
"Liv...apa kamu Kecewa karena melihatku tadi di mobil ???"
Gadis itu tertunduk tak menjawab.Tangan yang digenggam lembut oleh Reyhan berkeringat dingin.
Dengan diamnya Livia ,Reyhan semakin yakin bahwa dia memang melihat nya.Reyhan menarik nafas dalam-dalam,lalu menghembuskannya pelan.
Rumah Livia sudah dekat,Reyhan memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan sebelum mereka sampai.
Setelah sampai di tempat biasa Reyhan parkir.Barulah Reyhan melanjutkan...
"Berikanlah aku satu alasan,kenapa kamu Kecewa padaku?? Bukankah selama ini kamu selalu melihat ku begitu?kenapa baru kali ini kamu bilang Kecewa ?"
Livia tetap tertunduk.Reyhan jadi gerah dengan diamnya Livia .Ia membuka seatbleat nya lalu bergerak cepat meraih wajah gadis itu lalu mencium bibirnya.
Livia terhenyak, mendadak darahnya memanas.Ciuman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya kini melalap habis bibirnya.
Livia pasrah,ia mengikuti semua keinginan Reyhan atas dirinya.Apalagi disaat tangan pria itu menjalar,ia pasrah.Nafasnya memburu, didalam dirinya seperti ada sesuatu yang bergolak tak tertahan.
BASAH!!
Itu yang Livia rasakan ketika tubuhnya bergetar.Reyhan melepaskan ciumannya,namun wajahnya tetap lekat dengan gadis itu.
"Aku menyukaimu Rey..."Bisiknya pelan.Reyhan membelai pipi gadis itu.
"Kau tahu betapa bajin9an nya diriku bukan??"
"Aku tidak perduli,aku tidak bisa menghentikan hatiku untuk menyukaimu "
"Aku tidak ingin merusakmu Livia ...Kau seorang gadis yang ingin ku jaga setelah adikku "
"Nikahi aku Rey..."
Reyhan menggeleng pelan...
"Aku tidak mau mengorbankan dirimu Livia "
"Maksudmu -?"
Reyhan menarik dirinya bersandar di kursi mobil.
"Hatiku masih belum menemukan cinta yang sebenarnya.Jika aku menikahi mu, bagaimana jika saat kau sudah menjadi istriku ?aku menemukan cinta itu?Kau pasti akan terluka dan aku pun juga"
"Lalu kenapa kamu melakukan ini jika kamu tidak menyukai ku?"
"Aku tidak bisa melihat kekecewaan mu Livia ,aku melakukan ini agar kamu tahu bahwa apa yang aku lakukan semua itu tak membuat ku punya perasaan sesuatu kepada mereka.Jadi kamu tidak perlu Kecewa kepadaku"
Livia tercekat,ia menelan saliva begitu penuh tekanan.Ternyata perlakuan Reyhan sama sekali tak ada nilai apapun dihatinya.Padahal Livia sudah merasakan kebahagiaan yang luar biasa, apalagi sampai dibuat penuh kepuasan.
"Aku pulang dulu Rey..."Cepat-cepat Livia keluar dari dalam mobil.Dan masuk tanpa menoleh lagi.Reyhan menghela nafas melihat punggung gadis itu menghilang.
"Semoga setelah ini kamu akan mengerti Livia "
.
.
Livia masuk ke dalam kamar,ia langsung membanting tubuhnya ke atas kasur.Disana Livia menangis sejadi-jadinya.
Ia merasa perasaannya sama sekali tidak berarti apa-apa terhadap Reyhan.Tapi dibibir nya masih terasa sekali kecupan hangat pria itu.Seketika tangis Livia terhenti,ia beringsut duduk.
"Baiklah Reyhan ...jika itu yang kamu inginkan.Aku akan melakukan apapun agar bisa tetap bersamamu.Meskipun aku harus hancur.Mungkin ini sudah takdir ku,cintaku terlampau amat sangat terhadap mu.Aku akan menikmati cinta seperti ini"
...----------------...
Sedangkan di lain tempat,Vina menutupi wajahnya.Ia malu dan malu sendiri bila ingat kejadian tadi.
Ternyata pria itu berhati dingin,ia sama sekali tidak merasakan apapun meskipun ia sudah berhasil membuat Vina *******.
Tapi sentuhan hangat pria itu sangat lah menggoda.Membayangkannya saja,tubuh Vina jadi bergetar hebat.
"Siapakah pria itu sebenarnya ?"Gumam Vina.
Ia jadi penasaran, mungkin dengan tahu lebih detail siapa pria itu.Akan memudahkan Vina mencari celah untuk menaklukkan hatinya.Vina tersenyum sendiri, dengan penuh semangat ia beranjak untuk pergi ke tempat resepsionis berada.
"Hay sus..."sapa Vina kepada Suster yang berjaga di meja resepsionis.
"Iya Mbak bisa saya bantu"
"Emmm saya mau tanya, Dokter yang tadi pagi menangani Ibu saya itu siapa ya namanya ??"
"Yang mana ya Mbak??"
"Yang ganteng itu..."
"Emmm disini banyak Dokter yang ganteng "
"Eeeee apa maksud Mbak Dokter Reyhan "
"Emmmmm pokoknya dia ganteng banget deh"
"Yah disini yang paling ganteng ya Dokter Reyhan , pemilik Rumah sakit ini"
"Hah ???"Vina ternganga tak percaya.Air liurnya sampai mau ngeces saat mulutnya belum juga menutup.
"Dia pemilik Rumah sakit ini ???"Vina berundur pergi,ia melangkah dengan berbagai macam monolog muncul dalam otaknya.
"Aku harus bisa dapetin dia"ucap Vina bertekad kuat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi menjelang,Vina sudah mandi dan merapikan penampilannya.Kali ini ia tampil dengan lebih feminim dan rambut tergerai.Manis sekali...
Ia melihat kelibat Livia , segera ia menghampiri gadis itu yang tengah menuju ruang ganti.
"Sus..."seru Vina yang membuat langkah kaki Livia terhenti.
"Iya Mbak...ada apa?"
"Dokter belum datang ya??"
Wajah ramah Livia langsung berubah.
"Dokter ? Dokter siapa?"Tanyanya sinis.
"Dokter yang kemarin menangani Ibu saya"
"Ohhh kenapa mbak mencarinya ?Apa Ibu anda mengalami masalah ??"
"Ah tidak,,,saya cuma ingin membicarakan sesuatu saja"Vina jadi gugup sendiri.Livia menarik nafas dalam-dalam
"Sebentar lagi dia akan datang, tunggu saja"
"Ohhh baiklah... makasih Sus"
"Sama-sama "jawaban Livia begitu dingin.Ia masuk ke ruangan ganti dengan lirikan kebencian terhadap Gadis itu.
___
Tak berapa lama kemudian,Reyhan benar-benar menampakkan diri.Vina langsung menyambut kedatanganya.
"Pagi Dok .."
"Pagi...apa anda menunggu saya Nona?"
Vina mengangguk yakin.
"Oh..ada apa ya??apa ada masalah dengan Ibu anda??"
"Ah tidak Dok...Ibu saya justru jauh lebih baik sekarang.Saya cuma ingin membicarakan sesuatu hal yang penting kepada anda Dok"
"Oh...begitu...baiklah...mari masuk"Reyhan menawarkan tempat,Vina mengangguk.
Ia mengekori pria itu masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Silahkan duduk Nona"Tawar Reyhan .Ia meletakkan tas kerjanya lalu duduk di kursi kebesarannya.
Tak dinyana,Vina justru duduk di pangkuannya.
"Eh... kenapa anda duduk disini??"
"Aku sudah terbiasa duduk dipangkuan mu Dok"jawab Vina dengan tanpa segan.Reyhan tersenyum penuh misteri.
"Tolong bangun Nona...dan duduk lah di kursi itu"Reyhan meminta dengan sopan.Tapi Vina menggeleng,ia justru menurunkan tubuhnya ke lantai dan berniat membuka resleting celana Reyhan .Tapi pria itu justru menerajang tubuh Vina.
"Jangan kurang ajar Nona"Tone suara Reyhan masih datar tanpa emosi.
Bersamaan dengan itu Livia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.Ia kaget melihat Vina terjerembab di lantai.
Vina benar-benar dibuat malu...ia marah!Dan bangkit.
"Munafik kau!!! padahal kita sudah dua kali mendesah bersama,di tempat yang sama.Tapi kamu memperlakukan aku seperti kau orang yang suci saja"
Reyhan hanya tersenyum tanpa menanggapi kemarahan wanita itu.
"Sok jual mahal,kenapa??kamu mau buat aku penasaran ??dan tergila-gila padamu ?? mengejar mu seperti anjing kelaparan ??hah??"
Reyhan tetap santai,tapi tidak dengan Livia .Ia justru mendekati Vina,meraih bahunya lalu membalikkan badannya.
PLAK!!!