CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 240 – INSPEKTUR VIJAY?



Indra menggeleng, “Bukan Pak. Ini ada kaitannya dengan perselingkuhan istrinya dengan pria yang menjadi pernah menjadi pacarnya sewaktu jaman seragam putih abu.”


“Oh,” tapi kemudian Raditya berseru kaget, “Wow!”


Semua tertawa melihat reaksi Raditya.


“Jadi ini tentang CLBK? Cerita lama belum kelar? Siapa pria itu?”


“Anda pasti tahu siapa dia. Selalu hadir di setiap persidangan Liliana Sukma, mantan Nyonya Hilman Anggoro.”


“Gunawan Tan? Pantas saja. Saya sebenarnya bertanya-tanya apa hubungan orang itu dengan terdakwa.”


“Gunawan Tan, Komisaris Buana Raya, mantan bosnya Bang Agung,” Anton terkekeh.


“Oh my God... dunia ternyata sesempit itu ya. Kalau dibuat diagram peristiwa kalian saling terhubung. Pasti Pak Agung diberhentikan dari Buana Raya karena permintaan pacar tercinta sang komisaris, ya?”


Agung mengangguk dan terkekeh.


“Peristiwanya bersamaan harinya dengan peristiwa rumah sakit.”


Mata Raditya melebar.


“Liliana Sukma ini tidak main-main dalam membalas dendamnya ya. Memukul sekaligus dalam satu hari. Ck..ck..ck..” Raditya menggelengkan kepalanya.


“Kemudian Pak Agung langsung bergabung dengan Sanjaya Group?”


Agung menggeleng.


“Saya sempat menganggur beberapa jam. Kebingungan bagaimana hendak menyampaikan saya sudah diberhentikan dengan alasan yang tidak jelas kepada Ayah dan Bunda.”


“Agung tidak tahu di kalangan para pengusaha, sosoknya tengah viral. Pegawai cerdas, berbakat dan berdedikasi yang tiba-tiba dipecat tanpa alasan yang jelas. Namanya tidak pernah disebutkan,” Indra menambahkan, “Saya sampai kelimpungan karena Papi meminta saya mencaritahu siapa pegawai pecatan yang dimaksud. Papi ingin mempekerjakannya di Sanjaya Group karena salah satu manajernya resign.”


“Luar biasa... Kalian memang orang-orang yang luar biasa,” Raditya menggelengkan kepalanya.


Raditya mengedarkan pandangannya ke semua penjuru rumah.


“Ngomong-ngomong, Bapak dan Ibu Gumilar kemana?”


“Para orangtua ada di kebun,” Hans tersenyum.


“Para orangtua? Maksud Anda, termasuk Tuan Alwin dan Nyonya?”


“Juga ada Tuan Kusumawardhani dan Nyonya,” Hans terkekeh.


“Wah.. Acara istimewa rupanya hari ini..” Raditya tidak meneruskan kalimatnya karena gawainya berdering.


“Ya, halo Pak Viktor, ada apa?” Jeda.


“Ah.. Ya, saya lupa memberitahukan Bapak. Saya sedang putar balik arah pulang sekarang. Ada trouble di mobil saya. Saya tidak jadi ke tempat Bapak hari ini.” Jeda.


“Iya.. Sempat beberapa kali mati mesin. Sudah dulu ya Pak. Nanti saya sambung lagi. Orang dari mobil derek menghubungi saya.” Raditya mematikan panggilannya begitu saja.


Semua yang berada di ruang tengah terkekeh.


Raditya berdiri.


“Saya permisi dulu ya. Terimakasih atas penyambutannya. Tolong sampaikan flashdisk itu pada Prince Zuko. Dia pasti tahu apa yang harus diperbuatnya. Saya sendiri sudah merasa berkecil hati melihat kerusakan dalam tubuh kami.”


“Insyaa Allah. Tapi kami juga tidak tahu bagaimana menghubungi Prince Zuko..“ Hans menerima ukuran tangan Raditya lalu menjabat erat tangannya, “Istirahatlah. Pasti hari ini terasa sangat melelahkan bagi Anda.”


“Selalu berhati-hati ya Pak. Jangan lengah,” kata Bramasta saat berjabat tangan dengan Raditya.


“Insyaa Allah.”


Sepeninggal Raditya, Daddy masuk ke ruang tengah.


“Bagaimana? Tamunya sudah pulang?” tanyanya sambil mencomot kue buatan Adinda di meja kaca.


“Darimana Daddy tahu ada tamu tadi?” Bramasta menatap heran.


“Kamu tuh Bram, meremehkan Daddy saja,” Daddy mendengus, “Pengawal selalu memberi laporan pada Daddy tanpa harus bertanya pada kalian. Kalau gak pengawal ya Hans yang memberi laporan pada Daddy.”


Hans tersenyum lebar.


“Pak Raditya, Tuan. Tadi langsung ke sini dari airport.”


Suara Ayah dan Pak Dhani yang memasuki ruangan sambil mengobrol membuat mereka melongok ke arah pintu. Ayah dan Pak Dhani langsung menuju sofa tengah.


“Kalian membicarakan apa dengannya?” Daddy menatap Hans lagi.


Hans dan Indra bergantian menceritakan hal yang tadi dibicarakan dengan Raditya.


Daddy mengangguk puas.


“Jadi dia masih belum tahu tentang Prince Zuko? Baguslah.”


“Sebaiknya tetap dibuat seperti itu,” Ayah ikut menimpali, “Kita belum benar-benar tahu sebenarnya Pak Raditya itu ada di pihak siapa.”


“Kalau saya sih inginnya dia yang menjadi Inspektur Vijaynya untuk mengalahkan Inspektur Thakur,” Pak Dhani terkekeh, “Supaya kalian gak capek-capek lagi main kamuflase-kamuflasean seperti ini.”


Pak Dhani menjawil telinga anak semata wayangnya, “Resikonya, Ndra...resikonya...”


“Jadi teringat sewaktu menyamar di The Ritz. Deg-degan tapi asyik banget,” Leon mengenang petualangannya.


“Abang girang, saya dan kru yang mengawasi kalian dibuat sport jantung karena Abang kelamaan di dalam sana,” Anton menatap Leon sambil menyengir.


“Kan gue dihadang Ferdi Gunaldi, Ton..” Leon membela diri sambil menegakkan punggungnya.


“Halaah, pakai keceplosan ngomong Basa Sunda pula..” Daddy mencibir disambut tawa semuanya.


“Yang penting kan Leon bisa berimprovisasi, Dad,” Leon tidak mau kalah.


“Yang epik itu melihat reaksi dan ekspresi Indra alias Andri Dhani saat digerayangi oleh Rita Gunaldi,” Bramasta terkekeh keras disambut lainnya.


Indra memerah pipinya, “Woiyyy sudah atuh laaah. Gak usah dibahas lagi..”


Ayah menepuk-nepuk bahu Indra, “Gak apa-apa, Nak Indra. Itu menandakan Nak Indra adalah pemuda baik-baik.”


“Tuh ya.. dengerin apa kata Ayah..” Indra menepuk dadanya dengan bangga.


“Kalian berikan semua rekaman CCTV yang didapat dari kejadian pagi tadi kepada Raditya?” Daddy meminta Bramasta untuk minggir dari sofa. Ia duduk di sofa menggantikan Bramasta sementara Bramasta duduk di pegangan sofa.


“Tidak, Tuan. Itu jatah Prince Zuko,” Hans terkekeh. Anton dan indra mengangguk setuju.


“Kami hanya memberikan rekaman CCTV di lobby lift penthouse sewaktu si Kurus itu meletakkan bunga anggrek sebagai kurir bunga di atas meja security, Dad,” Bramasta menjelaskan.


“Ancaman terhadap Raditya itu serius, ya?” Pak Dhani meletakkan tangannya di dagunya.


“Kalau melihat dari kerusakan body mobilnya yang baret parah, iya Beh,” Hans mengangguk.


“Ancamannya itu... apakah tidak serta merta menjadikannya sebagai Insprektur Vijay?” Pak Dhani menatap Hans.


“Setelah kami mengecek kebenaran isi flashdisk ini, baru kami bisa menentukan sikap kepada Raditya. Apakah dia bisa dipercaya ataukah tidak,” Hans balas menatap Pak Dhani.


“Bagaimana caranya?” Agung memainkan jeruk yang ada di dalam genggamannya.


“Cek tanggal dan waktu pertemuannya, kita kroscek dengan kegiatannya pada waktu tersebut. Cari yang waktunya berdekatan dengan saat sebelum The Ritz ditutup.”


“Bila perlu, kita ambil dari CCTV gedung tempat pertemuannya diadakan,” Anton menjawab pertanyaan Agung.


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tuan Thakur hari ini? Kemana perginya dia” Agung menyilangkan kakinya, matanya menekuri cangkir kopi yang sudah kosong.


Suara kekehan Hans membuat Agung mendongak menatap Hans.


“Lu tahu Bang?”


“Dia sedang plesir main golf,” Hans mengambil keripik singkong dari stoples kaca.


“Are you kidding me?” Leon terperangah seperti yang lainnya.


“Gak lah. Serius ini. Dia sedang main golf. Jadi saat Raditya menelepon penanggungjawab tempat penahanan Tuan Thakur, pejabat tersebut auto panik. Kalian dengar sendiri kan suaranya saat panik?”


Para anggota Kuping Merah mengangguk.


“30 menit dia bilang untuk mempersiapkan Tuan Thakur??” Bramasta menggeleng tak percaya.


“Main golfnya masih di Jakarta. 30 menit di hari Sabtu, jalanan tidak sepadat hari kerja. Cukuplah kebut-kebutan dengan pengawalan ketat di jalanan demi memunculkan lagi Tuan Thakur di ruangan selnya,” Hans mengambil lagi kepingan keripiknya.


“Daerah mana?” Anton bersiap untuk mengetik.


Hans menyebut nama lapangan golf untuk para VIP dan ekspatriat.


Anton mengetik cepat. Di layar proyektor muncul map lokasi lapangan golf dan lokasi tempat penahanannya.


“Kira-kira, dia pakai jalur yang mana?” tanyanya pada semuanya.


“Jalur terpendek. Jalur utama. Tidak mungkin melalui jalanan kecil untuk acara kebut-kebutan dengan mobil pengawalan,” Indra menunjuk dengan pointer laser.


“Iring-iringan dengan kecepatan tinggi pasti menarik perhatian masyarakat. Cek sosmed, pasti ada video dari masyarakat tentang iring-iringan tersebut,” Bramasta menganalisa sambil menatap gawainya.


“Dapat!” seru Agung, “Seorang pengendara ojol, tewas di tempat setelah motornya disenggol iring-iringan pejabat yang melaju dengan kecepatan tinggi.”


.


***


Duh..semoga Raditya berada di pihak yang benar ya. Bukan pionnya Tuan Thakur yang menyusup..


Mampir di sequelnya CEO RESCUE ME! ya..


Gilirannya Bang Indra Kusumawardhani, jomblo berkualitas, bertemu jodohnya. Beneran gak sih dia berjodoh dengan janda beranak dua?



Jangan lupa subscribe, bintang, like dll ya...