
Sengaja Adisti tidak langsung masuk ke ruangannya. Dia memilih duduk di sofa ruangan suaminya. Sambil menunggu balasan chat dari Agung di WAG Kuping Merah, dia mencari lagu First Love-nya Hikaru Utada.
“Saigo no kisu wa tabako no flavor ga shita
Nigakute setsunai kaori..”
Bramasta mendongak sambil terkekeh.
“Gak enak banget kalimatnya...”
“Apa Bang?”
Bramasta tidak serta merta menjawab. Dia sibuk mengetik chat di gawainya.
“Liriknya..”
“Memang artinya apa?” Adisti berguling menghadap arah suaminya.
“Tentang ciuman terahkir mereka yang terasa pahit bagai tembakau..”
“Memang tembakau rasanya pahit ya Bang? Kok orang banyak yang ketagihan sih?”
“Meneketehe.. Abang kan gak merokok. Mungkin sama saja dengan pare atau bunga pepaya, sudah tahu rasanya pahit tapi banyak yang suka..”
“Ah Abang kok jadi ngingetin ke makanan kesukaan Disti sih..” Adisti berlari kecil ke arah suaminya, sambil memegangi lengan suaminya, “Nanti siang kita makan di rumah Ayah dan Bunda ya.. Disti lagi pengen tumis parenya Bunda..”
Bramasta tertawa, “Jadwal Abang?”
“Gak ada meeting kecuali sore nanti, 15.00 di Nugraha Palace. Meeting dengan Paramountext Company.”
Bramasta mengangguk.
“Assalamu’alaikum..” Indra masuk sambil membawa berkas.
Bramasta dan Adisti menjawab salam Indra.
“Wuih..First Love Hikaru Utada. Sad song ini mah..” Indra mulai mengikuti chorus lagu yang saat itu diputar.
“You are always gonna be my love
Itsuka darekato mata koi ni ochitemo
I’ll remember to love, you taught me how
You are always gonna be the one
Ima wa mada kanashii love song
Atarashii uta utaeru made..”
“Iiih Bang Indra keren banget sih...” Adisti bertepuk tangan.
Bramasta mencibir, “Abang juga bisa..”
“Jangan!” Indra menggoyangkan telapak tangannya.
“Kenapa?” tanya Adisti penasaran.
“Lagu sebagus apapun bakal rusak kalau dinyanyiin Pak Bos..” Indra terkekeh.
Bramasta terdiam cemberut. Adisti mendekati suaminya sambil memeluk.
“Jangan cemberut, nanti gantengnya berkurang. Abang nyanyinya saat bareng Disti aja ya...”
“Hisssh!” Indra mencibir, “Bos, meeting online dengan vendor suplier granit impor juga marmer impor. Kita jadinya mau pakai yang mana sih, untuk Meridian, Zenith dan Lazuardi?”
“Panggil Anton kemari. Meeting online jam berapa?”
“Jam 10..” Indra membuat panggilan dengan Anton, “Assalamu’alaikum, Ton. Lu bisa naik ke ruangan Pak Bos? Kita mau bicarakan materi untuk Meridian, Zenith dan Lazuardi.” Jeda.
“OK.. kami tunggu ya..”
Indra menyudahi panggilannya.
“Anton punya beberapa sampel produknya. Tuh anak kok udah dapat samplenya aja ya.. padahal ke kita mereka cuma kasih katalog..”
“Dia punya koneksi yang luas,” Bramasta tersenyum sambil membaca berkas yang dibawa Indra.
“Nama-nama istilah langit yang kalian sebutkan tadi itu apa sih?” Adisti membuka kemasan bakpia pathok dari lemari snack.
“Siiip ada cemilan..”
“Itu nama hotel dan apartemen di beberapa kota,” Bramasta memandang istrinya sambil menggenggam tangannya, “Meridian, apartemen di Surabaya. 3 lantai di bawahnya adalah mall. Zenith, hotel di Lombok. Lazuardi, hotel di Ujung Pandang, konsepnya sama dengan Meridian.”
“Gak ingin bangun di Semarang?”
Bramasta dan Indra terkekeh.
“Too high risk. Margin keuntungannya berat banget. Eungap, Dis..” Indra mengambil bakpia.
“Kenapa?”
“Pemerintahnya gak bisa mengatasi banjir rob yang selalu datang. Malah sekarang makin parah ya interupsi air lautnya. Stasiun kereta dan rumah sakit sampai terendam seperti itu. Para swasta pasti berpikir berkali-kali untuk investasi di sana.”
“Iya juga sih..” Adisti mengangguk.
Semuanya menoleh ke arah pintu ketika terdengar bunyi pintu diketuk dan ucapan salam. Seorang asisten Anton datang membawa travel bag yang diletakkan di atas troli.
“Itu apa?” tanya Indra sambil menunjuk troli.
“Tadi Pak Anton meminta saya untuk membawa sampel granit dan marmer impor.”
“Oh iya, letakkan saja di situ,”
“Terima kasih ya Pak,” Adisti tersenyum kepada orang tersebut.
Anton masuk sambil mengucap salam.
“Hyung.. kaget kita, anak buah Hyung bawa troli segala..”
Anton terkekeh, “Gak bisa dijinjing untuk sebanyak itu. Berat tahu..”
“Pengen lihat...”
Anton mengangguk. Dia dibantu Indra memajang contoh marmer dan granit impor di atas karpet lantai ruangan Bramasta.
Anton membalikkan lempengan sample itu untuk membaca keterangannya.
“Marmer, impor Italy. Importirnya perusahaan G. Suka?” Anton menatap Adisti.
Adisti mengangguk.
“Kayaknya bagus untuk dijadikan dinding TV.”
Bramasta memandangi potongan sampel yang dimaksud istrinya. Mengangguk setuju.
“Bungkus, Ton..”
“Eh, beneran ini? Ciyus, Bang?” Adisti menatap suamiya dengan tatapan tidak percaya.
“Why not? Your choice is gorgeous. I like it too,” Bramasta tersenyum sambil menggenggam tangan istrinya.
Indra membungkuk pada meja kerja Bramasta untuk membaca katalog harga.
“Itu dari perusahaan G ya Ton?”
Anton mengangguk.
Indra mengambil katalog, menghitung dengan menggunakan nalarnya, “Sekitar 98 juta rupiah per slabnya.”
Adisti melongo, “Dari US dollar?”
Indra menggeleng, “Euro.”
“Per slab?” tanya Adisti lagi.
“Untuk marmer dan granit impor, dijual dalam satuan slab. Untuk satu slab berukuran 150 x 260 cm,” Anton menjelaskan.
“Bang.. gak jadi deh. Mahal..”
Ketiganya tergelak melihat Adisti yang tampak menciut.
“Ma’af Buk Istri.. barang yang sudah dipilih dan disepakati tidak bisa dibatalkan lagi..”
“Mana ada seperti itu..” Adisti meninggalkan mereka yang tengah tertawa tapi kemudian berbalik lagi.
“Pak Suami, Kakak sudah balas chat lagi?”
“Sudah dari tadi..”
“Kok Abang gak kasih tahu sih?”
“Kan Disti sedang terhanyut oleh Hikaru Utada...” Bramasta menyerahkan gawainya untuk dibaca Adisti, “Baca sendiri.. “
“Masih ter-Hikaru Hikaru dari tadi dipagi?” Anton ersenyum lebar memandang Bramasta dan Adisti bergantian.
“Apaan sih?” Indra seperti biasa kepo.
Bramasta dan Anton tertawa bersama. Begitu diceritakan, Indra tertawa paling keras sambil memandang Adisti yang menyodorkan gawai suaminya.
“Ciyeeee yang cemburu. Pantesan, pas gue masuk berkumandang First Love-nya Hikaru Utada.”
Adisti mencebik kesal, “Ya sudah kalian selesaikan meetingnya sebelum jam makan siang. Disti udah ngomong ke Bunda, pengen tumis pare dan ayam goreng serundeng..”
“Kayaknya enak.. Ikut dong..” Indra menaikturunkan alisnya.
“Gue juga mau. Bosan gue makan masakan warung mulu. Pengen masakan rumahan..” Anton mengacungkan telunjuknya.
“Ah Lu mah Ton, kasihan banget jadi anak kost..”
“Sebentar lagi Agung juga jadi anak kost. Apa tadi yang dia tulis?” seloroh Bramasta sambil tertawa.
“Gue udah merasa, nih hidung kayaknya gak lama lagi bakal mimisan tiap hari. Tolong bantu carikan tempat kost atau apartemen dekat rumah dan kantor.. ” Indra membaca chat Agung si WAG yang disambut tawa oleh semuanya.
“Memangnya Hyung anak kost?” Adisti mengambil sepotong bakpia.
“Gue tinggal di apartemen sekarang. Tadinya ngontrak pavilyun. Tapi rasanya tidak aman ya dengan tetangga yang selalu kepo bahkan sampai ngitip-ngintip jendela gue..” Anton meluruskan kakinya.
“Wah.. kepo kebangetan tuh tetangga. Udah gak bener.”
“Kapan Lu pindahannya?” tanya Bramasta.
“Seminggu yang lalu.”
“Kok Hyung gak cerita-cerita ke kita sih?”
“Kan kalian sedang sibuk di rumah sakit. Lagian Bang Hans tahu kok. Gue pindah juga dibantuin orang-orang Bang Hans.”
“Ah, Bang Hans memang telinganya ada dimana-mana ya..” Indra terkekeh.
“Ton,” suara Bramasta terdengar serius, “Apartemen Lu aman kan?”
“Alhamdulillah, Pak Bos. Orang-orang Bang Hans sudah screening para tetangga,” Anton mengangguk.
“Ada unit kosong di lantai yang sama gak? Siapa tahu Agung berminat.”
“Nanti saja kita bicarakan di rumah sekalian makan siang,” kata Adisti, “Nanti malam jadi kan launchingnya?”
Ketiganya mengangguk. Sudah menjadi kesepakatan bagi semuanya untuk tidak menyebut-nyebut Prince Zuko di luar WAG.
“OK. Nanti malam Disti siapin salad buah ya. Mau spagheti atau pempek?”
Bramasta mengerutkan keningnya.
“Memangnya Disti mau buat pempek?”
“Ya nggaklah. Belum pernah buat. Beli di tetangga Bunda aja. Enak kok.”
Ketiganya mengangguk serempak lalu sama-sama berkata, “Pempek!”
***
Enak banget jadi Disti ya, tinggal tunjuk terus Pak Suaminya bilang, "Bungkus!"
Gak mikir harga lagi...
Launching apaan hayo?