
02.30
Dering alarm pertama, Bramasta terbangun. Mematikan alarmnya, membangunkan istrinya.
“Sayang, tahajud bareng yuk..”
Adisti menggeliat, matanya terbuka. Mengangguk. Dia dibantu suaminya untuk duduk.
“Bismillahirrahmaanirraahiim.
Alhamdullillahilladzi ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur.”
Sholat tahajud berjamaah beberapa roka’at kemudian ditutup dengan sholat witir. Do’a yang panjang Bramasta panjatkan diaminkan oleh istrinya.
Bramasta melipat sajadahnya lalu membantu Adisti melepas mukenanya. Bramasta mendudukkan istrinya di atas tempat tidur. Memandanginya sambil tersenyum.
“Apa? Kenapa Bang?” tanya Adisti.
“Nggak.. senang aja lihatin Disti. Senang aja bisa tahajud bareng.”
Bramasta berlutut di hadapan Adisti. Menyatukan dahinya dengan dahi Adisti. Meremat jemari Adisti di dalam genggamannya.
“I love you, for now and future.._Aku mencintaimu, untuk sekarang dan masa yang akan datang.._” bisik Bramasta.
“I love you since i saw your eyes.._Aku mencintaimu sejak aku menatap matamu.._” bisik Adisti memandangi mata Bramasta, “I lost in your eyes.._Aku tersesat di dalam matamu.._”
“Your eyes always make my heart beating faster_Matamu selalu membuat jantungku berdegup lebih cepat_,” Bramasta masih berbisik, “Just like now.._Seperti sekarang ini.._”
Adisti terkekeh.
“Adisti, Bismillaahi Allahumma jannibna as-syaithana wa jannibi as-syathana maa razaqtana," bisik Bramasta sambil tersenyum.
“Eh, kok..?” Adisti didorong hingga rebah, “Aamiin..”
Keduanya terkekeh bersama.
Adzan Shubuh berkumandang, keduanya masih berbaring menatap plafon sambil berpegangan tangan di atas tempat tidur.
“Bang.. adzan.”
“Iya, Abang juga dengar.”
“Mandi..”
“Iya..”
“Disti gak bisa gerak..”
Bramasta menoleh, tersenyum pada istrinya, “Ma’af ya... Nanti berendam air hangat dulu sebentar.”
Disti mengangguk.
Bramasta memakai Tshirtnya lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk mengisi bathup dengan air hangat. Meneteskan wewangian vanili untuk aromatherapy. Juga sabun bathup.
Kembali lagi ke kamar sambil membawa bathrobe. Menutupi tubuh istrinya dengan bathrobe lalu menggendongnya ke dalam kamar mandi. Meletakkan tubuh Adisti ke dalam bathup dengan perlahan.
“Hati-hati bathrobenya jangan sampai basah..” Bramasta tersenyum pada Adisti.
Dia mengambil bathrobe dari tangan Adisti lalu meletakkannya di dekat kepala Adisti.
“Nyaman?”
Adisti mengangguk.
“Abang akan tetap semanis ini selamanya pada Disti?”
“Insyaa Allah.”
“Janji dulu...”
“Abang gak bisa berjanji karena Allah lah Sang Maha Pemilik hati. Yang menguasai hati manusia. Yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Do’akan saja semoga kita selalu istiqomah bersama hingga jannah nanti.”
Mata Adisti mengembun.
“Kok nangis?” Bramasta terheran, “Abang bukan tipe orang yang mudah jatuh hati apalagi bermain hati.”
“Jangan pernah khianati Disti ya Bang..”
“Ssssh... pegang kata-kata Abang ya..”
Usai sholat shubuh, Bramasta sudah bersiap dengan sepatu olahraganya.
“Disti mau coba treadmill?”
Adisti menggeleng.
“Gak bawa sepatu olahraga. Lagi pula Disti belum nyaman banyak bergerak.”
“Hari ini setelah semua selesai, kita belanja ya. Gak usah nunggu weekend. Lagi pula Abang gak suka ke mall saat weekend. Terlalu banyak orang.”
“Abang hari ini ngantor?”
“WFH lagi sampai B Group selesai dipindai dengan detektor penyadap.”
“Bang, nanti mampir ke toko boneka ya..”
Bramasta terkekeh, “Mau nambah koleksi sapi hitam putih?”
Adisti berdiri di tepi balkon, memandang langit yang mulai berubah warna. Ujung pashmina instannya yang berwarna plum berkibar ditiup angin pagi.
Bramasta yang baru saja selesai treadmill berdiri di ambang pintu. Menatap kontrasnya warna langit yang dipenuhi jingga dengan warna kerudung istrinya. Dia terkesima. Diam-diam mengambil foto tampak belakang istrinya.
“Pernah mewarnai langit seperti ini di lukisan Disti?”
Disti menggeleng sambil tersenyum.
“Disti jadi ingin melukis sekarang...”
“Disti melukis di balkon saja.”
“Are you sure?”
Adisti mengangguk.
“Tapi kalau matahari sudah terik, Disti masuk ya..”
Bramasta keluar lagi ke balkon sambil membawa kuda-kuda kayu untuk kanvas. Adisti mengambil peralatan lukisnya. Saat Adisti mulai menggoreskan sapuan kuasnya yang pertama, Bramasta melanjutkan lagi olahraganya di balkon.
Bramasta menyodorkan cangkir teh kepada Adisti saat istrinya mulai menorehkan pisau paletnya di atas kanvas. Tangan Adisti bergerak cepat karena perubahan warna langit juga berubah dengan cepat. Adisti yang sedang dalam keadaan tidak bisa diganggu mengabaikan teh yang disodorkan suaminya.
Bramasta akhirnya meletakkan gelas Adisti di meja. Berdiri di samping Adisti, mengamati bagaimana istrinya menorehkan pisau palet yang berisi cat dalam diam. Dia mengagumi warna-warnanya.
Adisti tampak berbeda saat melukis. Dia terlihat sangat percaya diri, matanya tampak bercahaya dan terlihat sangat sek5i di mata suaminya.
Baru setengah kanvas mewarnai langitnya. Adisti beristirahat. Bramasta menepuk kursi di sebelahnya lalu menyodorkan gelas Adisti. Adisti memijat-mijat jemarinya.
“Capek?” Bramasta meremat jemari istrinya.
Adisti mengangguk.
“Abang diabaikan..” Bramasta mencebik.
“Ya ma’af.. memang seperti itu kalau Disti melukis. Just take me what i am, K_Terima saja apa adanya diriku, ya_?”
Bramasta terkekeh. Menatap dalam-dalam mata Adisti, membuat Adisti salah tingkah dan merona.
“Bismillaahi Allahumma jannibna as-syaithana wa jannibi as-syathana maa razaqtana," bisik Bramasta.
“Aamiin..” Adisti menaikkan kedua alisnya, “Kan tadi udah..”
“Kan udah diaminkan, gak bisa ditarik lagi..” Bramasta terkekeh.
“Tapi kan...”
“Mau pahala gak?” Bramasta tersenyum lebar lalu menarik tangan istrinya untuk berdiri. Bersama menuju kamar.
Langit sudah sepenuhnya berwarna terang sekarang. Warna keemasannya sudah hilang berganti dengan langit biru dan awan putih. Embun di handrail balkon sudah menguap. Burung-burung juga sudah mulai ramai berkicau dan terbang mencari makan.
Bramasta mendudukkan Adisti di kursi makan. Adisti mencebik saat melihat jam, 09.10. Rambut suaminya masih basah.
Tadi ada pengantar makanan dari salah satu gerai makanan bawah yang membunyikan bel pintu.
“Senyum dong... kok cemberut begitu?”
“Katanya cuma sebentar...”
Bramasta terkekeh pelan.
“Dimakan ya. Disti mau teh?”
Adisti menggeleng.
Bramasta memasukkan bubuk kopi pada penyaring coffee maker. Lalu menuang air panas di tankinya. Aroma kopi memenuhi ruangan.
Bramasta duduk di hadapan Adisti, memulai sarapan dengan menu yang berbeda. Adisti nasi goreng dengan telur dadar, sedangkan dirinya croissant sandwich dengan isian ayam dan keju.
“Ngapain senyum-senyum mulu?” tanya Adisti masih mencebik.
“Gak boleh? Lagi hepi boleh dong senyum...” Bramasta tersenyum lebar.
Dia mengambil gawainya. Lalu menyodorkannya pada Adisti.
“Bahkan tampak belakang pun terlihat cantik seperti ini...”
Adisti memajukan tubuhnya, melihat gawai suaminya.
“Itu.. pagi tadi ya? Kameranya keren Bang. Bisa menangkap warna sebanyak itu dengan jelas,” Adisti mengamati lagi fotonya, “Jangan-jangan efek kamera jahat..”
“Isssh! Nih Abang buktiin, kamera Abang gak pakai filter efek kamera jahat..” Bramasta mengambil foto dirinya dengan istrinya, “Tuh kan, asli. Kita berdua asli cakepnya.”
“Pede amat, Bang!” Adisti terkekeh.
Mereka sudah selesai sarapan. Bramasta membawa piring dan gelas kotor ke bak cuci piring dan langsung mencucinya.
“Ma’af ya Bang.. Disti gak bantuin..”
“Gak apa-apa.. Habis ini Disti mau ngapain?”
“Nonton TV saja.”
“OK.. Bentar,” Bramasta mengelap tangannya di hand towel pantry.
Saat hendak mengangkat tubuh istrinya, terdengar suara password pintu ditekan dari luar. Indra dan Agung muncul dari balik pintu saat Bramasta tengah mengangkat tubuh istrinya.
“Assalamu’alaikum.. Eh, kita ganggu nggak nih?” tanya Indra tidak enak hati.
“Wa’alaikumussalam.. Dah masuk aja, ini cuma mau mindahin Disti aja.”
“Emang Disti kenapa sampai harus digendong seperti itu?” tanya Agung heran.
Bramasta dan Adisti saling pandang dengan wajah merah padam.
Indra memandang Bramasta dan Adisti bergantian dengan tatapan “Aynowlaaaah”. Lalu menepuk pundak Agung.
“Gung, gak usah ditanya deh. Kita jomblo, bakal makin ngenes dengar jawabannya. Dah, kita ngopi aja yuk. Masih ada banyak kopi di teko coffee maker.”
Agung mengangguk. Tapi menatap adiknya dengan tatapan curiga dan penuh rasa ingin tahu.
***
Maafkan telat up.. terkendala lupa alamat email 🙏🏼