CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 299 – KEDATANGAN ADINDA



Agung meletakkan tas-tas belanjaannya di atas meja pantry. Raditya tengah melakukan zoom online.


Dia melirik ke arah Indra dan melambaikan tangannya. Agung mengacungkan roti sisir pesanannya. Raditya tertawa lalu dengan gerakan telapak tangannya meminta Indra untuk memberikannya.


Agung terkekeh. Mendekati Raditya, berusaha untuk tidak masuk ke dalam frame kamera laptop. Tapi dengan jahilnya, Raditya sengaja memutar laptopnya hingga Agung masuk ke dalam frame kamera.


Radit melepas headsetnya. Mengaktifkan loudspeaker laptop. Suara peserta meeting terdengar cukup heboh di ruangan melihat penampakan Agung.


“Itu Agung Aksara Gumilar?”


“Waah.. our hero nih.”


“Pak Agung, terima kasih banyak!”


Agung berdiri canggung di depan kamera laptop. Agung mengangguk dan tersenyum ke arah kamera. Raditya terkekeh.


“Thanks ya Gung..” Raditya melambaikan roti sisir yang dimintanya tadi ke arah Agung.


Agung hanya tertawa.


“Saya di sofa depan ya, Bang. Sebentar lagi meeting juga.”


“OK..” Raditya mengangguk. Lalu mengembalikan arah laptop ke arahnya. Menonaktifkan lagi loudspeaker. Headsetnya sudah terpasang di telinganya.


“Man, bisa minta tolong bereskan belanjaan? Kantong belanjanya nanti dilipat saja, taruh di dalam laci.”


Man mengangguk.


“Kang, tadi Nona Adinda ke sini. Tidak lama setelah Kang Agung pergi belanja..”


“Lama?”


“Nggak, cuma sebentar.”


“Ada pesan?”


“Katanya sepulang sekolah mau ke sini lagi.”


Agung mengangguk. Lalu mengaduk isi tas belanjaan yang ia pisahkan. Mengambil 2 buah Tshirt yang tadi ia beli untuk Man.


“Buat kamu, Man. Buat baju ganti kamu..”


Man tersenyum lebar.


“Hatur nuhun pisan. Kang..”


“Sawangsulna..”


Agung berjalan ke arah panel lemari dinding. Dia mengambil sebuah kemeja lengan pendek yang masih terbungkus plastik dan sekotak underwe4r. Menunjukkannya pada Raditya.


“Buat Abang!” Agung berkata tanpa suara, hanya gerakan bibir saja.


Raditya mengangguk dan tersenyum lebar. Lalu memberikan dua jempol ke arahnya. Agung tertawa lalu memasukkannya ke dalam lemari.


Gawainya sudah ia aktifkan lagi sambungan datanya semenjak ia memasuki pelataran rumah sakit.


Adisti dan Bramasta meneleponnya. Mereka berdua sudah berada di dalam mobil menuju bandara. Walau memakai pesawat pribadi tetapi mereka tidak boleh telat untuk jam penerbangannya.


“Susah banget sih dihubungi?” suara Adisti terdengar jengkel.


Agung membayangkan adiknya tengah mencebik saat bicara dengannya.


“Kakak tadi belanja dulu di mall dekat rumah sakit. Ini baru pulang.”


“Ketemu Dinda gak? Tadi bilangnya mau mampir ke rumah sakit.”


“Nggak.Kakak sudah keburu pergi.”


“Dinda nanyain, Kakak kenapa? Gak bales pesan juga susah dihubungi.”


“Kakak sibuk banget, Dek,” Agung jeda sejenak, “Sibuk urusan kantor sama proyek Kakak..”


“Tapi Dinda jangan dianggurin begitu dong. Kasihan. . Kakak yang jauh lebih tua harusnya mengalah.”


“Kata Man, nanti sepulang sekolah Dinda mau mampir lagi kemari,” Agung sengaja mengatakan itu agar Adisti tidak panjang kali lebar menanyakan tentang Adinda.


“Temuin Adinda. Baik-baik sama Adinda. Awas loh kalau Kakak bikin sedih Dinda. Disti duluan yang bakal menghajar Kakak. Ingat, Dinda punya 5 abang cowok yang jago beladiri semua..”


“Dek, ancamannya seram amat sih?”


“Woyyyaadooong. Kudu itu. Apalagi berhadapan dengan orang pecicilan sama Kakak.”


Bramasta membuat pesan teks untuk Agung.


Bramasta_Kakak Ipar semalam pergi kemana? Hans sudah cerita ke gue tentang tadi pagi. Kakak Ipar sudah mencoba bicara dengan Adinda?_


Agung_Belum_


Bramasta_Kalau mau cerita, saya siap kok. Jangan sungkan, Kakak Ipar_


Agung_I need time to calm down first_


Bramasta_OK_


Notifikasi pesan chat berbunyi. WAG Kuping Merah.


Hans_Gue off seminggu ya Guys.. Mulai besok. _


Bramasta_Kemana?_


Hans_ Raja Ampat, Papua_


Agung_Ciyus Bang? Terus, ini... Bang Radit bagaimana?_


Hans_Ya gak gimana-gimana Gung. Pak Radit tetap dibawah perlindungan AMANSecure. Saya kan juga cuma seminggu. Pak Radit belum bisa pulih sebelum seminggu. Dia sudah mulai WFH kan?_


Agung_Iya Bang_


Anton_AMANSecure dan Shadow Team siapa yang handle?_


Leon_Sudah diputuskan oleh Daddy, Hans tetap handle Shadow Team tapi tidak secara langsung, selama dia liburan. AMANSecure di handle oleh kita, Kuping Merah_


Agung_Whatttt? _


Leon_Sore nanti kita meeting ya di ruang rapat Shadow Team, minus Bramasta karena dia ke NZ hari ini. Ndra, lu bisa hadir kan?_


Indra_After office hour kan? Insyaa Allah gue bisa usahakan. Gung, lu hadir ya_


Agung_Insyaa Allah, Bang_


Agung tengah berbicara di depan latopnya untuk memimpin meeting dengan anak buahnya saat suara Adinda terdengar. Dirinya hanya melambaikan tangan ke arah Adinda.


Adinda menyapa Raditya dan melambaikan tangannya ke arah Raditya lalu berjalan ke sofa U. Duduk di salah ujung sofa bersebrangan dengan Agung.


Agung tampak fokus mendengarkan lewat headsetnya.


Suasana hati Agung sedang tidak baik. Agung mendengarkan lagi. Wajahnya mendung.


Adinda memperhatikan Agung dengan hati menciut. Dia baru pertama kali ini melihat Agung dalam suasana hati yang buruk.


Saat matanya bertemu dengan mata Agung, Adinda bertanya tanpa suara.


“Sampai jam berapa?”


Agung hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng kecil. Adinda menyiratkan kecewa. Dia menarik kakinya ke atas sofa. Memeluk lututnya.


10 menit berlalu. Adinda bosan berselancar dengan gawainya. Dia menatap Agung yang masih meeting online.


Tubuhnya direbahkan meringkuk. Kakinya diletakkan di sandaran sofa. Sebelah lengannya menutupi matanya.


Agung menatap sejenak. Kemudian fokus lagi ke layar laptopnya.


10 menit kemudian, Agung berdiri, mengambil bantal dari tempat tidur keluarga pasien lalu membawanya ke sofa. Dengan hati-hati, diletakkannya bantal di bawah kepala Adinda.


Adinda bergumam.


“Ssssshh tidur lagi. Pakai bantal ini supaya lehernya gak sakit..”


Agung kembali lagi ke depan laptopnya. Meetingnya sudah selesai. Dia menyelesaikan memeriksa laporan yang dibuat anak buahnya.


Adinda masih terlelap. Dia bergulir miring. Mengganti posisi tidurnya. Gerakannya membuat rok abu-abunya tersingkap hingga setengah betisnya. Untung saja dia memakai kaos kaki panjang.


Agung mendekati Adinda. Menurunkan ujung roknya yang tersingkap.


Adinda terbangun.Menatap Agung dengan heran.


“Om Agung ngapain? Kenapa megang rok saya?”


“Saya gak ngapa-ngapain.”


“Itu.. ujung roknya dipegang Om Agung.”


“Kamu tidur sembarangan. Rok kamu tersingkap. Saya benerin rok kamu.”


“Iya kah?” Adinda memicingkan matanya menatap Agung.


Agung berdecak. Dia kembali lagi ke depan laptopnya. Memaksakan dirinya lagi untuk fokus dengan pekerjaannya atau berpura-pura fokus.


“Kamu sudah makan?” Agung akhirnya bersuara setelah mereka berdiam diri entah berapa lama.


“Sudah.”


“Pulang ke rumah saja kalau ngantuk. Tidur di rumah kan lebih enak. Gak ada yang gangguin kamu. Kamu juga bebas mau tidur dengan gaya apa saja..” Agung berbicara sambil menekuri kertas berkas di hadapannya.


Adinda terdiam agak lama. Kemudian mengenakan sepatunya.


“Om Agung kenapa? Dari semalam kenapa seperti yang berbeda?”


“Saya tidak kenapa-napa.”


“Jangan bohong, Om.”


“Semalam saya capek.”


“Postingan Om di iG. Artinya Om gak langsung pulang ke sini kan?” Adinda menatap Agung yang masih tetap menekuri berkas. Sesekali membolak-balikkan berkasnya.


"Ada banyak hal yang sedang saya pikirkan semalam."


"Bahkan Om tidak membaca pesan saya walau sudah dua centang abu.”


“Batere saya mati.”


“Pagi tadi saya ke sini..”


“Kamu kan tahu saya sedang belanja. Pak Man dan Bang Radit memberitahu kamu kan?”


Adinda mengangguk.


“Om, plis deh kalau bicara lihat orang yang mengajak Om bicara.”


“Saya sedang sibuk. Kamu lihat sendiri kan?”


“Tapi gak gitu juga, Om..”


“Ini masih jam kantor.”


“Biasanya juga Om gak seperti ini. Om masih menyediakan waktu Om untuk sekedar menjawab saya dengan melihat ke saya. Gak seperti sekarang ini!”


Agung tidak menjawab. Dia membuat panggilan dengan salah satu anak buahnya.


“Assalamu’alaikum. Kalau sudah siap berkasnya bawa ke sini ya. Nanti saya tanda tangani. Terima kasih.”


Adinda menatap lekat Agung. Dia beringsut mendekati Agung.


“Om..”


“Hmm..”


“Kalau saya ada salah ke Om," Adinda menjeda kalimatnya, "Kalau saya membuat Om tersinggung, saya minta ma’af, Om..”


Agung berhenti membolak-balikkan berkas. Dia menatap Adinda sebentar.


"Kamu gak salah apa-apa kok..”


“Tapi kenapa Om mendiamkan saya?”


“Saya sedang sibuk, Din.”


Adinda berdiri. Menghampiri Agung. Meraih tangan Agung lalu salim.


“Ma’af. Ma’afkan saya sudah mengganggu waktunya Om Agung. Saya.. saya tidak akan ganggu Om Agung lagi.”


Agung membeku. Matanya menatap punggung tangannya yang baru saja disalimi oleh Adinda. Hidung Adinda baru saja menyentuh punggung tangannya. Pertama kalinya Adinda menyaliminya.


Hatinya berdenyut nyeri saat teringat bagaimana mata Adinda tadi menatap dirinya. Tiba-tiba saja jantungnya terasa teremas. Nyeri selama dua detik.


Saat dirinya mendongak. Adinda sudah tidak ada di ruangan ini. Adinda sudah pergi. Agung terdiam.


.


***


Gung, Lu gak kasihan ke Dinda?


Jahara ih! Gak ingat dengan ancaman Disti?


Jangan lupa like dan minta update ya..


Utamakan baca Qur’an 🌹