
APARTEMEN LANDMARK
UNIT PENTHOUSE
Setelah Ayah dan Bunda berangkat ke Jakarta, mereka berdua segera kembali ke apartemen karena mereka tidak membawa baju untuk ke kantor.
Sementara Indra, Anton dan Agung masih melanjutkan sarapan di rumah Bunda, Hans memilih tidur di sofa ruang tengah.
Gawai Bramasta berbunyi. Notifikasi pesan chat yang masuk. Sambil memakai kemejanya, ia menghampiri meja kabinet tempat ia meletakkan gawainya di sana. Suara notifikasi pesan chat terdengar beruntun.
“Kuping Merah, Bang?” tanya Adisti sambil mengambil dasi untuk suaminya.
“Perhaps..”
Adisti mendorong suaminya untuk duduk di kursi. Bramasta terperangah heran. Dia melirik arlojinya.
“Sayang..”
“Diam. Jangan bergerak.” Adisti menyelipkan beberapa helai tisu di kerah kemeja suaminya.
“Buk Istri...”
“Hmmm.”
Adisti menuangkan concealer di atas punggung jempolnya. Lalu menutul-nutulkannya ke jejak merah nyaris bundar di leher suaminya.
“Isssh kirain mau ngapain..” Bramasta terkekeh.
“Pasti pikirannya sudah travelling ke yang iya-iya..” Adisti fokus pada apa yang dikerjakannya. Jemarinya lincah menutul-nutul spons blender pada leher suaminya.
“Sponsnya harus ungu ya?” iseng Bramasta memainkan spons blender di tangannya.
Adisti menepuk punggung tangan suaminya.
“Jangan iseng deh. Nanti kotor...”
“Diiiih!” Bramasta mencebik lalu memeluk istrinya, “Abang sudah lihat isi lemari yang itu..”
Bramasta menunjuk lemari tempat gaun-gaun yang digantung. Ada satu lemari yang dikhususkan istrinya untuk menggantungkan gaun-gaun dinas malamnya.
Adisti tersenyum lebar dengan pipi bersemu merah. Bramasta menarik pinggang istrinya untuk duduk di atas pangkuannya.
“Ada beberapa warna yang belum pernah Buk Istri pakai..” Bramasta berbisik di telinga istrinya, “Termasuk yang ungu lavender itu.. Disti pasti terlihat bagus pakai itu..”
“Isssh Abang tuh..” pipinya terasa panas.
Dia bergidik geli saat Bramasta menciumi telinganya. Lalu turun ke lehernya. Dia terkekeh geli. Kemudian dia teringat sesuatu. Secepat kilat dia berdiri dan berlari ke cermin panjang di lemari milik suaminya.
“Abaaaaaang ! Ih Abang mah...”
“Apaan?”
“Pura-pura dalam perahu!”
“Cakeeeeep!” Bramasta mengacungkan kedua jempolnya.
“Baaaaang! Disti sedang gak sedang main pantun..!” Adisti menggosok lehernya, berharap tanda kemerahan itu lenyap dengan gosokannya.
Bramasta terkekeh.
“Abang bikinnya cuma dua. Gak seperti Buk Istri yang bikinnya banyak. Berapa tadi hitungan Anton? 4 ya kalau gak salah?" Bramasta tergelak.
Adisti mencebik.
“Udah.. jangan ngambek. Nanti cakepnya hilang. Gak bakal kelihatan bekas gigitan nyamuknya, Sayang..”
“Hmmmh! Gigitan nyamuk..” Adsiti mencibir.
“Kalimat tadi... berasa pernah dengar deh. Siapa yang ngomong ya, pagi tadi?” Bramasta tergelak lagi.
Adisti tidak menanggapi. Dia bergegas menyelesaikan dandanannya.
“Tuh, kan. Gak kelihatan. Tertutup hijab dengan rapi. Istrinya CEO B Group memang cantik banget ya. Sama dengan suaminya yang cakepnya kebangetan...”
Adisti menoleh sebal ke arah suaminya.
“Bisa diam gak? Abang sarapan apa sih pagi tadi?”
“Kita kan sarapannya sama, Sayang..”
“Berarti salah di kopinya nih..”
“Bukannya Buk Istri tadi juga minum kopi?”
“Tapi Disti normal, gak ganjen dan gak super narsis seperti Pak Suami. Arah adukan kopi kita berbeda. Yang Disti berlawanan arah jarum jam, yang Pak Suami searah jarum jam.”
“Are you kidding me?”
“No I’m not.”
Bramasta menatap Adisti dengan tatapan aneh.
“Yuk buruan. Pak Suami ada meeting pagi kan? Kelarin yang cepat supaya kita bisa kumpul di kantor Daddy menonton acara pelantikannya Pak Raditya.”
“Siap, Buk Istri...”
Bramasta membuka pesan chatnya. Kemudian terbahak. Adisti yang berjalan di sebelahnya ikut melihat apa yang ditertawakan oleh suaminya.
Di dalam lift, mereka terbahak bersama. Melihat foto yang dikirimkan oleh Anton, Hans tengah tertidur di sofa dengan mulut terbuka.
***
B GROUP BUILDING
Meeting dimulai tepat waktu di B Group. Bramasta ditemani asisten Indra sementara Indra juga melakukan meeting online dengan perusahaan peternakan milik Keluarga Jones.
Indra selesai lebih awal sementara Bramasta belum selesai. Ada kesepakatan yang alot antara pihak B Group dengan pihak kontraktor.
Adisti mondar-mandir di ruangan Indra dengan gelisah.
“Bang, masih lama gak sih?” menatap Indra yang masih menekuri laptopnya.
“Meneketehe, Dis. Abang kan gak tahu mereka ngomongin apa..”
“Bukannya Abang tahu mereka meeting tentang apa? Bantuin Abang Bram supaya cepat beres, dong Bang Indra..”
“Ya tahu dong. Sebagai sekretarisnya Pak Bos harus tahu meeting hari ini tentang apa dan dengan siapa,” Indra menatap Adisti untuk menyuruhnya duduk di sofa, “Tapi Abang gak bisa begitu saja tiba-tiba ikut nimbrung di saat meeting sudah berjalan terlalu jauh. This named business ethics.”
“Dis, kata Pak Bos, kita duluan saja ke Sanjaya Group. Nanti dia menyusul.”
“Berarti masih lama ya?”
“Maybe yes, maybe not,” Indra mematikan laptopnya, “Jangan diburu-buru. Karena apa yang diputuskan oleh Pak Bos itu berkaitan dengan kehidupan orang banyak di perusahaan ini dan beberapa perusahaan lainnya.”
Dia menghubungi asistennya yang lain untuk memberikan perintah-perintah melalui interkom dari mejanya.
Indra menatap Adisti yang sedang mengecek sosial medianya.
“Ada berita baru?”
Adisti menggeleng.
“Yuk. Berangkat sekarang..” Indra berdiri mengambil jas semi formalnya.
***
SANJAYA GROUP BUILDING
Adisti menyodorkan tisu kepada Mommy yang sesenggukan saat melihat ekspresi wajah Raditya di tengah acara kenaikan pangkatnya.
Adisti tidak dapat menahan dirinya lagi melihat Raditya yang menengok ke arah Ayah dan Bunda saat acara pengambilan sumpah jabatan hendak dilakukan. Mommy memeluk Adisti.
Pidato pertama Raditya membuat mereka semua tersenyum. Pelaku penghadang mobil pemadam kebakaran menunjukkan dirinya sendiri di acara itu.
Bramasta masih belum ada kabarnya. Asisten Indra yang ditugaskan untuk mendampingi Bramasta mengabarkan mereka masih meeting. Hans, Daddy dan Agung menonton dalam diam.
Leon dan Anton duduk saling berdekatan hingga kedua bahunya saling menempel. Entah apa yang mereka berdua lakukan.
Hans berdiri saat melihat seorang berbaju perwira berlari mendekati panggung podium sambil membawa bunga. Saat orang itu berbicara pada Raditya, Hans bisa melihat tanda 4 jari terbuka dan menutup yang dilakukan oleh Raditya dari podium.
“Itu...!” Hans menunjuk pada Raditya.
Semua berseru saat mendengar bunyi letusan pistol. Adisti dan Mommy menjerit.
Pria pembawa bunga terjatuh diseruduk pria berbaju batik. Bersamaan dengan jatuhnya Raditya ke arah belakang podium.
Teriakan terakhir Raditya terdengar jelas, “Lindungi Ayah dan Bunda!”
Mereka semua melihat Ayah dan Bunda berlari ke tubuh Raditya yang tidak bergerak di atas karpet merah panggung. Suara teriakan Bunda memanggil nama Raditya terdengar begitu menyayat hati. Layar TV menghitam.
“Apa? Apa yang terjadi?” Daddy berdiri menunjuk ke arah layar TV.
“Siaran langsung diputus?” Indra menatap heran pada Hans.
“Kami masih bisa melihat mereka!” Anton menunjuk pada laptopnya.
“Audio visual?” tanya Hans.
“Clear!” Leon mengangkat jempolnya.
“Rekam, Ton!”
“Ini dari mana?” tanya Daddy menunjuk pada layar monitor laptop Anton.
“Masih stasiun TV yang sama. Seseorang memblokir tayangan yang terjadi di gedung tersebut,” Anton memandang Hans, “Bang, saya pinjam laptop Abang. Laptop Shadow Team.”
Hans mengangguk. Dia membuka laptopnya lalu menyodorkan laptop yang selalu dibawanya.
Hanya dirinya yang bisa membuka laptop itu. Karena selain menggunakan password numerik, Hans melapisi keamanan laptopnya dengan pindai sidik jari dan retina mata.
Anton melakukan peregangan jemari tangannya terlebih dahulu.
“Saya akan masuk ke sistem stasiun TV itu dengan mengatasnamakan Prince Zuko ya. Bismillahirrahmaanirrahiim.”
Anton mulai bergerak cepat. Perhatian semuanya terbagi dua. Ada yang ke laptop Anton dan ada yang ke laptop Hans yang sedang dipakai Anton.
Jemari tangan Anton bergerak cepat. Begitu juga saat dia menggunakan mouse eksternal untuk memudahkannya saat bergerak cepat.
“Blokir pertama, terbuka!” seru Anton.
Jemarinya bergerak cepat lagi. Lincah mengetik perintah dalam bahasa-bahasa coding.
“Raditya sudah bisa bernafas sendiri ya?” Mommy menunjuk pada layar, “Dia terbatuk.”
“Kenapa wajah Ayah tampak gusar seperti itu ya? Kepala Instansi bicara apa sih ke Ayah?”
Leon yang memakai headset menggeleng.
“Noise-nya terlalu banyak. Susah mendengar dengan baik.”
“Harus dibersihkan lebih dahulu untuk meredam noise..” Agung memandang Anton.
“Blokir kedua, terbuka!” Anton menggerakkan pundaknya yang dirasa pegal.
“Kaaaak! Itu kenapa tangan Bunda ditarik-tarik oleh wanita berseragam itu?” Adisti berteriak panik.
Hans berbicara di earphone-nya. Dia berdiri agak menjauh dari mereka. Tatapannya terarah pada laptop milik Anton yang tengah menayangkan kejadian di panggung podium.
Hans berbicara dengan suara pelan.
“Blokir ketiga, terbuka!” Anton menoleh ke arah Hans, “Bang, minta orang untuk mengecek ke mobil satelit stasiun TV ini. Cek pemancarnya. Akan ada alat yang mencurigakan yang ditempelkan pada piringan cekung pemancarnya. Tidak dibaut tapi hanya ditempel menggunakan double tape.”
Hans mengangguk.
“Blokir sudah selesai semua dibuka Ton?” tanya Daddy.
Anton menggeleng.
“Alat pengacak sinyal pada pemancar harus disingkirkan terlebih dahulu, Dad. Baru saya bisa membukanya.”
“Cepat, Hans!” perintah Daddy.
.
***
Buruan Hans!
Author dah ngantuk. Pengen ngopi....☕
Jangan lupa tekan like untuk menghitung retensi pembaca. ❤️😉