
Ruangan menjadi sunyi. Semua terperangah kaget dengan ucapan Agung.
Bunda menarik lengan Agung. Sementara Mommy merangkul si Gamis Pinky Cerah. Layla bergegas menghampiri mereka, ikut merangkul si Pingky Cerah. Hans, Indra dan Anton berdiri, begitu pula Leon juga berdiri sambil menggendong Eric.
“Gung!” Hans menegur Agung.
“Bang, tolonglah. Ini sama sekali gak lucu. Kalian mau nge-prank gue? Dari tadi gue udah nahan diri, Bang. Di benak gue, malam ini gue bakal lihat Dinda, calon istri gue untuk gue khitbah. Nyatanya apa?” Agung berbicara dengan suara bergetar penuh emosi.
“Ini udah gak wajar Bang!” Agung memandang mereka bergantian, “Ini cuma acara khitbah kan? Gak perlu kan calon istri saya kalian sembunyikan di kamar?”
“Kakak..!” Adisti bergerak cepat menarik lengan kakaknya sementara Bramasta menggandeng Bunda untuk duduk kembali di samping Ayah.
Ayah sudah dari tadi berdiri, menatap marah pada Agung.
“Agung Aksara Gumilar!” suara Ayah terdengar penuh amarah.
Bramasta menenangkan Ayah. Merangkul dan membelai punggungnya. Membisikkan sesuatu di telinga Ayah. Ayah mengangguk
Agung memandang Ayah.
“Ayah, ma’afkan Kakak. Tapi ini semua tidak benar, Ayah. Dalam agama kita, calon suami berhak melihat calon istrinya saat dikhitbah. Gak perlu disembunyikan di kamar kan?”
Ayah meraup wajahnya dengan kasar.
Hans dan Indra mendekati Agung. Anton menyusul kemudian. Bramasta yang berdiri di dekat Agung terlihat menahan dada Hans yang akan lebih mendekat lagi ke arah Agung.
“Calm down, gentlemen!” Bramasta berdiri menyamping, menempatkan diri di antara Hans dan Agung.
“Gung, kebangetan banget sih Lu!” Hans melotot marah.
“Kebangetan bagaimana, Bang? Gue cuma mau khitbah Adinda. Udah itu saja. Gue gak mau macam-macam!”
“Lu kenapa sih Gung? Dari semenjak Lu masuk ruangan ini, tingkah Lu terlihat gak wajar? Kesambet jin jembatan pengkolan?” Indra bertolak pinggang.
“Gue cuma mau Dinda, Bang. Dan semenjak gue datang hingga gue sekarang berdiri dikelilingi oleh kalian di sini, gue gak lihat Adinda sama sekali. Dimana Dinda?”
Bramasta menggelengkan kepalanya. Orang-orang di ruangan saling bergumam. Beberapa terlihat senyum-senyum sambil menggelengkan kepala.
Bramasta mendorong tubuh Agung ke tengah ruangan. Dia memberi kode kepada Layla untuk menarik wanita bergamis pink cerah yang tengah menangis itu ke tengah ruangan juga.
“Kalian berdua, berbicaralah,” Bramasta berbicara dengan suara keras karena gemas.
“Tapi dia siapa? Bukannya saudara Lu, Bang? Keponakannya Mommy, mungkin?” Agung tak kalah kerasnya berbicara karena Bram meninggalkan mereka berdua.
“Ya sudah. Sekalian saja Kakak Ipar kenalan dengan saudara gue!”
Para tamu ada yang mulai terkikik geli.
“Gue gak mau cewek lainnya, Bang. Yang gue mau Adinda!”
“Iya. Kita semua juga tahu!” Bramasta menatap kesal kepada Agung, “Kenalan dulu gih!”
Agung menengok ke belakang, deretan terdepan. Ayah bersidekap menatap lurus pada Agung. Disebelahnya Bunda terdiam dengan wajah keruh.
Kemudian menatap deretan kursi orangtua angkat Adinda. Daddy tampak menatap Agung sambil menggelengkan kepalanya, Mommy bahkan membuang pandangan saat Agung menatapnya.
Pak Dhani bersidekap sambil memegangi dagunya. Bu Dhani beberapa kali menyeka sudut matanya dengan tisu.
Hati Agung mencelos. Ini pasti ada sesuatu yang salah. Dia mencoba menatap wanita cantik yang ada di hadapannya. Beberapa kali menyeka tisu pada sudut mata dan hidungnya.
“Ma’af Nona.. saya tidak bermaksud untuk membuat Nona bersedih. Tapi saya hanya ingin bertunangan dengan Adinda Amelia. Bukan dengan Anda.”
Agung teringat sesuatu.
“Can you speak Bahasa?”
Pinky Cerah mendongak. Wajahnya terlhat semakin cantik dilihat sedekat ini. Matanya yang berwarna khas Eropa semakin berkilau digenangi air mata.
Dia menatap lekat Agung. Meskipun pipinya berlelehan air mata tapi dia tetap telihat cantik.
“Ehem!” dia berdehem untuk menghilangkan seraknya lalu menatap Agung lagi.
Agung masih menunggu Pinky Cerah untuk berbicara.
Setelah beberapa kali menghela nafas, si Pinky Cerah akhirnya berbicara. Membuat Agung merasa jantungnya jatuh ke dasar perutnya.
“Om beneran tidak mengenali saya?”
Agung shock. Bagaimana bisa Adinda yang dikenalnya berubah menjadi gadis berwajah blasteran Eropa dan Asia Selatan?
“Dinda? Ini beneran kamu???”
Tanpa sadar, Agung terjatuh dengan kedua lututnya. Memegangi gamis Adinda.
“Ma'af... Ma’afkan saya Din..”
Adinda bergeming. Dia hanya menunduk sambil sesekali mengusap matanya.
“Om beneran gak mau lagi untuk mengkhitbah saya?” Adinda berkata pelan.
“Nggak.. bukan begitu. Kan tadi saya bilang saya hanya mau mengkhitbah Adinda Amelia Putri. Itu kamu kan?”
“Tapi Om tidak mengenali saya. Om menolak saya di depan semuanya. Bahkan Bunda yang hendak memasangkan cincin pertunangan dihentikan oleh Om.”
“Karena saya tidak mengenali kau dengan dandanan seperti ini. Kamu tidak terlihat seperti Adinda yang saya kenal. Kamu lebih mirip dengan wajah Mommy makanya saya mengira kamu adalah saudaranya Abang Bramasta dan Kak Layla..”
Mommy di kursinya tampak melongo mendengar penjelasan Agung. Pak Dhani berkata sesuatu yang membuat Daddy, Mommy dan Bu Dhani terkekeh.
“Kenapa Om tidak mengenali saya?”
Dalam hati, dia merasa senang karena ucapan Agung tadi berarti menilai dirinya cantik. Cantik pakai banget. Dia berusaha menyembunyikan senyumnya. Padahal perasaannya melambung.
“Mata kamu!” Agung mendongak menatap mata Adinda.
“Kenapa dengan mata saya?”
“Yang saya tahu, mata kamu itu coklat. Kenapa sekarang jadi berwarna biru langit? Tidak salahkan saya tidak mengenali kamu?”
“Saya pakai contact lens.”
“Memangnya mata kamu minus?”
Adinda memandang jengah Agung yang masih berlutut sambil memegangi gamisnya, seolah-olah takut dirinya akan kabur.
“Ya ampun Om.. Ini tuh lagi trend, tahu. Ini contact lens warna bukan contact lens mata minus.”
“Tapi saya gak suka. Saya suka mata kamu yang coklat. Karena itulah saya jatuh cinta dengan kamu...”
Keduanya tidak sadar, mikrofon clip on yang terpasang di pakaian mereka masih menyala. Percakapan mereka bisa di dengar oleh semua orang yang hadir.
Orang-orang yang berada di ruangan terkekeh bersama. Adisti berciyee-ciyee di samping Bunda yang langsung ditepuk oleh Bunda.
Bramasta berdiri di samping, bergabung dengan anggota Kuping Merah lainnya plus Raditya.
“Suer.. tadi gue kira Agung kesambet loh..” Indra mengusap wajahnya.
“Jadi ini semua karena salah paham saja kan?” Raditya bersidekap sambil menatap Agung dan Adinda yang tengah memberi hiburan komedi situasi kepada mereka semua.
“Salah paham karena keduanya sama-sama kasmaran. Tapi karena beda usianya lumayan ya kayak gini deh. Yang satu ingin trendy dan yang satunya lagi ingin apa adanya..." Hans terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
“Berasa lihat live show sitkom ya..” Anton tertawa.
“Mereka sehari-hari kalau bertemu seperti itu terus?” Bramasta mengerutkan keningnya.
“Seperti apa?” tanya Raditya.
“Tom & Jerry,” Bramasta menoleh sambil menyengir.
“Selalu always gak pernah never...” Anton menjawab sambil terkekeh lagi.
“Terus sekarang kita bagaimana?” tanya Adinda lagi. Sudah tidak ada lagi air mata yang mengalir.
Tangan Agung yang menggenggam gaun gamis Adinda digoyang-goyangkan.
“Ma’afin saya ya? Mau ya, ma’afin saya. Saya benar-benar gak mengenali kamu dengan riasan seperti ini. Kenapa sih kamu memilih riasan seperti ini?”
Adinda menatap kesal lagi pada Agung.
“Om. Om gak tahu kalau sekarang Barbie looks itu sedang happenning banget di seluruh dunia?”
“Memang di Kenya juga?”
“Tau ah!”
Suara orang-orang yang tertawa, masih tidak juga membuat mereka berdua sadar.
“Memangnya kamu mau boneka Barbie? Saya beliin. Biar kita samaan hobi. Saya suka dengan action figure, kamu dengan boneka Barbie.”
Adinda mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tapi kamu gak boleh minta dibeliin boneka pacarnya Barbie. Siapa namanya?”
“Ken.”
“Iya, Ken.”
“Kenapa?” Adinda mendengus.
“Ken gak pernah sholat loh. Gak bisa ngaji juga. Saya yakin, Ken juga belum disunat!”
Mata Adinda melebar.
“Isssh! Om Agung ngomong apaan sih? Sok tahu!”
“Ya tahu dong. Kan gak ada sarung dan baju koko buat si Ken. Iya kan?”
Adinda mengangguk.
“Nanti saya akan minta tolong ke Bunda buat jahitkan sarung buat Ken.”
“Gak boleh! Kamu gak boleh pegang-pegang boneka Ken. Ken itukan cowok. Saya cemburu!”
Dari kejauhan, Layla dan Hana tertawa sambil mengusap air matanya.
“Dad.. gak kita panggilkan MC buat menghentikan kekonyolan mereka berdua?” tanya Mommy sambil menyeka matanya dengan tisu karena tertawa.
Daddy mengibaskan tangannya.
“Biarkan saja dulu. Akhirnya Kanebo Kering kena batunya. Lumayan, hiburan buat kita semua..” ucapan Daddy membuat Pak Dhani dan istrinya turut terkekeh.
.
***
Heeehh! Acara khitbah kok berubah jadi srimulat sih? Jadi gak sih khitbahnya??