
Pukul 20.30, mereka membubarkan diri. Mobil Anton ditinggal di basement markas.
“Kita langsung pulang, Pak Agung?” tanya Driver.
“Iya Pak.”
Agung membuka gawainya, mengetik pesan chat untuk adiknya.
Agung_Assalamu’alaikum Dek. Tolong jagain Abang Bram ya. Kita semua sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja pasca menonton rekaman CCTV nightclub kiriman Lothar Schuemaker. Bahkan Anton sampai muntah-muntah saat menontonnya_
Adisti_Memangnya kenapa Kak?_
Agung_Kesadisan dan kengeriannya bikin kita semua shock. Untung saja Adek gak ikut nonton tadi_
Adisti_Alhamdulillah, Allah masih melindungi Adinda untuk tidak menjadi korban perdagangan ibu tirinya yang hendak dijual ke Bryan ya Kak_
Agung_Iya_
Agung hanya membalas dengan satu kata yang pendek. Pikirannya dipenuhi Adinda sekarang. Tengkuknya merinding membayangkan bila Adinda tidak berhasil mereka selamatkan pada malam itu.
Mobil berhenti di depan rumah. Agung turun dengan lesu. Wajahnya lelah dan murung. Dia mengucap salam saat memasuki rumah. Suara televisi terdengar dari pintu.
“Wa’alaikumussalam..” Adinda menongolkan kepalanya dari tembok ruang tengah sambil tersenyum lebar, “Om Agung pulang.. Bawa oleh-oleh apa buat Dinda?”
Agung tersenyum hambar lalu menyentuh pucuk kepala Adinda yang terbungkus hijab.
“Katanya gak mau disebut bocil. Tapi kelakuan kamu masih seperti bocil. Minta oleh-oleh saat saya datang..”
“Isssh Om Agung..” Adinda mencebik.
Agung sedang tidak ingin menanggapi ocehan Adinda kali ini. Tubuh dan pikirannya benar-benar lelah. Diletakkannya tas kerjanya di meja ruang tengah. Lalu menuju pintu halaman samping, mencari Ayah dan Bunda.
“Ayah ada rapat di masjid. Bunda ada di kamar, Om..”
“Oh.”
Adinda mengernyitkan dahinya saat melihat Agung mengetuk kamar Bunda. Cukup lama Agung berada di kamar Bunda. Berkali-kali Adinda menoleh ke arah Bunda berharap Agung keluar dari kamar Bunda untuk menemaninya mengobrol seperti biasa.
Ketika yang ditunggu akhirnya keluar juga, dahinya semakin mengernyit. Wajah Agung terlihat kusut dan matanya sembab.
[Om Agung menangis?] Adinda menatap punggung Agung yang sedang mencuci tangannya di pantry. Bunda ada di belakangnya menepuk-nepuk punggung Agung.
[Ini sebenarnya ada apa?]
Mata Adinda bertemu dengan mata Bunda. Adinda bertanya tanpa suara kepada Bunda. Bunda hanya menggeleng dan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
“Dinda sudah makan?” suara Agung mengagetkannya.
Adinda mengangguk. Dia menghampiri Agung yang tengah duduk di kursi makan. Tudung saji dibuka oleh Bunda. Agung hanya menatap menu makan malam mereka. Kemudian menutup lagi tudung sajinya.
“Kenapa? Kakak mau dibuatkan apa?”
“Nanti saja Bun. Kakak betul-betul tidak berselera makan malam ini. Kakak mau mandi dulu. Mungkin setelah badan agak segar, Kakak bisa makan..” Agung bangkit dari kursinya lalu mengambil tas kerjanya untuk dibawa ke kamarnya.
Saat berada di tangga paling atas, Adinda memandanginya dari bawah.
“Om? Are you OK?”
Agung hanya menggeleng lalu melanjutkan langkahnya ke dalam kamarnya.
“Bun..?” Adinda menatap Bunda dengan penuh tanya.
Bunda menepuk-nepuk punggung Adinda.
“Ini hari yang sangat berat bagi Om Agung. Bukan hanya Om Agung saja tapi juga semua abang-abang Dinda. Dinda dampingi Om Agung ya supaya bisa sedikit melupakan masalahnya.”
“Masalah apa sih Bun? Pekerjaan? Om dan para abang sedang ada masalah di kantor? Sanjaya Group dan B Group sedang bermasalah?” Adinda masih menatap Bunda.
Bunda tersenyum dan menggeleng, “Tidak.. tidak.. Ini bukan tentang pekerjaan ataupun perusahaan. Ini tentang...orang yang hendak membeli Dinda. Bryan Amsel.”
“Kenapa lagi dengannya? Bukannya dia sudah dideportasi?”
Bunda mengangguk, “Dia dilindungi oleh temannya yang berkuasa di sana. Untouchable person. Om dan abang-abang Dinda berusaha membuatnya dipenjara...”
“Asal orang itu bisa jauh-jauh dari Dinda, Dinda rasa sudah cukup, Bun. Om dan abang-abang Dinda tidak perlu bersusah payah untuk membuatnya masuk penjara.."
"Gak sesederhana itu, Nak. Gak semudah itu. Ini tentang kemanusiaan. Karena Bryan dan pelindungnya itu sesama predator yang gila. Mereka juga membunuh para korbannya. Kalau dibiarkan bebas, maka korban akan terus berjatuhan. Banyak keluarga korban yang akan merasa kehilangan dan sedih,” Bunda mengajak Adinda duduk di sofa ruang tengah.
“Bun.. Om dan para abang tidak terlibat sesuatu yang berbahaya kan?” Adinda memeluk lengan Bunda.
“Do’akan saja supaya mereka selalu dalam lindungan Allah ya..”
Adinda memeluk Bunda.
“Kalian sedang ngapain?” suara Agung membuyarkan pelukan mereka.
Penampilan Agung tampak lebih baik dari saat dia datang tadi.
“Kakak suda sholat?”
Agung mengangguk, “Sudah Bun.”
“Mau maka sekarang?”
Agung menggeleng, “Kakak mau jajan saja Bun. Mie ayam yang di depan.”
“Kebiasaan banget sih Kak. Kalau sedang ada masalah selalu melarikan diri ke mie ayam..” Bunda terkekeh.
Adinda hanya mengamati Agung dan Bunda.
“Irawan tadi anterin motor Kakak, Bun?” Agung melongok ke garasi.
“Iya.. sudah disimpan rapi. Ditutupi juga pakai covernya..”
“Kuncinya mana Bun? Sekalian mau mencoba mesinnya. Males kalau jalan kaki ke depan...”
“Kakak lupa kalau Kakak baru sembuh?”
“Bun.. Kakak sudah tidak apa-apa sekarang. Sudah sehat..”
“No way.. Bunda sudah diamanati oleh Nak Hans untuk tidak memberikan kunci motor ke Kakak. Ini juga demi kebaikan Kakak loh...”
“Bun.. atuh laaaaah,” Agung merengek sambil memegangi lengan Bunda dan mencium pipinya.
"Ma’af Kak.. Bunda setuju dengan Nak Hans. Bunda yakin Nak Bram dan Nak Indra juga Nak Anton ikut mendukung Nak Hans.”
“Bun.. sekali aja. Nyobain aja..”
Agung menggaruk kepalanya, “Iya...”
“Om, nurut gih. Nanti Dinda temenin Om Agung beli mie ayam.”
Agung tersenyum pada Adinda. Lalu menoleh pada Bunda.
“Bunda mau nitip apa?”
“Pisang goreng tanduk aja.”
“OK.. Insyaa Allah. Tapi kalau kehabisan Bunda pengen apa?”
“Batagor kuah. Sekalian untuk Ayah ya..”
“Om, Dinda gak apa-apa kayak gini aja?”
“Emang kenapa? Lagian juga cuma ke depan doang. Pakai jaket.”
“Gerah Om.. kenapa harus pakai jaket?”
“Kamu pakai baju rumah. Kalau kesorot lampu jauh mobil, baju kamu bakal jadi transparan. Mau jadi terlihat seperti batman ataupun superman?” Agung menaikkan sebelah alisnya.
“Dih!” Adinda meringis.
Bunda terkekeh.
“Malas ke atas untuk ambil jaket..” Adinda tersenyum lebar.
“Ambil jaket saya di lemari. Salim ke Bunda.”
“Kalian hati-hati ya..” Bunda mengantar mereka berdua.
“Iya Bun..” keduanya kompak menjawab.
“Pak Agung, mau kemana?” tanya pegawal yang disediakan oleh Bramasta sebagai pengamanan.
Mereka bersiaga di teras rumah. Rumah depan kebetulan disewakan oleh pemiliknya. Ayah menyewanya untuk tempat para pengawal dan driver beristirahat.
“Mau ke depan Pak. Mau beli mie ayam.”
“Apa gak sebaiknya saya saja yang beli, Pak?”
“Insyaa Allahh tidak apa-apa Pak. Saya akan memakai topi agar tidak dikenali.”
“Tapi Pak Agung..”
“Untuk berjaga-jaga, Bapak ikut saja. Sekalian kita makan bareng ya Pak.”
Pengawal itu mengangguk lalu menghubungi temannya. Agung dan Adinda berjalan duluan. Dua orang pengawal mengikuti mereka dari jarak aman.
“Om, saya boleh nambah?” Adinda berusaha menyamai langkah kaki Agung yang lebih panjang dari langkah kakinya.
Agung menoleh. Matanya hanya terlihat sedikit karena pet topinya yang sengaja diturunkan.
“Katanya tadi sudah makan...”
“Kan saya masih dalam masa pertumbuhan, Om..” Adinda tersenyum lebar memamerkan dekik kecil di bawah matanya.
“Dasar bocil..” Agung terkekeh.
“Bisa gak sih Om...”
“Kenapa? Kan masih dalam masa pertumbuhan. Orang dewasa sudah gak tumbuh lagi. Tumbuhnya ke samping..”
Adinda mencebik.
“Dinda..” Agung menatap sandalnya.
"Hmm?"
"Terimakasih."
"Untuk?"
"Sudah membuat saya merasa lebih baik."
"It’s OK. Saya tahu Om sedang tidak baik-baik saja.”
“Hm,” tangan Agung dimasukkan ke dalam saku celananya.
“Om...” Adinda menoleh pada Agung.
“Apa?”
“Saya minta, Om Agung dan para Abang tidak menempatkan diri kalian dalam bahaya demi saya. Jangan mengorbankan diri kalian.”
“Why?” Agung berhenti berjalan. Dia memutar tubuhnya menghadap Adinda sekarang.
“Coz it’s not worth it_Karena gak sepadan_. Saya bukan siapa-siapa kalian. Saya cuma anak yatim pi..”
“Kata siapa kamu bukan siapa-siapa? Kamu adik kami. Sebagai kakak, wajib melindungi adiknya. Mengerti kamu?” ada amarah di mata Agung saat berbicara yang membuat Adinda tersentak.
Seperti tersadar nada ucapannya yang keras, Agung menghela nafas.
“Ma’af..” Agung berjalan lagi, kali ini dia berbicara dengan suara pelan, “Lagi pula kamu calon istri saya. Akan selalu saya jaga saat ini dan saat nanti setelah saya menghalalkan kamu. Kamu tanggung jawab saya dunia akherat.”
Adinda tidak bisa berkata-kata lagi.
“Jangan pernah merasa bahwa kamu bukan siapa-siapa lagi. Saya tidak suka. Mengerti?”
Adinda mengangguk. Melirik ke arah Agung yang tengah menatapnya.
Mereka harus menyeberang jalan. Jalanan cukup ramai. Agung memegang siku Adinda saat menyeberang. Genggaman tangan Agung pada sikunya yang terbungkus baju berlapis menimbulkan gelenyar yang aneh dan asing di dadanya. Tengkuk dan tangannya merinding. Adinda menatap tangan Agung yang memegangi sikunya hingga ke seberang jalan.
.
***
Mie Ayam is the best mood booster food.
Author setuju dengan Babang Agung.
Bungkus 1 buat Author ya Bang..
Jangan pakai saos, sambelnya banyakin 😁😁