CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 154 – VIEW YANG INDAH



Bramasta menutup kembali gordyn dan vitrage ruang tengah. Mengamankan pintu balkon dan mematikan semua lampu utama dan menyalakan lampu plafon yang temaram. Baru beranjak ke dalam kamar.


Tangannya meraih remote yang ada di laci nakas. Mengarahkannya pada gordyn dan vitrage kamar. Keduanya menepi sesuai jalur relnya. Remote diarahkan pada lampu plafon sambil mematikan lampu utama. Kamar menjadi remang-remang. Bahkan kolong tempat tidurpun menjadi terang dengan lampu berwarna keemasan.


Remote diarahkan pada plafond. Plafond mendadak terbelah dua. Bergerak ke kanan dan ke kiri. Menampilkan atap kaca yang dipenuhi rintik gerimis.


Suara gerimis menyentuh kaca terdengar lembut di telinga. Bramasta menatap sekelillingnya dengan tersenyum puas.


Bramasta meletakkan kembali remote ke dalam laci nakas sambil duduk di tepi tempat tidurnya saat Adisti keluar dari area toilet room dengan menggunakan bathrobe warna krem.


“Masyaa Allah.. bahkan kolong tempat tidur pun ada lampunya. Kaki Abang jadi glowing di tengah kegelapan, Bang..”



Bramasta tergelak.


“Kok saat malam pengantin gak pakai beginian sih?”


Bramasta tergelak lagi, “Kak Layla sepertinya tidak tahu dengan fasilitas tambahan di kamar Abang.”


“Memangnya interior apartemen ini rancangannya Kak Layla?”


Bramasta mengangguk.


“Waduh gawat!”


Bramasta mendongak, “Kenapa?”


“Kita akan mengubah rancangan Kakak. Nanti Kak Layla tersinggung bagaimana?”


Bramasta meraih tangan Adisti, “Jangan khawatir. Kak Layla bukan orang yang seperti itu. Lagipula dalam dunia designer interior, hal tersebut sudah lumrah. Toh rancangan Kakak bertahan sejak apartemen ini dirombak total.”


“Ya sudah.. sana mandi..” Adisti terkesiap saat melihat jendela, “Abang.. keren banget! Masyaa Allah!”



“Mau kemana?” Bramasta menahan tangan Adisti.


“Jendela.”


“Di sini saja lihatnya..” Bramasta menciumi punggung tangan istrinya dengan gemas, “Lihat ke atas..”


Adisti menengadah. Mulutnya terbuka.


“Abang....”


“Hmmm?” tangan Bamasta meraih tali bathrobe.


“Kereeeeen. Love you more. Love you.. love you.. love you..!” jemari Adisti menangkup wajah suaminya.


“Love you too...” Bramasta tersenyum.


Tangannya menarik tali bathrobe yang sudah terbuka simpulnya.


“Eh, Abang mau ngapain?” tanya Adisti saat melihat tali bathrobenya dalam genggaman suaminya. Tangannya merapatkan bathrobenya.


Bramasta tersenyum dengan wajah memerah. Terlihat imut dan menggemaskan.


“Mandi dulu, Tuan Bramasta Sayang..”


“Bentar..”


“Sekarang, Tuan.. Supaya Disti gak kelamaan nunggu Abang..”


“Eh?” alis Bramasta terangkat, antara terkejut dan bertanya.


“Buruan mandi.. Mau surprise dari Disti gak?”


Senyum Bramasta semakin lebar. Gegas dia berdiri. Menyambar tubuh istrinya yang berdiri disamping tempat tidur. Menangkup kedua pipi istrinya sambil mendaratkan kecupan pada bibirnya.


Kemudian menghilang di balik pintu toilet area sambil berteriak, “Abang gak lama mandinya. Tungguin Abang ya!”


“Disti juga gak bakalan kemana-mana kok Bang.. Yang bersih mandinya!” teriak Adisti saat melongokkan kepalanya ke dalam toilet area.


Adisti sedang berdiri mengamati pemandangan jendela. Di luar masih gerimis. Dari jendela kamar dia bisa melihat pesawat yang hendak landing. Adisti berdo’a semoga pesawat bisa landing dengan lancar di tengah gerimis Kota Bandung.


Cahaya lampu dari ruang toilet memasuki ruangan yang temaram. Tetapi Adisti tidak menoleh. Dia masih asyik menikmati lampu-lampu di bawah sana.


"Masyaa Allah.." suara Bramasta terkesiap, “Cantik.”


‘Disti..” panggil Bramasta dengan suara pelan.


Adisti menoleh. Menatap suaminya yang tengah menatapnya dengan tak berkedip.


Adisti yang mengenakan gaun tidur pendek berbahan satin warna champagne. Gaunnya sangat pendek. Renda bunga dan daun selebar 15 cm tidak cukup membuat gaun itu tampak lebih panjang menutupi pahanya.


Bramasta menelan ludahnya. Dia seperti terpaku di tempatnya. Masih menatap istrinya. Menikmati apa yang sudah menjadi haknya.


Adisti berjalan perlahan mendekati suaminya.


“Abang suka?”


Bramasta mengangguk. Setelah sekian detik tercekat tidak mampu untuk berkata-kata, “Ini yang tadi pagi Disti bicarakan?"


Adisti mengangguk.


“Abang suka warnanya atau modelnya?”


“Semuanya. Warna, model dan yang penting, orang yang memakainya.”


Kulit Adisti tampak bersinar dalam balutan satin dan renda berwarna champagne. Bramasta menyentuh pundak Adisti. Lembut disentuh dan wangi menguar tercium inderanya.


Adisti memeluk Bramasta yang masih dalam balutan bathrobe warna navy blue. Kedua lengannya disusupkan ke dalam bathrobe. Menyentuh langsung kulit punggung suaminya.


Gerakannya melonggarkan simpul tali bathrobe. Adisti menghidu aroma sabun mandi dan after shave dari dada dan dagu suaminya.


Menggosok-gosokkan hidungnya pada dada suaminya dengan gemas. Simpul tali bathrobe benar-benar terlepas sekarang.


Bramasta bergerak gelisah.


“Disti..”


“Hmm?”


“Abang gak pak...”


“Oh my God... Abang kenapa gak pakai apa-apa lagi sih di balik bathrobe?”


“Kan Abang cepat-cepat mandinya. Lagipula kan akhirnya polosan juga,” Bramasta tersenyum lebar.


“By the way, udah dong jangan dilihatin terus. Abang jadi malu nih..”


“Viewnya bagus banget. Sayang kalau gak dilihatin..” kekeh Adisti.


“Hah!” Bramasta dengan gemas mengangkat tubuh istrinya.


Adisti melingkarkan tungkainya pada pinggang suaminya sambil tertawa.


Bramasta meletakkan tubuh Adisti dengan hati-hati. Di tengah tempat tidur dengan posisi melintang.


“Abang..” Adisti berbisik.


“Hmm..?”


“Tidak apa-apa kita gabruk-gabrukan dengan jendela terbuka seperti itu?”


Bramasta mendesah malas untuk menjawab pertanyaan Adisti. Dia tengah asyik mengamati wajah istrinya dari atas.


“Bang..”


“Gak apa-apa, Sayang. Walaupun ada yang mengarahkan kamera bertele panjang ke arah jendela kamar kita, mereka gak akan bisa melihat apa-apa. Selama kita meredupkan lampu ruangan.”


Adisti tersenyum lebar.


“Abang juga memilh materi kaca yang refleksi, yang bisa memantulkan cahaya ataupun bayangan dari luar.”


“Baiklah kalau begitu, Tuan Bramasta.."


"Heeeiiyy.”


Adisti bergerak cepat. Membuat gerakan bantingan yang manis dari posisinya yang berada di bawah. Sekarang tubuhnya di atas tubuh suaminya.


“Sampai dimana tadi kita?” tanyanya sambil tersenyum jahil.


.


***


Langsung 2 bab ya malam ini.


Udah, kita menyingkir saja.


Bubaaar, bubaaaar.


Beri mereka privacy untuk gabruk-gabrukan..


😁