
Roy meminta bantuan Ustadzah Muna untuk memanggil Ismi saat usai sholat isya.Sedangkan ia dan istrinya menunggu di ruang tamu.Mereka berniat menginterogasi Ismi disana,selain tidak diketahui oleh orang lain.Juga memprivasikan status Ismi dari khalayak ramai.
Ismi datang dengan wajah tenang dan didampingi oleh Ustadzah Muna.Setelah anak itu duduk di hadapan mereka tanpa dipersilahkan,Roy meminta Ustadzah Muna untuk menunggu di Musholla saja.Beliau patuh,lalu meninggalkan Ismi sendiri diantara Roy dan Seruni .
"Ismi ...kami sekarang sudah tahu siapa kamu? kenapa kamu dendam kepada ku dan keluarga ku?? padahal kami yang sudah di dzolimi oleh ibu dan keluarga Ibumu.Malah aku memilih memaafkannya asal kamu bercerai secara baik-baik "Roy langsung to the points aja.
"Jadi kalian sudah tahu kenapa aku ada disini ?"dengan sombongnya Ismi membahasakan dirinya sebagai aku dihadapan Roy dan Seruni .Ia tersenyum kecut...
"Baguslah...jadi tidak perlu aku bersusah payah bermain-main dengan kalian"Tatapan Ismi sangat tajam, seperti mengandung belati yang siap membunuh siapa saja.
"Apa kamu akan tetap melaksanakan dendammu? meskipun kamu sudah tahu bahwa kami tidak bersalah ?"sambung Seruni .
"Salah ataupun benar ??itu semua tidak penting bagiku... yang jelas,aku harus membunuh kalian sebagai tanda baktiku kepada arwah Ibuku"
Usai berucap demikian,Ismi bangkit dengan menunjukkan sebuah boneka fudo yang dipegang oleh kedua tangannya.Ia mencengkram kuat boneka tersebut, membuat tubuh Roy kaku tidak bisa bergerak sedikitpun.
Seruni terhenyak kaget,ia tak menyangka bahwa Ismi akan terang-terangan menyerang suaminya.Wanita itu bingung harus melakukan apa untuk membantu suaminya yang terpacak kaku.
Tiba-tiba lantunan zikir rukiah terdengar samar-samar,Ismi kaget dan refleks melepaskan boneka di tangannya.Ia seperti kepanasan karena tangannya digibas-gibaskan ke udara kosong.
Ustadz Faruq dan Ustadz Fajar beserta Ustadz Rahmat keluar beriringan sembari terus membaca zikir dan memutar tasbih ditangan.
Mereka memang sudah siap sejak tadi,karena ia berjaga-jaga akan serangan anak itu.Benar saja,Ismi benar-benar menyerang.
Gadis kecil itu berjinjit-jinjit seperti tengah menginjak bara api.Ia kebingungan, tubuhnya dipeluk secara tak beraturan.
"Awas kalian!!!"Ismi berlari keluar sekencang-kencangnya sebelum ia di tangkap oleh para ustadz tersebut.Ia sudah tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia benar-benar ditahan oleh mereka.
Ismi terus berlari keluar dari kompleks yayasan Darul Islam,namun itu bukan berarti ia kalah.Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk ia melakukan balas dendam nya.
Tubuh Roy kini kembali ke sedia kala,ia menghela nafas lega sekaligus berterima kasih sebanyak-banyaknya atas bantuan para ustadz tersebut.
"Tidak apa-apa Tuan,kami senang bisa membantu anda.Nanti kami akan membuat pagar ghaib untuk rumah anda.Agar hal buruk tidak mudah untuk memasuki nya"ucap ustadz Faruq bijak.
Roy mengangguk setuju.
___
Ismi berlari secepat kilat..
"Nek..."Ismi mendobrak rumah gubuk di tepian hutan.Nafasnya tersengal-sengal, tenggorokannya terasa kering.
Seorang wanita tua dengan rambut yang sudah memutih disanggul ke belakang kepalanya.Ia berjalan dengan menggunakan tongkat bambu mendekati Ismi yang masih berdiri di ambang pintu.
Wajahnya datar tanpa ekspresi, matanya awas memeriksa ke sekitar.
"Masuk..."Titahnya dengan suara serak dan gemetar.Ismi menurut,ia melangkah masuk sedangkan sang Nenek tua menutup kembali pintu gubuknya.
Ismi duduk bersila di balai-balai kayu, menunggu sang nenek menghampiri.
"Kenapa?Apa kamu mengalami kesulitan ?"Si Nenek duduk di hadapan Ismi dengan menjuntai kaki.Ismi mengangguk...sang nenek tersenyum kelat.
"Apa kamu menyerah??"
"Tidak Nek..aku akan membinasakan mereka semua seperti halnya keluarga besar Hendrie"Ismi menjawab dengan yakin tanpa ragu.
"Bagus...Jangan buat pengorbanan Ibumu sia-sia "
"Istirahatlah,Nenek akan masak sesuatu untuk mu"
Ismi mengangguk,lalu ia pun merebahkan tubuhnya ke atas balai-balai bambu tersebut.Gubuk tua itu hanya terdiri dari dua ruangan saja,satu untuk ruang tamu merangkap sebagai tempat tidur.Dan satu lagi dapur,itu pun dapur yang dibuat seperti gua kecil dari tanah liat .Dengan bahan bakar kayu.
Tak berapa lama,Ismi sudah terlelap.ia menggunakan lengannya sebagai bantal.Nyai Simah memperhatikan tubuh kecil itu dengan iba.
Tapi semua sudah tidak bisa kembali lagi, perjanjian yang dibuat oleh seorang wanita hamil dengan iblis sudah terikat dalam diri Ismi .
Anak kecil yang tidak tahu apa-apa itu menjadi korban sakit hati sang ibu kepada Ayah yang mengusirnya dan suami yang menceraikannya.
Nyai Simah hanya kasihan dan membantu Sherly untuk menuntaskan dendamnya.
___
Untuk beberapa saat, keadaan di Yayasan dan kediaman Pengasuhnya aman dan damai.Sejak perginya Ismi ,sudah tidak ada lagi teror yang mencekam.
Namun Seruni masih penasaran,apa yang sebenarnya terjadi sehingga membuat Sherly bersekutu dengan Syetan.
"Mas...coba kamu telfon Geysa...tanyakan padanya tentang Sherly.Mungkin dia tahu"Pinta Seruni kepada suaminya saat mereka sedang berada di peraduan.
"Emmmm baiklah, mungkin saat ini Geysa sudah tidak sibuk"
Roy meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas.Setelah mencari nomor telepon adiknya,Roy segera mendailnya.
Diseberang sana, Geysa sedang asyik bercocok tanam dengan kekasihnya.Ia menghentikan genj0tannya,meraih ponselnya yang berdering.
"Hallo Kak..."Geysa menjawab panggilan sembari melanjutkan aksinya secara perlahan.
"Kamu dimana Ge?"
"Di rumah...kenapa Kak?"
"Gey..kakak mau tanya sesuatu boleh ??"
"Boleh..."
(Lawan main Geysa mendesah tak karuan akibat goyangan gadisnya)
"Kamu tahu nggak kabar Sherly sekarang ??"
Mendadak Geysa menghentikan aksinya.Ia melepaskan buaya dari sangkarnya lalu duduk di tepi tilam.Kekasih Geysa mencolek namun Geysa menyuruhnya untuk diam.
"Kenapa Kakak tiba-tiba bertanya tentang Sherly ??"
"Kakak ingin tahu saja"
Geysa diam,ia melirik kekasihnya yang merajuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Yang aku tahu Kak,setelah Sherly cerai dengan Kakak,ia menikah lagi.Geram aku Kak,baru cerai udah main nikah aja.Tapi beberapa bulan kemudian aku dengar kabar kalau Om Hendrie mengusir Sherly dan suaminya.Malah ia tidak mau menganggap Sherly sebagai anaknya lagi."
"Sejak saat itu, perusahaan Om Hendrie merosot total.Karena ditangani oleh menantunya yang dari istri keduanya Kak.Dan beberapa bulan yang lalu aku dengar keluarga Om Hendrie ditemukan mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan.Sampej masuk tv loh Kak"
Roy menyimak dengan diam,ia benar-benar tidak menyangka bahwa nasib mereka akan semiris itu.
Jadi benar tebakan dari ustadz Faruq,bahwa Sherly dendam dengan semua orang yang membuat hidupnya sengsara.Lalu kemana suaminya Sherly ???Apa dia juga meninggalkan wanita itu setelah diusir oleh keluarga Sherly ???