
Medusa terhuyung, tepat ke arah tong sampah yang terbuka. Dia menjerit saat hilang keseimbangan dan terjerembab masuk ke dalam tong sampah. Rok pendeknya yang mengembang bagai bunga peony memenuhi permukaan tong sampah, sementara tubuhnya melesak ke dalamnya. Kakinya mencuat di udara.
Tong sampah terhentak ke arah belakang. Bagian depan dasarnya terdorong dan terangkat. Beban tubuh si Medusa membuat tong sampah rebah ke belakang. Sialnya, pedestriannya tidak datar tapi menurun hingga ujung. Tong sampah menggelinding dengan Medusa di dalamnya yang menjeri-jerit panik.
Bramasta terengah. Memegang Adisti.
“Ada apa ini?”
“Tetehnya gak salah, Pak. Ibu-ibu itu yang datang-datang langsung jambak si Teteh,” kata gadis penjual boba.
“Disti, kamu gak apa-apa?”
Adisti tidak menjawab. Rasa sakit pada bahu, leher dan kepalanya membuatnya disorientasi. Telinganya berdenging nyaring oleh rasa sakitnya. Pandangannya memudar. Gelap dan hening.
Bramasta memeluk Adisti dengan cepat. Dia bisa melihat darah mulai merembes di kerudung Adisti. Bramasta berseru panik. Gadis penjual boba membantu membukakan pintu mobil. Bramasta terus-terusan beristighfar sambil menaruh tubuh Adisti dengan hati-hati.
“Terimakasih banyak Teh,” kata Bramasta kepada Gadis Penjual Boba. Si Gadis hanya mengangguk karena Bramasta dengan cepat menghilang menekan pedal gasnya meninggalkan suara raungan mesin bersilinder besar.
Dia melihat ke arah tong sampah yang kini berhenti tersangkut selokan. Seorang anak muda hendak menolong wanita di dalam tong sampah itu tapi sekelompok orang dari arah kanan gadis penjual boba berteriak-teriak ke arah pemuda tadi.
“Ulah! Ulah ditulungan. Tuman. Jahat pisan jadi awewe teh!_Jangan! Jangan ditolong. Jahat banget jadi perempuan sih!_” kata mereka.
Anak muda itu urung menolong si wanita yang kian menjerit dan memaki.
Dia berjalan mendekati kelompok orang tersebut untuk menanyakan apa yang terjadi. Salah seorang dari mereka memperlihatkan layar handphonenya ke arah anak muda tadi. Menonton rekaman kejadian itu. Seruan-seruan geram dan kagum terdengar dari arah kerumunan itu.
Seorang dari mereka menunjuk ke arah tong sampah. Dia mengarahkan handphonenya untuk merekam tempat sampah yang bergerak-gerak.
Ada tangan yang menjulur dari dalamnya, mencari pegangan. Lalu kepala dengan rambut yang berantakan, terlihat basah dan lengket dengan tutup gelas dan sedotan boba tersangkut di rambutnya. Tubuhnya yang dibalut atasan katun berenda dengan belahan dada rendah tampak tumpah ruah dengan segala macam bungkus kemasan. Roknya tampak mengenaskan, bagian depannya mengembang tapi bagian belakangnya menguncup karena basah.
“Makanya Bu, jadi orang jangan jahat banget!” teriak seorang di antara mereka.
“Apa kalian?! Saya tuntut kalian semua. Saya bakal tuntut perempuan miskin itu! Sialan!!! Sialaaaan!” kakinya dihentak-hentakkan lalu jemarinya menunjuk pada kerumunan, “Brengs*k kalian!!”
Kerumunan itu menertawakan wanita itu yang berjalan dengan langkah tersendat sambil memegangi pinggangnya. Tangan satunya mencabuti sampah-sampah yang menempel pada rambut dan badannya. Seseorang datang menghampiri wanita itu, menuntun wanita itu berjalan.
“Dari seragamnya seperti pekerja di salon dan butik ujung jalan,” kata seorang wanita dari kerumunan itu.
“Gila, baru 3 menit upload yang nonton sudah hampir seribu..” kata seorang anak muda yang memakai tas ransel.
Gadis penjual boba memungut kain gendongan tangan yang dilemparkan Adisti sebelum dia melakukan tendangan memutarnya. Dia melintas di depan kerumunan itu sambil berjalan terpincang. Lututnya perih karena terjatuh saat didorong oleh wanita gila itu.
“Eh, itu Teteh yang nolongin. Itu apa Teh?” tanya salah seorang dari mereka sambil mengarahkan handphonenya ke gadis penjual boba tadi.
“Ini, kain gendongan tangan punya si Teteh yang diserang tadi. Kasihan, tangannya sedang cedera begitu malah diserang dari belakang. Tapi gak nyangka ya, ternyata si Tetehnya jago bela diri,” semua orang dikerumunan menyetujui perkataan gadis penjual boba.
“Terus, mau diapain Teh, kain gendongannya?”
“Gak tahu. Paling saya simpan siapa tahu Teteh yang tadi atau Masnya datang untuk mengambil kain gendongan ini.”
“Teh, lututnya berdarah,” kata pemuda dengan tas ransel.
Gadis penjual boba menunduk. Melihat darah yang mengalir di depan tungkainya.
“Tadi di dorong ibu-ibu itu ya Teh?” Gadis penjual boba mengangguk.
“Ish.. jahat banget si ibu itu,” kata seorang gadis, “Teh, saya borong deh es bobanya. Nanti kalau dapat bonus dari bosnya, beli obat antiseptik ya Teh supaya gak infeksi.”
“Saya juga.”
“Saya mau, 5. Rasa yang berbeda ya Teh..”
“Alhamdulillah,” si Gadis penjual boba membungkukkan badannya ke arah kerumunan itu, “Hatur nuhun pisan, Akang, Teteh!”
Sore itu, jagat maya dihebohkan dengan kejadian yang tidak biasa yang terjadi di pedestrian depan toko meubeul. Video yang diberi label DEPAN PEDESTRIAN TOKO MEUBEUL Part 1, 2 & 3. Video Part 1 diberi caption “SALAH PILIH LAWAN”, Part 2 diberi caption “TUMAN!!” dan Part 3 dengan caption “YUK KITA BORONG BOBANYA”.
***
Memasuki jalur UGD, Bramasta menekan klakson mobilnya berkali-kali kepada security. Security paham, dia segera mengambil kursi roda. Bramasta berteriak, “Minta bed-nya Pak. Pasien tidak sadarkan diri!”
Seorang petugas security mengenali Bramasta, dia memberitahu perawat di dalam, mereka kedatangan pasien VVIP. Bed datang didorong oleh security dan perawat. Memindahkan pasien dengan hati-hati.
“Kenapa?” tanya perawat.
“Dia diserang pada bagian kepalanya. Saya khawatir ada cedera pada tulang lehernya,” kata Bramasta dengan panik.
“Kita tangani dulu pendarahan luar pada kepalanya ya Pak. Baru kita periksa CT Scan. Bapak sekarang menunggu di luar dulu,” kata dokter jaga.
“Tolong selamatkan calon istri saya, dok. Tolong dokter. Minggu ini kami akan menikah. Tolong dia,” Bramasta menangis.
“Iya.. sekarang Pak Bramasta tunggu di luar dulu ya. Supaya tidak mengganggu kerja kami.”
“Tidak, saya ingin melihat Adisti. Saya harus berada di sisi Adisti,” Bramasta meraung marah.
Serbuan adrenalin dari semenjak mendengar perempuan yang menjerit-jerit minta tolong lalu melihat Adisti diserang dari arah belakang hingga tiba di rumah sakit membuat otaknya kebanjiran adrenalin. Pandangannya berputar, telinganya berdenging. Bramasta ambruk di lantai UGD rumah sakit.
Para petugas medis heboh begitu juga keluarga pasien yang ada di ruangan UGD.
“Telepon B Group, hubungi sekretarisnya, beritahu untuk segera mendampingi Tuan Bramasta,” kata dokter jaga senior kepada salah seorang perawat.
***
Indra sedang menyesap kopinya sambil matanya memperhatikan layar laptop laporan bulanan Divisi Restaurant & Café ketika dering intercom berbunyi. Indra menyalakan loudspeaker, “Assalamu’alaikum, ya ada apa?”
“Wa’alaikumussalam Pak Indra. Kami menerima telepon dari rumah sakit, meminta Pak Indra untuk datang ke UGD mendampingi Pak Bramasta.”
“Apa?”
“Sambungkan saya dengan telepon dari rumah sakit.”
“Selamat sore, Pak Indra. Dimohon kedatangannya untuk mendampingi Pak Bramasta yang kini tengah tidak sadarkan diri di UGD,” suara perawat terdengar begitu tegang di telepon.
“Kenapa? Ceritakan kejadiannya?”
“Tuan Bramasta membawa pasien wanita yang tidak sadarkan diri dengan cedera terbuka pada kepala dan kemungkinan cedera leher juga. Kata Tuan Bramasta, pasien diserang pada bagian kepalanya dari arah belakang. Beliau menyebut, pasien adalah calon istrinya, Adisti.”
“Baik, saya ke sana sekarang. Terimakasih banyak.”
Indra meraih kunci mobil dan handphonenya. Dia berlari ke arah lift. Membuat panggilan kepada Hans. Berbicara dengan cepat menceritakan kronologinya. Meminta Tuan Alwin untuk datang ke UGD.
“Jangan beritahukan kepada Nyonya sebelum semua tertangani dengan baik,” pesan Indra kepada Hans.
Indra menghubungi berkali-kali handphone Agung. Tidak ada jawaban. Dia memukul stirnya berkali-kali. Akhirnya dia menghubungi Papinya. Menceritakan kronologi singkat lalu meminta papi untuk menyuruh Agung segera ke UGD.
Agung baru saja memperkenalkan dirinya di depan para manajer di Divisi Keuangan ketika pintu ruang meeting terjeblak terbuka berikut sosok besar tubuh Kusuma Wardhani, direktur mereka, memenuhi ambang pintu.
“Agung, segera ke UGD sekarang. Jangan bawa kendaraan sendiri. Saya sudah menyuruh Hans untuk pergi bersama kamu. Tuan Alwin dan Hans sedang di teras lobby menunggu kamu. Kalian pergi duluan. Nanti saya menyusul.”
“Ada apa, Pak?”
“Adisti diserang. Cedera terbuka di kepala. Bramasta mengamuk di UGD sebelum pingsan.”
“Subhanallah!” Agung berlari menerobos tubuh besar Pak Direktur di ambang pintu. Berlari kencang ke arah lift yang hampir menutup.
“Tahan pintunya!” seru Agung.
Di ruangan meeting para manajer berdengung seperti lebah. Membicarakan kehebohan yang baru saja terjadi. Dan mereka menyadari manajer yang baru saja direkrut oleh Sanjaya Group bukan orang biasa. Berhubungan langsung dengan Pak Direktur, Pak Presdir dan Presdir B Group. Siapa sebenarnya Agung Aksara Gumilar? Siapa Adisti?