CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 106 – A 4 B



Pagi itu, Adisti kembali melanjutkan lukisannya. Matahari sudah muncul, Bramasta menyiapkan sarapan di pantry-nya. Nasi ayam dengan tumisan bayam bumbu minimalis, hanya garam, merica dan bawang putih saja.


Aroma bawang putih yang ditumis membuatnya menyudahi kegiatan Adisti. Dia meletakkan pisau palet dan membereskan cat-catnya. Masuk ke dalam rumah, melihat suaminya dengan sibuk dengan pan dan spatulanya.



“Sini menunduk, Pak Bramasta Suaminya Disti!” perintah Adisti saat berada di samping suaminya, "Jangkung amat sih?"


Bramasta membungkukkan tubuhnya. Matanya melirik pada pan di atas kompor. Adisti tidak menyia-nyiakan waktu. Segera dikecupnya dahi, pipi, hidung dan bibir suaminya.


“Makasih Pak Bramasta...” kata Adisti sambil mencuci tangannya yang terkena cat minyak.


Bramasta tertawa dengan tingkah istrinya.


“Bu Adisti Istrinya Bramasta tolong ambil piring makan yang besar ya, di lemari bawah," menunjukkan letak lemari dengan matanya.


"Jangan yang itu, yang kuning pucat saja,” Bramasta menerima piring dari tangan istrinya, “Thankyou Mrs. Bramasta.”


Dengan cekatan, suaminya memasukkan nasi ayam, mirip nasi goreng, dibumbui dengan bawang putih cincang, merica, kecap ikan dan minyak wijen ke dalam mangkuk kecil. Lalu membalikkan mangkuk di atas piring.


Nasi tercetak dengan sempurna. Bramasta memberi taburan daun bawang iris dan biji wijen sangrai di atasnya. Di tepi piring, dia meletakkan tumisan bayam yang ia taburi juga dengan biji wijen.


“Perfect. It’s looking very delicious, Mr. Bramasta_Sempurna. Terlihat sangat lezat, Tuan Bramasta_,” Adisti meraih piring dari tangan Bramasta sambil mengecup pipinya lagi. Lalu membawa piring ke meja makan.


Adisti kembali mengambil piring satu lagi. Lalu meletakkannya di atas meja makan. Bramasta yang sudah duduk di kursinya menangkap tangan Adisti. Menariknya mendekat. Memangkunya lalu mencium bibirnya.


“Ceria banget, Ibu Bramasta pagi ini..” Bramasta menatap mata istrinya lekat. Pipi Adisti merona.


“Iya dong...” kekeh Adisti, “Terima kasih sudah jadi chef pagi ini. Ma’af Disti gak bantuin masak.”


“It’ s OK. No problem. Abang suka masak. Memasak membuat Abang rileks. Membantu Abang untuk berpikir."


“Kemarin Kakak ngomong banyak ke Disti. Tentang Abang, tentang Disti juga tentang kita,” Adisti memeluk leher suaminya. Dia masih duduk di atas pangkuan suaminya.


"Makan dulu yuk," Bramasta menepuk punggung istrinya.


Adisti mengangguk. Dia duduk di kursi yang menghadap suaminya.


"Tentang akun sosmed Disti, Disti beri nama A4B aja ya," Adisti menatap Bramasta sambil tersenyum.


Bramasta mengangkat sebelah alisnya, "A4B? Adisti for Bramasta?"


Adisti mengangguk.


Bramasta tersenyum lebar, "So sweet banget memang Nyonya Bramasta. Love you more!"


Setelah membaca do'a makan, Bramasta menunggu reaksi istrinya untuk masakannya. Sambil memakan masakannya sendiri di piringnya.


"Well?_Bagaimana_?"


Adisti tersenyum lebar sambil menutupi bibirnya. Lalu memberi 2 jempol tangannya dengan penuh semangat.


"Gak sangka, Tuan Bramasta jago banget masak!"


"Really?_Yang bener?_"


"Beneran. Enak pakai banget. Masyaa Allah... "


"Setelah makan Disti mau melukis lagi?"


Adisti menggeleng.


"Disti kehabisan minyak catnya. Ada di rumah, di garasi. Juga ada beberapa kuas yang Disti perlukan yang masih ada di garasi."


"Mau ke rumah Ayah?"


Adisti menggeleng.


"Nanti biar Kakak saja yang antar ke sini. Sekalian bawa titipan Bunda buat kita."


"Apaan tuh?"


"Gak tahu. Kakak gak mau cerita banyak."


"I will clean up the house_Abang mau bersihkan rumah_" Bramasta meletakkan sendoknya. Dia sudah selesai makan.


"Disti mau beresin baju-baju belanjaan kita kemarin ya Bang. Mau Disti cuci dulu."


Saat melihat suaminya bangkit sambil membawa piring, Adisti langsung berkata, "Abang gak usah cuci piring. Disti saja. Kan Abang sudah masak tadi.."


"OK.. Thanks Wifey.." Bramasta mengerling pada Adisti.


"Don't mention it, Hubby.." Adisti memberi sun jauh untuk suaminya.


"Ternyata enak banget ya menikah. Sarapannya jadi ramai.."


Adisti terkekeh mendengar celotehan suaminya.


***