CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 103 – SOMASI VS SUKSESI



“Kalian menjadi trending topic di Singapura saat peresmian The Cliff,” kata Bang Leon saat malam itu Kuping Merah berkumpul lagi di apartemen Bramasta.


“Kok bisa?” tanya Adisti.


“Karena kasus Ferdi Gunaldi tengah disorot media dan publik. Otomatis, Rita Gunaldi sebagai istri dari Ferdi ikut disebut-sebut namanya. Apalagi penangkapan Ferdi terjadi di rumahnya dan istrinya ikut bekerjasama dalam penangkapan Ferdi,” Leon meraih camilan keripik singkong dan keripik pisang yang dikirim Bunda sore tadi lewat kurir.


“Publik Singapur mencintai kalian berdua, mendukung kalian berdua. Apalagi pernikahan kalian yang begitu luar biasa dengan memakai video mapping pada tebing," Leon meraih keripik pisang lagi.


“Jangan terbuai dengan pujian,” Agung mengingatkan, “Ada lovers berarti juga ada haters.”


Anton mengangguk setuju.


“Adek malah takut dengan semua ketenaran ini..” Adisti menatap keripik pisang yang tinggal separuhnya.


Bramasta meraih tubuh istrinya. Dipeluk hangat.


“Gak perlu takut. Kita punya Allah sebaik-baik pemberi perlindungan. Kita semua di sini akan saling menjaga satu sama lainnya, saling mengingatkan satu sama lainnya.”


Semua mengangguk mendengar ucapan Bramasta.


Gawai Anton berdering. Anton membaca nama yang tertera ada layar.


“Gung, sambungkan kabel HDMI ke TV!” perintah Anton cepat sebelum dia menerima panggilannya sambil membuka beberapa ikon pada laptopnya yang sudah menyala.


“Assalamu’alaikum, ya Jok?” Jeda.


“OK. Saya sudah dapat gambarnya.” Jeda.


“OK. Thanks a lot. Wa’alaikumussalam.”


Anton mematikan panggilannya.


“Kunjungan Tuan Thakur lagi. Mobilnya baru saja memasuki pelataran parkir The Ritz.”


“Disti mengungsi lagi nih?” tanya Adisti kepada yang lainnya.


“Nanti. Kita lihat saja perkembangannya,” jawab Bramasta sambil meremat tangan istrinya.


***


Ruangan tunggu butik The Ritz terlihat jelas pada layar TV. Derap suara sepatu pria dan detak suara heels terdengar jelas.


“Rita sayang...” terdengar suara Tuan Thakur.


Beberapa pegawai yang sedang ada di ruang tunggu butik tampak menyingkir ke dalam.


Rita muncul dari ruang dalam dengan rok pendek mekar berwarna salem dan blus sabrina berwarna jingga terang. Tampak tersenyum menyambut Tuan Thakur.


Tuan Thakur tampak gagah dalam balutan celana denim warna biru gelap dengan kemeja denim warna biru pudar. Dia melihat masih ada beberapa pegawai di sana, raut wajahnya tampak tidak senang.


“Hai Sayang..” Rita mendekat, langsung menyambut dengan pelukan dan cipika-cipiki.


Berbeda jauh dengan kemarin malam karena para pegawainya sudah pulang.


“Jam berapa sampai dari Ujung Pandang?” tanya Rita.


“Sore tadi,” Tuan Thakur menjawab singkat. Seorang pegawai menyajikan teh dan kue-kue dalam piring saji kepada mereka.


“Terus?”


“Ya langsung pulang lah.. Setor muka ke istri. Kan semalam Abang tidak pulang,” Tuan Thakur berkata sambil terkekeh.


Rita mencebik mendengar kata istri.


“Kenapa mereka belum pulang?” Tuan Thakur menunjuk para pegawai yang berkumpul di ruang dalam dengan dagunya. Wajahnya tampak tidak senang.


“Kami baru selesai meeting tadi,” Rita menjawab dengan menyibakkan rambutnya dengan provokatif. Memamerkan lehernya yang putih.


“Meeting apa?” Tuan Thakur tampak cemberut.


“Kami menerima surat somasi dari beberapa perwakilan brand dunia.”


“Somasi tentang?”


“Pemalsuan, pelanggaran hak cipta dan merk dagang.”


“Kok bisa?”


“Karena memang ada beberapa item yang bukan asli.”


Tuan Thakur terkekeh.


“Berapa persennya?”


“65% palsu, tapi KW super buatan Korea. Kita gak mau buatan Cina apalagi lokal yang terlihat banget abal-abalnya.”


Tuan Thakur terbahak,“Coba bawa sini suratnya.”


Rita mengerling manja, “Ikut ke ruanganku saja yuk.”


“Gak. Terlalu mencolok, masih banyak pegawai kamu.”


“Mereka orang-orang kepercayaanku,” kata Rita, “Mereka gak akan macam-macam.”


Tuan Thakur menggeleng, “Mereka orang-orang kepercayaanmu, bukan orang-orang kepercayaanku.”


Rita mencebik. Tuan Thakur terkekeh senang sambil mencubit gemas dagu Rita.


Rita berdiri dan berlalu dari ruangan tunggu butik. Meninggalkan Tuan Thakur yang tengah sibuk dengan gawainya. Membuat panggilan telepon. Beberapa kali memandang ke arah ruang dalam lalu berbicara dengan berbisik pada lawan bicaranya.


“Bagaimana bisa? Ferdi sudah tamat. Seharusnya mudah dikuasai. T0L0L!” Jeda.


“Intimidasi saja manajernya. Persekusi sekalian kalau perlu.” Jeda.


“G0BL0K KAMU! Dasar tidak becus!” Jeda.


“Siapa hirarki tertinggi di sana sekarang?” Jeda.


“APAAA?!! Bagaimana mungkin!” Jeda.


“Tetap pantau terus. Tunggu kabar dari saya kapan mulai bergerak untuk menguasai aset-asetnya termasuk klien dan pemasoknya. Jangan melakukan hal yang mencurigakan!”


Tuan Thakur menutup panggilannya bersamaan dengan kemunculan Rita dari ruangannya sambil membawa surat somasi.


Wajah Rita seperti yang terkejut tapi kemudian dengan cepat ia tutupi dengan senyum cerianya seperti biasa.


Tuan Thakur memasang wajah ramah, kebapakan dan pria baik hati lagi. Membalas senyuman Rita.


“Telepon siapa?” tanya Rita manja.


“Anak buah. Bikin bete. Gak becus kerjanya,” kata Tuan Thakur mengambil surat yang ada di tangan Rita, “Masa Abang harus turun tangan sendiri untuk membereskan masalah sepele di wilayahnya?”


“Sabar...” Rita membelai dada Tuan Thakur dan membuka 2 kancing kemejanya.


Tuan Thakur menahan tangan Rita. Kemudian menggeleng sambil menunjuk ruang dalam dengan dagunya. Rita menghembuskan nafas kesal.


“Mau Abang bantu menyelesaikan masalah ini?”


“Mau dong.. mau banget.”


“Masalah kecil ini sih. Tekan saja para pemegang lisensinya. Ancam cabut izin usahanya atau kita sandera keluarganya dengan kasus settingan. Mereka tidak akan mengusik bisnis kamu lagi,” Tuan Thakur membel4i paha Rita.


“Tapi ini dari Singapura loh...” Rita menunjuk beberapa alamat pemegang lisensi.


“Kamu pikir, Abang tidak punya orang-orang di Singapura? Sembarangan kamu tuh..” Tuan Thakur menjawil dagu Rita lagi.


“Suruh orang-orang kamu pulang,” Tuan Thakur menatap mata Rita.


Rita mengangguk. Lalu berjalan ke ruang dalam untuk berbicara dengan para pegawainya.


Tuan Thakur membuat panggilan telepon lagi.


“Ya, bagaimana perkembangan kasus Ferdi di Singapura?” Jeda.


“Ada kemungkinan bebas dengan uang jaminan kah?” Jeda. Tuan Thakur tersenyum senang.


“Kira-kira hukumannya berapa lama?” Jeda. Tuan Thakur tertawa senang.


“OK. Thanks infonya ya.”


Terlihat di layar TV sepertinya Rita bersembunyi di balik tembok dalam. Ujung roknya yang mengembang terlihat di layar TV. Begitu Tuan Thakur selesai dengan panggilannya, Rita melenggang masuk ke dalam ruang tunggu butik.


“Sudah pulang semuanya?”


Rita mengangguk.


“Terus bagaimana dengan masalah somasi ini?”


“Percayakan saja pada Abang.”


“Bener nih?”


“Kamu gak percaya dengan Abang?”


Rita tersenyum manja. Lalu mencium pipi Tuan Thakur.


“Abang mau bantu tapi ada syaratnya...”


Rita tersenyum lebar lalu tertawa dengan suara yang berdenting seperti bunyi lonceng kecil. Dia menurunkan garis leher bajunya yang memang sudah sangat rendah. Asetnya menyembul dari garis leher blus sabrinanya.


Tuan Thakur terkekeh lalu menggeleng. Dia menaikkan lagi garis leher baju Rita yang diturunkan.


“Bukan itu yang Abang maksud. Kalau itu, Abang sudah sering dapatkan dari kamu. Bahkan baru semalam kan Abang dapat tanpa harus bertransaksi ataupun berbuat apapun untuk kamu.”


Rita cemberut. Merasa tertohok oleh ucapan Tuan Thakur. Dirinya betul-betul terhina. Dia menaikkan lagi blusnya dengan kasar.


“Mau Abang apa?”


“Setengah kekuasaan untuk tempat hiburan milik Ferdi di Batam.”


Rita memandangi wajah Tuan Thakur. Kemudian tertawa terbahak.


Tuan Thakur terlihat sangat murka. Merasa diremehkan oleh Rita. Dia bergerak cepat. Mendorong tubuh Rita hingga menyentuh dinding. Tangannya memegangi leher Rita. Tubuh Rita terhempas keras membentur dinding.


“Kamu pikir saya main-main dengan ucapan saya?!”


Tubuh Rita terangkat dengan leher berada di dalam cengkraman Tuan Thakur. Rita bergerak panik. Kaki dan tangannya meronta. Dia mencoba bernafas dengan mulutnya.


Mencoba menendang Tuan Thakur tetapi kakinya dihimpit oleh tubuh Tuan Thakur. Kedua tangan Rita memegangi tangan Tuan Thakur yang mencengkeram kuat lehernya mencoba melepas cengkraman tangannya.


Perjuangan hidup dan mati seorang Rita Gunaldi terekam kamera penyadap yang dipasang Anton dan kini tengah disaksikan oleh Gank Kuping Merah plus Adisti dari unit penthouse Landmark Residence Apartment.


***


Rita mendapat somasi.


Tuan Thakur menginginkan suksesi tahta dunia malam Batam.