CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 125 – ANALISA AGUNG



Anton terperangah. Wajahnya terangkat, menatap Agung dengan wajah memerah.


“Nggak.. gue biasa-biasa aja ke Adinda kok.”


“Don’t lie to me. Body gesture is never lie_Gak usah bohong ke gue, bahasa tubuh gak akan pernah bohong_,” Agung terkekeh, “Kalem, Bro. Gue gak marah kok ke Lu.”


Anton mengalihkan pandangannya dari mata Agung.


“Semua cowok saat melihat Adinda pasti komen, dia cantik. Tanya aja Abang Bram. Iya kan Bang? Tadi sewaktu gue belum sadar dia ngomong begitu sampai dihadiahi cubitan oleh Adek,” Agung tersenyum lebar memandang Bramasta.


“Kakak Ipar tahu?”


“Ya tahu lah. Kalian mengobrol depan gue.”


“Tapi kan Kakak Ipar merem..”


“Meneketehe Bang.. Aa juga gak tahu cara kerjanya bagaimana, prosesnya bagaimana...”


“Gue juga akan berkomentar seperti itu terhadap Adinda,” kata Leon, “Dia cantik, imut, polos dah baik.”


“Sebagai jomblo juga, gue juga berpendapat sama dengan Bang Leon..” kata Indra.


“Tuh kan?” Agung memandang Anton, “Lu sebenarnya mampu untuk move on. Hanya mindset Lu yang harus diubah.”


“Bro, Lu pernah dengar kalimat: hanya butuh hitungan detik untuk jatuh cinta, tapi untuk pindah ke lain hati bisa butuh waktu bertahun-tahun,” Anton menatap Agung dengan kedua tangan di dalam saku celananya.


Agung tertawa mendengar ucapan Anton.


“Lu dapat kalimat tersebut dari drakor atau dari novel picisan? Let me tell you_Gue bilangin, ya_. Jatuh cinta dalam hitungan detik itu nonsens. Yang dalam hitungan detik terjadi itu hanya rasa suka. Kalau ada laki yang ngomong cinta setelah melihat cewek dalam hitungan detik, fix dia adalah buaya darat.”


Semua menyimak ucapan Agung. Bahkan Hans yang sudah terbangun pun menyimak ucapan Agung sambil tetap berbaring menatap plafon ruangan.


“Hadirnya cinta itu butuh proses. Cinta pada pandangan pertama, itu bukan berarti sekali lihat langsung cinta. Proses awalnya suka. Bisa suka dengan wajahnya, suka dengan penampilannya, suka dengan cara berbicaranya, suka dengan cara berpikirnya,” Agung menatap Anton yang seperti tengah melamun.


“Setelah suka, ada rasa tertarik. Nah saat proses tertarik ini, hati dan pikiran mulai bermain. Mulai sering memikirkan ataupun membayangkan dia,” Agung tersenyum lebar menatap Anton.


“Disaat rasa tertarik timbul, untuk jiwa kekanakan, hati akan merajai pikirannya. Jadilah love is blind. Tapi untuk jiwa dewasa, akal akan selalu dapat mengendalikan hati dengan analisa-analisanya. Misal, ternyata dia jorok, hobinya ngupil. Atau, ternyata dia tidak sebaik yang dibayangkan, dia kasar ke orangtua. Itu contoh untuk hal-hal negatif bagi hati, ya,” Agung jeda sejenak untuk menggeser duduknya.


Leon dan Indra menarik kursi lain untuk duduk di dekat Agung.


“Contoh hal-hal yang positif bagi hati, misalnya, penampilannya lusuh tapi orangnya ceria dan positif thinking banget, masalah penampilan kan bisa dipoles. Atau, dia bukan orang berada tapi hubungan dia dan keluarganya hangat dan harmonis, tipikal penyayang banget nih.”


Bramasta tampak tersenyum.


“Rasa suka gue ke Adinda kayaknya tertahan di rasa tertarik, Bro,” Anton berkata sambil terkekeh, “Pikiran gue berkata, she is for you, not mine_Dia untukmu, bukan milikku_."


“You got my point!” Agung menunjuk pada Anton sambil terkekeh.


“Lu belajar psikologi juga, Bro?” tanya Indra, “Omongan Lu tentang proses jatuh cinta itu luar biasa.”


“Itu karena gue terbiasa menganalisa sesuatu. Gue di Buana Raya membuat keputusan-keputusan yang seharusnya dibuat oleh direksinya. Menganalisa pasar, kapan harus melepas saham atau membeli saham. Kapan harus memulai proyek atau menghentikan sementara. Menganalisa pasar dan kemungkinan baik buruknya itu bisa dilihat dari membaca situasi yang berkembang. Situasi dalam negeri dan luar negeri terutama poitik dan ekonominya.”


“Ciyus Lu sampai segitunya?” Indra mengangkat kedua alisnya, “Bram, bisa dong kita rekrut Agung gabung dengan B Group...”


“Woiyyy! Gue denger loh!” suara Hans terdengar jengkel.


“Kirain orang Sanjaya Group masih tertidur...” Indra terkekeh diikuti Bramasta dan Leon.


Hans berjalan ke kamar mandi sambil menyalakan gawainya.


“Bro, jangan pernah merasa jadi orang buangan karena apa yang sudah dilakukan oleh keluarga Lu,” Agung kembali menatap Anton.


Anton menatap Agung lekat.


“Pesan Papanya Adinda sepertinya diperuntukkan untuk kita semua. Belajar ikhlas menerima keadaan tanpa harus membenci kenyataan karena Allah akan menggantikan semuanya dengan lebih baik,” Agung menepuk tangan Anton.


Anton masih terdiam.


“Lu membenci keluarga Lu?”


Anton menggeleng.


“Masyaa Allah, Lu luar biasa, Bro,” Indra memandang Anton dengan tangan menumpu dagunya.


“Walaupun mereka memperlakukan Lu dengan buruk?” Leon bertanya.


“Tidak seburuk perlakuan keluarga besar. Gue rasa, keluarga gue dalam tekanan keluarga besar untuk memperlakukan gue dengan buruk.”


Indra dan Leon mengangguk mengerti.


“See?_Kan?_ Lu ikhlasin bagaimana keluarga Lu memperlakukan Lu, Lu gak membenci mereka, dan Allah menggantikan mereka dengan keluarga yang lebih baik dari mereka: kami. Kami menerima kamu apa adanya tanpa syarat. Kita bersama-sama berjama’ah untuk dapat saling mengingatkan, saling menguatkan,” Agung menepuk-nepuk tangan Anton.


Luruh air mata Anton. Dia memeluk Agung. Agung meringis.


“Bro.. luka gue..”


“Eh, sorry Bro..”


“Fabiayyi ‘alaa irrobikuma tukadzziban, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?” Bramasta mengutip ayat yang diulang terus dalam surat Ar Rahman.


“Jangan pernah mengingkari rejeki, jangan pernah menolak rahmat Allah. Termasuk jangan pernah terjebak dalam cinta lama yang belum tentu jodohnya kita. Buka hati untuk bertemu dengan sosok baru agar kalian bisa menyempurnakan setengah dari agama,” Bramasta menepuk punggung Anton.


Anton langsung memeluk Bramasta.


“Pak Bos, terimakasih banyak..”


“Saat seperti ini gue lagi gak ingin dipanggil Pak Bos. Gue sedang jadi Abang Lu, Ton.”


“Iya.. ma’af Bang.”


“We are family, Dude. Never deny it_Kita itu keluarga, Bung. Jangan pernah mengingkarinya_,” Indra memeluk Anton.


“Hi Lil Bro.._Hai, Dik.._” Leon memeluk Anton juga.


“Hi cringy Boy.._Hai bocah cengeng.._” Hans ikut memeluk Anton.


“Hans, lu udah cuci tangan kan?” Leon menyikut Hans.


“Gegabah banget nih bule satu kalau ngomong,” Hans memandang sebal pada Leon yang sedang menyengir jahil.


Suara Adisti terdengar di depan pintu.


“Assalamu’alaikum..” salam Adisti diijawab oleh semua pria dalam ruangan.


“Sudah gantian sekarang kalian turun untuk makan malam,” kata Bu Dhani.


“Sepertinya kami mau order saja dari tempat Bram, Bu,” kata Hans, “Terlalu malam kalau harus makan malam di bawah. Masih ada perkerjaan yang harus dikerjakan.”


“Sesuatu tentang Kuping Merah’s activity ya?” kekeh Daddy diikuti oleh Ayah dan Pak Dhani.


Hans tidak menjawab hanya tersenyum lebar.


“Ya sudah, segera selesaikan. Jangan terlalu malam kalian pulangnya ya.”


“Siap, Tuan.”


“Nak Bram dan Adek pulang saja ya. Biar Ayah dan Bunda yang jaga Kakak,” kata Ayah.


Bramasta mengangguk namun tertawa saat melihat Adisti tengah menguap.


“Sudah makan, kenyang terus ngantuk?” Bramasta masih tertawa sambil menggandeng tangan istrinya, “Indonesia banget ya..”


Semuanya tertawa mendengar ucapan Bramasta.


.


***


Forgiveme to late upload 🙏🏼