CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 182 – KABAR DARI B GROUP



Bramasta berdiri di depan pintu ruangan Indra yang terbuka. Indra tidak menyadari kehadirannya. Matanya fokus menatap sasaran permainan dart. Berusaha melemparkan dart agar masuk ke area lingkaran merah kecil pada sasaran bull eye-nya.


Bramasta hafal sekali dengan kebiasaan Indra saat sedang gelisah ataupun ada sesuatu yang dipikirkannya: bermain dart.



Bramasta bersandar pada kusen pintu. Satu kakinya menopang bobot tubuhnya. Tangannya bersidekap di dada.


“Assalamu’alaikum.. what’s up, Bro? I knew there was something wrong.”


Indra terlonjak kaget menoleh ke arah pintu.


“Eh! Wa’alaikumussalam.. Ma’af gue gak dengar Lu ada di situ.”


“Ya iyalah. Lu-nya fokus banget..” Bramasta berjalan menghampiri Indra, mengambil dart yang ada di tangan Indra lalu melemparkannya pada bull eye. Tepat di bulatan merah tengah.


Indra berdecak.


“Padahal dari tadi gue nyobain, gak bisa nembak tengahnya..”


Bramasta terkekeh.


“Masalahnya itu di sini,” Bramasta menunjuk kepalanya, “Dan di sini..” Bramasta menunjuk hatinya.


Indra melangkah lesu di sofa. Bramasta mengikutinya.


“Tell me..”


“Gue gak tahu harus mulai dari mana..” Indra mengacak rambutnya.


“Try it. Kalau nggak Lu gak bakal fokus kerja.”


“Gue akan profesional seperti biasanya.”


“Nonsense!” Bramasta melambaikan tangannya.


Indra mengangguk. Berpikir keras bagaimana dia akan memulai bercerita, mencari kata yang tepat untuk memulainya.


“Atau jangan-jangan Lu galau setelah tahu Agung akan mengkhitbah Adinda dalam waktu dekat?”


“Isssh come on.. I’m not childish like that.”


Bramasta terkekeh.


Indra menegakkan punggungnya.


“Dini hari tadi gue mimpi. Mimpi yang tidak biasa. Terasa sangat real. Dan saat gue bangun gue yakin itu akan terjadi pada gue gak akan lama lagi.”


Bramasta memicingkan matanya. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sambil menyilangkan kakinya.


“Mimpi apa?”


“Gue dipanggil papa oleh 2 orang anak kecil laki-laki. Yang kakaknya kira-kira usia baru masuk SD dan adiknya masih balita dan ngomongnya juga masih cadel, tapi hebatnya, gue ngerti apa yang anak itu bicarakan.”


Alis Bramasta terangkat.


“Anak Lu?”


“Dengan siapa?”


“Anak masa depan Lu, maybe?”


Indra menggeleng.


“Kan tadi gue udah ngomong, gue merasa mimpi gue bakal terjadi dalam waktu dekat..”


“Lu beneran sudah putus kan dengan mantan pacar Lu yang cuma bertahan 1 bulan itu?”


“Ya iyalah. Gue gak pernah kontak dia lagi ataupun tidak sengaja bertemu dengannya.”


“Lu pernah berhubungan terlalu jauh dengan salah satu kenalan kita atau keluarga Lu?”


“Hisssh! Gegabah! Pertanyaan Lu sama dengan pertanyaan Agung.”


“Ya iyalah, wajar saja.”


Indra menceritakan tentang mimpinya. Bramasta menyimak dengan satu tangan menyentuh cuping hidungnya. Setelah Indra selesai bercerita, Bramasta masih terdiam. Masih mencerna dan mengurai mimpi Indra.


“Gue rasa sih mimpi Lu bukan mimpi buruk, Ndra.”


Indra mengangguk.


“Tadi Agung juga berkesimpulan seperti itu.”


Keduanya terdiam lagi.


Bramasta menghela nafas. Indra mengusap kasar wajahnya. Ada lingkaran hitam samar pada area matanya.


“Lu gak ingat detil mimpi Lu?”


Indra menggeleng.


Bramasta mengangguk mengerti.


“OK. Kita tunggu saja. Kalau betul itu petunjuk buat Lu, pasti akan ada kelanjutan dari mimpi Lu.”


“Agung juga tadi bilang begitu..”


Indra tersenyum kecil.


“Karena gue merasa dia tahu hal beginian setelah pra koma-nya yang luar biasa karena tidak biasa itu..”


“Gue ngerti maksud Lu..” Bramasta mengangguk.


“Jadi?”


Bramasta mengangkat bahu, “Just wait and see.”


“Lalu anak-anak itu?”


“Mungkin mereka akan jadi anak-anak Lu..”


“Tapi kan gue gak tahu wajah mereka seperti apa dan bagaimana bentuk dan rupa emaknya?”


“Artinya Allah Subhanahu wata’ala masih merahasiakannya dari Lu.”


“Means, jodoh gue adalah janda?”


“Masalah status apa jadi pertimbangan Lu dalam mencari jodoh?” Bramasta balik bertanya dengan alis terangkat sebelah.


Indra menggeleng.


“Menikahi janda, pahalanya besar loh. Pernikahan pertama Baginda Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam pun dengan seorang janda,” Bramasta berdiri sambil merapikan kemejanya.


Indra mengangguk.


“Tapi asal Lu meridnya bukan dengan janda pirang tato kupu-kupu, ya..” Bramasta terkekeh keras.


Indra berdecak kesal menatap Bramasta.


“Lu ikutan meeting kan?” tanya Bramasta yang mulai berjalan ke arah pintu.


Indra menatap arlojinya.


“Masih 15 menit lagi. Ruang meeting sudah siap kok.”


Bramasta mengangguk untuk kembali ke ruangannya mengambil berkas meeting untuk dipelajari lagi bersama dengan Indra.


***


Udara siang itu begitu terik. Untung saja di Hotel The Canyon banyak tanaman indoornya sehingga udara menjadi lebih sejuk dibantu dengan pendingin udara.


Baru saja makan siang bisnis selesai setelah mereka menyelesaikan terlebih dahulu meetingnya. Indra tidak ikut menemani karena dia harus memimpin meeting lainnya di B Group.


Dia menugaskan salah satu anak buahnya, seorang pria muda berkaca mata dengan rambut klimis ber-pomade, untuk mencatat jalannya meeting juga untuk membantu Bramasta.


Sebuah pesan chat masuk. Bramasta membacanya lalu mengerutkan keningnya. Segera ia membuat panggilan telepon dengan orang tersebut.


Setelah menjawab salam, Bramasta langsung bertanya to the point.


“Bagaimana bisa? Siapa yang memberi usul seperti itu?” Jeda.


Bramasta menghembuskan nafas kasar. Tangannya mempermainkan pulpen mahal dengan memutar-mutarnya pada jemarinya.


“Tahan idenya. Jangan langsung diwujudkan sebelum saya memberi lampu hijau.” Jeda. Suaranya terdengar menahan marah.


“Ya.. ya..biarkan saja dia mengeluarkan idenya terlebih dahulu. Tapi keputusan akhir ada di tangan saya, OK?” Jeda.


“Pak Indra tahu akan hal ini?” Jeda sejenak.


“WHAT??!” Bramasta berdiri sambil tanganya berkacak pinggang.


“Bagaimana bisa?!”


Lelaki muda anak buah Indra terlonjak kaget. Laptopnya tersenggol dan hampir jatuh. Menatap penuh heran dan takut pada Bramasta, big bossnya yang selalu berpembawaan tenang tetapi siang ini menjadi emosional.


Lelaki muda itu mengetik cepat pada gawainya lalu mengirimkannya pada bosnya, Indra. Segera pesannya mendapat dua centang biru. Tertulis Indra mengetik sedang mengetik pesan.


Lelaki muda itu melongo menatap pesan balasan dari Indra. Hanya sebuah emot tersenyum lebar. Dia menatap Big Boss-nya yang tengah menyugar rambutnya dengan gelisah. Tangan satunya masih memegang gawai pada telinganya.


“Baik, saya kembali ke kantor sekarang. Jangan bilang ke siapa-siapa saya sudah tahu berita ini ya.” Jeda.


“Kabari saya kalau ada apa-apa lagi. Assalamu’alaikum.” Bramasta mengakhiri sambungan teleponnya.


Bramasta menatap lelaki muda itu yang menatapnya cemas.


“Kita kembali ke kantor sekarang.”


“Iya Tuan Bramasta.”


Terburu-buru, dia memasukkan perlengkapan dan berkas ke dalam tasnya. Setelah memastikan tidak ada yang tercecer di atas meja, dia meninggalkan tempat itu menyusul Bramasta yang sudah membawa mobilnya terlebih dahulu diikuti oleh para pengawalnya.


Untung saja Bosnya menyuruhnya membawa kendaraan sendiri.


Dia sangat penasaran apa yang sebenarnya tengah terjadi. Dia menyalakan pendingin udara mobilnya dengan cepat setelah membuka seluruh jendelanya untuk membuang hawa panas.


Menyesal tadi dia memarkirkannya di depan hotel bukannya di basement. Mobilnya jadi terasa bagai oven sekarang.


***


Siapa sih yang bikin Babang Bram uring-uringan di siang hari yang panas?