
Bramasta berdehem.
“Apa yang dilakukan pria itu di rumah Anda?”
Hans yang mengamati dari layar gawainya langsung berseru.
“Pak Raditya, sepertinya dia akan mencuri barang berharga di rumah Anda.”
“Oh, d4mπ!” Raditya berdiri sambil bertolak pinggang
“Calm down, Pak Raditya. Orang-orang saya ada di dekat rumah Bapak.”
“Kamar tidur utama tidak dikunci?” Indra menatap layar tablet, melihat dengan mudahnya si Topi Coklat itu masuk ke dalam ruang tidur.
“Itu bukan ruang tidur utama. Itu ruang tidur tamu yang sering saya pakai sebagai ruang kerja saya..” Raditya terlihat menahan nafas, “Ruangan itu memang tidak dikunci supaya Bi Irah bisa membersihkannya.”
“Ruang kerja, berarti ada laptop Pak Radit di ruangan itu?” Adisti berdiri di belakang Hans untuk melihat melalui gawainya.
“Laptop, kamera, dan lain-lain,” tangan Raditya mengepal, “Di SD Card kamera, foto-foto kebersamaan saya dan almarhumah Masayu.”
Bramasta menepuk punggung Raditya.
“Biarkan dia mengambil barang-barang yang dia inginkannya sebelum diringkus oleh orang-orangnya Anda, Tuan Hans. Tangkap dia dengan barang bukti di tangan.”
Hans mengangguk.
“Tapi tidak akan dibawa ke kantor anda ya Pak Radit..”
Raditya mendongak cepat menatap Hans. Matanya penuh tanda tanya.
“Karena di kantor Anda ada temannya si pencuri. Si Topi Hitam. Belum lagi komplotannya,” Hans memberi pengertian pada Raditya, “Biarkan dia diamankan di tempat saya sambil diinterogasi. Efek psikologisnya akan sangat berdampak bagi orang-orang seperti mereka mengetahui bahwa yang menangkap dan menginterogasinya bukan dari pihak instansi Pak Raditya.”
“Orang-orang AMANSecure sangat terlatih untuk hal tersebut, Pak Radit,” Indra turut meyakinkan Raditya.
“Saat ini mereka masih menginterogasi driver APV yang menjadi eksekutor kecelakaan istri Bapak dan juga si Ransel Kuning. Laporan hasil interogasinya nanti saya serahkan kepada Pak Raditya. Anda tidak akan percaya begitu mudahnya mereka berkicau nyaring tanpa jeda menyebut nama-nama yang terlibat,” Hans mengambil buah potong dengan garpu.
“Saya tidak sabar untuk membaca laporannya...” Raditya mencengkeram tepi meja.
“Tentang berkas yang saya berikan kepada Anda, ada tanda warna di pojok kanan atasnya,” Hans menepuk kotak dokumen plastik di hadapan Raditya, “Warna merah untuk orang-orang yang harus Anda betul-betul waspadai. Warna biru untuk orang-orang yang menjadi kaki tangan Tuan Thakur sedangkan warna Kuning adalah orang-orang yang dicurigai menjadi kaki tangannya.”
Raditya mengangguk mengerti. Hans melirik arlojinya.
“Saya ada meeting 30 menit lagi. Saya harus pergi sekarang,” Hans berdiri.
Raditya ikut berdiri. Menyalami Hans dan memeluknya.
“Terimakasih banyak atas semua bantuannya..”
“Tetaplah bersama Agung. Saya sudah meningkatkan keamanan di lantai tersebut. Para penghuni lainnya juga sudah di-screening oleh orang-orang saya. Insyaa Allah aman,” Hans menepuk lengan Raditya lalu mengucap salam sambil ber-hi five bersama Bramasta dan Indra.
Raditya tampak shock setelah mendengar perkataan Hans. Dia menatap Bramasta, Indra dan Adisti bergantian.
“Tuan Hans mampu melakukan itu?”
Bramasta tersenyum lebar begitu pula Indra.
“Bukan Hans tapi AMANSecure. Hans hanya penggerak dan penangggungjawabnya saja.”
“Saya tidak akan heran kalau Tuan Hans adalah Prince Zuko..” Raditya berkata sambil mengambil dokumen yang diserahkan Hans padanya.
Indra menggeleng.
“Too risky buat seorang Hans. Lagipula bermain di dunia maya itu bukan sesuatu yang mudah dan bisa diprediksi. Hans tidak punya waktu untuk itu. Peralatannya juga tidak main-main kan?”
“Lagi pula dengan dua jabatan yang dipegangnya di Sanjaya Group pasti akan membuatnya keteteran untuk menjadi Prince Zuko,” Bramasta tersenyum.
“Iya juga ya..” Raditya menggangkat kedua bahunya, "AMANSecure bagian dari Sanjaya Group juga?”
“Iya. Kenapa?” Bramasta bertanya. Keempat orang itu berjalan meninggalkan ruang VVIP di resto cafe itu.
“Keren. Saya kagum dengan cara kerjanya.”
“AMANSecure hanya mempekerjakan orang-orang yang terbaik di bidangnya. Tidak melihat ijazahnya apa, lulusan mana, tapi dari pengalamannya,” Bramasta berjalan sambil menggandeng erat tangan istrinya.
“Kenapa Pak Radit? Berminat gabung di AMANSecure?” Indra terkekeh.
“Jangan dulu Pak. Selesaikan dulu tugas Bapak di tempat Bapak sekarang ini,” Bramasta tertawa diikuti Raditya.
Indra berjalan ke arah kasir. Tapi kemudian kembali lagi ke arah mereka.
“Sudah dibereskan Hans..”
“Isssh seperempat Italy itu, betul-betul...” Bramasta mengusap dagunya.
Raditya tertawa.
“Gak boleh seperti itu,” tegur Adisti, “Alhamdulillah gitu..”
“Iya.. ma’af..”
Indra menunjuk pada mobil Toyota Avanza silver yang berada di depan pintu masuk. Pintu penumpang tengahnya sudah terbuka. Indra mengenali wajah drivernya sebagai orang dari anggota Shadow Team.
Driver mengangguk hormat kepada Bramasta dan Indra. Mereka berdua balas mengangguk.
“Silahkan Pak Raditya,” katanya.
Raditya menghadap Bramasta dan Indra. Bersalaman dengan hangat lalu menangkupkan tangannya di depan dada kepada Adisti. Lalu memasuki mobil.
Mobil yang di belakangnya adalah mobil Bramasta. Diikuti dengan mobil para pengawalnya.
***
“Tadi... nyaris saja,” Indra yang duduk di kursi penumpang depan menoleh pada Bramasta dan Adisti yang duduk di belakangnya.
Bramasta menepuk lengan kiri Indra. Berbicara melalui matanya lewat kaca spion. Mengingatkan Indra ada driver yang bisa mencuri dengar obrolan mereka.
“Watashi o yurushite, Bramasta-san_Ma’afkan saya, Bramasta_” Indra menggunakan Bahasa Jepang.
“Anata wa...Shūkandesu! _Lu...kebiasaan!_” Bramasta tertawa diikuti Indra.
Adisti yang tidak bisa berbahasa Jepang hanya mencibir.
Bramasta menoleh.
“Bagaimana Buk Istri?”
“Hai!_Iya!_” jawab Adisti pendek yang semakin membuat Bramasta dan Indra terbahak.
“Sugoi!_Luar biasa!_” Bramasta dan Indra berucap bersamaan.
“Bang Indra, ke ruangan Bang Bram dulu ya. Ada yang Disti mau tunjukkan kepada kalian berdua. Meminta persetujuan kalian dan penilaian kalian,” Adisti memandang kedua pria jangkung di dalam lift yang membawa mereka ke lantai tempat ruangan mereka berada.
“Tentang?” Indra tersenyum sambil bersidekap, “Tempat tujuan honeymoon kalian?”
“Dih!” Adisti meringis, “Kalau tentang itu, ngapain nanya ke Bang Indra. Kayak yang udah berpengalaman saja honeymoon..”
“Eh?” Indra menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir.
Bramasta terkekeh.
“Lu mah amatir untuk urusan ginian, Ndra..”
Indra mencibir. Mereka melangkahkan kaki keluar dari lift.
Seorang asisten Indra berjalan tergesa ke arah mereka dengan nafas terengah. Mereka bertiga menaikkan kedua alisnya dengan heran.
“Ada apa?” tanya Indra.
“Ada Tuan Alwin dan Nyonya di ruangan Tuan Bramasta.”
“Kenapa tidak mengabari saya?”
“Mereka tidak memperkenankan kami untuk memberi kabar terkait kedatangan mereka, Tuan.”
Indra mengangguk.
“Sudah menyediakan minuman untuk mereka?”
“Sudah Tuan.”
Bertiga berjalan dengan langkah gegas menuju ruangan Bramasta.
.
***
Daddy dan Mommy mau ngapain ya?