CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 58 - ROMANTISME HOLLYWOOD VS BOLLYWOOD



Bramasta kembali dibuat kaget dengan jeritan Adisti saat melakukan fisioterapi.


“Mbak, kok yang sekarang sakit banget sih? Kemarin gak sakit..” protes Adisti.


“Supaya cepat pulih, Nona..” terapisnya tersenyum menahan tawa.


Bramasta ingin berkomentar tapi urung dilakukan. Khawatir Adisti mode ngambek lagi. Dia hanya menatap Adisti dengan alis terangkat sebelah sambil bersidekap. Akhirnya sesi fisioterapinya selesai. Adisti dan Bramasta mengucapkan terimakasih kepada para terapis di sana.


“Kok Abang diam saja sih dari tadi?” tanya Adisti.


“Gak kenapa-kanapa. Cuma khawatir saja nanti takut salah ngomong lagi seperti kemarin. Nanti ngambek lagi…” Bramasta tersenyum di samping Adisti.


“Ma’af ya.”


“Kan udah dima’afin.”


“Eh iya, lagipula Abang juga udah bales ya?”


“Eh?”


“He he he… iya, iya… Disti tahu maksud Abang. Jangan bosan-bosan untuk mengingatkan Disti ya Bang..” kata Adisti yang tiba-tiba berjalan di depan Bramasta sambil membalikkan tubuhnya. Mereka berjalan saling berhadapan sekarang.


“Disti ngapain jalan mundur?”


“Gak apa-apa..”


“Ishh sini jalan biasa lagi di samping Abang. Bahaya nanti bisa nabrak orang atau tiang rumah sakit.”


“Sengaja, Bang.. Buat menghalangi pandangan para fans Abang. Supaya mereka gak melototin Abang Bramasta mulu.”


“Memangnya kenapa kalau mereka lihatin Abang? Kan mereka punya mata, terserah mereka dong,” Bramasta gemas dengan tingkah laku Adisti. Bahkan perawat yang mendampingi mereka pun terkikik geli.


“Nope. Coz you are mine,” Adisti memberi jari love pada Bramasta sambil berjalan mundur.


“What? Say once more, please?_Apa? Bilang sekali lagi dong_” Bramasta tersenyum simpul.


“Abang Bramasta is mine. Only for me,” Adisti berkata dengan penuh percaya diri tapi dengan pipi memerah.


“Really?” Bramasta tersenyum lebar.


“Ho oh.”


Koridor yang tadinya lurus tiba-tiba berbelok.


“Awas…!” Tangan Bramasta terulur ke depan dan ia tidak sempat menyelesaikan ucapannya.


Punggung Adisti membentur sudut ruang yang berada di belokan. Punggungnya yang tertahan tembok memantul ke depan. Tubuhnya limbung. Pengawal yang berada di depan langsung siaga menangkap tubuh Adisti apabila menjeblak ke arah belakang. Tapi tubuh Adisti limbung ke arah depan. Bramasta sigap meraih tangan Adisti yang terulur ke depan. Menariknya ke dalam pelukannya. Pengawal dan perawat pendamping bernafas lega.


“Sudah.. sudah aman sekarang. Disti gak apa-apa kan?” masih dalam pelukannya, Bramasta menepuk-nepuk punggung Adisti, “Lukanya terbentur gak?”


Adisti menggeleng. Lutut dan tubuhnya gemetar karena kaget.


”Yang terbentur alhamdulillah punggung kanan,” Adisti mendongak menatap wajah Bramasta yang tengah menunduk menatap Adisti.


“Eh, ma’af,” keduanya berseru bersamaan sambil mundur selangkah. Keduanya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sambil membungkukkan badannya, “Ma’af..”


Pipi keduanya memerah. Saling beristighfar sambil mengelus dada untuk meredakan debar yang ada.


“Nona mau duduk dulu?” tanya pengawal yang di depan.


“Nggak Pak, terimakasih,” Adisti bersandar pada tembok.


Bramasta tiba-tiba berlutut di depannya. Menekuk sebelah lututnya.


“Disti diam dulu. Jangan bergerak.”


[Eits, si Abang Ganteng mau ngapain sih?]_Adisti terperangah menatap ke bawah.


Tangan Bramasta meraih tali sepatu Adisti. Menyimpulkannya dengan benar lalu menyelipkan kedua ujungnya ke dalam sepatu.


[Yaelah… benerin tali sepatu Disti yang lepas. Kirain mau bikin adegan romantis seperti yang di film-film]_Adisti menghembuskan nafasnya_[Tapi ini juga sweet banget deh… Hehehe… Jadi geli rasanya nih kaki. Hei kaki, kamu baik-baik saja ya di sana, jangan ngelunjak..]


“Issh Abang… Makasih banyak Bang..”


“Iya sama-sama. Udah sekarang jalannya biasa aja ya. Jangan jalan mundur. Kan tadi Abang udah bilang.”


“Iya.. ma’af.”


Mereka berjalan lagi menuju lift.


“Kirain Abang tadi mau ngapain sewaktu berlutut di kaki Disti..” kata Adisti.


“Emang nyangkanya apa?”


“Udah membayangkan adegan romantis saja ala-ala Hollywood, K cinema, de el el.”


Bramasta tergelak.


“Bollywood gak disebut?”


“Nggak Bang. Kalau Bollywood itu harus ada hujan atau di padang bunga dan harus kolosal, melibatkan orang banyak. Latihan tarinya lama Bang supaya gerakannya kompak. Memangnya Mbak Perawat dan bapak-bapak Pengawal mau kita ajakin adegan tari kolosal India?”


Perawat pendamping dan para pengawal terkekeh mendengar celotehan Adisti.


Bramasta melongo mendengar penjelasan Adisti yang panjang.


Tidak berapa lama mereka sampai ke ruangan rawat inap mereka. Agung masih berkutat dengan kertas-kertas dan laptopnya. Ada Indra yang sudah menunggu Bramasta sambil menyesap kopi dan memainkan gawainya.


“Wow, kalian bikin adegan romantis apa tadi?” tanyanya.


“Apaan?”


“Nih ada video kalian dengan judul So Sweet.”


Agung mendengakkan wajahnya, memandang Indra lalu meraih gawainya. Mengecek trending video.


“Dih, judulnya kok norak ya,” kata Adisti sambil mengecek gawainya.


“Adek ngapain jalan mundur sih?” tanya Agung.


“Kayaknya Disti sedang merasa punya mata ketiga di belakang kepalanya, Kakak Ipar.”


“Lah terus sampai nabrak dinding begitu mata ketiganya lagi merem atau lagi kelilipan?” Indra terkekeh.


“Isssh mode petakilannya lagi kumat nih Adek. Makanya Dek…” Agung tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.


“Kan Disti sudah minta ma’af ke Abang Bramasta,” potong Adisti cepat, “Ya kan Bang?”


Bramasta mengangguk.


“Dari ekspresi Adek saat Abang Bramasta menalikan tali sepatu Adek, kayaknya Adek baper deh..” Agung terkekeh.


“Yang baper buka cuma Adisti doang, para cewek-cewek juga baper. Baca komentarnya,” Indra terkekeh lagi.


“Sudah..sudah. Adisti jangan digodain melulu. Kasihan calon istri Abang,” Bramasta menengahi sambil tersenyum memandang Adisti. Adisti membalas senyuman Bramasta disertai jari love-nya.


“Mulai deh..mulai bucinnya,” Agung memandang sebal pada mereka berdua, “Dari semalam kalian berdua ini kompak banget bucinnya melukai jiwa jomblo yang jadi baby sitter mereka.”


Semuanya tertawa mendengar ucapan Agung.


Pintu diketuk dari luar. Dokter dan perawat masuk sambil mengucap salam. Visit terakhir dokter hari ini karena mereka akan pulang hari ini.


“Bagaimana punggungnya tadi yang terbentur tembok?” tanya dokter.


“Kan kami di rumah sakit ini jadi penggemar numero uno-nya kalian,” kata dokter sambil terkekeh. Para perawat pendampingnya pun mengangguk mengiyakan.


Bramasta dan Adisti melongo. Agung dan Indra tergelak.


“Eh, beneran loh ini,” kata dokter itu lagi memandang Agung dan Indra, “Bahkan para direksi pun begitu. Kata mereka Bramasta dan Adisti bawa hokki buat rumah sakit ini.”


“Waduh..” Bramasta dan Adisti saling berpandangan lalu keduanya saling mengangkat bahu.


“Kami malah tidak mengira ada yang merekam kejadian di koridor tadi,” kata Adisti.


“Famous couple memang beda, selalu diintai paparazzi,” kata dokter sambil terkekeh, “Wah.. kalian sudah bersiap-siap untuk pulang nih?”


Dokter menunjuk pada barang-barang bawaan yang sudah rapi di dalam tas.


“Kangen rumah, Dok,” jawab Adisti sambil tersenyum.


Adisti masuk ke dalam biliknya. Para perawat menutup tirai. Agung mendampingi Adisti yang tengah diperiksa dokter.


“Ndra, nanti siapa yang bakal ngambil setelan jas lu di The Ritz?” Bramasta bertanya dengan suara pelan.


“Gue minta tolong anak cewek aja. Gak tega gue kalau nyuruh anak laki. Berasa ngumpanin dendeng ke kucing garong,” jawab Indra yang membuat Bramasta terkekeh.


“Beneran gak kangen ke Rita?” Bramasta menggoda Indra.


“Isssh na’udzubillah mindzaalik. Pait..pait..pait kalau dideketin wanita buas seperti itu.”


“Emang dia tawon? Sampai dijampi pait pait pait begitu,” kata Agung sambil terkekeh lalu duduk di sofa U.


“Disti sudah diperiksanya?” tanya Bramasta.


“Sudah. Dokternya juga sudah keluar kok. Sekarang hanya menunggu surat kontrol dan surat keterangan pulang dan bill saja nanti diantarkan oleh perawat.”


Bramasta meraih dompetnya lalu mengeluarkan sebuah kartu dengan logo bank. Disodorkannya kepada Indra.


“Would you, please?”


Indra menerimanya sambil tersenyum.


Saat turun, bunga-bunga yang memenuhi lantai bawah sudah tidak ada. Mommy menyuruh pegawainya untuk membagikan bunga yang ada kepada semua pasien ataupun keluarga pasien. Sedangkan kartu-kartu ucapannya dikumpulkan. Kata Mommy akan dibuatkan pigura khusus untuk menampung kartu-kartu ucapan pada bunga sebagai kenang-kenangan.


Indra mengantar Agung ke kantor Sanjaya Group karena Agung tidak membawa kendaraan. Sebelum akhirnya Indra melaju ke kantor B Group. Sementara itu Bramasta mengantar Adisti pulang ke Keluarga Gumilar. Sebuah mobil SUV hitam mengawal di belakang mereka.


“Tentang obrolan kita yang tadi pagi setelah kejadian di koridor,” Bramasta menoleh sebentar pada Adisti, “Kalau Disti mau, Abang bakal wujudkan kok adegan romantisnya. Tapi jangan yang a la Bollywood ya. Repot.”


Adisti terkikik geli, “Ya ampun, Abang.. Orang Disti cuma bercanda kok.”


“Diseriusin juga gak apa-apa kok.”


“Beneran? Sekarang?”


“Eh??” Bramasta menoleh cepat, “Nggaklah.”


“Lah.. kirain.”


“Nanti saja kalau sudah halal, ya.”


“Masa udah ijab kabul dilamar lagi?”


“Hah??”


“Kenapa? Kok kaget begitu?” tanya Adisti.


“Jadi adegan romantis yang dibayangkan Disti itu adegan lamaran?”


Adisti mengangguk sambil menutup mulutnya dengan tangannya karena tertawa.


“Masa udah dilamar pakai lamaran lagi?” Bramasta memandang jalanan di depannya.


“Isssh Abang ih. Memangnya Abang mengira apa yang ada di dalam benak Disti?”


“Candle light dinner.”


“Laaah,” giliran Adisti yang menatap Bramasta heran.


Gawai Bramasta berdering panggilan masuk. Tombol loud speaker dinyalakan.


“Assalamu’alaikum Dearest Mommy..”


“Wa’alaikumussalam. Lagi nganterin Disti ya?’


“Iya Mommy.”


“OK, nanti habis antar Disti, Bram langsung pulang ya.”


“Kenapa Mom?”


“Kalian dipingit. Gak boleh ketemuan. Gak boleh teleponan apalagi ViCall.”


“Pesan chat masih boleh kan Mom?”


“Gak boleh sering-sering”


“Isssh Mommy…”


“Gak boleh protes. Kalian udah lebih dari 48 jam barengan terus. Apa belum cukup?”


“Iya…”


“Nurut ya.”


“Iya…”


“OK, Bye. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam.”


Bramasta dan Adisti saling berpandangan. Gerbang kompleks rumah Adisti sudah terlihat dari kejauhan. Keduanya menghela nafas.


“Bang,” panggil Adisti.


“Hmm?”


“Bisa putar balik gak?”


“Kenapa? Ada yang ketinggalan?” Bramasta terkejut.


“Nggak.. biar lebih lama lagi sampai ke rumahnya..”


“Haissssssh.”


*


Menjadi silent reader itu sangat menyesakkan bagi Author.


**Jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab ya.


Like, vote, bintang ataupun tombol hadiahnya dipencet. 😁😁


Love you Gaess**.