CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 136 – BUCIN VS JONES



Lobby kantor B Group sudah ramai lalu lalang para pegawai yang hendak memulai pagi mereka. Bramasta dan Adisti tiba di kantor beberapa menit sebelum jam kantor dimulai.


Mereka melewati ruangan Indra. Mampir sebentar di ruangannya untuk sekedar mengucap salam dan menanyakan jadwal.


“Ndra, jadwal gue apa hari ini?”


Indra membuka apk agendanya, lalu mengirimkannya kepada Bramasta. Bramasta mengangguk.


“Thanks Pak Indra,” Bramasta menyengir.


Indra balas menyengir pada Bramasta,”It’s K Pak Bos.”


Gawai Indra berdering. Indra mengangkat panggilan. Bramasta mengecek jadwalnya di gawainya.


“Gutten morgen, Herr Baren Klaus..”


Bramasta mendongakkan wajahnya menatap Indra dengan kening berkerut.


"Aneh.." gumamnya lalu melambaikan tangannya kepada Indra sementara dia keluar dari ruangan Indra sambil menggamit lengan istrinya.


“Apanya yang aneh?” tanya Adisti.


“Beda waktu Indonesia-Jerman itu 6 jam. Waktu kita 6 jam lebih awal daripada waktu Jerman. Berarti tadi Baren Klaus menelepon saat early morning waktu setempat?”


“Kali aja Baren Klaus punya urusan yang sangat mendesak makanya menelepon jam segitu.”


Bramasta menggeleng, “Orang Jerman terkenal dengan disiplin waktunya.”


“Siapa itu Baren Klaus?” tanya Adisti.


"Perwakilan salah satu perusahaan telekomunikasi yang bekerja sama dengan B Group.”


“B Group melebarkan sayap ke Eropa juga?” Adisti menatap Bramasta.


“Sudah sejak 2 tahun yang lalu,” Bramasta berhenti di depan pintunya, “Bismillahirrahmaanirrahiim.. Assalamu’alaikum.”


Adisti menjawab salam suaminya lalu melangkah bersama ke dalam ruangan kerja suaminya.


Bramasta membuka gawainya lalu mengirimkan jadwalnya yang tadi diberikan Indra.


“Disti ingetin jadwal Abang ya.”


“Hmm, artinya Disti jadi alarrm pribadi Abang?”


Bramasta yang sudah mulai menyalakan laptopnya menengok ke arah Adisti yang tengah memeriksa tanaman sukulen dan pakis di ruangan Bramasta.


“Tugas Disti yang pertama. Yang kedua menemani Abang dimanapun..”


Adisti mencibir, “Dibayarnya pakai cinta?”


Bramasta terkekeh.


“You, come here!” perintah Bramasta sambil menggerakkan jarinya kepada Adisti.


“Baik Tuan Bramasta..” Adisti menghampiri kursi di depan meja suaminya.


“Jangan duduk di situ,” cegah Bramasta, senyum penuh modus tercetak di wajahnya.


Adisti menatapnya bingung.


“Duduk di sini..” dia menepuk pahanya.


Adisti menatap tajam suaminya sambil memicingkan matanya, “Hisssh, gak malu sama kejadian kemarin? Ketahuan Bang Indra!”


“Sekarang Abang sudah kunci pintunya kok..?”


“Kapan? Disti gak lihat Abang bergerak ke pintu.”


“Pakai ini, Sayang..” Bramasta mengacungkan benda kecil pipih dengan rantai pendek seperti gantungan kunci, “Remote control, understand?”


“Terus?” Adisti bersikap waspada.


“Just sit on my leap. Let’s talk about your biology time.."_Tinggal duduk saja di pangkuan Abang sambil obrolin Biology Time-nya Disti.._


“Maksa ih.”


“Memang..”


Adisti mendekat sambil memanyunkan bibirnya.


“Gak usah cemberut gitu dong.. Ikhlas gak nih?”


“Ikhlas buat duduk di pangkuan Abang.”


Bramasta terkekeh.


“So, how long is your biology time?”_Jadi, berapa lama Biology Time-nya Disti?_


“Tanya Mbah Gugel, Bang.. Saat pelajaran biologi pas SMA, Abang kemana aja?”


“Pelajaran tentang reproduksi Abang lupa lagi. Kayaknya sekarang lebih enak prakteknya langsung daripada bahas teori.”


“Bang Bram?? Sengeres itu??”


“Biarin, ngeres ke istri sendiri..”


Adisti menghidu aroma citrus dan akar-akaran dari tubuh suaminya, “Abang wangi. Disti suka wanginya Abang.”


Adisti tahu pasti merk parfum apa yang dipakai suaminya, berikut harganya. Juga parfum yang dipakai olehnya, bawaan seserahan dari keluarga Sanjaya. Menyesal dia mencari tahu harganya di internet.


“Parfum yang dipakai Disti, bukan pilihan Abang,” kata Bramasta.


Adisti mengerutkan keningnya.


“Itu pilihannya Kak Layla dan Mommy. Abang gak ikut-ikutan mempersiapkan seserahan Disti. Semua dikoordinir oleh Mommy dan Kakak,” Bramasta menangkup wajah Adisti, “Ma’af ya.. Kan waktu itu mepet banget persiapannya.”


Adisti mengangguk.


“Tapi Disti suka kan?”


Adisti mengangguk lagi.


“Menurut Abang, Disti cocoknya parfum beraroma apa?” Adisti menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


Suaminya tampak berpikir sambil menciumi puncak kepala Adisti yang tertutup hijab, “You are my first love, my first for everything..jadi aroma vanila cocok untuk Disti.”


“Aroma vanila biasanya mengingatkan akan cinta pertama ya, begitu yang Disti baca. Tapi menurut Disti, aroma vanila itu manis banget sedangkan Disti tidak merasa semanis itu...”


Bramasta terkekeh. Namun mengangguk setuju.


“Disti ceria, orangnya ramai, energik, sportif juga. Menurut Abang, bunga jeruk itu cocok untuk Disti.”


“Jeruk apa?”


“Bukan bunga jeruk sunkist California, terlalu kuat aromanya..” Bramasta berpikir sambil menatap puncak hidung Adisti yang tengah bersandar di dadanya.


“Jeruk Jeju. Abang baru sekali ke Pulau Jeju untuk menemani Mommy. Kami berjalan-jalan di ladang jeruk yang tengah berbunga. Aromanya lembut memenuhi udara. Unforgettable scent.”


Adisti langsung duduk tegak, menatap mata suaminya, “Ke sana lagi yuk. Kita berdua, hanya berdua.”


“Honeymoon?” Bramasta terkekeh.


“Sambil menyelam minum air. Siapa tahu di Jeju nanti Disti bisa ketemu dengan Cha Eun Wo, Lee Min Ho, de el el..” Adisti tersenyum lebar.


Bramasta mencebik. Lalu cemberut. Dia menyuruh Adisti untuk berdiri dengan menggerakkan pahanya.


“Isssh Abang, ih. Lagi pewe juga..”


“Gak ada pewe-pewean,” Bramasta menarik tangan Adisti lalu mendorong pintu ruang washtafel. Terus menarik tangan Adisti hingga di depan pintu ruang tidurnya. Lalu mendorong punggung Adisti dengan lembut untuk masuk.


“Abang kenapa sih?”


“Cuma Abang yang boleh Disti lihat. Bukan Eun Wo, ataupun Min Ho apalagi de el el.”


“Abang cemburu?”


“Quiet please..” bisik Bramasta, “Sssssh.”


***


Bramasta keluar dari pintu ruang wastafel sambil menggandeng tangan Adisti. Keduanya sedang tertawa bersama karena lelucon yang mereka buat. Namun kemudian tawa dan langkahnya terhenti. Alisnya terangkat keduanya melihat ke arah sofa.


“Kok Lu bisa masuk ke sini, Ndra?”


Indra yang tengah menekuri berkas di tangannya menoleh pada Bramasta. Adisti berdiri di samping Bramasta sambil menggamit lengannya.


“Ya bisalah. Tinggal gue putar kenop pintunya, terbuka deh pintunya. Terus gue masuk,” Indra menekuri lagi berkas di tangannya.


“Kan gue udah kunci tadi..” Bramasta menatap bingung pada remote pintu di atas mejanya.


“Masa?” Indra masih menekuri berkasnya lalu menandai beberapa angka dan tulisan dengan pensil, “Kalau sudah dikunci, gue gak bakal bisa masuk dong..”


“Ndra..” Bramasta mendekat, “Sepenting itu ya berkas di tangan Lu sampai ngobrol pun gak mau lihat gue.”


Indra meletakkan pensilnya. Lalu memutar tubuhnya menghadap Bramasta.


“Kalian berdua berisik banget. Risih gue dengernya. Untung tadi gue yang masuk, kalau Om Al? Habis nanti Lu diomelinnya.”


“What?? Impossible. Kamar gue kedap suara,” Bramasta mengangkat kedua alisnya.


“Gue tadi numpahin kopi,” Indra menunjuk cangkir kopi di atas meja sofa yang tersisa sedikit, “Kena baju gue. Gue bersihkan di washtafel.”


“Owh..itu..” Bramasta salah tingkah.


“Ada apa sih?” tanya Adisti.


“Ruang tidur hanya kedap suara dari ruang kantor,” Indra menjelaskan kepada Adisti, “Dari ruang washtafel, segala aktifitas di ruang tidur, suaranya masih terdengar.”


Adisti terkesiap sambil menutup mulutnya. Lalu menyembunyikan wajahnya di punggung Bramasta.


“Abang sih...” Adisti memukul pelan punggung Bramasta.


“Hisssh kalian berdua.. menyesal rasanya gue bersihin kemeja gue di wastafel Lu, Bram.”


“Terus ngapain Lu kemari?”


"Perwakilan perusahaan telekomunikasi Jerman minta bertemu dengan kita untuk bahas penandatanganan MoU.”


“Di Jerman?” Bramasta mengerutkan keningnya.


Indra menggeleng, “Baren Klaus sedang berada di Penang.”


“Then?”


“Dia akan ke Bandung.”


Bramasta mengangguk, “Great.”


Bramasta duduk di sofa di samping Adisti yang sudah dari tadi duduk sambil melihat berkas yang dibawa Indra.


Indra menatap lekat bergantian kepada mereka berdua.


“Kenapa? Ada apa?” tanya Bramasta. Adisti ikut menatap Indra.


“Kalian sudah mandi junub?” Indra meringis tetapi tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum lebar.


Wajah Adisti memerah.


“Ndra.. Lu bener-bener ya..”


.


***


Catatan Kecil:


MoU : Memorandum of Understanding adalah nota kesepahaman yang merupakan dokumen resmi untuk menjelaskan persetujuan antara kedua belah pihak.


Bramasta kalau cemburu gitu amat ya 😁


Babang Indra isengnya kebangetan banget..