
Pintu diketuk dari luar lalu wajah pengawal Bramasta muncul dari balik pintu sambil mengucap salam. Semuanya menjawab salamnya.
Kemudian dia masuk sambil membawa 2 kantung kresek berisi bungkusan kupat tahu. Meletakkannya di atas meja pantry.
Bunda dan Adisti segera membereskan bungkusan kupat tahu. Mereka mengucapkan terimakasih kepada pengawal tersebut yang segera berlalu dari ruang rawat inap.
Pukul 07.20, mereka sarapan bersama. Indra dan Hans yang baru pertama kali mencicipi kupat tahu Gempol langsung mendadak heboh.
“Bram, ah payah Lu.. Lu kok gak ngasih tahu kita-kita tentang makanan seenak ini?” Hans menyuapkan kerupuk kupat tahu yang berlumur bumbu.
“Dahsyat nih rasanya. Papi sama Mami pasti ketagihan nih kalau nyicipi ini. Mana porsinya mantap lagi.”
“Norak kalian berdua. Seharusnya kalian langsung mencari tahu tentang kupat tahu Gempol yang membuat gue dan Disti bela-belain beli ke sana yang berakhir ricuh..” kekeh Bramasta.
“Iya ya.. kok gak kepikiran. Besok gue mau ajakin Hana untuk makan di sana ah,” kata Hans.
“Jangan!” Bramasta menggerakkan telapak tangannya pada Hans, “Lebih enak dibungkus daripada makan di sana kata Kakak Ipar. Selain karena porsinya lebih banyak, juga bumbu kacang dan kecapnya lebih meresap pada tahu, tauge dan kupatnya.”
Hans dan Indra mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kak, ayo makan dulu. Selagi Adinda masih tertidur. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti saat dia terbangun. Bisa jadi nanti Kakak tidak akan sempat makan,” bujuk Adisti menghampiri kakaknya yang tengah duduk di samping bed Adinda.
Agung menoleh.
“Kakak tidak lapar..”
“Kakak..” Ayah mendekat, “Tadi perawat bilang apa tentang tekanan darah Kakak? Pulihkan tenaga Kakak dulu melalui makanan lalu istirahat yang cukup. Adinda butuh Kakak yang sehat bukannya Kakak yang lemes.”
Agung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda ia mengerti ucapan Ayah dan juga supaya Ayah tidak menceramahinya lebih panjang. Ia melangkahkan kakinya ke arah meja pantry. Ayah menyusulnya.
“Setelah makan, Kakak mandi ya. Sudah boleh mandi sendiri kan tidak perlu diseka lagi?” tanya Adisti.
Agung mengangguk.
“Bun, Yah, Adek nanti pulang dulu ya. Siap- siap mau ke kantor. Abang ada meeting pagi ini bareng Bang Indra. Adek juga ada meeting dengan divisi wardrobe daily wear.”
“Iya.. gak apa-apa. Di sini sudah ada Bunda, Ayah dan Kakak untuk jaga Adinda.”
“Ayah nanti jam 9 mau ke sekolah Adinda ya Bun.”
Bunda mengangguk, “Ayah ada jadwal mengajar gak?”
Ayah mengangguk, “Kelas siang, Bun. Nanti Ayah dari sekolah Dinda mau ke kantor Diknas juga. Jadi sekalian ke kampus.”
“Nak Hans dan Nak Indra kalau mau bersiap ke kantor silahkan saja ya. Ada Bunda dan Agung yang jagain Adinda. Jangan khawatir.." kata Bunda kepada mereka.
Tidak lama kemudian mereka berpamitan. Juga Bramasta dan Adisti.
“Kakak ada meeting pagi ini tidak?” tanya Bunda.
“Menjelang siang, Bun,” jawab Agung.
“Ya sudah, Kakak istirahat dulu setelah mandi.”
“Bangunkan Kakak jam 9 ya Bun..”
“Insyaa Allah.”
Menu sarapan roti bakar dan telur rebus dari rumah sakit untuk Agung tidak tersentuh. Begitu juga menu sarapan untuk Adinda karena pasien masih tertidur.
Menu sarapan Adinda berupa nasi tim dengan kaldu ayam. Sebagai antisipasi asam lambung yang naik akibat stressnya.
Agung sedang tertidur, Ayah sedang memeriksa materi kuliah yang akan diberikan sedangkan Bunda mengupas apel ketika Adinda mulai terbangun.
Tirai bednya ditutup semuanya. Terdengar suara isakan dari balik tirai bed Adinda.
Bunda bergegas menghampiri.
“Dinda sudah bangun? Minum dulu ya? Air putih dulu saja nanti Bunda buatkan teh manis hangat.”
Adinda tidak menjawab. Dia hanya menatap Bunda seolah tidak mengenalinya.
“Ini Bunda, Sayang. Bundanya Om Agung dan Teteh Adisti. Dinda lupa lagi?”
“Dinda bingung.. Dinda takut.. Dinda dimana??”
“Dinda di tempat aman, jangan khawatir. Ada Ayah, Bunda dan Om Agung yang akan menjaga Dinda siang ini. Sore nanti mungkin Abang-abang Dinda akan kemari juga Teh Adisti.”
Ayah yang merasa disebut oleh Bunda, menghampiri.
Netra Adinda mengamati Ayah. Beberapa saat kemudian Adinda mengangguk.
“Ayah..”
Ayah menghampiri Adinda lalu membelai kepala Adinda.
“Alhamdulillah, Dinda mengingat Ayah,” kata Bunda.
“Cepat sembuh ya Dinda. Kami semua kangen dengan cerianya Dinda. Om kamu jadi cengeng melihat kamu sakit seperti ini,” kata Ayah.
“Memangnya Dinda sakit apa, Yah?”
Ayah menoleh pada Bunda. Bunda menggeleng. Menyuruh Ayah untuk tidak menceritakan sakitnya Adinda.
“Dinda gak sakit kok.. Dinda cuma kecapekan. Harus istirahat dulu di rumah sakit ini ya? Bang Indra sudah mengatur supaya Adinda dan Om Agung dirawat di ruang yang sama. Supaya Ayah dan Bunda bisa mudah menjaga kalian.”
“Kita bangunin Om Agung yuk,” Ayah membelokkan pembicaraan sambil membuka tirai pembatas antara bed Adinda dan Agung.
Ayah menarik tirai pembatas. Agung yang tengah dibuai mimpi bergerak gelisah saat tirai ditarik. Dia mengggeliat lalu mengerutkan wajah menatap Ayah. Masih linglung dan bingung. Kemudian cepat menguasai diri. Perlahan bangkit duduk menyender.
“Jam berapa Bun?” tanya Agung sambil meregangkan tubuhnya.
“Belum jam 9 sih. Tapi Adinda sudah bangun dari tadi. Mau Bunda siapkan sarapannya.”
Agung menoleh pada Adinda yang tengah memandanginya dengan kening berkerut.
“Hai, assalamu’alaikum,” sapa Agung sambil tersenyum pada Adinda.
“Wa’alaikumussalam.”
Adinda masih mengerutkan keningnya.
“Kenapa?” tanya Agung.
“Om Agung kenapa tidur di sebelah saya?”
“Hah?” Agung menatap bingung.
Bunda datang membawa nampan berisi sarapan Adinda.
“Dimakan dulu ya,” kata Bunda, “Ini teh manis hangatnya sudah Bunda buatkan.”
“Bunda kenapa repot-repot?” Adinda merasa tidak enak hati melihat Bunda melayaninya, “Dinda bisa ambil sendiri kok..”
“Sudah.. gak apa-apa,” kata Bunda.
Telepon interkom berdering. Ayah mengangkatnya. Berbicara sebentar lalu menutupnya.
“Bun, Ayah ke ruang perawat dulu,” Ayah berjalan menuju pintu.
“Yah, Kakak ikut,” Agung bergegas menyusul Ayah.
Di koridor, Agung menatap Ayahnya.
“Dinda kenapa, Yah? Kenapa dia terlihat aneh?”
“Dia tidak tahu kenapa dirinya dirawat di sini. Sepertinya dia lupa dengan kejadian yang baru dialaminya.”
“Kok bisa? Tadi pagi perawat menjelaskan hasil CT Scan kepalanya bagus, tidak ada tanda-tanda yang menyebabkan amnesia.”
“Biarkan saja seperti itu dulu. Setidaknya hingga fisiknya pulih dulu. Nanti kalau ada dokternya, kita tanyakan tentang kondisi Adinda.”
“Apa yang akan ayah katakan kepada pihak sekolah.”
“Sesuai arahan Nak Bramasta saja, kejadian ini jangan sampai bocor sebelum Bryan tertangkap. Ayah baru akan bicara dengan pihak walikelas dan kepala sekolah saja. Bila peristiwa ini sudah ada di media, baru Ayah akan memberitahu yang sebenarnya pada mereka. Agar Adinda masih bisa mengikuti ujian akhir dan ujian praktek yang harus menghadirkan Adinda ke kelas bisa diganti dengan hal lainnya.”
Agung mengangguk setuju.
.
***
Tabahkan hatimu, Gung.
Be strong for your girl، your future wife!