CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 254 – KISAH TRAGIS YANG TERUNGKAP DARI CCTV



Mata Hans berbinar menatap Anton. Dari dulu dia memang menyukai kinerja anak muda tampan bermata monolid itu.


“Audionya dapat juga gak, Ton?”


Anton mengacungkan kedua jempolnya.


“Cuma yang di Wastu Kancana ada noise lalu lintasnya. Tapi overall masih bisa terdengar. Gue pakai pembesaran volume maksimum dan hilangkan noisenya.”


“Warbiyasah. Dulu sewaktu kecil Lu dikasih makan apa sih, Ton?” Agung menatap kagum pada Anton.


Anton terkekeh.


“Nǎinai sering buatin sup telur jagung manis buat gue. Sup telur buatannya enak banget. Gak ada yang bisa nyamain buatannya. Ah.. gue jadi kangen banget dengannya.”


Mata Anton menerawang sendu.


“Lu dekat banget sama nenek ya?” Indra menepuk pundak Anton.


Anton mengangguk. Lalu tersenyum lebar.


“Cuma dengan Nainai, gue bisa curhat juga sebaliknya. Nainai gak benci gue hingga saat ini. Gue masih diam-diam bertemu dengan Nainai. Meneleponnya juga.”


“Serius, Ton?” Bramasta menatap heran, “Gak ketahuan?”


“Gue ajarin Nainai cara hapus riwayat panggilan, Bang. Gue gak berani chat karena resiko ketahuannya besar,” Anton meneguk tehnya.


“Eh, kelanjutannya bagaimana Bang?” Anton tersadar sudah melenceng dari arah pembicaraannya.


“Kita munculkan tokoh Inspektur Vijay seperti kita munculkan Inspektur Thakur alias Tuan Thakur,” Indra meletakkan kedua tangannya yang saling mengait di belakan kepalanya. Pose santainya.


Hans mengangguk setuju.


“That’s exactly what do I want to do.”


“So, let’s we do it!” Bramasta berseru diikuti kata “ya” dari yang lainnya.


“Butuh durasi berapa lama?” Adisti menaruh telapak tangannya untuk menyangga pipinya.


Bramasta memajukan duduknya. Lengannya di taruh di atas meja. Satu tangannya meraih tangan Adisti yang tengah menyangga pipinya. Ditepuknya lengan atasnya, meminta Adisti menyandarkan pipinya di sana.


"Memangnya kita mau live di TV lagi?” Indra mengernyit.


“Sebaiknya jangan live dulu untuk sekarang ini,” mengetikkan sesuatu pada keyboard laptop, kemudian di layar proyektor muncul gambar garis-garis berwarna cyan menuju titik hijau.


“Apa itu?” Hans mengernyit.


Anton zoom in titik hijau. Muncul wajah Prince Zuko.


“Ini traffic hacker semalam saat live Prince Zuko. Dan ini traffic peretas pasca live.”


Beberapa garis warna pink terang muncul dari beberapa arah menuju titik hijau.


“Tar dulu.. jelasin dulu garis-garis warna cyan dan pink itu, Ton..” Indra menggigit bibirnya.


“Garis cyan itu para hacker jahat. Mereka berusaha mengganggu siaran live Prince Zuko semalam. Tapi berhasil dihalau dengan pertahanan Prince Zuko sendiri dan bantuan Shadow Team,” Anton menunjuk dengan menggunakan laser pointer.


Semua mengangguk-angguk mengerti dengan penjelasan Anton.


“Pasca live, alhamdulillah banyak orang baik yang tergerak hatinya untuk membantu kita. Para Anonymous Baik membantu kita dengan meluangkan waktu dan tenaganya untuk menghalau mereka.”


“Terus apa yang terjadi kalau malam ini kita live lagi?” Hans memajukan tubuhnya.


“Berat, Bang. Kita sudah dapat yellow allert semalam. Sepertinya hacker yang itu bukan hacker yang bisa kita abaikan begitu saja. Kemampuannya di atas menengah untuk bisa membuat alarm peringatan kita menyala kuning.”


“Too risky, Hans kalau ngotot mau live. Lagi pula lebih mudah mengontrol segala sesuatunya saat siaran dalam bentuk rekaman, kan?”


“Agree,” Indra mengangguk, “Kita bisa menyajikan semuanya lebih rapi dan terkendali.”


“Voting saja deh. Yang setuju live siapa?” Adisti mengedarkan pandangannya.


Hans mengangkat tangannya. Hanya Hans sendiri.


“Yang abstain?” tanya Adisti lagi.


Tidak ada yang mengangkat tangannya.


“Yang setuju siaran rekaman?” tanyanya lagi.


Semua anggota mengacungkan tangannya.


“OK. Kita siaran rekaman,” Hans tersenyum lebar sambil terkekeh.


“Bang, kenapa sih ingin live?” Adisti memandangi Hans.


“Sensasinya, Dis.. beda. Banjir adrenalinnya itu loh....” Hans terkekeh lagi.


“Dih!” serentak semua yang hadir mencibir ke arah Hans.


“OK... Story board-nya bagaimana?” Indra mengambil sepotong kue.


“Lu kira kita sedang bikin film pendek, Bang?” Anton terkekeh menatap Indra.


“Ah..gue gak ngerti istilahnya. Susunannya bagaimana?” Indra terkekeh.


“Mana dulu nih yang mau kita spill? Flashdisk atau Inspektur Vijay?” Agung mengikuti Indra mengambil sepotong kue lagi.


“Kata gue sih mending kita spill Inspektur Vijay dulu untuk membangun kepercayaan masyarakat dumay dan duta tentang Raditya, tentang mereka yang sebenarnya bisa berbenah diri dengan orang-orang yang bersih dari skandal dan setia pada instansinya,” Bramasta melihat pada semuanya, “Kita letakkan flashdisk di akhir acara sebagai klimaksnya. Flashdisk ini sebagai bom yang mampu mengoyak hegemoni petugas-petugas jahat dan membangkitkan ghirah petugas baik didukung masyarakat untuk melakukan pembaharuan.”


“Masuk di akal.”


“Gue suka dengan pemaparan Lu, Bram.”


“Let’s do it!”


“OK Ton. Putar rekaman CCTV tentang Raditya kemarin. Kita edit bareng ya,” Hans memutar kursinya untuk menghadap layar proyektor.


Nonton bareng rekaman CCTV Raditya di parkiran GOR Saparua membuat mereka terhenyak. Kebetulan APV Hitam itu parkir di dekat CCTV.


Penumpang depan dan driver keluar dari mobil. Berdiri di depan mobilnya. Mereka merokok.


“Target sudah di dalam?” tanya penumpang depan yang berkaos polo warna biru dongker.


“Sudah. Agus tadi mengabari saya. Dia sudah siap di dalam,” Driver menghisap rokoknya dalam-dalam.


“Agus dengan siapa di dalam? Sebenarnya saya gak mudheng dengan perintah ini,” Kaos Polo menghembuskan asap rokoknya dengan kuat.


Driver menatap temannya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


“Kamu ikuti saja perintah Bos. Jangan membantah. Kalau nggak bisa berabe . Bukan hanya diri kamu sendiri yang terkena imbasnya tapi juga keluarga kamu,” Driver menyedot rokoknya lagi. Menatap pada temannya lagi.


“Agus dengan Suhe di dalam. Barang bukti yang dipersiapkan sekitar 7,2 kg. Di dalam tas ransel kuning.”


“Sebenarnya masalah Target dengan Bos apa sih? Yang saya tahu, Target itu orang baik dan jujur. Kinerjanya bisa dilihat dengan keberhasilannya menangani kasus-kasus besar seperti The Ritz juga kasus dengan orang kedutaan Jerman itu,” Kaos Polo menyandarkan tubuhnya pada bodi mobil.


Driver menoleh sambil tersenyum miring.


“Karena kasus The Ritz, Bos jadi susah kan? Dia sebagai salah satu pelaku yang ditangkap tapi untungnya dia masih mempunyai power sehingga dia masih bisa bergerak kemana saja memerintah dan mengendalikan orang-orangnya.”


Menghembuskan rokoknya lagi kemudian menatap bangunan GOR dari tempatnya berdiri.


“Makanya kamu jangan macam-macam. Kematian istri Target kita itu juga hasil rekayasa Bos.”


Kaos Polo menoleh cepat pada Driver.


“Yang benar? Kamu ikut ambil bagian?”


Driver terkekeh.


“Hal yang mudah dilakukan. Memotong jalannya yang sedang mengendarai motornya sendirian di jalanan yang sepi. Membuat dia tidak bisa berkonsentrasi lagi dan panik hingga menabrak trotoar dan membentur keras tiang lampu jalan. Tewas di tempat seolah kecelakaan tunggal,” Dia masih terkekeh ketika melanjutkan ceritanya, “Rekening saya langsung gendut pasca kejadian.”


Kaos Polo ikut terkekeh.


“Berapa?”


“Tiga puluh lima juta!” Driver berkata dengan bangga.


Keduanya berhenti terkekeh ketika melihat kedua temannya berlarian keluar dari GOR dengan panik. Ransel kuning tampak dipunggung salah satu dari mereka.


“Operasi bocor! Target sepertinya mengetahui perangkap yang kita buat!” pria dengan ransel kuning terengah-engah saat melapor.


“APA?? TERUS SEKARANG TARGET DIMANA?” Driver membanting rokoknya lalu menginjaknya dengan kasar.


“Target sudah tidak ada di dalam gedung, Pak. Saya sudah mencarinya,” Pria satu lagi menggelengkan kepalanya, “Negatif!”


“BODOH KALIAN!”


“Itu bukannya mobil target?” Kaos Polo menunjuk pada mobil Toyota Rush hitam yang terparkir 3 mobil dari mobil mereka.


“Bukan Pak! Mobil Target sedang berada di bengkel pasca kejadian kemarin di tol. Peringatan dari Bos untuk Target,” Ransel Kuning menyeka keringat dari dahinya.


“Berarti Target pakai apa sekarang?” Driver mengedarkan pandangannya ke pelataran parkir mobil.


“Itu Target bukan?” Kaos Polo menunjuk pada parkiran motor yang cukup jauh dari tempat mereka berdiri sekarang ini.


“Sepertinya iya..” Ransel Kuning terlihat panik.


“CEPAT SEMUANYA NAIK!” Driver bergegas membuka pintu mobil. Semuanya bergerak ke arah mobil. Mobil melaju dengan tersentak. Meninggalkan kepulan debu yang tampak di CCTV.


.


***


Kasihan Raditya ya. Petugas Ganteng yang kehilangan istrinya secara tragis. Tuan Thakur benar-benar jahara.