CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 54 – Nasehat



“Saya ikut prihatin dengan kejadian ini, Pak,” kata Ayah.


“ Jadi Tuan Hilman dan Prasetyo tadi pulang lebih awal dari biasanya?” tanya Daddy.


Prasetyo mengangguk, “Iya, Tuan Alwin. Mungkin itu sebabnya Mama tidak ada di rumah karena biasanya Papa pulang setelah jam 7.”


“Kamu biasanya pulang jam berapa?” tanya Agung dengan suara dingin.


“Kakak...” Bunda menegur Agung sambil menggelengkan kepala.


“Ma’af..” Agung menundukkan wajahnya.


Prasetyo menundukkan wajahnya. Tidak berani memandang siapapun di ruangan ini. Tatapan Agung dan Sekretaris Tuan Alwin terasa sangat tajam bagai laser. Menyesakkan hatinya dan makin membuatnya merasa bersalah dan merasa kecil hati.


“Pak Gumilar, saya harus bagaimana? Beri saya nasehat. Bagaimana saya harus bersikap terhadap istri saya yang seperti itu tingkah lakunya,” Hilman Anggoro menatap wajah Ayah, “Sebagai laki-laki, harga diri saya hancur. Saya merasa dibodohi, dicurangi. Saya imam yang gagal.”


Ayah terdiam sejenak, “Menikah atau berumah tangga adalah ibadah terlama dimana dalam sebuah pernikahan dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan secara terus-menerus.”


Ayah memandang Hilman Anggoro dengan tatapan sungguh-sungguh, “Ajaklah bicara istri Bapak lalu tanyalah pada diri sendiri: apakah Pak Hilman masih bisa bersabar menghadapi istri Bapak? Apakah Pak Hilman bisa memaafkan istri Bapak?”


“Bila jawabannya masih karena berbagai pertimbangan tentang anak ataupun usia, maka lanjutkan pernikahan Bapak. Sebagai imam, Bapak harus membimbing makmumnya.”


“Bila jawabannya Bapak sudah tidak sanggup lagi, maka ceraikanlah dia. Kembalikan dia kepada orangtuanya bila masih ada atau keluarganya dengan baik-baik seperti dulu sewaktu Pak Hilman memintanya sebagai istri Bapak.”


Hilman Anggoro menekuri lantai. Dia mengangguk mengerti, “Saya sudah memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kami.”


“Jangan terburu-buru mengambil keputusan apalagi dalam keadaan marah, Pak Hilman. Karena ujung-ujungnya hanya ada penyesalan yang menyesakkan. Tenangkan diri dulu. Lebih baik lagi bila meminta petunjuk dahulu kepada Allah melalui sholat istikharah.”


“Saya tidak pernah curang dalam berbisnis, saya selalu berlaku adil kepada para karyawan saya. Saya juga menjadi donatur tetap di lembaga-lembaga sosial dan beberapa masjid. Tapi mengapa saya mengalami hal ini?”


“Bagaimana bila Allah marah kepada kita? Allah akan sibukkan kita dengan urusan dunia, dengan urusan anak-anak kita, dengan urusan perniagaan dan harta kita, dengan urusan mengejar tahta, jabatan, karir dan pangkat,” Ayah tersenyum, “Apakah kelak akan kita bawa saat kita mati? Tidak. Semuanya akan kita tinggalkan di dunia.”


Hilman Anggoro meneteskan air matanya. Dia merasa dirinya sudah jauh dari agama. Dirinya sendiri yang menjauh dari Penciptanya.


“Jadi bagaimana caranya agar Allah tidak marah lagi pada kita?” tanya Hilman Anggoro.


“Lakukan sholat taubat. Berdo’a dengan sungguh-sungguh. Akui semua kesalahan dan mohon ampun kepada Allah. Allah akan mendengar do’a kita bila kita memintanya dengan kesungguhan karena Allah mengetahui isi hati kita. Setelah itu, berusahalah untuk mendekati Allah. Sholat diawal waktu, kerjakan sholat sunnah, banyak berdzikir dan sholawat di segala waktu baik waktu luang ataupun waktu sempit. Jaga tingkah laku kita, jaga asupan makanan dan minuman kita dan jaga perolehan rejeki kita dari hal-hal yang dilarang Allah. Datangi majelis ilmu untuk menambah ilmu agama kita. Karena derajat orang yang berilmu lebih tinggi di mata Allah daripada orang yang tidak berilmu,” Ayah tersenyum bijak kepada Hilman Anggoro. Ayah mempersilahkan Hilman Anggoro dan Prasetyo untuk meminum teh yang sudah disajikan Bunda.


“Ujian dan teguran dari Allah sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada kita,” kata Daddy.


Ayah mengangguk setuju. Prasetyo menatap Daddy dengan pandangan bertanya.


“Apa bedanya ujian dan teguran dari Allah? Keduanya sama-sama menyakitkan kan?” tanya Prasetyo.


Daddy mengangguk, “Betul, keduanya sama-sama menyakitkan. Tapi antara ujian dan teguran, input dan outputnya berbeda.”


Prasetyo masih menatap tidak mengerti kepada Daddy.


“Hans, coba terangkan..” perintah Daddy kepada Hans.


Hans tersenyum simpul, “Sepertinya lebih tepat kalau Agung yang menerangkan. Saya masih tahap belajar. Kalau Agung, saya yakin ilmu agamanya lebih banyak daripada saya, karena mempunyai orangtua berpengetahuan luas.”


Ayah terkekeh, “Jangan salah, Nak Hans. Tidak semua orangtua berilmu agama mempunyai anak yang paham agama. Karena kesholehan seseorang tidak diturunkan. Semua karena pola asuh orangtua dan lingkungan pergaulan anak.”


“Wah.. pantas saja saya beberapa kali menemukan anak yang luar biasa bengal padahal orangtuanya rajin beribadah. Terkadang juga saya menemukan anak yang luar biasa baik dan sholeh padahal orangtuanya luar biasa brengsek kelakuannya,” kata Daddy, “Tapi saya yakin Agung dididik dan berada dalam circle positif lingkungan pergaulannya. Iya Gung?”


Agung tersenyum malu, “Alhamdulillah saya dan Adek dikaruniai orangtua seperti Ayah dan Bunda, alhamdulillah juga Allah senantiasa menjaga pergaulan kami, menjaga aqidah kami.”


“Masyaa Allah ...” seru Daddy.


“Jadi bisa kan Gung, jelasin pertanyaan Prasetyo tadi?” tanya Hans, “Kasihan Prasetyo penasaran.”


Agung menatap Prasetyo yang tengah menatapnya juga. Kemudian Agung mengangguk, “Insyaa Allah.. mohon dikoreksi bila salah ya.”


“Ujian diberikan kepada hamba-Nya yang sholeh sebagai bentuk uji keimanan dan kesholehan kepada Allah Ta’ala. Outputnya adalah bila berhasil melalui ujian yang diberikan maka Allah akan meninggikan derajat, menaikkan kelasnya di sisi-Nya,” Agung memandang pada Ayah dan Daddy meminta persetujuan mereka. Keduanya menganggukkan kepalanya.


Ayah dan Daddy mengangguk puas.


“Mudah-mudahan penjelasan saya bisa memuaskanmu, Tiyo,” kata Agung sambil memandang Tiyo. Suara dan tatapan Agung sudah melunak kepada Prasetyo.


Prasetyo mengangguk, “Terimakasih banyak, Kak. Saya sudah paham sekarang. Mudah-mudahan saya dan Papa bisa mendapatkan ampunan dari Allah.”


Gawai Hilman Anggoro berbunyi, panggilan masuk. Hilman melirik layar gawainya, tertera tulisan My Wife. Wajahnya terlihat penuh tekanan. Lalu mematikan panggilannya. Hilman kembali memasang wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa.


Tak berapa lama, gawainya berdering lagi. Masih nama yang sama. Hilman me-reject panggilan itu lagi.


“Siapa Pa?” bisik Prasetyo.


“Mamamu.”


“Mama?”


Gawai Hilman berdering lagi. Hilman bergeming sambil menatap nanar nama yang tertera pada layar. Ayah dan Daddy saling berpandangan. Hanya Hans yang menampakkan senyum samar di raut wajahnya yang dingin.


“Maaf, kenapa gak diangkat Pak Hilman? Siapa tahu penting,” tanya Ayah.


Hilman menggelengkan kepalanya.


“Saya belum siap berbicara dengannya,” Hilman menggeleng lagi.


“Siapa?” tanya Daddy.


“Liliana.”


Tak berapa lama, gawai Prasetyo berbunyi nada panggilan masuk.


“Pa, dari Mama..” kata Prasetyo.


Papanya hanya mengangkat bahu.


Prasetyo menekan tombol hijau. Mendekatkan ke telinganya lalu membiarkan Mamanya berbicara.


“Hmmmm,” hanya itu yang terucap dari bibir Prasetyo sebelum jeda agak lama karena Mamanya berbicara.


“Nggak.. Papa nggak ngelayap kemana-mana kok.” Jeda.


“ Ya tahulah. Tiyo sedang bersama Papa kok,” Tiyo menekan loud speaker agar Papa bisa mendengarkan pembicaraan Mamanya.


“Oh, jadi sekarang kalian berburu perempuan bareng? Bagus ya? Kompak banget!” suara Nyonya Hilman memenuhi ruangan.


Bunda mengelus dada sambil beristighfar. Hans dan Agung berpandang-pandangan. Ayah dan Daddy mengangkat sebelah alisnya. Prasetyo berwajah terkejut. Tidak menyangka ibunya akan berkata seperti itu. Dia merasa malu pada orang-orang di ruangan ini. Loud speaker-nya dimatikan.


“Ma, kenapa sih Mama jadi jahat begini? Luar biasa jahatnya. Selalu menuduh sembarangan,” Prasetyo berkata dengan penuh emosi. Jeda sejenak.


“Nggak, Ma. Tiyo gak ngomongin tentang Adisti. Tapi baiklah kalau Mama menyinggung tentang Adisti. Apa yang sudah Mama lakukan terhadap Adisti dan keluarganya itu sudah diluar nalar sehat. Mama keterlaluan. Prasetyo malu punya orangtua seperti Mama. Malu Tiyo, Ma. Malu!” Prasetyo mengusap air matanya dengan tangan bergetar.


Papanya yang duduk di sebelahnya mengelus punggungnya.


“Terserah Mama,” Prasetyo menyusut hidungnya dengan tisu yang disodorkan Bunda, “Terserah Mama kalau mengatakan Prasetyo anak yang durhaka. Tapi Tiyo kasihan kepada Papa karena mempunyai istri yang durhaka seperti Mama.” Jeda.


“Tiyo dan Papa sudah mengetahui tentang hubungan Mama dengan Komisaris Buana Raya, Gunawan Tan. Itu saja yang perlu Mama tahu. Dimas juga sudah Tiyo beritahu sejak sore tadi,” tangan Tiyo mencengkeram erat gawainya. Jeda.


Dia menatap Papanya dengan alis terangkat saat mendengarkan suara Mamanya.


“Polisi?”


“Surat penangkapan?”


Jeda lama.