
Bramasta mampir dulu ke apartemen Agung. Ingin tahu tempat tinggal kakak iparnya yang baru.
Dia sudah berdiri di depan pintu apartemen Agung. Saat pintu terbuka, pengawal yang menemaninya membungkukkan tubuhnya dan berlalu meninggalkan Bramasta dengan Agung.
“Assalamu’alaikum, Kakak Ipar. Bagaimana? Sudah mulai beradaptasi?” Bramasta melangkahkan kakinya ke dalam apartemen Agung. Agung menjawab sambil terkekeh.
Dia berdiri di depan sofa-sofa yang nyaman berwarna hijau tua. Dia puas dengan interior dan penataan perabotannya. Dinding warna krem terang membuat suasana ruangan terlihat klasik dan warna hijau tua yang ada di furniture-nya memberi kesan sejuk dan tentram.
“Kok suasananya...” Bramasta menjeda ucapannya untuk memandang sekeilingnya sekali lagi, “Mirip di rumah Bunda sih?”
Agung mengangguk sambil terkekeh, “Sesuai request, Bang.”
“Anton dan timnya memang gak pernah mengecewakan ya,” Bramasta tersenyum senang.
Agung membawa Bramasta ke dapur, sembari dia menjerang air di dalam teko listrik.
“Gue cuma punya kopi sachet, belum sempat belanja. Gak apa-apa?”
Bramasta mengangguk sambiil menarik kursi di meja makan kecil untuk 4 orang.
“Nyaman juga ya..”
Bramasta mengambil gawainya. Lalu melakukan panggilan video call dengan istrinya.
“Assalamu’alaikum.. Tebak, Abang ada di mana?”
Ia berdiri memutar dengan kamera belakang gawainya diarahkan ke penjuru ruangan. Agung yang sedang mencuci buah tidak tampak di frame kameranya.
“Wa’alaikumussalam.. Abang bukannya ke markas Shadow Team?”
“Tadinya mau langsung ke sana. Tapi Abang mampir dulu di sini..”
“Abang di mana sih? Apartemen siapa? Cewek ya??”
Agung yang mendengar suara adiknya tengah cemburu kepada suaminya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
“Isssh nuduh aja..” Bramasta tersenyum lebar, “Tebak yang benar dong.. Masa suasana maskulin seperti ini disebut apartemen cewek?”
“Tau ah. Abang ada dimana?? Tinggal bilang aja ke Disti..”
Agung setelah mengeringkan tangannya dengan handuk tangan yang tergantung langsung menghampiri Bramasta. Berdiri di belakang Bramasta hingga wajahnya nampak di kamera.
“Berisik banget lu, Dek!”
“Eh, Kakak?” Mata Adisti berbinar sedangkan bibirnya berbentuk bulatan o kecil, “Abang ada di apartemen Kakak?”
“Masih cemburuan aja Adek tuh ya. Su’udzhon mulu...” Agung terkekeh diikuti Bramasta.
“Macet gak?” tanya Bramasta.
Agung kembali ke belakang meja pantry. Menyiapkan kopi untuk dirinya dan Bramasta.
“Gak Bang.. rame lancar.”
Gawai Agung berbunyi. Panggilan video call dari Adinda. Agung tersenyum saat membaca nama dan menatap foto profilnya.
“Assalamu’alaikum..” sapa Agung.
Mata Agung mengerjap menatap Adinda dalam balutan pashmina krem. Kulitnya menjadi terlihat bercahaya, pipinya bersemu merah muda.
“Wa’alaikumussalam..” Adinda menjawab salam Agung sambil tersenyum lebar. Menampakkan lesung pipi sebelah dan dekik kecil dibawa kedua sudut matanya.
Agung meraba jantungnya yang menghentak kencang. Nafasnya terasa tersengal seperti sedang berjalan menanjak.
“Kamu ... mau pergi kemana?” Agung tersenyum.
“Kenapa memangnya, Om?”
“Kamu... sudah rapi banget.”
“Cuma rapi?”
“Ng... keren juga..”
“Anak gen Z memang penampilannya keren-keren, Om..”
Agung menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
“Ng.. itu..maksud saya.. anu..”
Adinda menaikkan kedua alisnya, “Om Agung kenapa sih? Mau ngomong apa?”
Agung melirik ke arah Bramasta yang masih mengobrol dengan adiknya. Suara dipelankan saat berbicara dengan Adinda, nyaris berbisik, “Kamu cantik pagi ini..”
Pipi Agung terasa hangat.
Adinda terdiam. Menatap Agung dengan bibir mencebik.
“Jadi cuma pagi ini saja saya terlihat cantik bagi Om Agung?”
“Eh.. nggak begitu. Selalu cantik kok. Secantik kue buatan kamu.”
Adinda tersenyum karena kue buatannya dipuji oleh orang yang dia sukai. Agung bernafas lega.
“Saya diajakin Bunda dan Ayah jalan-jalan... Makanya saya sudah rapi, sudah siap jalan..” Adinda terkekeh menampilkan gigi kelincinya yang imut.
“Sekarang? Kan besok ujian?” Agung menampilkan raut tidak setuju, “Kemana?”
“Gak tahu.. tapi kalau gak salah saya disuruh ikut karena mau diajak kenalan dengan pemilik tempat yang Ayah dan Bunda akan datangi...”
“Siapa?”
Adinda mengangkat kedua bahunya.
“Seumuran Ayah dan Bunda?”
“Ya nggaklah..”
Hati Agung mencelos, seperti diremas pelan. Dia mengusap jantungnya lagi.
“Cowok atau cewek?”
Suara Bunda terdengar memanggil Adinda.
“Iya Bun... Dinda sudah siap kok..”
“Eh, nanti! Dinda tunggu!” layar gawainya sudah menggelap, “Wa’alaikumussalam..” Agung menjawab lesu salam dari Adinda.
Agung menghela nafas berat. Video call dari Adinda pagi ini membuat hatinya gelisah.
[Ah, Ayah dan Bunda kok tega banget sih..] Agung meremat kuat sendok pengaduk di tangannya.
Berjalan ke arah sofa sambil membawa dua mug kopi di tangannya, dia berseru pada adiknya yang masih terhubung video call dengan Bramasta.
“Dek, Adek tahu gak pagi ini Ayah dan Bunda mau pergi kemana?”
Bramasta menatap aneh pada Agung.
“Memangnya kenapa Bang?”
“Kata Dinda, mereka mau pergi entah kemana, mengajak Dinda untuk berkenalan dengan pemilik tempat tersebut..” Agung tampak kusut.
“Terus kenapa?” Bramasta menaikkan sebelah alisnya, “Gak apa-apa kan sekedar mengenalkan Adinda?”
“Masalahnya, bukan seumuran Ayah atau Bunda. Dan gue juga tidak tahu dia cowokdengan atau cewek...” Agung mengusap rambutnya kesal.
“Adek meneketehe, Kak... Coba Kakak tanya ke Dinda..” suara Adisti terdengar.
Bramasta terkekeh pelan.
“Gak ah. Gak mau nanya-nanya..” Agung terdengar gusar.
Bramasta makin kencang kekehannya.
“Ciyeeee yang cemas dan merasa insecure atau jangan-jangan cemburu?”
Agung tidak menjawab. Dia meminum kopinya perlahan lalu mengusap rambutnya lagi.
Suara kekehan Adisti terdengar.
“Ciyeeee gak enak kan merasa cemburu tuh?”
Bramasta terkekeh lagi.
Suara bel pintu terdengar. Agung bangkit untuk mellihat layar monitor, siapa yang ada di belakang pintu. Lalu memencet tombol untuk membuka pintu.
“Assalamu’alaikum..” salamnya, “Eh, ada Pak Bos..”
Anton masuk ke dalam ruangan dengan rambut basahnya. Semua menjawab salamnya.
“Jam segini baru mandi?” Bramasta menaikkan kedua alisnya, “Gue aja udah mandi dua kali!”
“Dih!” Agung mencibir, “Pamer!”
Anton terkekeh.
“Gue jogging dulu dua putaran, Bang. Habis itu sarapan bubur ayam di warung tenda dekat perempatan.”
“Kok gak ngajak?” protes Agung.
“Lah, kirain setelah subuh tidur lagi..” Anton tertawa menatap Agung.
“Enak gak bubur ayamnya?” Agung ke pantry. Menyiapkan kopi untuk Anton, “Kopi sachet gak apa-apa ya Ton?”
“It’s OK, Bang..”
Ditinggal Agung, Anton dan Bramasta mengobrol seru. Saat Agung kembali dengan menyodorokan mug kopi ke arahnya, Anton meletakkan paper bag kecil di atas meja kaca.
“Nih, sudah jadi. Sudah terpasang sesuai spek yang diminta Abang..”
“Apaan tuh?” Bramasta penasaran, “Boleh gue lihat gak?”
“Lihat aja, Bang..” Agung duduk di sebelah Anton.
Bramasta mengernyit ketika mengeluarkan kotak arloji dengan merk arloji untuk remaja.
“G-Shock?” Bramasta membuka kotak arlojinya, “Warnanya girlie banget..”
Agung mengangguk, “Buat Adinda. Kejadian kemarin membuat gue juga memikirkan keselamatan Adinda.”
Bramasta mengangguk mengerti.
“Spek khusus apa yang diminta Agung, Ton?”
“Bisa mendengar suara dari jauh. Bukan sekedar melacak posisi saja,” Anton menyesap kopinya.
“Maksud Lu, seperti alat GPS pada mobil rental? Selain bisa melacak posisinya juga bisa mendengarkan pembicaraan yang ada di dalam mobil?”
Anton mengangguk.
“Ada tombol daruratnya juga?” Bramasta makin penasaran.
“Sure, ofcourse_Tentu saja dong_” Anton terkekeh.
“Kenapa Lu gak bisnis di peralatan spy saja, Ton? Masukkan saja ke perusahaannya Hans di AMANSecure sebagai outletnya. Lu ownernya. Sistem bagi hasil saja dengan AMANSecure.”
Agung menatap Anton dengan serius, “Benar apa kata Kakak Ipar, Ton...”
“Gue takut disalahgunakan oleh pembelinya...” Anton menggigit-gigit pangkal telunjuknya.
“Makanya buka outletnya di AMANSecure saja. Jadi pembeli bisa di-screening dulu oleh orang-orangnya Hans. Layak beli atau tidak,” Bramasta menatap mata Anton, “Nanti gue bicarakan dengan Hans ya. Gue sebentar lagi ke markas Shadow Team.”
Suara bel pintu membuat percakapan mereka terhenti. Semua saling pandang.
“Kakak Ipar sedang menunggu orang?” Bramasta menatap dengan penuh tanda tanya.
Agung menggeleng seraya bangkit untuk melihat layar monitor pintu.
“Loh kok?” Agung bergegas membuka pintunya.
.
***
Nahloh... Siapa tuh yang datang?