
Mengetahui kedatangan Subroto dan Seruni, semua tamu yang tadinya duduk santai langsung berdiri menyambut kedatangan purnawirawan jenderal serta putri tunggalnya tersebut. Kedua orang itu pun membalas ramah satu per satu sapaan sembari meminta mereka kembali duduk.
Ekor mata Seruni sesekali melirik ke arah Sayaka yang tampak jelas ketidaknyamanannya berada di tengah-tengah mereka. Menyadari hal tersebut, Seruni mencari celah agar bisa membawa kekasih hatinya itu menjauh sejenak dari sana. Seruni masuk ke dalam terlebih dahulu, seketika ide muncul begitu dia melihat seekor kelinci di taman samping rumahnya. Dia pun segera lalu ke ruangan di mana Sayaka berada.
"Permisi." Dengan santun Seruni menjeda sejenak obrolan yang tengah dilakukan di sana. "Maaf Bang Sayaka, mau minta tolong sebentar boleh? Kelinci ayah kakinya kayaknya terluka."
Subroto mengernyitkan keningnya sembari menatap Seruni dengan tatapan menyelidik. Beberapa detik kemudian, pria itu pun paham maksud dari sang putri. Dia langsung mengajak tamunya dan juga Shakala kembali berbincang-bincang. Meski kurang menyukai apa yang dilakukan Seruni barusan, untuk saat ini Subroto harus menahan diri terlebih dahulu.
Sayaka pun beranjak berdiri dan melangkahkan kaki di belakang Seruni menuju halaman samping rumah. "Mana kelincinya, Ndhuk?" tanyanya sembari mengedarkan pandang ke segala arah mencari hewan ternak yang dimaksud Seruni tadi.
"Mungkin sudah lari, Bang. Ya sudah tidak usah dicari. Mereka memang sudah biasa lari kesana kemari di sekitar sini. Nanti pasti bakalan muncul sendiri." Seruni lalu menunjuk bangku kayu jati kosong tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Duduk-duduk di sini saja, yuk, bang!" ajaknya.
"Tapi, Ndhuk. Kan nggak enak sama Pak Subroto." Sayaka melihat ke arah dalam rumah. Ternyata ruang tamu tidak terlihat dari tempatnya sekarang.
"Aku tau abang tidak nyaman di dalam sana," ucap Seruni, terkesan hati-hati karena takut Sayaka semakin merasa rendah diri.
"Aku tidak tau harus bicara apa. Jangankan bicara, apa yang mereka bicarakan saja Aku tidak sepenuhnya paham," timpal Sayaka dengan wajah sedikit tertunduk.
"Tidak mengapa, Bang. Nanti lama-lama juga akan paham," lirih Seruni. Terbesit secuil ketidakyakinan dalam dirinya akan hal itu. Mengingat sebelumnya Sayaka adalah pribadi yang tidak mudah akrab dengan orang-orang baru, sepertinya Sayaka akan membutuhkan waktu tidak sebentar untuk beradaptasi dan belajar hal-hal baru.
"Aku tidak yakin, Ndhuk. Dari kemarin mulai naik pesawat, bertemu ayahmu, pergi ke hotel sampai sekarang, rasanya perbedaan kita malah semakin besar." Raut wajah Sayaka tampak murung. Yang tadinya dia begitu bersemangat ingin membuktikan kalau dia pun layak mendampingi Seruni dengan dirinya yang apa adanya. Mendadak nyali itu ciut ketika dia berada di dalam obrolan bersama Shakala dan teman-teman Subroto tadi.
"Perasaan tidak ditentukan oleh perbedaan kebiasaan, status sosial, pendidikan atau pun kesenjangan pekerjaan kita. Siapa pun kita, tidak ada yang bisa menghalangi hati kita untuk saling mencintai. Mungkin ada beberapa hal yang harus kita pahami, tapi tidak harus dengan kita tiba-tiba merubah diri. Bukan karena Bang Sayaka menjalin hubungan denganku, Bang Sayaka harus mengikuti cara hidupku. Kita cukup saling menerima kebiasaan masing-masing."
"Mana bisa begitu, Ndhuk. Dalam sebuah hubungan, selebar apa pun jarak perbedaan, seiring berjalannya waktu, jarak itu harus dikikis. Tidak mungkin kita terus berjalan bersama dengan cara yang sangat berbeda. Tentu aku atau pun kamu ada kalanya harus mengalah. Meninggalkan sejenak kebiasaan atau bahkan selamanya demi sebuah keselarasan."
Seruni terdiam. Sayaka benar, hal itu juga kurang lebih sama dengan apa yang sebelumnya disampaikan oleh sang ayah. Cinta orang dewasa harusnya tidak buta. Segala kemungkinan bukan dikesampingkan atau dianggap remeh. Sudah seharusnya dipikirkan matang-matang. Sebelum waktu mengikat hati lebih dalam pada logika yang tidak sepenuhnya berjalan.
Seruni mengangguk setuju. Namun, begitu keduanya sampai di ruangan Subroto berada, bersamaan dengan itu para tamu sedang memohon diri. Kondisi Subroto yang baru saja keluar dari rumah sakit, tentu menjadi pertimbangan tersendiri untuk teman-temannya agar tidak berlama-lama mengajak pria itu berbincang hangat.
"Ser, budhe pamit dulu. Jaga ayahmu baik-baik. Jangan dinas jauh-jauh. Sudah balik Surabaya saja. Menikah terus temenin bapakmu biar beliau momong cucu. Kamu dan shaka pas sekali. Cocok. Mau nunggu apa lagi?" Seorang perempuan yang merupakan istri dari salah satu teman Subroto memberi pelukan dan jabatan tangan hangat pada Seruni sembari mengatakan hal tersebut.
"Sambung doanya, Bu Surya. Siapa pun jodoh Seruni, kita tentu hanya bisa mendoakan yang terbaik." Bukannya Seruni, malah Subroto yang menimpali perempuan itu.
Ekor mata Seruni melirik pada sosok Sayaka. Pria tersebut terlihat jelas sedang berusaha menampilkan wajah setenang mungkin. Sementara Shakala yang sedari tadi dianggap semua orang sebagai calon suami Seruni juga merasa tidak enak hati. Andai semua itu nyata adanya, tentu dia akan sangat bersyukur. Saat ini, pria tersebut malah khawatir hal tersebut malah akan membuat hubungan kedekatannya dengan Seruni atau pun Sayaka menjadi renggang.
Begitu mobil para tamu sudah meninggalkan area halaman rumah Seruni yang sangat luas, Subroto langsung meminta Seruni untuk mengantar dirinya ke kamar untuk beristirahat. Sementara Shakala dan Sayaka di suruh menunggu sampai sore dan tidak diperkenankan pulang oleh Subroto. Entah apa maksud pria tersebut meminta hal itu.
Belum sampai mereka masuk kembali ke dalam rumah, sebuah mobil terlihat memasuki halaman dengan kecepatan pelan.
"Siapa itu, Ser?" tanya Subroto.
Seruni memicingkan matanya untuk melihat dan memastikan siapa yang datang. "Nggak tau, Yah."
"Papa," gumam Shakala yang sama sekali tidak mengira kalau orangtuanya datang ke Surabaya.
Sayaka dan Seruni saling bertukar pandang. Ada kata yang tidak terucap namun tersirat dengan jelas melalui pancaran mata keduanya. Hubungan mereka benar-benar baru saja dimulai. Ibarat bunga, Cinta tentu masih mekar-mekarnya di hati keduanya. Namun, dihadapkan pada kenyataan akan perbedaan yang nyata---tidak urung memaksakan Seruni dan Sayaka untuk tetap melibatkan logika.
"Mas Sadewa kenapa tidak memberi kabar kalau Mau datang? Seharusnya Shaka menjemput bapak. Ini dia malah repot mengurus saya di sini." Subroto menyambut pria berusia menjelang tujuh puluhan itu dengan sangat ramah.
Lagi dan lagi, keberadaan Sayaka seakan tidak berarti dan tidak terlihat.