CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 86 – YANG BERKIBAR DAN YANG BERKOBAR



“Antarkan saya pulang sampai di rumah. Rumah saya masih jauh dari sini. Tadi saking paniknya saya salah naik angkot!” gadis itu memerintah Agung.


Agung mengangguk, “Iiiya!”


Gadis itu langsung duduk mengangkang di jok belakang.


Agung membelalakkan matanya.


“Hey, kamu gak bisa duduk nyamping seperti cewek?”


“Gak bisa. Takut jatuh. Lagian ini motor tinggi banget!” gadis itu menatap Agung dengan tidak sabaran, “Buruan Om!”


“Gak bisa kaya gini. Aurat. Paha kamu kemana-mana dilihatin orang,” Agung membuka jaketnya, “Tutupi paha kamu.”


Gadis itu menurut.


“Buruan Om, saya ingin melihat wajah Papa untuk terakhir kalinya,” ucap gadis itu dengan suara bergetar.


“Rumah kamu di mana?”


Gadis itu menyebutkan alamatnya, Agung mengangguk lalu melajukan motornya. Dia melirik kaca spion, rambut panjang gelombang tampak berkibar seperti bendera warna coklat.


Mereka berhenti di rumah besar bercat oranye muda yang terpasang bendera kuning di depannya.



Gadis itu meloncat turun lalu menyerahkan jaket kepada Agung dan langsung berlari masuk ke pekarangannya.


Begitu berdiri di ambang pintu masuk rumahnya, dari tempat Agung berdiri, Agung bisa mendengar suara tangis pilu si gadis.


Para tetangga sudah banyak berkumpul melayat. Agung masih berdiri memandangi pintu ruang tamu rumah si gadis. Dia bimbang, ikut masuk untuk takziah atau kembali ke kantor. Akhirnya dia memilih untuk takziah terlebih dahulu.


Sebelumnya dia mencari amplop di dalam ranselnya. Dia tidak menemukan amplop polos, amplop yang ada di dalam tasnya ada kop Sanjaya Group-nya. Tidak mungkin dia menggunakan amplop itu. Tidak etis. Akhirnya dia menyobek halaman buku agendanya untuk dijadikan amplop.


Dia melihat ada kran air di halaman rumah si Gadis, Agung berwudhu di sana. Mengucap salam saat memasuki pintu lalu duduk bersila di dekat jenazah. Mengambil buku Yaasin yang ada di sana kemudian mulai membacanya dengan suara perlahan.


Jenazah sudah dikafani. Tertulis H. Adang Rahmat, 67 tahun. Foto wajahnya mengingatkan akan wajah gadis tadi terutama alis yang panjang dan tulang hidungnya yang berlekuk. Dirasa cukup, Agung berdiri hendak meninggalkan rumah si Gadis.


Gadis itu tengah menatapnya heran lalu berdiri menyusulnya.


“Om kenal dengan Papa?”


“Tidak.”


“Terus kenapa tadi ikut mengaji dan mendo’akan Papa?”


“Sesama muslim harus saling mendo’akan kan?”


Gadis itu mengangguk.


“Ma’af, saya tidak punya ongkos untuk membayar Om yang sudah mengantar saya sampai di rumah.”


Agung yang sedang memakai sepatunya menoleh, memperhatikan gadis itu dengan kening berkerut.


“Saya bukan tukang ojek.”


Agung merogoh jaketnya. Lalu mengambil amplop dadakan yang ia buat dari robekan buku agendanya.


“Ma’af, saya tidak punya amplop,” lalu menyerahkan amplop itu kepada gadis itu yang menatapnya bingung, “Saya turut berduka cita. Semoga Allah memberikan akhir yang husnul khotimah bagi H. Adang Rahmat dan memberi kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkannya. Saya pamit. Assalamu’alaikum.”


Gadis itu menjawab salamnya dengan suara pelan sambil menatap punggung Agung yang semakin menjauh. Saat motornya sudah berlalu, si Gadis baru tersadar, dia belum mengucapkan terimakasih kepada Om-Om tadi yang wajahnya terasa familiar.


***


The Ritz


11.30


“Sudah, Bu. Tapi mereka tidak mau menurut. Mereka berkata akan pergi setelah Ibu bersedia berbicara dengan mereka.”


“Dasar gak becus!” dia mendorong tubuh salah seorang petugas sekuritinya.


Rita Gunaldi melangkah dengan langkah lebar penuh amarah. Suara detak heelsnya pada lantai marmer di bawahnya membuat suasana yang mencekam menjadi semakin mencekam. Para karyawannya berkumpul di foyer.


Rita membuka pintu kaca dengan handle kepala Medusa.


“Kalian ada urusan apa di tempat saya?” tanyanya kepada sekumpulan wartawan yang berkumpul di depan teras.


“Ini properti pribadi saya. Kalian melanggar privasi saya, kalian mengganggu bisnis saya. Akan saya tuntut kalian semua!” telunjuk lentiknya menuding pada semua wartawan.


“Kabar Anda yang mendapatkan penangguhan penahanan terkait penyerangan terhadap Nona Adisti apakah benar?" seorang reporter TV menyodorkan mikrofonnya.


“Hah??! NONA??!!” Rita Gunaldi tersenyum miring, “Hanya karena dia sudah menikahi anak Alwin Sanjaya lalu kalian panggil dia nona??”


“Tidak ada yang bisa menahan saya. Saya punya banyak kenalan dan berteman dekat dengan para pejabat. Gak usah belagu deh pakai niat untuk menahan saya. Urusan saya dengan Adisti, bukan dengan Alwin Sanjaya yang terhormat! Sudah, kalian bubar semua!” tangan Rita dikibaskan lalu mendorong para wartawan.


Seorang wartawan terjatuh lalu dengan cepat ditolong oleh rekannya. Rita mendorong mereka hingga mereka berada di trotoar jalan.


“Kalian berani masuk lagi ke lahan saya, saya akan tuntut kalian. Kecuali kalau kalian berniat untuk ke salon ataupun belanja di butik saya. Tapi saya ragu dengan kemampuan finansial kalian. Berapa sih pengahasilan wartawan?” Rita Gunaldi tertawa mengejek, “Sana pergi! Merusak pemandangan saja!”


“Sombong amat sih Bu!” teriak seorang wartawan.


“Saya sombong?? Harus itu!” Rita terkekeh geli.


Rita berbalik menuju gedungnya. Para wartawan mengikutinya. Dia menoleh cepat.


“GET OUT!!” Rita menunjuk arah luar.


“Wawancara dulu Bu..!” seorang wartawan menyodorkan handphonenya yang sedang merekam suara.


“Kalian pengen tahu apa? Tentang Adisti??” Rita tersenyum miring.


“Dia bukan siapa-siapa. Gak pantas kalian up sampai seviral itu,” tubuh Rita menghadap para wartawan sekarang. Roknya di atas lutut berwarna fuschia mengembang tertiup angin menampilkan pahanya. Tapi dia tidak peduli.


“Dia cuma gadis miskin tapi belagu. Sok polos, sok suci dan sok agamis. Kampungan! Muak saya!”


Para wartawan semakin maju merangsek ke depan, apa yang keluar dari mulut Rita menarik perhatian mereka.


“Apa yang membuat Ibu begitu benci pada Nona Adisti?” tanya seorang wartawan yang paling dekat posisinya dengan tubuh Rita.


“IBU?? Kamu panggil saya IBUUU? Memangnya saya ibu kamu! Memangnya saya setua itu??! Panggil saya TETEH! T E T E H. Ngerti kamu?? Sembarangan!!” Rita mengibaskan rambutnya yang digerai.


“Maaf, Teh.. apa yang membuat Teteh begitu benci pada Nona Adisti?”


“Karena semenjak mengenalnya, bisnis saya jadi kacau, rumah tangga saya runyam, pertemanan saya rusak. Pembawa sial dia,” Rita berkata dengan sorot mata penuh kebencian, “Kasihan sekali keluarga Alwin Sanjaya, salah mulung mantu!”


“Kapan Teteh mengenal Nona Adisti?”


“Sudah! Saya tidak mau bercerita apa-apa lagi. Bisa kena apes lagi nanti sayanya. Keluar kalian semua! Husssh husssh!” Rita menggerakkan tangannya untuk mengusir para wartawan.


“Memangnya kita ayam??” celutuk seorang wartawan.


“Teh, hargai kami juga sebagai wartawan dong Teh. Jangan memperlakukan kami seperti ayam begitu..”


Rita melotot, “Suka-suka saya dong! Kalian juga tidak ijin masuk ke lahan saya sambil bergerombol di depan teras! Sudah sana pergi. Para klien jadi tidak mau masuk ke dalam gedung karena ulah kalian!”


Para wartawan akhirnya menurut. Mereka bergerombol di trotoar depan gedung. Saling membicarakan apa yang diucapkan Rita tadi juga tentang buruknya sikap Rita terhadap mereka.


“Gue bakal turunin berita apa adanya tanpa potong gambar, biar para pemirsa tahu seperti apa Rita The Ritz itu!” kata seorang wartawan infotainmen.


Yang lain mengangguk setuju.