CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 93 – ON THE STAGE



Bramasta memberikan penutup, “Jangan pernah membuang ataupun melupakan masa-masa sulit kita. Ceritakan masa-masa sulit kita kepada orang lain yang sedang menghadapi masa sulitnya. Mungkin dengan begitu, dia akan mendapatkan motivasi untuk bangkit, untuk maju. Dia bisa belajar dari perjuangan kita.”


“Masa-masa sulit juga berguna bagi kita disaat kita sedang berjaya. Ingat saat sedang susah sehingga kita tidak menjadi pongah.”


Hadirin memberikan standing applause.


Ayah diminta maju untuk membacakan do’a. Selesai membacakan do’a, Ayah mengucapkan terima kasih atas bonsai suiseki yang diberikan Bramasta padanya.



“Selanjutnya, silahkan menikmati hidangan dan fasilitas yang ada pada The Cliff. Bila ada pertanyaan silahkan diajukan,” kata MC.


Beberapa wartawan mengacungkan tangannya. Mereka menanyakan tentang The Cliff, Manajer The Cliff menjawab pertanyaannya.


Menjelang akhir sesi, seorang wartawan menanyakan tentang ucapan Rita Gunaldi di media. Manajer The Cliff tampak kebingungan. MC mengambil alih, berperan sebagai mediator.


Adisti maju menuju standing microphone tetapi Bramasta menahan tangannya. Dia menatap mata istrinya. Adisti tersenyum dan mengangguk. Meyakinkan suaminya dengan menepuk-nepuk punggung tangan suaminya. Semuanya terlihat oleh wartawan.


“Assalamu’alaikum, ijinkan saya menjawab pertanyaan wartawan ya,” Adisti memandang semuanya dengan tersenyum, ”Menanggapi pernyataan Rita di media bahwa urusannya adalah dengan Adisti bukan dengan Alwin Sanjaya, oleh karena itu saya mengajukan diri untuk menanggapinya."


Adisti tersenyum simpul, "Dan rasanya memang tidak apple to apple kalau Rita berhadapan dengan Daddy ataupun dengan Abang Bram, suami saya kan? Apalagi setelah dia merasakan tendangan saya yang telak mengenai tubuhnya setelah berusaha menjambak hijab saya.”


Para hadirin dan wartawan tertawa.


“Apa perlu saya tambahkan dengan kalimat “Masih kurang, Teh?” tapi nanti malah dicap sombong lagi oleh yang bersangkutan... Nanti misuh-misuh lagi.. Nanti saya makin sering muncul di media karena viral dia makin sewot. Kasihan, nanti malah jadi sakit.”


Mereka tertawa lagi.


“Nggak, saya gak ingin menjadi viral lagi. Saya ingin menikmati hidup damai bersama suami dan keluarga kami tanpa gangguan kamera betulan ataupun kamera handphone yang mengarah ke kami. Kami ingin beraktifitas normal seperti Anda semua,” Adisti mengangguk memandang Daddy dan Mommy.


“Untuk Rita owner The Ritz, bila setelah mengenal saya lalu merasakan kesialan yang luar biasa, semoga bisa bercermin. Karena semua ada sebab dan akibatnya. Berkacalah. Saya yakin The Ritz yang notabene salon besar di kota ini pasti memiliki banyak cermin besar,” Adisti memandang pada wajah wartawan yang tadi mengajukan pertanyaan.


Wartawan tersebut mengangguk setuju dengan ucapan Adisti.


“Saat kita diberi cobaan hidup, disaat itulah Tuhan ingin kita lebih mendekatkan dirinya kepadaNya. Bukan dengan sibuk menyalahkan orang lain, sibuk membela diri sendiri, sibuk membuat pembelaan diri,” ucapan Adisti membuat Bunda langsung mengangkat kedua jempolnya di udara.


“Kedewasaan itu tidak mengenal umur. Tetapi bila sudah berumur tetapi masih juga tidak bisa membedakan yang baik dan benar maka sungguh t e r l a l u,” ucapan Adisti yang meniru gaya Bang Haji Rhoma Irama membuat hadirin dan wartawan tertawa.


“Attitude itu menunjukkan kelas. Saya sering melihat orang kaya tetapi attitude-nya buruk, menunjukkan dia tidak berkelas, meskipun tubuhnya dibalut busana ataupun perhiasan mahal sekalipun,” Adisti memandang seluruh hadirin dengan tatapan serius, “Meremehkan profesi apapun selama profesinya halal, maka orang yang meremehkan tersebut attitude-nya luar biasa buruk. Ingat, kehidupan itu bagaikan roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah.”


Para hadirin, terutama wartawan memberikan standing applause pada Adisti. Terutama para wartawan, mereka merasa dibela oleh Adisti setelah profesi mereka dihina oleh Rita Gunaldi.


Setelah keadaan tenang kembali, Adisti melanjutkan lagi, “Kalau saya dikatakan sebagai perempuan yang sok suci, ini bakal susah banget pembuktiannya ke publik. Karena trust me, yang tahu betul saya masih suci atau nggak ya cuma suami saya sendiri.”


Hadirin dan wartawan terbahak sambil bertepuk tangan. Adisti melirik suaminya yang wajahnya memerah hingga telinganya. Wajahnya sendiri sudah memerah.


“Ciyeeeee!” seru salah seorang tamu.


“Swiwwwwiiit!”


“Ma’af Bang... Love you Bang..!” kata Adisti di depan mikrofon sambil memberikan jari love pada suaminya.


Bramasta tertawa sambil memberikan jari lovenya juga pada Adisti. Suara ciyeeee makin terdengar. Adisti mendekat ke mikrofon, “Bang, sini Bang temani Disti. Disti jadi grogi nih, banyak yang ciyeee-ciyeee in.”


Suasana makin heboh. Apalagi saat Bramasta mendekat ke arah Adisti dan menerima uluran istrinya untuk digenggam.


“Oh My God...” kata Daddy dari mejanya, “Public speech-nya Adisti luar biasa bagus. Publik akan menerimanya dengan mudah. Dia pasti mendapat tempat di hati para netizen ataupun pemirsa.”


Tuan Armand yang ada di samping Daddy mengangguk, “Untung kita memberi kepercayaan pada Adisti. Dia bisa menjadikan hal yang gerah bagi kita menjadi menyejukkan dan menghibur seperti ini.”


Daddy mengangguk. Dia menepuk-nepuk pundak Ayah yang duduk di sebelahnya. Dan Ayah merasa sangat bangga pada putrinya.


Bramasta mendekat ke mikrofon, berbicara sambil menggenggam jemari istrinya.


“I love you more,” Bramasta memandang mata istrinya, “Tangan Disti kok dingin banget?”


Adisti tertawa, jawabnya di depan mikrofon, “Ternyata makin grogi didekati suami yang ngomong love you-love you an..”


Semua tertawa lagi.


“Woiyy ada jomblo di sini woiiy!” seru Indra dari arah B Crews.


Suasana makin semarak.


“Ya sudah, kita pamit ya.. silahkan menikmati sajian di The Cliff, nikmati juga semua fasilitas yang ada di The Cliff. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kesuksesan The Cliff. Semoga para wartawan puas dengan jawaban kami ya,” Adisti melambaikan tangannya.


“Lagi!”


“Kalian mau kemana?”


Suara-suara dari arah hadirin yang tidak rela Bramasta dan Adisti berlalu dari stage terus terdengar.


“Memangnya mau kemana?”


“Ya pulanglah..” jawab Adisti yang disambut tawa hadirin dan suara ciyeee lagi.


“Gak boleh pulang dulu..!” seru Mommy.


“Iya Mom...” Adisti berkata di depan mikrofon, “Sebagai menantu perempuan satu-satunya, Disti harus patuh pada mertua. Biar makin disayang suami juga.. Disayang Ayah Bunda juga.”


Bramasta tertawa keras begitu juga Mommy,Daddy, Ayah dan Bunda.


Menjelang maghrib, mereka pulang. Adisti tertidur sepanjang perjalanan pulang. Setelah turun dari stage, Adisti beberapa kali menguap. Bramasta sebenarnya kasihan melihatnya. Semalam mereka hanya tertidur selama 2 jam.


Notifikasi pesan chat sudah beberapa kali berbunyi. Bramasta mengabaikannya karena dia sedang fokus mengemudi. WAG Kuping Merah ramai membahas The Cliff.


Apalagi setelah wartawan TV menyiarkannya di tayangan infotainmen. Nama Adisti dan The Cliff kembali mencuat di trend media sosial hari ini.


Mereka tiba beriringan, mobil Bramasta, mobil Indra dan mobil Anton. Mereka memang akan berkumpul di apartemen.


Bramasta memarkirkan mobilnya di parkiran khusus penghuni penthouse. Sementara mobil Indra dan Anton parkir di tempat parkir tamu.


Mereka menaiki lift bersama. Adisti sudah merasa segar lagi. Indra yang tengah membaca WAG langsung berkata, “Agung akan menyusul kemari.”


“Asyik, makin rame..” kata Adisti.


“Kita mau disuguhin apa nih?” tanya Anton.


“Ma’af, dapur masih tutup. Belum sempat belanja..” kata Adisti diikuti kekehan Bramasta.


“Assalamu’alaikum,” Bramasta dan Adisti kompak mengucap salam ketika memasuki foyer yang dijawab oleh Indra dan Anton.


“Weiizzzzss ada yang baru nih..” Indra memandang Anggrek Bulan di atas meja foyer, “Ada Nyonya sekarang, penampilan apartemen lu gak garing lagi, Bro.”


“Kemarin ada yang mengirimi Disti bunga. Gak ada nama pengirimnya, hanya tertulis Fans Berat Adisti.”


“Wah.. hebat banget ya pengaruh Adisti..”Anton memeriksa media tanamnya, “Harus diairi, Pak Bos. Sudah mulai kering.”


Anton berjalan ke sofa ruang tengah, Indra tengah memandangi Bramasta dengan wajah tegang.


“Ada apa?” tanya Anton.


“Darimana penggemar Adisti tahu kalian tinggal di apartemen ini?” tanya Indra.


“Itu juga yang bikin gue merasa was-was dengan bunga itu. Karena gue berpikir sama dengan yang lu pikirkan, Ndra.”


Mereka menoleh ke arah foyer yang sudah padam otomatis lampunya. Anton kembali lagi ke arah foyer tapi berhenti sebelum memasuki area jangkauan deteksi sensor tubuh untuk menyalakan lampu foyer secara otomatis.


“Gotcha!” bisik Anton namun terdengar oleh mereka.


Anton segera kembali ke ruang tengah. Mengambil remote TV, menyalakan TV dengan volume besar dan ke pantry untuk menyalakan exhaust di atas kompor.


Adisti yang mendengar suara berisik TV segera keluar kamar.


“Ada apa sih?! Nyetel TVnya gak bisa pelan?!”


Dia harus berbicara dengan suara keras.


Anton meletakkan telunjuknya di depan bibirnya yang mengerucut. Semua heran menatapnya. Anton mengajak mereka ke sudut treadmill.


“Ada kamera penyadap di tangkai bunga anggrek itu.”


“Whattt??!”


***


Babang Anton pahlawanku!