CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 192 – OM AGUNG BOHONG!



Agung sigap mengangkat tubuh Adinda. Mendudukkannya di tempat yang tadi diduduki oleh Adisti. Tubuh Adinda menghadap jendela.


Kakinya di pangkuan Adisti. Tubuhnya disandarkan pada lengan Agung. Agung terus mengajaknya berbicara sambil tetap melakukan eye contact seperti yang disarankan oleh psikiater.


Adisti dengan sigap membuka segel selang oksigen lalu memasangkannya pada tabung. Agung memasangkan selang pada hidung Adinda. Adisti membuka pengatur keluarnya oksigen.



“Bagaimana? Sekarang lebih enak kan bernafasnya?” tanya Agung.


Adinda menggangguk.


“Terlalu kencang gak Din?” tanya Adisti.


Adinda menggeleng.


“Selama Dinda belum bisa mengendalikan diri Adinda, lupakan untuk bertemu mereka. Saya tidak mungkin membawa kamu menemui mereka dalam keadaan kamu tidak bisa mengendalikan amarah kamu hingga kamu mendapat serangan panik seperti ini,” Agung menatap tajam mata Adinda.


Adinda balas menatap Agung dengan tatapan bergetar marah.


“Om tadi sudah berjanji pada saya!”


“Tapi tidak dengan kondisi kamu seperti ini. Bayangkan saja bagaimana senangnya mereka saat melihat kamu tidak bisa bernafas karena serangan panik yang kamu alami!”


“Om sudah janji!” Adinda berteriak dan memberontak dari dada Agung.


Agung mengetatkan lengannya yang memegangi tubuh Adinda.


Adisti mengetatkan lengannya memegangi tungkai Adinda yang berontak.


“Dinda.. tolong mengerti. Jangan seperti ini. Saya gak sanggup melihat kamu seperti ini..” suara Agung tercekat.


“Om bohong!” Adinda memberontak lagi, “Semua yang dekat dengan saya membohongi saya!!” suara Adinda terdengar putus asa.


“Saya tidak membohongi kamu. Tolong jangan seperti ini..” Agung meletakkan dagunya di atas kepala Adinda.


“Saya sudah berjanji pada Papa dan Mama kamu, Put. Tidak mungkin saya mengingkari janji saya pada mereka. Tidak mungkin saya membohongi kamu.”


Adinda mulai melemaskan tubuhnya. Cengkeramannya pada lengan Agung perlahan mengendur.


Mommy menatap Bunda dengan pandangan bertanya, bibirnya bertanya tanpa suara, “Put?”


Bunda hanya mengangguk sambil menepuk-nepuk lengan Bunda.


“Puput, bisa dengar saya? Saya tidak membohongi kamu. Setelah kamu bisa mengendalikan amarah kamu tanpa disertai serangan panik, saya akan membawa kamu menemui mereka.”


Agung menatap mata Adinda lagi yang berlinang air mata.


“Put, jangan biarkan mereka senang melihat kamu seperti ini. Tunjukkan kepada mereka bahwa kamu gadis yang kuat, Put.”


Agung mengelap air mata yang jatuh dari sudut matanya dengan bahunya


“Pulihkan dulu diri kamu untuk menghadapi mereka ya Put. Buat bangga Papa dan Mama kamu. Kamu gak sendiri, Put. Kamu punya kami. Ada saya, Adek dan Bang Bram, Ayah, Bunda, Mommy, Daddy, para Abang kamu dan semua yang sayang dengan kamu.”


Nafas Adinda tersengal lagi. Dia memandang Agung dengan terisak. Menyurukkan wajahnya pada dada Agung.


“Ma’af.. ma’afkan saya Om.”


Agung terperanjat. Dia mengangkat ke atas sebelah tangannya yang tidak menopang punggung Adinda.


Adisti menaikkan sebelah alisnya. Menunjuk pada kakaknya dengan tatapan tajam.


“Pelukan??” bibir Adisti berucap tanpa suara. Tangan kanannya terkepal membentuk tinju yang diarahkan pada kakaknya


Telapak tangan Agung digoyangkan dengan cepat. Bibirnya berkata tanpa suara, “Nggak!!”


Mommy meringis melihat dialog tanpa suara antara kakak dan adik di belakang kursinya. Bunda mengangkat sebelah alisnya pada Agung dengan telunjuk mengarah pada anak sulungnya.


Agung menggoyangkan telapak tangannya dengan cepat ke arah Bunda dengan panik, lagi berucap tanpa suara, “Nggak Bun!”


Dari kursi depan, Ayah berdehem. Memandang Adisti yang kemudian diangguki olehnya.


"Dinda.." Adisti mengelus pelan bahu Adinda.


“Dipeluk Teteh aja ya. Kasihan Kakak tuh. Serba salah dia. Kalian belum mahrom..” Adisti menyentuh punggung Adinda.


Adinda tersadar lalu dengan tiba-tiba mendorong dada Agung hingga membentur jendela mobil.


DUG!


"Lah" Agung terhenyak kaget.


"Loh?" Adisti menutupi bibirnya dengan jemarinya.


“Eh! Ma’af Om.. ma’af Teh..” wajah Adinda terlihat serba salah. Dia melepas selang oksigen pada hidungnya. Lalu mematikan saluran oksigen dari tabungnya.


“Kamu yakin sudah bisa bernafas dengan baik?” tanya Adisti.


“Dinda sudah tidak apa-apa?” tanya Bunda.


“Iya Bunda. Ma’af sudah membuat semuanya mengkhawatirkan saya.."


Adinda melirik takut-takut pada Agung yang masih mengernyit sambil mengelus punggungnya sendiri.


Sebuah kesadaran membuat Adinda terperanjat lalu memegang ujung lengan kemeja Agung.


“Om.. gak apa-apa? Luka operasinya terbentur?”


Agung langsung beringsut menjauh dari tangan Adinda.


“Nggak.. nggak kenapa-napa.”


“Om marah ya? Beneran tadi saya gak sengaja, Om..”


“Iya. Tahu..”


“Ma’afin saya ya Om,” Adinda membungkukkan tubuhnya menghadap Agung.


“Iya..iya.. udah kamu duduk saja yang tenang. Dan setiap kali lewat kantor polisi, gak usah jadi parno hingga panik begitu. Biasa aja..” Agung melirik Adinda sejenak.


Adinda mengangguk tidak enak hati.


“Kakak ih. Biasa aja kali ngomongnya. Dan gak gitu juga kali..” Adisti memandang kakaknya dengan jengkel.


“Karena kita akan melewati beberapa kantor polisi sebelum sampai rumah. Kalau reaksi Adinda seperti itu terus bisa bonyok tubuh Kakak, Dek!” Agung mendengus.


Bunda dan Mommy terkekeh di baris tengah.


“Bukannya kemarin Kakak ngomong, Kakak rela biarpun harus berdarah-darah untuk membuat Adinda sadar?” Ayah terkekeh dari baris depan.


“Isssh Ayah..”


Bunda dan Mommy terkekeh keras.


“Tuh kan. Kakak mah gitu aja.. cengeng,” Adisti mencibir pada Agung.


“Sakit tahu!” Agung berbicara dengan bibir terkatup.


Adinda semakin menundukkan wajahnya merasa bersalah. Jemarinya saling memilin.


Adisti melotot pada Agung. Memberi kode dengan matanya untuk peduli pada Adinda. Sayangnya Agung tidak peka. Dia malah melengos menatap pemandangan dari jendela di sampingnya.


“Din.. pindah sini Din. Kakak mah memang gitu orangnya. Gak peka..” Adisti setengah berdiri untuk bertukar tempat duduk dengan Adinda.


Adinda menurut. Dia menggeser duduknya ke kursi yang tadi diitempati Adisti.


Adinda menatap pemandangan dari jendelanya. Beberapa kali dia menengadah, mencegah air matanya untuk menetes.


Adisti menoleh. Kemudian merengkuh Adinda ke dalam pelukannya. Adinda memeluk Adisti. Terisak pelan dengan tatapan mata diturunkan. Tidak berani melihat siapa pun, terutama pada Agung.


Agung menatap Adisti dan Adinda dengan tatapan muram.


Mommy menggelengkan kepalanya.


“Agung.. Agung.. pantas saja Disti menjuluki kamu kanebo kering ya..”


Bunda menoleh pada Agung dengan tatapan judes. Agung menundukkan wajahnya.


“Kakak.. Kakak.. Masa kaya gitu aja harus diajari Ayah sih?” Ayah menoleh pada Bunda yang mengangkat kedua bahunya.


Adisti yang merasa kesal dengan tingkah kakaknya, sambil mendekap Adinda, kaki kirinya menendang ke belakang ke arah tulang kering kakaknya.


Gerakan tiba-tiba Adisti membuat Agung jadi mengaduh keras.


“Dek!” sungut Agung pada adiknya.


.


***


Ah Kanebo Kering mode on.


Ajarin Yah biar kanebo nya gak kayak kerupuk siap goreng...


🤣🤭


Siang hingga sore tadi, matahari luar bisa teriknya. Mana rumah Author menghadap Barat lagi.. Meleleh aqutuuuu.


Bahkan saking panasnya, Miss Anna jadi masuk ke rumah buat ngadem dan akhirnya mager.



Jangan lupa banyak minum air putih ya Readers dan pakai sunblock saat keluar rumah.