CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 107 - PENGAWAL YANG TAK DISADARI KEBERADAANNYA



WAG Kuping Merah


Hans_@Agung, sorry kemarin gue kelupaan, Bro. Hasil investigasi Team Shadow, anak SMA calon bini lu versi Adisti bernama Adinda Amelia Rahmat, kelas 12 alias kelas 3_


Agung_Issssh.. Gue aja udah gak ingat lagi kok.. (Emot tersipu-sipu) _


Indra_Lagu lu, Gung! Gak ingat lagi. Padahal pagi tadi lu curhat ke gue, lu mimpiin tuh anak... (Emot ngakak 3x)


WAG dipenuhi stiker ngakak.


Agung_Bang Indra ini pagi-pagi udah jadi ember bocor.. _


Anton_Mimpi apa, Bro? Mimpi basah ya? (Emot ngakak disertai emot 3 tetesan air) _


Agung_Nggak.. Suer. Mimpinya seram. Lari berdua dikejar-kejar orang bawa pisau besar_


Leon_Seram banget, Gung_


Hans_Lu gak datang ke rumahnya, Gung? _


Agung_Nanti dia bakal manggil gue “om” lagi_


Leon_Terus lu inginnya dia manggil “Sayang”, “Honey”, “Beib”, gitu?? (Emot ngakak) _


Anton_Buruan tembak! _


Bramasta_Kata Agung nanti, Adinda.. Aa padamu... (Emot ngakak 3x). Ciyeeeee_


Agung_Bang, plis deh. Btw, si Adek pagi ini gak kenapa-napa lagi kan? _


Bramasta_Memangnya kenapa? _


Agung_Bisa jalan kan? _


Semua anggota WAG mengeluarkan stiker ngakak kecuali Bramasta.


Bramasta_Abang bilangin ke Disti, loh _


Agung_Biarin... Weee. (Emot melet lidah)_


Hans_Ton, bagaimana Prince Zuko Anonymous? Ready? _


Anton_Masih dalam proses Bang. Pakai pengacak IP supaya aman_


Hans_Needs help? _


Anton_No, thanks. Masih bisa gue tangani. Sebentar lagi juga sudah siap_


Hans_OK_


Leon_Yang jaga “tempat kondangan” siapa sekarang?_


Anton_Joker & Solitaire. Mumpung libur_


Agung_Nanti gue mampir ke sana buat anterin kopi_


Anton_Thanks a lot, Bro. Mereka bakal senang banget (emot jempol 2x)


***


“Disti, mau ke Gempol gak?” tanya Bramasta setelah mematikan vacum cleaner.


Adisti yang sedang membereskan tas-tas belanjaan mereka semalam menoleh pada suaminya.


“Kupat tahu?” tanyanya dengan mata berbinar, “Kok pas banget sih dengan pikiran Disti yang sedang ingin makan kupat tahu Gempol.”


Bramasta terkekeh. Mengacak pelan rambut istrinya.


“Sekarang yuk? Nanti keburu habis,” ajak Bramasta.


Adisti mengangguk. Keduanya bergandengan tangan ke dalam kamar untuk berganti baju.


“Disti hubungi Kakak dulu kalau kita mau ke Gempol ya," kata Adisti saat mereka berjalan menyusuri taman Gempol sambil berpegangan tangan.


“Iya.Lagian Kakak Ipar mau datang jam berapa sih?"


"Sedang menunggu titipannya Bunda."


Bramasta terkekeh, "Sepertinya masalah deh."


“Oh iya. Bawa apa ya buat acara besok?” tanya Adisti.


“Kue basah saja. Mommy pasti buat muffin atau brownies untuk dibawa ke sana.”


Adisti menoleh cepat.


“Abang Bram pinter banget deh.. Suami Disti ini memang warbiyasah!”


“Woyyadooooong!”


“Mumpung kita di sini, sekalian pesan untuk besok pagi ya Bang.”


Bramasta memandang bingung pada istrinya.


“Kue basah... klepon dan kawan-kawannya...” Adisti tersenyum lebar.


“Issssh! Kok jadi klepon sih yang disebut...”


Adisti terkekeh senang.


“Disti pesan kue yang ditata di dalam tampah ya.”


“Apa itu tampah?”


“Nyiru. Wadah bundar ceper anyaman bambu.”


Bramasata mengangguk, pura-pura mengerti padahal blank.


“Terserah Disti saja. Kita ambil jam 8 pagi ya.”


Adisti mengangguk.


“Bang, beli kupat tahunya 3 ya."


Bramasta mengangguk lalu mengeratkan genggamannya saat mendekati warung kupat tahu.


Beberapa pengunjung mengenali mereka berdua. Kamera-kamera gawai pengunjung mengarah pada Bramasta-Adisti.


Mereka membalas lambaian tangan para pengunjung ataupun membalas sapaan para pengunjung.


“Hapunten_Ma'af_ Bapak, Ibu, Akang dan Teteh sadayana... saya dan suami saya hanya ingin membeli kupat tahu. Kasihan Ibu Warungnya kalau ada barang-barang yang pecah..” seru Adisti saat para pengunjung berusaha menyentuh ataupun bersalaman dengan dirinya dan Bramasta.


Bramasta berusaha melindungi Adisti dari orang-orang yang terus merangsek ke arah mereka. Ibu pemilik warung dan anaknya tampak berteriak-teriak menenangkan pengunjung yang tiba-tiba beringas.


Bramasta mendekap erat tubuh Adisti. Berusaha menerobos kerumunan orang yang meneriakkan namanya dan istrinya. Entah darimana datangnya, Adisti melihat para pria berbadan tegap berkemeja hitam datang dan mengelilingi Bramasta dan Adisti.


Menyibak kerumunan orang dan membuka jalan untuk Bramasta dan Adisti meninggalkan tempat itu. Sampai di tempat parkiran, Bramasta menyerahkan kunci mobilnya pada salah seorang di antara mereka.


Bramasta membuka pintu penumpang belakang, membantu Adisti untuk masuk lebih dahulu dengan melindungi kepalanya supaya tidak terbentur.


“Ma’afkan kami, Tuan. Kami terlambat.”


Bramasta mengangguk.


“Mereka siapa?” tanya Adisti.


“Pengawal,” Bramasta memandangi istrinya lalu memeluknya, “Disti gak kenapa-napa kan?”


Disti menggeleng lalu menengadah menatap suaminya, “Jadi sebenarnya kita dikawal?”


Bramasta tersenyum lalu mengangguk, “Setiap kita pergi, pasti ada pengawal yang menyertai kita. Untuk mengantisipasi kejadian seperti ini.”


“Yang kemarin-kemarin juga?”


Bramasta mengangguk lagi sambil tersenyum. Kemudian menatap Adisti dengan lembut, “Tolong jangan menolak pengawalan yang ada ya? Pasca Disti diserang Rita, Daddy mengharuskan kita untuk selalu dalam pengawalan. Apalagi setelah tahu Rita untouchable person karena mempunyai backing yang kuat."


Adisti teringat ucapan Agung. Dia mengangguk pada suaminya. Bramasta memeluknya lagi sambil mengecup dahinya.


"Kupat tahunya bagaimana?" tanya Adisti.


"Biar kami saja yang membelinya, Nona,” kata pria berkemeja hitam yang ditugasi untuk mengemudi.


“Ma’af ya, Sayang. Sepertinya untuk ke depannya kita tidak bisa menjalani kehidupan normal. Mudah-mudahan ini untuk sementara saja.”


Adisti menepuk-nepuk punggung tangan Bramasta, “Ya sudah, gak apa-apa."


"Ma’af ya Pak, jadi merepotkan,” Adisti memandang sejenak kepada drivernya, “Tolong belikan kupat tahu di warung tadi 3 bungkus, sekalian juga beli untuk kalian ya.”


“Iya Nona. Jangan merasa sungkan dengan kami. Tugas kami menjaga keselamatan Nona dan Tuan.”


Adisti tersenyum lebar sambil mengangguk.


“Sambalnya dipisah saja,” Adisti meraih dompetnya, dompet hadiah dari Leon. Mengeluarkan 4 lembar uang berwarna merah.


“Nona, uangnya terlalu banyak.”


“Oh, sisanya untuk pesan kue basah. Nanti tolong pesankan di penjual klepon dan kawan-kawannya, 5 kios dari warung kupat tahu. 2 kue tampah komplit untuk besok pagi, diambil jam 8. Kalau uangnya kurang nanti dilunasi besok pagi saat pengambilan.”


Driver itu mengangguk mengerti.


“Ada lagi, Nona?”


“Sudah itu saja Pak. Terima kasih banyak ya Pak.”


“Sama-sama, Nona.”


Driver itu pergi seorang diri. Sementara 2 orang temannya berdiri di samping kanan dan kiri pintu mobil.



“Disti, jangan terlalu banyak senyum dengan para pengawal. Mereka juga laki-laki. Abang gak suka.”


Adisti menoleh pada suaminya dengan tersenyum lebar.


“Abang cemburu?”


“Iya.”


Adisti terkikik.


“Dan rasanya sangat tidak nyaman sekali di sini," Bramasta menunjuk dadanya.


"Kasihan suami Disti..." Adisti pindah duduk ke atas pangkuan suaminya. Saling berhadapan.


Bramasta menaikkan alisnya. Adisti langsung mengecup singkat bibir suaminya.


“Masih cemburu?”


Bramasta terkekeh.


“Nggak lagi. Justru malah kaget.”


Adisti beringsut dari pangkuannya.


Bramasta menahan tubuh Adisti.


“Mau kemana? Tetaplah di sini. Abang suka seperti ini.”


“Isssh. Malu sama pengawal, malu sama orang-orang di luar sana.”


“Mereka gak bisa lihat kita. Apalagi kalau kita menekan tombol ini...” Bramasta memiringkan tubuh Adisti agar dia bisa menekan tombol yang ada di dashboard tengah, yang terletak di antara kursi driver dengan penumpang depan.


Adisti terperangah saat melihat partisi yang muncul membatasi jok depan dengan jok belakang. Begitupun dengan jendela samping yang tiba-tiba tertutup layar putih.


“Bang.. Abang buat mobil seperti ini untuk apa?” Adisti memandang curiga pada suaminya, “Abang sering kencan di dalam mobil?”


Bramasta terkejut.


“Astaghfirullahal adziim. Na’udzubillah min dzalik..”


“Ya ma’af.. tapi kan mencurigakan...”


“Terkadang seorang Bramasta Sanjaya harus berganti baju di dalam mobil, Nyonya Bramasta...”


“Kirain sering buat acara mobil goyang...”


“Nyonya Bramasta ternyata ngeres banget ya pikirannya. Ini sedang memberi ide ke Abang?”


“Ih, nggak Bang. Disti cuma teringat adegan film Titanic, Bang.. sampai kaca mobilnya berembun...” Adisti terkekeh.


Namun suara kekehannya hilang saat Bramasta mendekatkan wajahnya pada wajah Adisti dan tangannya menahan punggung Adisti.


***


Woiyyyy mereka lagi ngapain sih?