segera ikut masuk. Memasukkan key card ke kotak kecil yang berada tidak jauh dari pintu. Seketika lampu dan pendingin kamar pun menyala.
"Ini otomatis, Yaka. Kalau lampunya terlalu terang atau kamu rasa ac terlalu dingin, kamu setel sendiri pakai remot itu." Shakala menunjuk dua buah remote yang ada di atas nakas samping tempat tidur.
Lagi-lagi Sayaka tidak memperhatikan arahan Shakala. Dia masih sibuk mencari toilet. Mual yang dirasakan semakin mendesak untuk dituntaskan. Matanya lalu tertuju pada sebuah bilik kaca yang baru dilewati. Semua yang ada di dalam sana bisa terlihat dengan jelas dari tempatnya berdiri sekarang. Sebuah bathup, set shower, toilet duduk dan satu wastafel. Sebuah ruangan yang cukup luas.
"Aku belum tekan krannya. Kenapa airnya sudah menyala," lirih Sayaka sambil bergidik ngeri membayangkan ada roh halus yang menjadi penunggu kamar hotel.
Shakala masih menunggu di luar. Sepertinya dia harus memberi tahu Seruni kalau saat ini dia tidak mungkin tega meninggalkan Sayaka sendirian. Bukan maksud menghina atau merendahkan, mungkin guesthouse sederhana jauh akan membuat Sayaka nyaman ketimbang hotel yang disediakan Seruni saat ini.
Di sisi lain, Subroto masih setia mendengarkan Seruni yang menceritakan pengalaman dinasnya dengan sangat bersemangat. Rasanya hampir tidak ada jeda untuk Subroto sekedar bertanya. Yang ada, pria tersebut hanya bisa menyunggingkan senyuman sebagai ungkapan rasa syukur. Berangkat dengan rasa luka dan hati yang remuk, setidaknya kali ini Seruni pulang membawa kebahagiaan. Soal jodoh pilihan yang masih mengganjal di hatinya, biarlah itu dibicarakan nanti secara perlahan.
"Kenapa Ayah bisa sama Bang Shakala? Apa Ayah menghubungi dia?" selidik Seruni, mulai beralih ke topik pembicaraan lain.
Subroto menganggukkan kepala. "Iya, Ser. Ayah ini cocok sama Shakala. Ngobrol sama dia itu nyambung. Serasa Ayah ini masih muda. Semangatnya mengingatkan Ayah ketika ditugaskan di daerah sebelum mengenal Ibumu. Masih panjang karier anak itu. Masa depan anak itu cukup terang benderang. Dan yang paling penting, dia memulai tanpa campur tangan ayahnya. Apa yang diraih Shakala sekarang, murni kerja keras dia yang tulus mengabdi pada negara," puji Subroto tanpa ragu.
Seruni mulai paham maksud sang ayah. Sebagai pria dengan latar belakang militer yang cukup mendarah daging, tentu dalam hati kecil Subroto mendamba dalam silsilah keluarga penerusnya ada juga yang menjadi seorang prajurit. Tidak mungkin dia menaruh harapan itu pada sosok Seruni karena dia seorang perempuan yang dalam didikan Subroto setinggi apa pun pendidikannya nantinya harus rela meninggalkan karier dan murni mengabdi pada suami.
"Ayah tidak berniat menjodohkan Bang Shakala dengan Seruni, kan? Ayah tau persis jawaban Seruni apa kalau memang niat ayah demikian. Tanpa mengurangi rasa hormat dan sayang Seruni sama Ayah, jodoh tetap Seruni yang pilih, Yah. Karena Seruni yang akan menjalani," ucap Seruni. Tegas namun tidak meninggalkan adab kesopanan.
"Niat ada, Ser. Malah sejak kamu berangkat tugas, Ayah sudah mempertemukan kalian dengan sengaja. Rupanya memang masih belum jodoh. Mau Ayah, memang belum tentu maumu. Ayah juga tidak akan memaksa. Yang menjalani kamu. Ayah cuman bisa berharap dan mendoakan. Siapa pun pilihanmu, itu yang terbaik untuk kamu. Bisa memahami dan mengerti ada tanggung jawab besar yang nantinya akan kamu ambil setelah Ayah ini tidak ada. Kehidupan kita tidak berhenti di kamu dan siapa pun suamimu nanti. Ayah meninggal, mau tidak mau kamu harus meneruskan usaha Ayah. Atau akan banyak keluarga yang kehilangan nafkah dari tulang punggung yang di PHK karena usaha kita tutup," jelas Subroto panjang lebar.
Seruni terdiam. Apa yang baru saja diucapkan ayahnya barusan, sedikit menggerakkan hatinya untuk berpikir. Mau tidak mau memang apa yang ada dia yang meneruskan. Sebagai anak semata wayang, dia bukan hanya harapan bagi Subroto, tetapi juga bagi ratusan karyawan.
"Ser, pikirkan baik-baik hubunganmu dengan Sayaka. Dia tidak mungkin meninggalkan daerahnya. Dan kamu pun nantinya yang juga harus kembali hidup di sini karena tanggung jawab dari Ayah," tekan Subroto.
Seruni tampak melamun. Untuk saat ini, dia tidak tahu harus menjawab apa.