CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 203 – PENANDATANGAN BERKAS



Makan siang di kediaman Gumilar sangat semarak walaupun dengan lauk sederhana.


Suasana kekeluargaan terasa sekali di sana. Diam-diam Indra mengirim foto kebersamaan mereka kepada Mommy berikut foto-foto makanan.


“Begitu ya kalian senang-senang gak ajak Mommy..” suara Mommy yang cempreng ceria terdengar dari gawai Indra yang sengaja memakai loudspeaker.


“Memangnya Mommy dimana sekarang?” tanya Adisti.


“Mommy sedang menemani Daddy di Manado..”


“Jauh dong..” kata Bunda sambil tertawa.


“Aku bete banget, Bun..”


“Kenapa?”


“Gak bisa kemana-mana. Panas..”


“Pakai payung, Tante..” seloroh Indra.


“Mana ada orang ke pantai pakai payung?”


Semuanya tertawa mendengar Mommy.


“Mom, bawain sambal ikan roa yang banyak ya..” pinta Bramasta, “Nanti kita makan di sini atau di rumah utama, ramai-ramai seperti ini.”


Hans datang usai makan siang, Dia tidak sendiri melainkan bersama Raditya dan bawahannya.


Adinda terlihat gugup saat berbicara dengan Pak Raditya. Juga saat menandatangani berkas.


Bunda dan Adisti menguatkan dan meyakinkan Adinda.


“Kapan pelaksanaan pembongkaran makam dan autopsi jenazah?” tanya Agung.


“Insyaa Allah besok bisa kita lakukan. Mudah-mudahan lancar ya dan tidak hujan.”


“Saya..” Adinda ragu-ragu, “Boleh melihat prosesnya?”


“Tentu saja boleh. Apalagi Adinda sebagai keluarga satu-satunya almarhum Pak Adang Rahmat,” Pak Raditya tersenyum.


Hans menatap Agung sambil memicingkan mata. Berbicara lewat gestur tubuh.


Agung mengangguk.


Kekhawatiran Hans dijawab oleh Ayah.


“Nanti kami akan mendampingi Adinda. Pukul berapa nanti?”


“Sekitar pukul 10 pagi. Mudah-mudahan kita bisa on time ya supaya tida membuang waktu percuma,” Raditya meriksa berkas yang ditandangani Adinda, “Yang ini ada yang terlewat, belum ditandatangani..”


“Untuk autopsinya nanti apakah jenazah akan dibawa ke rumah sakit atau bagaimana?” Bramasta menatap Pak Raditya.


“Sepertinya kita akan melakukan autopsi di areal pemakaman supaya prosesnya tidak memakan waktu lama. Untuk menghormati jenazah,” Pak Raditya melirik Adinda yang tampak tercenung dengan ucapannya.


Ayah dan Bunda mengangguk setuju.


“Di tempat terbuka?” Indra ikut bertanya.


Pak Raditya menggeleng, “Seperti yang sudah-sudah, biasanya kami mendirikan tenda, lalu menutup seluruh areal tenda dengan kain. Hanya yang berkepentingan yang boleh masuk.”


Indra mengangguk puas.


“Yang mau diperiksa apanya sih? Maksud saya, organ apa saja?” Adisti bertanya.


“Para dokter autopsi bertugas untuk mencari jejak racun, mengambil sampel racun pada tubuh untuk memastikan jenis racunnya. Organ tubuh yang diperiksa pastinya organ pencernaan, hati dan ginjal,” Pak Raditya menjelaskan sambil tersenyum.


“Sewaktu ditanya penyebab Papa meninggal, Ibu bilang karena serangan jantung. Setahu saya, korban keracunan pasti akan muntah-muntah kan Pak? Ibu tidak pernah cerita Papa muntah..”


“Dia berbohong pada para tetangga. Dari pengakuannya, korban meninggal pada pagi hari. Tidak lama setelah putrinya berangkat sekolah, korban mengalami kejang-kejang dan muntah..”


Semua orang bisa mendengar suara Adinda yang terkesiap. Air matanya meluncur turun di pipinya. Bunda memeluk Adinda sambil membelai punggungnya.


“Sekitar pukul 9, korban muntah darah dan menghembuskan nafas terakhirnya masih di ruang makan. Tapi oleh para pelaku, tubuh korban dibersihkan, digantikan baju lalu dipindahkan ke ruang tidur korban. Seolah-olah korban meninggal saat sedang tidur. Semua bekas muntah dan sisa minuman serta gelas yang dipakai korban sudah dibersihkan. Para pelaku juga sudah membuang baju yang dikenakan korban pada saat menghembuskan nafas terakhirnya.”


Adinda terisak. Adisti dan Bunda juga ikut menangis. Mereka bertiga saling berpelukan. Saling menguatkan Adinda. Agar Adinda tidak merasa sebatang kara.


“Adinda, jangan khawatir, kami akan menjerat dengan pasal berlapis. Selain kasus pidana juga kasus perdata yaitu penggelapan harta peninggalan korban, pemalsuan tanda tangan Adinda untuk jual beli tanah juga banyak hal lainnya. Terdakwa juga melakukan penipuan ke beberapa orang, diantaranya pada pemilik rental mobil, ada sekitar 3 unit mobil yang digadaikan oleh kedua pelaku tersebut tanpa sepengetahuan pemilik rental mobil.”


“Mereka pasangan sakit jiwa sepertinya ya? Social enemy seperti Bonny & Clydes, pasangan penjahat paling fenomenal dari Amerika,” Anton yang dari tadi diam menyimak ikut berbicara.


Pak Raditya mengangguk setuju dengan ucapan Anton.


“Baik.. saya pamit dulu karena masih banyak yang harus saya kerjakan. Terima kasih banyak untuk kerjasamanya,” Pak Raditya tersenyum lalu memandang Adinda dengan wajah prihatin, “Adinda yang kuat ya. Tapi kalau memang kondisinya tidak memungkinkan, tidak apa-apa kalau Adinda tidak menghadiri proses pembongkaran makam ataupun autopsi.”


Adinda mendongak. Mengelap air matanya dengan punggung tangannya lalu berbicara dengan nada tegas, “Saya akan hadir besok. Insyaa Allah. Mereka harus dihukum untuk semua perbuatan jahat yang sudah dilakukan pada Papa dan saya juga pada orang-orang yang didholiminya.”


Pak Raditya mengangguk. Perwira polisi berumur pertengahan 40 tahun namun postur tubuhnya proporsional itu berdiri. Mengalami Ayah, Agung dan semua pria yang ada di sana.


“Tolong kawal kasus ini dengan baik,” ucap Hans pada Pak Raditya, “Adinda adalah anak angkat Keluarga Alwin Sanjaya, Keluarga Kusumawardhani dan Keluarga Gumilar.”


Pak Raditya mengerutkan keningnya karena terkejut. Dia menoleh pada Adinda yang sedang berada dalam pelukan Bunda.


“Bagaimana gadis semuda itu bisa menjadi anak angkat beberapa keluarga yang sedang terkenal saat ini?” mata Pak Raditya penuh tanda tanya pada Hans.


“Lucky young girl..” gumam Pak Raditya saat menoleh pada Adinda lagi.


Bunda, Adisti dan Adinda berkumpul di teras. Mereka menghibur Adinda. Memberi kekuatan dan dukungan moral kepadanya. Sementara Ayah berangkat untuk mengajar di kampus sesuai jadwalnya. Kuping Merah berkumpul di gazebo.


“Rencana launching malam ini kita pending dulu ya..” Hans membuka percakapan mereka.


“Kenapa? Semuanya sudah siap,” Anton memainkan sumpit yang tertinggal di meja gazebo seperti stik drum.


“Kasihan Agung, kasihan petugas Polisi...” Hans sengaja menggantung kalimatnya.


Semua menunggu kelanjutannya.


“Kalau kita launching malam ini, besok paginya akan terjadi kehebohan. Agung akan menjadi sosok yang paling dicari media. Sedangkan besok merupakan peristiwa penting bagi kita semua. Dan Agung harus menemani Adinda.”


Semuanya terdiam. Menncerna ucapan Hans dan kemudian mengangguk setuju.


“Memangnya Agung tidak bisa digantikan oleh Bunda ataupun Adisti saja?” tanya Indra.


Bramasta menggeleng, “Agung itu ibarat pawangnya Adinda pada saat dia mengalami serangan panik. Semua gak ada yang mempan untuk menghadapi Adinda pada saat dia dalam keadaan bawah sadarnya. Agung cukup menanganinya dengan memanggil nama kecil yang tidak pernah dipakai lagi oleh orangtuanya. Puput.”


“Lu jadi pawang 2 cewek, Gung..” Indra terkekeh, “Hidup Lu pasti bakal repot banget..”


Semuanya tertawa, kecuali Bramasta.


“Sekarang Disti udah jadi bini gue. Jadi dia gak butuh kakaknya untuk jadi pawangnya lagi..” Bramasta mencebik sambil menggulung lengan bajunya.


Agung dan Indra saling bertatapan. Kemudian tawa mereka meledak menularkan pada yang lainnya.


“Lu yakin, Bro?” Indra menyikut lengan Bramasta yang duduk di sebelahnya, “Terus kejadian Disti ngambek saat gak dibolehkan turun sendirian ke area lobby apartemen pasca kiriman anggrek bulan itu bagaimana? Disti lebih nurut ke kakaknya atau ke Lu?”


“Kejadian salah persepsi juga tuh sewaktu kalian baru menikah..” Hans terkikik geli, “Gegara laporan gue yang sengaja gak gue lengkapi..”


Bramasta makin mencebik.


“Udah ah..ntar ngambek beneran loh,” Agung menengahi, “Iya.. iya.. Disti sekarang lebih menurut ke suaminya. Kan udah gue training dan kasih wejangan dulu...”


“Bram.. Lu ngambek?” Hans tersenyum lebar dengan tatapan jahil. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh seorang Hans Alvaro Fernandez.


"Gak.." Bramasta meletakkan dagunya di atas meja.


"Gue gak ikutan ah.. takut dipotong gaji.." kata Anton ambil menggoyangkan kedua telapak tangannya menghadap Bramasta.


“Gue juga kagak ya..” Indra mendadak berhenti tersenyum.


Bramasta menatap galak pada Indra, “Lu yang jadi biang keroknya, Ndra!”


Tawa mereka meledak lagi. Dan akhirnya Bramasta ikut tertawa.


“Setdah.. gue diroasting kalian..”


“Ndra..” suara Hans terdengar serius, “Ada kabar dari Tuan Armand tentang aset The Ritz.”


“Akhirnya.. ada kabarnya juga. Apa kata Tuan Armand?”


“Tuan Armand sudah menahan harga di 14,7. Bagaimana?” Hans memeriksa gawainya.


Indra tampak berpikir. Membuat hitungan-hitungan di luar kepalanya lalu mengangguk pada Hans.


“Deal. Bungkus!” suara Indra terdengar mantap dan yakin.


"Are you sure?" Bramasta memandang Indra dengan tatapan bertanya.


Indra mengangguk, “Insyaa Allah.”


“Itu dalam M kan?” Agung memegangi kedua pipinya, “Bang.. duit Lu banyak banget..”


“Gak sebanyak Hans apalagi Bram..”


Anton terkekeh, “Bungkus... hari ini gue denger 2 kali kata bungkus..”


“Kapan gue harus transfer?” kedua alis Indra terangkat menatap Hans.


“Nanti Lu dihubungi oleh Tuan Armand untuk detailnya.”


Indra mengangguk.


“Buat apa sih Bro Indra beli The Ritz?” Anton menatap serius.


“Feeling gue, The Ritz akan berhubungan dengan masa depan gue.”


“Maksud Lu?” Bramasta dan Agung bertanya bersamaan.


“Gue gak bisa jelasin lebih lanjut lagi karena gue juga masih gelap... It just about my feeling,” Indra tersenyum menatap mereka semua.


.


***


Launching Prince Zuko dipending. Indra jadi beli aset The Ritz. Ada hubungannya dengan masa depannya?


Apaan sih? Masa depan bagaimana? Memangnya Indra mau buka usaha butik dan salon juga?