
“Kakak Ipar sudah membicarakan ini dengan Disti?” tanya Bramasta.
Agung mengangguk.
“Kata Adek, pakai kamarnya.”
Bramasta terkekeh, “Sementara kamar Kakak Ipar ada di depan kamarnya...”
“Makanya... Aa nanti mau kost saja.”
“Kenapa tidak pakai kamar bawah?” tanya Bramasta.
“Kamar bawah itu untuk kalian kalau datang menginap di rumah.”
Seorang perawat masuk membawa troli stainless, membuat mereka berhenti berbicara untuk meihat siapa yang datang. Kemudian tirai bed Adinda ditutup seluruhnya.
Mereka melanjutkan pembicaraan mereka lagi.
“Terus mau kost di daerah mana?”
Agung mengangkat bahunya, “Yang dekat rumah mungkin. Supaya kalau ada apa-apa bisa segera.”
Bramasta mengangguk, “Bagaimana kalau tinggal di apartemen saja?”
“Apartemennya Abang? Terlalu jauh dari rumah, Bang.”
“Bukan di apartemen tempat Abang tinggal, apartemen di dekat sini.”
“Minggu lalu ada kejadian suicide di sana. Terjun bebas dari top floor.”
“Lah, terus Kakak Ipar takut?” Bramasta terkekeh keras, “Gak nyangka, super hero takut sama yang begituan..”
“Nggak, bukan takut. Tapi malas aja berurusan dengan makhluk kasat mata. Mereka bisa lihat kita tapi kita gak bisa lihat mereka. Kan suwe..”
Bramasta erkekeh keras lagi, “Pantas Indra cerita, ekspresi Kakak Ipar gitu amat saat dia dikira kesurupan.”
“Aa bukannya takut sama demit, Bang,, tapi menghadapi orang kesurupan itu sama dengan menghadapi orang mabuk.”
Dering notifikasi pesan chat mereka berbunyi bersamaan. WAG Kuping Merah.
Indra_Gue baru dapat kabar valid, gedung The Ritz akan dijual. Dari pasar property belum ada yang release, berarti belum dilempar ke pasar_
Leon_Wah, padahal hair dresser-nya bagus tuh. Cepat kerjanya dan rapi_
Anton_Ini berarti Rita bangkrut?_
Bramasta_Bagaimana tidak bangkrut? The Ritz menghadapi tuntutan para pemegang merk dunia ditambah tidak ada lagi aktfitas money laundry yang selama ini menyokong kehidupan The Ritz. Tosca Imperium pun masih ditutup untuk penyidikan polisi_
Indra_Gue berminat beli properti The Ritz_
Agung_Demi kenangan Andri Dhani? (emot ngakak)_
Yang lainnya pun memberikan emot ngakak.
Leon_Unforgettable, ya Ndra_
Indra_Bram, bilangin ke Kak Layla. Abang Leon tidak dapat melupakan Rita Gunaldi!_
Leon_Eh, bukan gue. Tapi Lu, Ndra_
Indra_Yang ngetik “unforgettable" siapa?_
Hujan stiker ngakak dimulai.
Bramasta_Lu beli The Ritz buat apa, Ndra?_
Indra_Entahlah. Perasaan gue bagus tentang tempat itu. Feeling gue , suatu saat tempat itu akan menjadi tempat yang berhubungan dengan masa depan gue_
Anton_Lu serius, Bro?_
Indra_Iyes_
Hans_Tahan dulu, Ndra. Jangan terburu-buru. Kalau Lu minat, gue bisa atur pembelian lewat kantor Tuan Armand. Jadi Lu gak perlu bertemu dengan Rita nantinya_
Agung_Memangnya kenapa kalau Bang Indra bertemu Rita?_
Leon_Ya pasti dia bakal menolak jual. Karena Indra sekretarisnya Bramasta, suaminya Adisti. Tahu sendiri, Rita kan seperti yang keki banget dengan Adisti_
Bramasta_Ton, kira-kira berapa harga properti The Ritz?_
Anton_Sekitar angka 25 M, Pak Bos. Tapi karena dia jual dalam keadaan terdesak, bisa di bawah itu. Maybe 20 M. Kalau di bawah itu, kasihan RItanya_
Leon_Dunia bisnis tidak mengenal rasa kasihan, Ton. Rasa kasihan membuat lemah. Siapa yang lemah dia akan terlibas_
Anton_Di B Group, kami tidak diajari seperti itu, Bang. Ada pendekatan humanis dalam setiap keputusan_
Bramasta_Orang gue, tuh Bang yang ngomong. (emot mata love)_
Indra_Intinya sih, kita mencari keberkahan dunia akherat, Bang. Saat kita tahu penjual sedang kesulitan, sebisa mungkin kita tidak mengambil keuntungan karena merasa berada di atas angin dengan semakin menekan harga agar bisa terjual sangat murah_
Bramasta_Lagipula, Rita dikenal loyal kepada karyawannya. Pasti dia merasa bertanggungjawab atas penutupan The Ritz terhadap karyawannya_
Hans_Bang Leon harus sering hangout bareng dengan B Group nih, supaya tercerahkan (emot tawa)_
Leon_Gung, kira-kira Ayah mau nerima gue gak ya jadi muridnya? _
Bramasta_Mau bareng dengan Adinda jadi santrinya Ayah dan Bunda? Emot tawa_
Leon_Eh, betulan Dinda jadi santrinya Ayah dan Bunda?_
Agung_Santri privat. Anggap saja, dibekali ilmu untuk jadi madrasah pertama anak-anak gue. (Emot senyum lebar)_
Anton_Dih!_
Hans_Keep calm, Ton. Lu jangan sampai banting HP Lu. Repot lagi nanti kitanya_
Anton_Gue gak kenapa-napa, Bang. Gue biasa aja semenjak tahu Bang Agung sudah diamanahi Adinda oleh Papa Mamanya_
Indra_Lu kalau butuh tempat curhat, hubungi gue, ya Ton. 1 x 24 jam. Per jamnya US$ 250,-_
Perang stiker dimulai.
Hans_Setdah, komersil amat Lu, Ndra_
Indra_Woyyadong.._
Agung_Bang Hans dimana sekarang?_
Agung_Adinda digantikan oleh siapa?_
Hans_Ada, adiknya anak buah gue. Dia bisa bela diri juga, karate ban coklat. Dia sukarela mengajukan diri saat tahu tentang kasus Adinda_
Anton_Umur berapa memangnya?_
Hans_20 tahun, mahasiswi semester 2. Tapi postur tubuhnya seperti anak SMU. Manis anaknya, Ton. Tar gue kirim fotonya ya, siapa tahu Lu ingin ajak kenalan.._
Anton_Gak usah bang. Makasih._
Indra_Ciyeeeeee Anton, ciyeeeee_
Sebuah foto perempuan muda berhijab muncul. Warna kulitnya sama dengan Adinda. Bentuk matanya tajam seperti mata kucing. Bibirnya tengah tersenyum menghadap kamera.
Indra_Es jeruk, es kelapa muda, es campur_
Leon_Apaan Ndra?_
Indra_Suegerrrrr_
Perang stiker ngakak lagi.
Hans_Gue cabut ya. Mobil si Bryan sudah terpantau memasuki area hotel_
Bramasta_OK, Hans. Be safe ya. Laporannya ditunggu_
Hans hanya memberi emot jempol.
Leon_Adinda bagaimana keadaannya?_
Agung_Much better setelah kedatangan Adisti dan Abang Bram. Adisti tahu kenapa Adinda tidak bisa berdiri atau berjalan_
Indra_Kenapa dan bagaimana?_
Bramasta_Adisti survey pengalaman ke temannya yang baru melahirkan dan juga ke Mbak Hana, istrinya Hans, saat mereka harus dipasang kateter urin_
Anton_Jadi karena kateter urin?_
Agung_Sepertinya begitu. Mudah-mudahan dugaan Adisti benar. Sekarang sepertinya kateternya sedang dilepas oleh perawat_
Anton_Lu melihat prosesnya, Bro?_
Agung_Hisssh gegabah banget nih bocah!_
Emot ngakak bermunculan lagi.
Hans_Pantesan tadi Hana nanyain kenapa Disti tanya-tanya pengalaman pasca melahirkan. Dia menyangka Disti sedang hamil sekarang_
Bramasta_Kalau Disti sudah hamil, pasti Daddy dan Mommy sudah heboh duluan daripada kita-kita_
Indra_Hans, Lu kok muncul lagi dimarih? Kan tadi udah pamitan_
Hans_ Acting, Bro. Si Bryan sedang mengamati seluruh area lobby hotel. Si asistennya ngelihatin gue mulu_
Bramasta_Lu sudah dikenal luas, Hans. Orang keduanya Sanjaya Group_
Anton_Need back up? Gue 3 menit lagi lewat hotel itu_
Hans_Siip. Lu bawa jas gak?_
Anton_Always, Bang_
Hans_Langsung ke lobby ya. Ceritanya kita mau meeting_
Anton_OK. Gue masuk parkiran sekarang_
Leon_Rekam, Ton_
Indra_Isssh gue jadi ingin ikutan juga. Seru kayaknya_
Bramasta_Lu tetap jaga gawang, Ndra. Meeting dengan anak-anak software_
Indra_Iya.. Iya.. Jangan lupa sore nanti meeting dengan perusahaan sewa alat berat, Pak Bos_
Bramasta_Iya... _
Tirai bed Adinda disibak, perawat tadi keluar sambil mendorong trolinya.
Bramasta dan Agung berdiri, menghampiri bed Adinda.
“Sudah?” tanya Bramasta.
Agung mengerutkan keningnya saat melihat Adinda berbaring miring menghadap tembok dengan tubuh ditekuk, meringkuk.
Matanya menatap Adisti dengan pandangan bertanya.
“Nyeri, Kak. Tadi dijelaskan oleh perawat, setelah dilepas, ada rasa nyeri dan tidak nyaman. Tadi sudah diberi obat analgesik untuk mengatasi nyerinya.”
“Sudah diminum, obatnya?”
“Sudah..,” jawab Bunda.
Agung menatap obat tetes mata yang ada di atas nakas. Lalu mengangguk. Dia menarik sebuah kursi untuk duduk di dekat Adinda.
“Nak Bram dan Adek makan dulu. Kalian belum makan siang kan?”
“Bunda ikut makan juga ya..” ajak Bramasta yang memegang kedua pundak istrinya, mendorongnya sepanjang jalan menuju meja pantry.
“Jangan ganggu mereka. Beri mereka privacy,” bisik Bramasta di telinga Adisti.
“Tapi kan..”
“Percaya sepenuhnya pada Kakak Ipar. Dia laki-laki yang tahu batasannya.”
.
***
Babang Bram jadi Kakak Ipar yang peka banget ya..
BTW, Readers sudah mengaji belum?
Ramaikan Ramadhan yuk.