SERUNI

SERUNI
Seruni Bab 24



"Ndhuk, aku ini hanya peternak dan petani. Rasanya tidak pantas bersanding dengan kamu. Aku memang mengagumimu, dan jatuh cinta padamu. Tapi cukuplah seperti itu." Sayaka menjawab dengan jujur.


"Apa salahnya jadi peternak dan petani, Bang? Tidak ada. Aku tidak keberatan. Asal Abang bisa menjadi Imam yang baik, setia, dan bertanggung jawab, itu sudah cukup." Seruni menatap Sayaka dengan tatapan cinta yang begitu dalam.


"Tapi, Ndhuk ... ."Sayaka tidak meneruskan ucapannya, dia terlihat sangat ragu-ragu.


"Abang Sayaka cukup jawab iya atau tidak. Tidak perlu ditambahi alasan apa pun. Jika cinta saja butuh alasan, sudah tidak ada artinya manusia dianugerahi perasaan," tegas Seruni.


Sayaka menimbang-nimbang semuanya. Andai dia seorang tentara seperti Shaka, atau minimal guru, pasti dia akan langsung menjawab dengan kata "iya".


Seruni berdiri di ambang pintu, dia membiarkan Sayaka fokus mencari jawaban atas pernyataan cintanya. Kepala perempuan itu bersandar di kusen pintu yang terbuat dari kayu.


"Ndhuk ...," panggil Sayaka.


Seruni menoleh dan tersenyum, lalu berjalan mendekati Sayaka dan kembali duduk di kursi seberang laki-laki itu.


"Aku mau jadi kekasihmu. Tapi berpacaran lama bukan tujuanku. Aku ini sudah cukup umur. Aku ingin menjalin hubungan yang serius dan halal dalam waktu dekat." Sayaka begitu tegas dan mantap saat mengatakannya.


"Aku juga, Bang. Boleh dibilang, aku ini sudah perawan tua. Teman seangkatanku bahkan ada yang sudah punya anak tiga. Main-main dan cuman cari kesenengan sesaat bukanlah tujuanku dalam menjalin sebuah hubungan. Aku juga tidak suka yang namanya pertunangan." Seruni teringat kisah pahitnya bersama Satria.


Sayaka melemparkan senyumnya yang menawan. "Aku mengagumimu sejak pertama kali kita bertemu, Ndhuk. Bukan hanya karena kecantikanmu, tapi juga karena keramahan dan jiwa penolongmu yang luar biasa. Perlahan kekaguman itu mengusikku, membuatku susah tidur dan selalu membayangkanmu. Aku jadi malu kalau mengingatnya." Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.


Seruni menatap mata Sayaka dengan tatapannya yang tegas, namun sarat akan cinta yang dalam. "Aku tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta sama Abang. Perasaan ini timbul tanpa ada alasan pasti."


Obrolan keduanya pun berlanjut, awal jadian yang tidak sama dengan orang pacaran pada umumnya. Kecanggungan justru terjadi di antara mereka setelah mengungkapkan perasaan masing-masing.


Tapi seiring berjalannya waktu, hubungan Seruni dan Sayaka terlihat semakin natural dan mengalir begitu saja. Keduanya sudah mulai memahami satu sama lain dengan baik. Bahkan sedikit sentuhan kemesraan sudah mulai ditunjukkan.


Beberapa malam minggu mereka lewati dengan berjalan-jalan ke perbatasan berdua. Berboncengan motor dengan tangan Seruni yang melingkar mesra di pinggang Sayaka. Tapi tidak dengan malam minggu kali ini, Seruni memilih berdiam diri di rumah. Keduanya duduk berhadapan saling berpegangan tangan di atas kursi panjang.


"Bang, awal bulan depan, aku mau kembali ke Surabaya. Mau ziarah ke makam ibuku. Abang mau ikut?" Tanya Seruni dengan hati-hati.


"Maksudnya Aku mau dikenalin sama ayahmu, Ndhuk?"


Seruni mengangguk sembari berkata, "Iya, Bang."


Sayaka menundukkan kepala sembari memainkan jemari Seruni. "Apakah ayahmu akan menerimaku, Ndhuk?"


Seruni menarik tangannya dari genggaman Sayaka lalu menepuk bahu kekasihnya itu dengan mantap. "Semua tergantung pada kesungguhan, Abang. Ayahku tidak akan melihat latar belakang Abang terlalu jauh, yang penting Abang bukan penjahat dan mempunyai mata pencaharian yang bisa dibuat untuk biaya hidup keluarga kita."


Sayaka menatap Seruni dengan lembut. "Berapa tiket perjalanan ke sana, Ndhuk?" Tanya Sayaka dengan polosnya. Seumur hidup, dia belum pernah merasakan naik pesawat. Perjalanan terjauh yang pernah ditempuhnya hanya ke kota provinsi, itu pun saat mengantar Pak Sajad ke bandara.


Sayaka menggeleng kuat. "Aku tidak mau kalau seperti itu. Belum apa-apa, kamu sudah membuat aku rendah di mata ayahmu. Aku ini laki-laki, sekecil apa pun pengeluaran, harusnya aku yang bertanggung jawab."


Seruni menyebut nominal angka pembelian satu tiket. Sayaka mulai menghitung, dan mengalikannya empat kali untuk pulang pergi.


"Abang beli tiket Abang sendiri, aku beli sendiri juga. Kan kita belum suami istri. Jadi tanggung jawab masih masing-masing. Bagaimana?" Tanya Seruni, seolah tahu apa yang ada dipikiran Sayaka.


"Tidak begitu, Ndhuk. Aku ada. Tapi sepertinya, aku memang harus kerja lebih rajin lagi, agar bisa mengumpulkan lebih banyak uang. Kebutuhan kita akan besar nantinya. Terutama kalau kamu ingin pulang kampung," kilah Sayaka. Satu kali perjalanan bersama Seruni, dia bisa membeli tiga ekor Soko-Soko yang lain.


"Terimakasih ya, Bang." Seruni menatap Sayaka dengan tatapan yang membuat pria itu menelan ludahnya dengan susah payah.


Tanpa diduga, tangan Sayaka terulur membelai pipi Seruni yang mulus. Mata perempuan itu seketika terpejam, berharap sesuatu yang lebih dilakukan oleh Sayaka. Sekian lama menunggu, tidak ada sesuatu hal pun yang terjadi.


Seruni kini yang mengambil inisiatif, dia mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan Sayaka. Dia bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu tepat di hidungnya. Jelas dari ritmenya, Sayaka sedang tidak baik-baik saja. Napasnya lebih cepat dan tidak teratur.


"Bang, apa abang tidak ingin menciumku?" Seruni bertanya dengan lembut dan Sayaka pun hanya mengangguk lirih.


"Lakukan, Bang," pinta Seruni sembari memejamkan matanya.


Dengan cepat dan sedikit terburu-buru, Sayaka mencium pipi kiri dan kanan Seruni dengan menggunakan pipinya. Layaknya dua ibu-ibu pejabat yang saling menyapa saat bertemu. "Sudah, Ndhuk. Terimakasih."


Seruni seketika membuka matanya. "Tidak begitu, Bang. Tapi begini."


Dokter cantik itu langsung menempelkan bibirnya pada bibir Sayaka, mengecupnya perlahan. Tapi pria itu tidak membalas, tubuhnya terasa kaku, hanya bola matanya yang bergerak ke sana ke mari. Saat Seruni mencoba mencari celah agar Sayaka membuka bibirnya yang mengatup dengan sedikit memberikan kulluman lembut, tangan pria itu malah mencengkram lengan Seruni dengan kuat.


Ada desiran halus yang mengalir di dada Sayaka, perlahan keris pusaka nya pun mengeliat. Pria itu semakin gelisah. Bingung harus berbuat apa. Padahal di mimpi, dia pernah mengalami hal serupa. Dalam mimpi itu, semua terasa lebih mudah dan nikmat. Berbeda sekali dengan yang dirasakannya sekarang.


"Buka sedikit, Bang," tuntun Seruni.


Sayaka menuruti saja permintaan kekasihnya itu. Bukannya terlihat sekksi dan menggoda, tapi mulut Sayaka kini lebih tepat dikatakan sedang melongo. Seruni kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Sayaka, "Rasakan saja, Bang. Jangan banyak berpikir."


Tangan Sayaka semakin mencengkram lengan Seruni, begitu lidah dokter cantik itu merasuki rongga mulutnya dengan liar. Tidak lama kemudian, Seruni merasakan napas Sayaka mulai terengah-engah. Dia pun segera menarik bibirnya dari bibir lawannya itu.


Sayaka segera beranjak berdiri dan membetulkan celananya. "Jadi sempit, Ndhuk," ucap Sayaka dengan polosnya.


Seruni menepuk keningnya sendiri. Menyadari betapa sikapnya sudah terlampau agresif, membuat perempuan tersebut mengumpat dalam hati. Sepertinya dia memang harus memeriksakan diri ke psikiater. Sejak berpisah dengan Satria dan dinas di tempatnya sekarang, sungguh jiwanya menjadi liar.


Tiba-tiba ponsel Seruni yang tergeletak di atas meja bergetar. Nama Budhe Surti tertera di layarnya. Perempuan itu pun segera menerimanya.


"Iya, Budhe...." Seruni menyapa dengan suara yang ramah, tapi disahuti dengan suara yang terdengar sangat panik. Hingga beberapa saat kemudian, ponsel yang tadinya menempel di daun telinga Seruni terjatuh ke lantai.