
Daddy terbatuk. Matanya menatap Tuan Armand lalu mengeluarkan cengirannya.
“Ma’af.. saya lupa Pak Armand ini duda..”
“Duren Maxi, julukan Tuan Armand di medsos,” celutuk Indra, “Duda Keren Maximal.”
Semua menoleh pada Indra.
“Gila lu Ndra, lu rajin mantengin medsos?” tanya Leon.
“Nggaklah. Gue dapat bocoran dari anak-anak cewek di kantor yang jadi pengikut medsosnya Tuan Armand.
“Lu dekat banget dengan anak-anak cewek di kantor lu ya Ndra?” pertanyaan bernada tuduhan dari Hans.
“Dekat dong.. gue kan bos yang baik buat mereka. Gak kaya Bos Bram yang jaim dan dinginnya gak kira-kira ke B crews cewek,” Indra melirik pada Bramasta yang duduk di sebelahnya.
Bramasta yang disebut namanya memasang wajah cool and calm.
“Dih, dingin… pantesan mimisan,” kata Agung pelan.
Bramasta yang mendengar langsung melotot ke arah Agung yang duduk di depannya. Kakinya menendang sepatu Agung. Indra yang mendengar ucapan Agung terkikik tertahan.
“Siapa yang mimisan?” bisik Anton yang duduk di sebelah Indra.
“Gue,” jawab Agung meraih tisu di depannya, “Kayaknya berasa mau mimisan. Panas dalam kali..”
Indra semakin tak tertahan untuk tertawa.
“Ndra, kamu kenapa?” tegur Hans.
Bramasta menyikut Indra, “Diem gak lo? Atau nama WAG kita berubah jadi WAG Kuping Ungu?”
Semua dalam ruang meeting itu tertawa mendengar ancaman Bramasta.
“By the way, karena kita menyinggung tentang status duda, sebentar lagi relasi Tuan Alwin akan resmi menjadi duda,” Tuan Armand memandang Tuan Alwin dengan tersenyum.
“Siapa?” tanya Daddy.
“Tuan Hilman Anggoro.”
“Wah..”
“Pagi tadi lawyer Tuan Hilman mendatangi istrinya di kantor polisi. Meminta Nyonya Liliana Sukma untuk menandatangani akta perceraian,” cerita Tuan Armand membuat semua yang berada di ruang meeting memandanginya.
“Dia bersedia menandatanganinya begitu saja? Tanpa ada gonjang-ganjing?” tanya Hans.
“Awalnya dia menolak dengan keras. Ada keributan di sana. Nyonya Liliana menginginkan hak asuh atas Dimas dan tunjangan bulanan yang jumlahnya sangat fantastis.”
“Lalu?”
“Lawyer menghubungi Tuan Hilman untuk memberitahukan tuntutan Nyonya Liliana.”
“Tuan Hilman setuju?”
Tuan Armand menggeleng, “Tuan Hilman menyuruh Prasetyo untuk berbicara dengan Nyonya Hilman.”
Bramasta menyandarkan punggungnya saat mendengar nama Prasetyo disebut. Menunggu Tuan Armand menceritakan kelanjutannya.
“Prasetyo datang, langsung berbicara to the point dengan ibunya. Dia beberapa kali menyebut Gunawan Tan dan juga menyebut Adisti.”
Bramasta dan Agung saling pandang.
“Dimas tetap dalam hak asuh Tuan Hilman. Karena selama ini yang aktif berkomunikasi dan beinteraksi dengan Dimas adalah Tuan Hilman. Nyonya Liliana akhirnya menandatangani surat perceraian itu setelah Gunawan Tan datang.”
“Di pelataran parkir, Gunawan Tan dan Prasetyo saling adu mulut dan nyaris saling hantam, tepatnya Prasetyo nyaris memukul Gunawan Tan. Dilerai oleh para polisi yang berada di pelataran parkir tersebut,” Tuan Armand mengakhiri laporannya.
Semua orang menghembuskan nafas panjang.
“Tragis ya..” kata Agung.
Lainnya mengangguk setuju.
“Dendam tidak akan pernah membawa kebaikan. Malah memicu tragedi yang lebih besar lagi,” kata Daddy, “Dendamnya Nyonya Liliana terhadap keluarga Gumilar terutama Adisti membutakan matanya hingga membuka kotak pandoranya sendiri, yaitu perselingkuhannya dengan Gunawan Tan.”
Semua orang mengangguk setuju ucapan Daddy.
Meeting malam itu selesai. Diakhiri dengan pemberian kunci mobil kepada Anton yang menerimanya dengan keheranan. Kepala kunci berlogo Toyota. Anton mengerutkan keningnya.
“Need to drive?_Butuh disupiri?_” tanya Anton pada Bramasta.
Indra di sebelahnya terkekeh.
“That’s yours_Itu punya kamu_,” Bramasta menepuk-nepuk punggung Anton.
“Hahhh?”
“Bonus, Ton…Bonus lu cair,” Indra menyenggol bahu Anton dengan bahunya.
“Wow Toyota. Toyota apa nih?” Agung mengamati kunci di tangan Anton, “Jangan-jangan Toyota Dyna. Lu punya SIM B1, Ton?”
Anton terperangah.
“Isssh Kakak Ipar ini bener-bener ya..” Bramasta memandang gemas pada Agung yang dibalas Agung dengan kekehan.
“Everyone, let’s go to terrace loby area,” ajak Daddy.
Semuanya menuju lift mengikuti Daddy, memakai dua lift mereka turun.
Beberapa karyawan yang belum pulang tampak mengerumuni teras lobby. Lampu teras dipadamkan saat rombongan Daddy hampir sampai di lobby. Dari dalam lobby tidak terlihat apapun ditambah kerumunan karyawan.
Kerumunan tersibak saat rombangan Daddy keluar menuju teras. Suasana gelap, tidak jelas bentuk mobil apalagi warnanya. Yang jelas bukan truk keluaran Toyota yang tadi disebut oleh Agung.
Lampu teras menyala terang. Sebuah Toyota Fortuner terbaru berwarna grey stone metallic tampak gagah di teras lobby. Anton dan Agung terperangah. Mata Anton mengembun. Hans, Daddy dan Indra yang mengetahui kejutan ini menepik-nepuk punggung dan bahu Anton. Tuan Armand juga.
“Masyaa Allah. Alhamdulillah,” bisik Anton.
Dia berpaling kepada Bramasta. Bramasta tersenyum dan mengangguk. Anton bargegas memeluk Bramasta.
“Terima kasih Pak Bos. Ini mobil idaman banget. Saya gak pernah berpikir akan mampu untuk memilikinya,” Anton menyusut air mata yang meluncur dari sudut matanya dengan lengan atasnya.
“Saya tahu bagaimana beratnya kamu berjuang tanpa dukungan keluarga. Sekarang kami semua adalah keluarga kamu. Kamu gak usah merasa sendiri lagi,” Bramasta memeluk erat Anton.
“Tetap tunjukkan akhlaqul karimah kepada keluargamu ya. Terutama kedua orangtuamu. Selalu do’akan mereka agar Allah memberi hidayah pada mereka agar mereka mau memeluk Islam,” kata Daddy.
Anton mengangguk, “Terima kasih banyak Tuan Alwin.”
“Semua surat-surat kendaraan ada di laci dashboard mobil ya,” kata Indra.
“Anton…Anton…Anton…” semua memberi semangat Anto yang tampak malu-malu untuk melakukan test drive.
Agung mendorong Anton ke pintu pengemudi.
“Abang Bramasta ikut Bang, nemenin. Biar gak grogi..” seru Agung.
Bramasta terkekeh sambil membuka kursi penumpang depan.
“Kakak Ipar, ayo…”
“Siiip, gw videoin ya,” kata Agung sambil membuka pintu penumpang belakang.
“Tungguin woiyy.. gue juga ikut…” seru Indra sambil berlari ke arah pintu penumpang belakang.
“Dih, mulai deh..mulai…” kata Daddy, “Petakilan mode on.”
Tuan Armand dan Hans tertawa.
“Gue gak diajak…” kata Leon sedih.
Hans menepuk-nepuk pundak menghibur Leon.
“Bang Leon ingin ikut?” tanya Hans.
Leon mengangguk.
“Mau duduk di atas kap mesinnya?” Hans memandang ke arah lampu taman, “Sekalian menguji kekuatan plat kap mesinnya.”
“Ya Allah… Hans, lu nyuruh gue uji nyali?”
Daddy dan Tuan Armand terkekeh hingga mengeluarkan air mata. Tidak berapa lama Tuan Armand mohon diri.
“Kemana kita?” tanya Anton.
“Pokoknya halan-halan..” jawab Indra.
“Gung, lu ngapain?” tanya Anton melihat dari spion dalam.
“Jadi videographer dong. Test drive mobil bonus dari Bos B Group untuk Anton Nicholas.”
“Akbar..” kata Bramasta, “Pakai Akbar di belakangnya, Anton Nicholas Akbar.”
“Jadi Anton itu anaknya Pak Akbar?” tanya Agung.
Anton tersedak, Bramasta terkekeh.
“Hisssh bukan. Itu nama pemberian dari dari almarhum Ustadz Arifin Ilham Rahimahullah sewaktu Anton menjadi mualaf,” jawab Indra.
“Wah.. masyaa Allah. Semoga selalu istiqomah ya Bro,” Agung menyentuh pundak Anton.
“Aamiin Yaa Robbal’aalamiin,” serentak bertiga menjawab do’a Agung.
“Laperrr,” kata Agung.
“Ho oh ih laper. Ton, syukuran mobil baru, Ton. Lu traktir ya..” Indra mencolek lengan atas Anton. Anton berjengit.
“Setdah. Gak perlu colak-colek gitu, Bro. Geli tau!” Anton mengusap lengan atasnya, “Siip, gue traktir. Makan di mana?”
Indra terkekeh. Lalu menunjuk plank di depan sana.
“Si Kakek berwajah ramah itu seperti melambai-lambaikan tangannya ke arah kita.”
“Dih, segitu laparnya sampai halu begitu,” Bramasta tertawa.
“Ayo kita makan ayam kakek,” kata Agung.
“Grand Pa, here we’re coming…” Anton membelokkan mobilnya memasuki pelataran parkir.
“Amankan dulu surat-surat mobilnya, Ton,” Bramasta mengingatkan saat mereka semua sudah turun dari mobil.
Anton membuka pintu penumpang depan dan mengambil semua kertas terbungkus plastik klip kedap udara dan sebuah amplop panjang putih, memasukkan semuanya ke dalam tas slempangnya.
“Sudah semuanya?” tanya Bramasta lagi.
“Let’s go! Si Kakek menunggu kita di dalam.”
Baru saja mereka membuka pintu kaca, para pengunjung berbisik-bisik sambil memandangi mereka dengan tatapan heran.
“Mereka kenapa?” bisik Agung tidak nyaman.
“Keep calm, stay cool, and keep smiling_Tetap tenang, tetap keren dan teruslah tersenyum_” bisik Indra sambil tersenyum tipis dan sedikit mengangguk kemana mata memandang.
Mereka ikut mengantri.
“Bos, kayaknya biar nyaman kalian duduk aja. Biar saya yang mengantri,” kata Anton.
Bramasta mengangguk. Mengajak yang lainnya untuk mencari meja kosong di jam makan malam.
“Bang, Adek udah diberitahu Abang makan di luar?” tanya Agung.
“Astagfirullah… Abang lupa. Keasyikan hang out bareng kalian.”
“Baru juga sehari merid, Bos.. bini sendiri dilupain…” Indra terkekeh.
Bramasta membuat panggilan vicall.
Bramasta_Assalamu’alaikum Disti. Lagi apa?_
Adisti_Wa’alaikumussalam. Lagi nungguin Abang pulang buat makan malam bareng_
“Nah loooh…” Indra mengompori.
Bramasta_Disti makan sama Mommy dan lainnya dulu ya. Abang masih diluar_
Adisti mencebik_Abang ada di tempat makan ya? Daddy dan Bang Leon aja udah pulang_
Agung mendekatkan wajahnya ke kamera_Hai Dek.._
Indra juga mengikuti_Hai Disti.._
***
Ada yang membara tapi bukan arang sate....
Ada yang meledug tapi bukan kompor...
Babang Bramasta sih.. baru sehari merid dah lupa sama bini...