
Eric dan Baby Andra langsung diletakkan di tempat tidur di ruang tidur tamu karena mereka sudah terlelap. Hana dan Layla membangun dinding bantal untuk menjaga todlers terjatuh dari tempat tidur. Adisti asyik memvideokan mereka.
Para pria di ruang tengah sibuk mempersiapkan ruangan untuk dipakai. Meja dan kursi tambahan diletakkan di ruang tengah. Proyektor juga sudah dipersiapkan. Layar proyektor dipasang menutupi peralatan treadmill.
Anton sudah bersiap di depan laptopnya. Hans juga sudah bersiap dengan headset bermikrofonnya. Sebelumnya mereka menyusun urutan video yang akan ditayangkan Prince Zuko.
“Diakhir tayangan, bagaimana kalau Prince Zuko mengajak para anonymous baik lainnya untuk membantunya menahan serangan hacker-hacker bayaran ataupun hacker pedukung perilaku pedofil?” Anton menatap lainnya.
Semua berpikir mendengar ucapan Anton.
“Apa tidak berbahaya untuk Prince Zuko? Seolah kita membiarkan orang asing masuk ke dalam halaman rumah kita?” Bramasta duduk menyandar dengan tangan menyentuh cuping hidungnya.
“Too risky, right?” Leon menatap Anton dan Hans bergantian.
“Tapi di satu sisi, kita butuh bantuan anonymous lain untuk memblokade serangan hacker dari berbagai negara,” Agung tampak berpikir keras.
Sekarang Anton dan Hans saling bertatapan.
“Ton, Hans... bisa tidak para anonymous yang membantu hanya menempati luar gerbang saja untuk memblokade serangan hacker lainnya. Jangan biarkan mereka masuk ke dalam gerbang. Kita gunakan mereka sebagai prajurit lini terdepan,” Indra berbicara dengan mencondongkan tubuhnya. Kedua sikunya bertumpu di atas lututnya.
“Maksudnya, Prince Zuko membuat sekat bagi anonymous yang membantu?” tanya Adisti.
Indra mengangguk.
“Proteksi yang dibuat Prince Zuko itu apa sih saat ada yang berusaha mengorek tentang Prince Zuko?” Hana memandang suaminya.
Hans dan Anton saling berpandangan lagi kemudian tertawa.
“Untuk awalnya, kita beri mereka kejutan suara...” Anton terkekeh, “... untuk 5 menit pertama.”
Semuanya melongo mendengar penuturan Anton.
“Suara apa?”
“Kalian tahu lagu yang sedang viral berbahasa daerah? Lagu dari Kalimantan,” Hans melepas headsetnya.
“Lagu yang dipakai untuk semua video tentang ibu-ibu yang katanya bisa mengobati aneka penyakit itu?” Disti melongo.
Hans terkekeh, “Lu ekspresinya jangan gitu Dis. Jelek banget tau..”
Bramasta langsung merengkuh Adisti ke dalam pelukannya. Matanya menatap jengkel pada Hans.
“Woiy, bini gue Lu katain jelek..!”
“Abang ngatain Disti jelek, Bang Hans gak dapat empek-empek loh!” seru Adisti dari dekapan suaminya.
“Nah loh!” semuanya tertawa memandang Hans yang gantian melongo menatap suami istri yang tengah berpelukan itu.
“Hisssh,” Hans mencebik lalu memasang lagi headsetnya.
“Kenapa memangnya dengan lagu itu?” Leon mengambil tisu dari kotaknya.
“Intro awalnya, terlalu annoying tapi jadi worm head (terngiang terus di kepala kita),” Hans terkekeh.
“Speed normal saja terasa annoying bagi telinga yang tidak terbiasa dengan musik jedag-jedug ajep-ajep,” Anton terkekeh, “Apalagi bila speed dan volumenya kita tingkatkan dan kita putar berulang kali selama 5 menit..”
“Tampilan layarnya?” sebelah alis Agung terangkat.
“Layar hitam berkedip dengan noise seperti tampilan proyektor jadul,” Hans menyandarkan punggungnya sambil tersenyum.
“Wow.. double annoying dong. Ini sih sama dengan sarana brainwash audio visual yang biasanya dilakukan oleh agen-agen rahasia ..” Hana yang mempunyai latar belakang psikolog menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta.
“Kan bisa saja mereka mematikan speaker atau melepas headsetnya?” Layla ikut berkomentar.
“Bukan sekedar memberi kejutan suara. Saat kejutan itu diberikan, kita sedot data pribadi mereka. Karena sebenarnya, saat hacker masuk, dia meninggalkan jejak identitas yang bisa ditelusuri. Prince Zuko menerapkan pembacaan ID dan rapid digital tracking ontime dan ongoing. Untuk hacker pemula, akan mudah sekali membacanya. Tapi untuk hacker pro, mereka juga memakai perlindungan berlapis. Prince Zuko membacanya akan lebih lama,” Anton menjelaskan.
“Apa yang terjadi setelah 5 menit?” tanya Bramasta.
“Pada layar terpampang data-data hacker yang masuk. Reaksi para hacker langsung panik dan langsung logout.”
“Artinya, Prince Zuko membutuhkan waktu 5 menit untuk membacanya?” Indra menatap Hans dan Anton dengan takjub.
Anton mengangguk, “Tapi untuk hacker pro butuh waktu lebih lama, artinya kejutan suaranya kita perpanjang durasinya dengan speed dan volume ditambah juga.”
“Dan bila mereka masih ngotot untuk melakukan infiltrasi apalagi invasi terhadap Prince Zuko, maka kami berikan malware yang bisa melelehkan kabel-kabel peralatan gadget mereka,”Hans tersenyum.
Bramasta mengangguk mengerti.
“Tentang ajakan untuk membantu Prince Zuko, sepertinya bisa dilakukan tapi tidak untuk launching malam ini. Kalian harus bikin sekat dulu untuk memposisikan mereka berada di luar pagar area Prince Zuko.”
“Pemilihan kalimatnya saja nanti diatur,” Leon menatap Hans. Hans menganggukan kepalanya.
Semua mengucap basmalah.
Anton mengetik pada laptopnya. Layar proyektor menampilkan wajah Prince Zuko. Anton membuat hitungan mundur dengan jemarinya. Lalu mengangguk pada Hans yang sudah bersiap.
“Selamat malam warga +62 dan +49,” Hans berbicara dengan bahasa Inggris tanpa aksen.
"Akan saya ceritakan sebuah kejadian yang saling berkaitan antara apa yang terjadi di +62 dan +49...”
“Kalian masih ingat dengan korban penembakan peristiwa The Ritz, beberapa waktu yang lalu? Peristiwa perebutan kekuasaan dunia malam di Batam yang terjadi di gedung The Ritz di Bandung. Yang melibatkan istri dari terdakwa mati pengadilan Singapura, Ferdi Gunaldi yaitu Rita Gunaldi dengan perwira tinggi instansi di +62?”
Layar proyektor menampilkan video rebutan pistol di dalam The Ritz yang berakhir dengan meletusnya senjata api itu dari tangan Rita. Kemudian Agung yang mengendarai motor lalu jatuh terseret motornya dan terkapar di jalan terpampang pada layar. Di sudut kanan atas ada keterangan sumber videonya berasal dari kamera CCTV The Ritz.
Agung tampak bergidik merinding menyaksikan video jatuhnya. Indra menepuk bahu Agung untuk menenangkannya.
“Dia adalah Agung Aksara Gumilar. Untung saja peluru tidak mengenai organ vital dalam tubuhnya. Operasi pengangkatan pelurunya berjalan lancar. Pasca operasi, sempat tidak sadarkan diri selama beberapa hari..”
Video dari ruang ICCU saat Agung dalam keadaan prakoma muncul di layar.Kondisinya saat tubuhnya banyak dipasangi selang dan kabel. Ada Adisti dan Bramasta menemaninya. Lalu bergantian dengan Ayah dan Bunda.
Agung tampak menghela nafas panjang menyaksikan videonya. Indra menatap Agung. Mengangkat sebelah alisnya, menanyakan dengan menggunakan ekspresi wajahnya. Agung mengangguk pada Indra. Indra menepuk bahu Agung lagi.
“Kondisi Agung tergolong unik dan langka. Bahkan para dokter yang menanganinya pun mengakuinya,” suara Hans dalam filter suara Prince Zuko terdengar lagi.
Ada video konferensi pers pihak rumah sakit terkait kondisinya. Juga pernyataan dokter. Ada teks bahasa Inggris di bawahnya.
“Hingga beberapa malam pasca dia terbangun dari keadaan prakomanya, terlihat anomali yang tidak biasa. Agung meninggalkan ruang rawat inapnya pada dini hari dengan tergesa..”
Video saat Agung keluar dari ruang rawat inapnya dengan terburu-buru. Dia mengenakan jaket sambil jalan cepat lalu mengenakan topinya. Tampak dia berbicara dengan petugas security yang berusaha mencegahnya tapi kemudian tak lama kemudian ia dibiarkan pergi.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada dini hari itu dan kemana Agung pergi? Saya melacak keberadaannya..” suara Hans alias Prince Zuko.
Video dari CCTV lalulintas menangkap gambar mobil innova dan wajah Agung yang duduk di depan tengah mengamati layar gawainya.
“Hingga akhirnya saya mendapatkan tempat tujuan Agung setelah mencari tujuannya melalui video CCTV lalu lintas juga meretas beberapa video CCTV luar gedung untuk mencari keberadaannya..”
Wajah Agung tersorot jelas kamera CCTV tersembunyi di atas pintu rumah Adinda. Sedangkan orang yang ada di belakang Agung pada saat kejadian itu adalah Hans, hanya terlihat celana panjang dan sepatunya saja.
“Dan saya berhasil meretas CCTV dalam rumah tersebut untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana..”
Video kamera CCTV ruang tengah rumah Adinda merekam bagaimana ekspresi Agung saat memasuki ruangan tersebut. Terdengar teriakan Adinda dari dalam kamarnya. Suara barang terjatuh, tergeser dan suara barang pecah. Lalu suara tawa teman pria si Ibu Tiri.
Bagaimana Agung menerjang masuk ke dalam kamar lalu berteriak kepada teman prianya ibu tiri Adinda. Tak lama kemudian terdengar suara pukulan dan tendangan. Suara laki-laki mengaduh dan berteriak minta ampun.
“Akan saya putar beberapa saat adegan sebelum Agung sampai ke rumah itu..”
Layar proyektor menampilkan Adinda yang tengah ditampar oleh ibu tirinya. Suara lantang ibu tiri bagaimana mereka menghabisi nyawa papanya Adinda. Dan menyuruh Adinda untuk tidak sekolah pada hari itu untuk bertemu dengan Bryan. Orang asing yang sudah memberi uang DP untuk pembelian Adinda.
Khusus untuk kalimat yang menyebut nama Bryan sebagai orang asing yang membeli Adinda, Anton mengulang dua kali adegan tersebut.
“Kita kembali lagi ke rekaman video CCTV saat Agung di dalam rumah gadis itu...” suara Prince Zuko terdengar lagi.
Layar proyektor menampilkan adegan Agung yang tengah menggendong Adinda keluar kamar. Cara Agung memeluk dan menggendong Adinda sangat protektif sekali.
Di belakang Agung, tampak Hans berjalan dengan wajah penuh amarah. Video di-freeze-kan pada wajah Hans. Zoom in dengan teks “Hans Alvaro Fernandez, Sekretaris Sanjaya Group?”
Video berjalan lagi. Ruang tamu sedikit terlihat dari sudut kamera. Tampak Adisti tengah menampar bolak-balik pipi ibu tiri Adinda.
Video di-freeze-kan lagi. Menyorot wajah Adisti dengan teks “Adisti Maharani Gumilar, adik Agung dan istri Bramasta.”
Freeze dilepas, Bramasta tengah memandang Agung dan berniat membantu Agung. Video di-freeze-kan pada wajah Bramasta dengan teks “Bramasta Sanjaya, CEO B Group.”
“Siapa sebenarnya gadis yang menjadi korban tersebut? Apa hubungannya dengan sekretaris Sanjaya Group, CEO B Group, Agung dan Adisti dengan gadis yang dirundung oleh wanita dan pria dalam rumah itu?” suara Prince Zuko alias Hans membuat Agung berjengit.
Agung berdiri dari duduknya. Menyugar rambutnya dengan gelisah, sebelah tangannya bertolak pinggang. Kakinya bergerak mondar-mandir di depan area kursinya.
***
Ma’af late post. Kesibukan sebagai emak dan sebagai buk istri ternyata membuat lelah jiwa raga untuk menghalu dalam bentuk ketikan.
1485 kata untuk bab ini supaya Readers puas ya..
What??
Nambah lagi?
Baiklah Readers..
Langsung 2 bab ya.
With love..