
Saat kemudian wajah Bramasta mendekati wajah Adisti, Indra sontak berdiri.
“Woiiiyy woiiyyy! Pak Bos, Bu Bos, ingat di ruangan ini juga ada 2 jomblo. Hargai kami dong..”
Adisti langsung menjauh. Wajahnya memerah kemudian menunjuk ke arah suaminya.
“Salahkan saja Beliau..” Adisti menyingkir dari tubuh suaminya yang masih berdiri dengan canggung, “Permisi, Pak Suami. Buk Istri mau makan..”
“Disti.. Sayang..” Bramasta menghampiri Adisti lagi.
“Bram..” Indra menatap Bramasta tegas, lalu menggelengkan kepalanya, “Makan dulu.”
Bramasta menurut. Walau bagaimanapun Indra lebih tua usianya darinya.
Usai makan, Adisti membagikan hot lemon tea dalam cangkir kertas.
“Hati-hati masih panas..”
“Boleh saya menanyakan sesuatu?” Tuan Armand menatap Adisti.
Adisti mendongak menatap heran pada Tuan Armand. Bramsta dan Indra saling pandang.
“Ini.. tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Ini tentang saya sendiri. Bagaimana dengan saya?” Tuan Armanda memegang cangkir kertasnya dengan hati-hati.
“Memangnya kenapa dengan Tuan Armand?” Adisti tersenyum, “Bukankah Tuan Armand terlihat begitu nyaman dengan kehidupan Anda sekarang ini. Bergerak bebas kemanapun tanpa harus mengkhawatirkan keluarga. Kehidupan sebagai single.”
“Itu yang orang lain lihat. Tapi ada pada saat-saat tertentu saya merasa jenuh dengan semua ini. Tidak ada tempat saya berbagi. Tidak ada tempat saya untuk meredakan penat..” Tuan Armand menunduk menatap ke dalam gelasnya yang tutupnya ia buka. Dia tengah mengamati asap dari hot lemon tea-nya.
Ekspresi Tuan Armand yang sekarang adalah pemandangan baru bagi Bramasta dan Indra.
Tuan Armand selalu terlihat berwibawa, percaya diri dan perlente. Rambutnya selalu ditata dengan pomade yang sempurna. Celana panjangnya selalu licin dan rapi begitu pula dengan kemeja ataupun jasnya.
Sekarang, Tuan Armand terlihat rapuh saat berbicara dengan Adisti.
“Jadi selama ini orang hanya meihat sisi kulit Anda, Tuan Armand? Cangkang yang keras, licin dan mengilap untuk menyembunyikan isi yagn sebenarnya dari diri Anda” Adisti tersenyum pada Tuan Armand.
Tuan Armand hanya menatap Adisti tanpa berbicara. Semua menunggu Adisti berbicara.
“Bukankah Tuan Armand sekarang sedang menjalin hubungan dengan sorang wanita? Tapi sepertinya Tuan Armand biasa-biasa saja dengan wanita tersebut.”
Tuan Armand terperanjat. Dia menatap Bramasta dan Indra bergantian. Keduanya hanya mengangkat kedua bahunya.
“Karena Anda masih terbayang dengan kegagalan rumah tangga Anda. Ada banyak pihak yang terluka. Tapi Anda... adalah pihak yang paling terluka karena Anda memendam semua ini sendirian..”
“Oh, come on...” Tuan Armand tampak berusaha untuk menyangkal kalimat Adisti.
“Ini sekedar saran dari saya saja sih...” Adisti mengangguk lalu tersenyum pada Tuan Armand yang menunggu kalimat selanjutnya, “Jangan memulai hubungan dengan dasar rasa iba. Tidak akan ada kebahagiaan yang Anda inginkan. Yang ada hanyalah kebahagian semu lalu akan terasa kosong.”
“Bagaiamana Nona tahu...”
Adisti menggeleng.
“Saya tidak tahu apa-apa tentang kehidupan pribadi Anda. Dan saya yakin demikian juga dengan suami saya dan Bang Indra. Cangkang yang Anda buat terlalu keras untuk kami. Tapi entah dengan Bang Hans. Anda tahu sendiri Bang Hans seperti mempunyai lampu wasiat yang bisa digosok semau dia untuk mencari data seseorang..”
“Nona Adisti...”
“Saya tidak tahu apa-apa, Tuan Armand. Apa yang saya katakan sekarang ini karena Anda yang memintanya dengan sukarela sehingga saya mendadak tahu tentang Anda. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana prosesnya tapi yang jelas saya tahu begitu saja. Saya seperti sedang membaca buku tentang Anda.”
“OK. Understood,” sikap Tuan Armand kembali kepada sikap semula.
“Cangkang Anda sudah terbentuk lagi, Tuan Armand. Tapi saya sudah terlanjur membaca buku tentang Anda. Ma’afkan saya,” Adisti mengatupkan kedua telapak tangannya di dada.
Tuan Armand mengangguk.
“It’s OK. Karena saya yang memintanya, right?”
Adisti mengangguk dan tersenyum. Bramasta dan Indra memperhatikan mereka tanpa ekspresi. Keduanya berusaha mengerti pembicaraan tapi terasa sulit untuk mereka. Di luar jangkauan mereka.
“Pria diuji saat dia berada di puncak pencapaiannya. Karir gemilang, harta melimpah, kedudukan tinggi. Sedangkan kebalikannya, wanita diuji saat kesulitan finansial. Ujilah wanita yang sedang dekat dengan Anda dengan hal itu. Untuk melihat bagaimana dia melihat Anda apakah tahu tentang sesungguhnya Anda ataukah hanya cangkang saja.”
Adisti masih tersenyum tipis.
“Ma’af saya tidak merasa Anda akan menikah dalam waktu dekat ini. Mungkin masih lama tapi bisa jadi tidak lama lagi..” Adisti meneguk hot lemon tea-nya yang sudah berubah hangat.
“Di dekat jembatan Ampera, Palembang. Anda akan bertemu dengan wanita Anda. Saat itu Anda mengenalinya sebagai wanita yang ada di masa lalu Anda. Kalian berdua tidak akan menyangka saling terkait benang merah jodoh. Bukan hal yang mudah karena masa lalu wanita itu yang begitu sulit diterima oleh orang kebanyakan...”
“Nona Adisti..”
Adisti mengangkat sebelah telapak tangannya untuk mencegah Tuan Armand berbicara ataupun bertanya lagi. Adisti menundukkan pandangannya seperti sedang menekuri karpet ruangan Indra yang berwarna coklat kemerahan.
"Disti.." Indra memanggil Adisti.
Adisti bergeming. Bramasta menyentuh pelan rahang bawah istrinya.
“Are you OK?”
Adisti mendongak tiba-tiba dan sedikit terlonjak.
“Ofcourse I’m OK. Kecuali tadi saat Abang mengatakan something about less sesajen,” Adisti menatap suaminya lalu menatap semuanya dengan tatapan bingung melihat Indra dan Tuan Armand menatapnya dengan serius, “Ada apa? Kenapa lihatin Disti sampai segitunya?”
“Kejadian lagi deh. Tuan Armand, ingat baik-baik apa yang tadi diucapkannya. Gak bakal ada siaran ulangan...” Indra menatap Tuan Armand dengan cengiran di wajahnya.
Bramasta dan Adisti meminta diri untuk kembali ke ruangan mereka. Sepanjang jalan di koridor, jemari mereka saling bertaut.
Saat Bramasta menarik tangan istrinya untuk bisa menjangkau tubuhnya, tangannya merengkuh pinggang ramping istrinya. Adisti membalas dengan memeluk pinggang suaminya.
“Jangan marah lagi..” bisik Bramasta.
“Nggak marah hanya jengkel..”
“Sama saja. Damage-nya itu loh yamg bikin hati Abang porak poranda,” ia mengecup pelipis istrinya.
Adisti terkekeh sambil menyandarkan kepalanya ke lengan suaminya.
Gawai Bramasta berbunyi. Dering notifikasi pesan chat. Segera dibukanya pesan dari WAG Kuping Merah.
Hans_Kita bertemu after work ya di rumah sakit. Sekalian makan malam_
Bramasta_Makan malam di gerai bawah rumah sakit? Yang ada mah orang-orang akan heboh mengelilingi kita. Apalagi hari ini video Agung sedang menguasai semua sosial media_
Leon_Di kafenya B Group saja. Pak Raditya ada yang menemaninya kan selain Agung?_
Hans_Ada tangan kanan gue di Shadow Team dan juga ada Pak Budi dari Jakarta, sejawatnya Pak Raditya_
Indra_Siip. Kita pinjam dulu Agung untuk makan malam_
Anton_Heran, Agung kok gak merespon ya?_
Agung_Gue pantau kok. Lagi anteng liatin calon istri buatin kopi..._
Indra_Dih, norak Lu Gung!_
Anton_Ah payah nih Bang Agung_
Stiker ngakak bertebaran di WAG.
Agung_After work ya.. Nanti gue pakai alasan anterin Dinda pulang.._
.
***
Tentang Tuan Armand sengaja di spill sekarang, buat bahan the next novel ya. Mungkin di novelnya nanti, bab ini yang akan jadi prolognya.
Tapi harus sabar mengantri. Garap anggota Kuping Merah dulu yang masih single.
Yang masih dalam antrian: Mr. Accountant (Agung), Mr. Architect (Anton) dan yang terakhir Mr. Lawyer (Tuan Armand). Insyaa Allah.. kalau Author masih ada umur ya.. 🙏🏼
Jangan lupa like dan tombol minta update.
Yang belum memberi penilaian bintang 5, monggo sekalian ulasannya 😁. Love you Readers.
Utamakan baca Qur’an ya❤