
Video lamaran mendadak Bramasta di site The Cliff berakhir. Para tamu bertepuk tangan. Tidak sedikit yang meneteskan air mata haru. Adisti menyeka sudut matanya.
“Terimakasih,” dia menoleh pada suaminya, “Terimakasih sudah meminta Disti dihadapan Ayah, Bunda dan Kakak. Terimakasih sudah memilih Disti untuk menjadi istri Abang.”
Bramasta memandang lama pada mata istrinya.
“Abang yang berterimakasih kepada Disti karena sudah menyempurnakan separuh agama Abang.”
Ayah menepuk-nepuk punggung Bramasta dari belakang, “Menantu ayah..”
Bramasta berbalik ke belakang lalu memeluk Ayah. . Bunda dan Agung terharu. Daddy dan Mommy saling berangkulan menyaksikannya.
Video berganti dengan video singkat acara lamaran di kediaman Keluarga Gumilar diiringi lagu Tak Sebebas Merpati dari Kahitna. Kemudian video berganti dengan video CCTV di teras lobby B Group, adegan Bramasta membawa mobil dengan kecepatan tinggi dari arah pintu masuk hingga mobilnya naik ke lantai teras bukannya di jalur drop off.
Video dengan teks, Yang Baru Pertama Kali Boss B Lakukan: Ngebut Di Area Kantor Saat Datang Ke Kantor Bersama Seorang Gadis.
Bramasta menatap video di dinding tebing dengan wajah melongo.
“Ya ampun.. B Crews jahil amat, Bang,” Adisti terkekeh geli, “Jadi Disti yang pertama nih?”
Bramasta tidak menjawab. Dia hanya mengecup punggung tangan istrinya.
Masih ada video-video dari CCTV maupun foto-foto candid dengan caption yang lucu-lucu hingga membuat para tamu tertawa. Tayangan video usai. Tebing berubah warna menjadi gradasi ungu. Ada teks berwarna silver bertuliskan Happy Wedding dari B Crews dan diakhiri dengan logo B Group.
Para tamu bertepuk tangan. MC mempersilahkan para tamu untuk menikmati hidangan. Meja dengan taplak ungu dan kursi berhias pita ungu dipenuhi para tamu. Tenda besar tempat akad nikah bagian dindingnya tergulung rapi dan sudah berisi meja dan kursi yang cantik.
“Alhamdulillah Abang tidak membuat standing party,” kata Adisti.
“Standing party bukan budaya kita. Budaya kita mirip dengan budaya Islam yaitu makan dan minum sambil duduk.”
Pembawa acara menyiapkan sesi foto keluarga pengantin. Nama-nama keluarga disebut. Para bule kerabat dari Mommy berfoto bersama.
“Kepada anggota Gank Kuping Merah dan para istri harap bersiap untuk sesi foto. Eh, Kuping Merah? Beneran ini namanya?” suara MC terdengar kebingungan.
“Eh ternyata ganteng-ganteng! Kupingnya normal kok..”
Anton dan Indra terkikik mendengar celutukan MC.
“Dek, lengannya sakit gak?” tanya Agung saat di dekat Adisti.
“Bahunya pegal, Kak. Lengannya juga kadang terasa kesemutan,” jawab Adisti.
Bramasta menoleh cemas pada Adisti.
“Kenapa gak bilang dari tadi?” tanyanya.
“Adek pakai gendongan tangan ya?” Agung tidak menunggu jawaban Adisti, dia langsung mengirim pesan teks kepada petugas WO.
Tidak lama seorang petugas WO datang dengan seorang petugas dari Tim Busana membawakan gendongan tangan yang cantik sesuai dengan gaun yang dikenakan Adisti.
“Sudah nyaman?” tanya Bramasta, “Nanti gak boleh nahan-nahan sakit seperti itu ya? Jangan bikin Abang jadi cemas.”
Adisti hanya tersenyum lebar.
“Kakak Ipar, terima kasih ya..”
MC mengumumkan saatnya pelemparan bunga hand bouquet pengantin.
“Acara ini khusus yang single ya. Duda atau janda boleh ikut. Para anggota Gank Kuping Merah silahkan mengambil tempat kecuali Tuan Hans dan Tuan Leon, ma’af Anda berdua tidak diperkenankan berada di area lempar bunga.”
Hans yang tengah meminum orange punch nyaris saja tersedak.
“Woiy.. gue gak ikut-ikutan kenapa nama gue disebut-sebut..”
Istrinya yang ada di sampingnya terkekeh sambil menepuk-nepuk punggung Hans.
Leon yang ada di depannya tertawa.
“Kita mah tahu diri ya Hans,” kata Leon sambil mengecup punggung tangan Layla.
Bramasta bersama Adisti melempar bunga. Setelah beberapa kali melakukan gerakan mengecoh, akhirnya bunga dilemparkan. Para single berebut. Ada yang terjatuh dan tertumpuk tetapi tidak cedera malah tertawa-tawa bahagia. Hand bouquet melambung tinggi. Seorang pria bule tampan bertubuh lebih dari 190 cm sudah berjinjit sambil berteriak, “That’s mine! That’s mine!”
Bunga melewatinya. Masih melambung tinggi. Agung dan Anton melompat berusaha mendapatkannya. Luput. Indra yang sedang menguap merasa ada yang menepuk dadanya dengan keras. Mengerjap kaget, kantuknya mendadak hilang. Reflek dia memegang dadanya. Bukan dadanya yang ia pegang melainkan bouquet bunga. Wajahnya melongo.
“Ndra, lu merid bentar lagi!” seru Hans.
Indra tidak menjawab, dia hanya memandangi bunga di tangannya dengan tatapan heran. Lalu berjalan ke meja Hans dan Leon.
“Padahal gue gak ngejar bunganya. Tuh bocah dua tuh yang ngejar sampai lompat-lompat begitu malah gak dapat,” katanya sambil menunjuk Agung dan Anton yang datang menghampiri.
Leon dan Layla terkekeh, “The next wedding it will be yours,” kata Layla.
“Boro-boro.. calon saja belum ada..” kata Indra sambil meletakkan hand bouquet di atas meja.
“Mungkin jodoh Bang Indra ada di sini saat ini,” kata Agung, “Tuh Bule Jerman dari tadi pengen nempel sama Abang mulu semenjak dia datang. Cakep Bang..”
“Dia terpesona dengan kemampuan Bahasa Jerman lu, Bro,” kata Anton sambil duduk.
“Gue masih demen produk lokal, Bro. Biar gak ribet kalau ribut nanti. Gak perlu takut ketimpuk kamus..” jawab Indra sambil terkekeh.
“Gimana sih? Belum juga mulai hubungan udah merancang bagaimana kalau ribut. Payah Lu Ndra,” Hans memotong lasagnanya dengan garpu. Dia menatap Agung yang menatap lasagnanya dengan penuh minat, “Tuh, di sana meja aneka pasta.”
Di atas pelaminan, tidak henti-hentinya kedua mempelai menerima ucapan selamat dari para tamu. Adisti mengenali beberapa wajah yang selama ini hanya ia lihat di televisi ataupun majalah. Para pesohor dan para pelaku dunia bisnis.
“Disti capek?” tanya Bramasta pelan, “Sabar ya..”
“Kaki Disti sakit. Heelsnya terlalu tinggi,” bisik Adisti pada suaminya.
Bramasta menoleh sambil mengerutkan keningnya, “Kenapa memilih heels yang tinggi?”
“Buat mengimbangi tinggi tubuh Abang. Disti kan cuma 158 cm, ceper Bang kalau di dekat Abang.”
Bramasta berdecak. Lalu menyuruh Adisti untuk duduk.
Dia berjongkok lalu menyingkapkan sedikit gaun Adisti untuk melepas selopnya. Ada kaitan di bagian belakang selop. Bramasta membukanya lalu melepaskan selopnya.
“Istirahatkan kakinya, ya,” Bramasta berdiri lagi lalu tersenyum pada tamu yang datang untuk menyalami.
Adisti ikut berdiri untuk menyalami tamu wanita sambil tersenyum.
“Kenapa berdiri lagi?”
“Menghargai tamu yang sudah bersedia datang menghadiri acara kita, Bang.”
Bramasta tersenyum simpul sambil merangkul sejenak istrinya.
“Love you more,” bisiknya membuat Adisti tersipu malu.
“Bram, selamat ya,” seorang pria berumur dengan setelan jas warna navy memberi selamat, “Semoga samawa hingga jannah nanti.”
Hati Adisti mencelos mendengar suaranya. Suara yang tidak ingin ia dengar lagi ataupun bertemu lagi dengan pemilik suara tersebut. Adisti belum dapat melihat sosoknya karena terhalang tubuh Bramasta yang tengah memeluk pria tersebut.
“Terima kasih banyak sudah datang di acara kami, Tuan Hilman.”
Tuan Hilman Anggoro mengangguk lalu menepuk-nepuk lengan atas Bramasta.
“Adisti,” Tuan Hilman tersenyum canggung pada Adisti.
“Om eh ma’af, Tuan Hilman,” kata Adisti sambil mengangguk hormat.
Tuan Hilman tidak berlalu dari hadapan Adisti. Dia diam mematung sambil menatap canggung pada Adisti. Adisti merasa gelisah. Dia melirik orang yang berada di samping Tuan Hilman. Laki-laki muda tapi bukan Prasetyo.
“Tidak, saya tidak datang bersama istri saya ataupun anak saya. Saya datang bersama asisten saya. Selamat ya untuk pernikahan kamu. Tolong ma’afkan istri dan anak saya.”
Adisti tidak menjawab. Dia hanya menatap nanar pada Tuan Hilman. Masih mencerna kalimatnya.
“Sekali lagi, ma’afkan mereka,” Tuan Hilman membungkukkan badannya lalu berlalu dari hadapan Adisti.
Ucapan Agung di rumah sakit terngiang lagi, bagaimana Ayah dan Bunda dipaksa berlutut di hadapan mereka agar dirinya dibebaskan dari jerat hukum pencemaran nama baik.
Adisti melihat Daddy memeluk akrab Tuan Hilman. Juga Hans menjabat tangan Tuan Hilman dengan penuh keakraban saat Tuan Hilman turun dari panggung pelaminan. Hatinya terasa diremat. Sakit. Matanya berembun. Dia tidak sanggup untuk berdiri lagi. Dia memilih untuk duduk.
***
Tamu yang tak diharapkan hadir oleh Adisti.
Bramasta peka gak ya?