SERUNI

SERUNI
Seruni Bab 25



Seruni mengambil ponselnya yang jatuh ke lantai dengan cepat. Pikirannya menjadi tidak tenang. Jantungnya berdegup kencang. Dalam hati berharap kondisi ayahnya akan segera membaik.


Sayaka terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Dia memberanikan diri kembali duduk di samping Seruni. Lalu menepuk pundak kekasih hatinya itu dengan pelan. "Ada apa, ndhuk?"


"Ayahku sakit, Bang. Aku harus pulang secepatnya." Seruni membuka aplikasi penjualan tiket pesawat online di ponselnya.


Sayaka terdiam sejenak. Baru menjadi kekasih belum genap dua jam, rasanya sangat tidak pantas kalau dia hanya berdiam diri saja. Tetapi, bingung juga kalau harus menawarkan diri untuk ikut. Bagaimana dengan Siti, Soko dan kawan-kawan.


Seruni terlihat fokus menatap layar ponselnya. Dia sedang mencari penerbangan paling cepat menuju kota asalnya. Seruni mengabaikan keberadaan Sayaka yang juga sedang berpikir keras.


"Ndhuk, aku boleh ikut tidak?" Tanya Sayaka dengan hati-hati walau sedikit ragu.


Karena kaget dengan pertanyaan pria di sampingnya, Seruni mengalihkan pandangannya sejenak. "Abang serius?"


Sayaka menganggukkan kepala sembari melemparkan senyumnya yang rupawan. "Iya, Ndhuk."


"Baik, Bang. Aku cari tiketnya dulu, boleh pinjam kartu identitas Abang?"


Sayaka mengambil dompet dari kantong belakang celananya. Lalu mengambil kartu yang diminta oleh Seruni, lalu mengulurkannya pada dokter cantik itu.


"Alhamdulillah, dapat." Seruni terlihat sangat lega. "Kita penerbangan pukul sembilan pagi, Bang. Jadi dari sini kita pukul tiga pagi, harus sudah berangkat dari sini. Nanti aku hubungi Pak Sajad, mau pinjem mobil dinas sekalian sopirnya," tambahnya.


"Ya sudah. Kalau begitu, aku pulang dulu ya. Mau siap-siap. Kamu yang tenang. Jangan putus doa. Percaya kalau kekuatan doa itu sangat luar biasa, Ndhuk," pamit Sayaka.


"Terimakasih, Bang." Seruni ikut berdiri untuk mengantar Sayaka sampai ke depan pintu.


Sepulangnya Sayaka, Seruni yang sedari tadi menahan air matanya, sekarang tidak bisa membendung lagi. Menerima berita bahwa ayahnya terkena stroke adalah pukulan yang sangat berat baginya. Tumbuh tanpa seorang ibu sejak lahir, membuatnya sangat dekat dengan sosok sang ayah.


Seruni tidak bisa membayangkan kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada ayahnya. Dia belum memberikan kebahagiaan yang utuh pada sang ayah. Subroto selalu berkeinginan untuk melihat Seruni menikah dan mempunyai anak. Hanya itu keinginan sang ayah. Sederhana, seperti harapan orangtua yang lain pada umumnya.


***


Semalaman, Sayaka dan Seruni sama-sama tidak tidur. Jika Sayaka memikirkan tentang ketakutannya bertemu ayahnya seruni pak Subroto dan saat naik pesawat, kondisi berbeda tentu dialami Seruni.


Perempuan cantik itu, begitu khawatir dengan kondisi ayahnya. Semalaman dia habiskan untuk berdoa secara khusyu. Menggelar sajadah panjang, memasrahkan apa yang terjadi seturut kehendaknya.


Sepuluh menit lebih cepat dari waktu yang sudah disepakati, mobil kecamatan sudah berada di depan rumah dinas Seruni. Perempuan itu pun segera keluar. Tidak ada koper atau tas yang dia bawa, hanya tas selempang yang berisi ponsel dan uang tentunya. Sayaka pun hanya membawa tas ransel yang di pinjamnya dari anak pak Sajad--Safri.


Keduanya duduk di bangku tengah, sopir yang mengantar mereka sudah biasa menjemput tamu dari pemerintah kabupaten dan provinsi yang melakukan kunjungan dinas ke perbatasan. Dia terlihat sangat profesional. Sopir itu sudah terbiasa melakukan perjalanan di jam-jam orang sedang terlelap.


Seruni tersenyum. Dia memang ingin tidur sejenak. Bagaimana pun, badannya harus sehat dan bugar kalau ingin menjaga dan merawat ayahnya. Perempuan cantik itu langsung menyandarkan kepalanya pada lengan kekar Sayaka.


Pria itu sedikit gugup, sungguh baru kali ini dia memperlakukan dan diperlakukan lawan jenis seperti sekarang.


Selang lima menit, Seruni tampak sudah pulas. Napasnya terdengar lebih teratur. Karena tidak tega dengan posisinya yang tidak nyaman dan kaku. Perlahan Sayaka melingkarkan tangan yang tadi dibuat sandaran ke bahu Serini. Kini, kepala perempuan itu berbantalkan dada kekarnya. Perlahan matanya pun ikut tertutup dan lelap.


Tidur keduanya sungguh sangat nyenyak. Sampai-sampai, mereka baru bangun saat sudah sampai di bandara. Akhirnya, sebelum check in, mereka mencuci muka terlebih dahulu.


Semakin mendekati waktu keberangkatan, wajah Sayaka semakin memucat, dan tangannya berkeringat dingin. Seruni yang sedang berkomunikasi dengan Surti untuk menanyakan kondisi terkini ayahnya, jadi tidak memperhatikan perubahan Sayaka.


"Ndhuk," panggil Sayaka, lirih hampir tidak terdengar.


"Aku belum pernah naik pesawat, aku takut mabuk perjalanan. Nanti kamu malu," bisik Sayaka lebih lirih dari yang tadi.


"Abang tidak usah takut. Anggap saja seperti naik mobil. Lagian ada aku di samping, Abang. Kalau butuh pegangan, tangan ini, siap kapan pun Abang genggam." Seruni menggenggam tangan Sayaka yang dingin namun berkeringat.


Ketika terdengar suara panggilan untuk penumpang pesawat yang akan mereka tumpangi, wajah Sayaka semakin pasi. Genggaman tangannya pada Seruni semakin erat.


"Jangan dipikirkan, Bang. Santai." Seruni mengusap punggung tangan Sayaka.


Ketika sudah duduk di dalam pesawat. Dia mulai berdoa untuk menenangkan diri. Sayaka memejamkan mata sembari menengadahkan tangan, berdoa sedikit panjang memohon keselamatan, dan dihilangkan segala kecemasan yang dirasakan.


Sayaka tidak merasa kalau pesawat perlahan mulai naik. "Ndhuk, ini kapan berangkatnya," tanyanya dengan polos.


"Sebentar lagi, Abang tidur saja. Biar tidak berasa." Seruni sengaja berbohong, agar Sayaka tidak tegang.


Pria itu berusaha memejamkan mata, tetapi kantuk tidak juga menghampirinya. Beberapa menit kemudian, dia merasakan ada yang berbeda dengan pendengarannya, saat Sayaka mencoba mengajak berbicara Seruni. Dia merasakan suaranya agak kecil dan terdengar jauh.


Sayaka tiba-tiba merasakan mual, tapi dia malu mengatakannya pada Seruni. Pria itu lebih memilih menahan perutnya yang semakin bergejolak ingin dimuntahkan. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya di depan Seruni. Dia memaksakan diri untuk tidur.


Seruni merasa lega, begitu pesawat mendarat dengan selamat di kota asalnya. Sayaka, seperti mengalami jetlag, padahal perjalanan tidak sampai memakan waktu dua jam. Wajahnya semakin bertambah pucat, begitu bertemu toilet, pria itu segera berlari ke dalam sana, dan mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Seruni sudah tidak sabar untuk bertemu ayahnya. Dia mengaktifkan kembali telepon selular, untuk memastikan driver kantor sang ayah sudah menjemputnya tepat waktu. Tetapi, saat Seruni membuka pesan masuk yang ada di dalamnya. Dokter cantik itu kaget, ternyata bukan driver yang akan menjemputnya.


Sayaka keluar dari toilet dengan wajah yang sudah terlihat segar. Rasa pusing dan mual seketika hilang ketika dia sudah memuntahkan isi perutnya. Untung saja, dia bisa menahan di depan Seruni.


Keduanya lalu berjalan ke arah pintu keluar. Tiba-tiba seorang laki-laki memanggil nama dokter cantik itu. Dia langsung memeluk dan mencium pipi kiri kanan Seruni tanpa permisi. Mengabaikan Sayaka yang jelas-jelas langsung kesal dan cemburu melihatnya.