
Agung berkonsultasi dengan psikiater yang menangani Adinda di lobby VIP.
“Kabar baiknya, seperti Nona Adinda akan lebih cepat pulih kondisi psikisnya dan tidak perlu harus melewati semua tahapan kedukaan pasca trauma psikis,” Psikiater wanita itu tersenyum ramah pada Agung.
“Sebenarnya ini sangat mengejutkan bagi saya mengingat peristiwa-peristiwa yang pasti sangat mengguncang jiwa dan emosinya. Sepertinya ini karena pengaruh dari Nona Adinda dikelilingi oleh lingkungan dan orang-orang yang positif,” Psikiater itu membuka catatan pasien yang dibawanya.
“Semalam dia bermimpi buruk tapi tidak dapat mengingat mimpinya sendiri?” tanyanya.
Agung mengangguk.
Psikiater wanita tersebut tersenyum lagi.
“Dia akan beberapa kali mengalami hal tersebut. Tidak mengapa. Hanya awasi saja saat dalam tidurnya, dia tidak melakukan tindakan yang membahayakan drinya sendiri.”
Agung mengangguk mengerti.
“Dan usahakan selalu bangunkan Adinda saat dia mengalami mimpi buruk ya. Jangan dibiarkan terlalu lama. Bisa berdampak buruk bagi tubuh dan jiwanya.”
“Dia hanya bereaksi saat saya memanggilnya memakai nama balitanya. Nama panggilan dari kedua orangtuanya sebelum diganti karena Adinda kecil yang sering sakit-sakitan,” Agung menjelaskan.
“Siapa nama panggilannya?”
“Puput dari Puteri.”
“Gunakan saja nama itu saat membangunkannya dari mimpi buruknya. Sepertinya ada keterkaitan emosi bawah sadar dengan nama itu.”
Agung mengangguk mengerti.
“Tuan Agung masih lama untuk dirawat di sini?” tanya Psikiater itu dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya.
Agung balas tersenyum.
“Tadi dokter mengatakan saya sudah boleh pulang, besok.”
“OK...” Psikiater memperbaiki kacamatanya lalu membaca laporan medis Adinda lagi, “Nona Adinda sepertinya juga bisa pulang besok..”
“Alhamdulillah..” Agung tersenyum senang.
“Siapa yang akan merawat Nona Adinda sepulangnya dari sini?”
“Kami akan merawat dan mengawasinya.”
“Ah, syukurlah. Saya sudah khawatir dengan siapa Nona Adinda akan tinggal mengingat dia sekarang yatim piatu dan rasanya bukan hal yang bijak untuk memulangkan Adinda ke rumahnya. Terlalu banyak luka di sana.”
Agung mengangguk.
“Saya yakin, Bapak dan ibu Gumilar bisa merawat Nona Adinda dengan baik, Tuan.”
“Terimakasih banyak, Dok, sudah merawat Adinda,” Agung membungkukkan tubuhnya.
“Saya akan meresepkan obat anti depresan. Tapi diminumkan saat kondisi kejiwaannya memburuk saja ya.”
Agung mengangguk.
“Tidak ada obat yang diminum rutin?"
"Untuk Pasien Nona Adinda yang pulih dengan sangat cepat, saya rasa tidak perlu. Obat yang paling baik bagi jiwa hanyalah rasa bahagia. Keluarga besar Anda sangat luar biasa.”
Agung tersenyum lebar.Psikiater itu sampai melihat dua kali ke arah Agung. Sebelum akhirnya dia membalas dengan senyum salah tingkah.
“Saya akan membuat surat kepulangan untuk besok ya Tuan Agung. Semoga kalian berdua cepat pulih.”
“Terima kasih banyak, Dok.”
Agung menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Psikiater tersebut melakukan hal yang sama.
Agung hendak kembali lagi ke kamarnya saat ia mendengar bunyi denting lift. Dia melihat ke arah lift.
Indra dengan stelannya, kemeja biru muda lengan panjang, celana panjang beige, keluar dari arah lift. Pandangannya langsung menatap Agung yang hendak meninggalkan sofa.
“Assalamu’alaikum, Gung.. Kebetulan ketemu di sini. Duduk lagi..”
“Wa’alaikumussalam.. Tumben pagi-pagi kemari, Bro?”
Mereka saling ber-hi five lalu berpelukan.
Agung kembali duduk di sofa. Sementara Indra menghempaskan tubuhnya ke atas sofa sambil menghembuskan nafas kasar.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Agung penasaran.
Belum pernah ia melihat Indra segalau ini. Indra yang biasanya ceria dengan sifat pecicilan dan petakilannya.
Indra meraup wajahnya kasar. Masih belum menjawab hanya balas memandang Agung seperti sedang mempertimbangkan tindakannya.
“Isssh, bikin penasaran aja. Ada apa sih?” Agung mencondongkan tubuhnya.
“Gue dengar Lu mau khitbah Adinda?”
Agung mengangguk.
“Iya.. supaya gue bisa lebih baik dalam menjaga Adinda karena ada kejelasan dalam hubungan kami.”
Agung mengernyit menatap Indra.
“Eh! Jadi karena berita itu Lu jadi galau seperti ini, Bro?” Agung terkekeh.
“Nggak.. bukan..” Indra menggerakkan telapak tangannya, “Kalau itu sih gue dukung Lu..”
“Kirain karena takut dilangkahi gue..” Agung terkekeh.
“Isssh. Nggaklah.”
“Terus?”
“Apaan sih?”
“Semalam, gue mimpi..."
Agung menunggu Indra yang seperti ragu untuk bercerita.
“Gue rasa mimpi gue itu gak biasa. Seperti nyata dan saat terbangun gue merasa yakin banget kalau mimpi gue bakal terjadi di kehidupan gue.”
Agung mengernyit. Tatapannya serius pada Indra.
“Ceritain mimpi Lu, Bro.”
“Gue punya anak lak-laki. 2 orang. Balita dan usia masuk SD. Mereka memanggil gue, papa.”
“Anak-anak Lu di masa depan, Ndra?”
“Entahlah. Gue rasa itu bukan kejadian jauh di masa depan..”
“Tapi kan Lu lajang. Lu gak pernah main-main dengan perempuan sampai sejauh itu kan?”
“Sejauh apa?” Indra yang tadinya menunduk menjadi mendongak menatap Agung.
“Jauh sekali sampai menghasilkan 2 anak yang sudah agak gede..”
Indra menatap sewot pada Agung.
“Bro.. gue kan Cuma nanya..” Agung cengegesan.
“Tega banget Lu, Gung. Jahat banget pikiran Lu..”
“Eh, cuma nanya, bro... Wajar kan pertanyaan gue?”
Indra menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
“Lu kira gue cowok keren apaan, Bro.. Apa kata dunia kalau anak satu-satu nya dari keluarga Kusumawardhani diam-diam punya petualangan liar?”
“Bang.. Sorry Bang. Gw pikir pertanyaan gue wajar aja. Lu kudu terbiasa dengan pertanyaan seperti itu saat Lu menceritakan mimpi Lu ke orang lain..”
“I see..” Indra mengangguk.
“Kenapa lu nanya ke gue?”
“Karena lu baru saja mengalami kejadian yang luar biasa, Bro. Seperti diberi kesempatan kedua untuk hidup oleh Sang Kuasa. Biasanya orang-orang seperti itu akan diberi gift yang luar biasa kan?”
Agung tercenung mendengar penjelasan Indra. Dia merasa dirinya biasa-biasa saja.
“Janji Lu kepada orangtua Adinda yang sudah beda alam dengan kita.. That’s very unusual anomali, pseudo science, very hard to understand. But it happened.”
Agung mengangguk mengerti.
“Coba tanyakan pada Adisti, Bang. Dia perempuan, dia lebih peka hal-hal seperti ini. Dia juga 11 12 sama gue kan? Diberi kesempatan kedua untuk hidup..”
“Gue butuh pendapat dari Lu sebagai cowok, Bro. Gue harus bagaimana?” Indra menatap Agung dengan sungguh-sungguh.
“Ceritain deh mimpi Lu. Ceritanya bagaimana?”
“Gue di suatu tempat. Gak jelas tempatnya. Awalnya seperti di parkiran basement. Lalu pindah tempat di depan lift. Suara anak kecil, memanggil gue,”Papa,” kemudian ada suara anak kecil lainnya yang umurnya lebih muda, masih cadel, manggil gue juga.”
“Lu bisa lihat mereka?” tanya Agung.
Indra menggeleng.
“Gue terlalu bingung untuk mencari sosok mereka. Shock karena tiba-tiba dipanggil papa oleh mereka.”
“Terus?”
“Ada bola basket yang memantul di lantai. Tapi gue cari anak yang memainkannya pun tidak ada. Sepi banget. Sepertinya cuma gue yang ada di tempat itu.”
“Lu merasa takut?”
“Entahlah. Gue merasa gue harus berada di tempat itu karena ada janji dengan seseorang.”
“Terus?”
“Ada APAR yang menggelinding dekat kaki gue. Nyaris mengenai kaki gue.”
Agung memperbaiki posisi duduknya. Cerita mimpi Indra menarik perhatiannya.
“Mereka berbicara,”Papa jangan di sini. Pergi. Bahaya..” bergantian mereka bicaranya. Si Adik walaupun dia cadel tapi gue mengerti apa yang diucapkannya.."
“Terus?”
“Sudah, sampai disitu saja mimpinya. Gue terbangun dengan tubuh basah oleh keringat..”
“Kalau dari cerita Lu, gue rasa ini bukan mimpi buruk,” Agung meluruskan kakinya.
“Tapi saat dipanggil papa oleh 2 anak laki-laki padahal gue masih lajang, itu rasanya horor, Bro..” Indra mencondongkan tubuhnya pada Agung.
.
***
Ah Babang Indra, tengah galau karena mimpi.
Kirain mimpi nomor, Bang.
Mayan buat togel 😁😁