CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 27 – GEMPOL TALK



“Bang, berhenti di taman itu. Kita turun di sini. Gak terlalu jauh kok.”


Bramasta berhenti di tempat parkiran motor. Ada banyak orang di taman yang mengenakan baju olahraga. Agung menepuk bahu Bramasta. Dia tahu apa yang berkecamuk di pikiran calon suami adiknya.


“Bang, Adek berbeda ke Abang.” Mereka melangkah bersama menyeberangi jalan menuju taman. Langkah mereka sejajar karena tinggi badan mereka sama. Bramasta menoleh.


“Berbeda bagaimana?”


“Perasaan Adek ke Abang tidak ada sangkut pautnya dengan hutang budi. Adek selalu berhati-hati bersikap terhadap lawan jenis. Bahkan dengan Tiyo, mereka tidak pernah duduk berdekatan seperti kalian tadi melihat laptop. Bahkan tadi dia berani meminta bonceng ke Abang kan di depan Ayah Bunda kan?”


Bramasta mengangguk.


“Yang Aa lihat, tiap kali Adek berbicara dengan Abang, matanya berbinar-binar. Tiap kali melihat Abang dengan diam-diam, wajahnya merona.” Agung menatap daun-daun di atasnya. Dia menoleh ke arah Bramasta sambil tersenyum, “Dan Adisti tidak pernah menyebut pria yang baru dikenalnya dengan MALAIKAT,” Agung terkekeh.


Mereka memesan 5 bungkus kupat tahu.


“Kita gak makan di sini?” tanya Bramasta.


“Nggak. Lebih enak dibungkus. Porsinya lebih banyak dan bumbunya lebih menyerap ke dalam tahu dan kerupuknya. Pokoknya lebih enak kalau dibungkus. Percaya deh.”


Mereka berhenti di penjual kue tradisional.


“Ini kesukaan Ayah dan Adisti. Mereka satu frekuensi untuk masalah selera.”


Bramasta mengambil foto kue yang sedang dibungkus penjualnya lalu mengirimkan kepada Adisti. Adisti langsung membalas _Iyyyeeeesh! (emot mata love)_


“A, apakah Adisti masih menyimpan barang-barang pemberian mantannya?”


Agung menggeleng. “Semuanya sudah dikembalikan.”


“Mawar kering yang di kamarnya?”


“Abang ngecek kamarnya?” Agung tertawa, “Itu bukan dari Tiyo, tapi dari Aa sewaktu Adek wisuda. Lalu dikeringkan oleh Adek sebagai kenang-kenangan.”


Bramasta tersenyum [Alhamdulillah, semua terasa lega sekarang]


“Bang, tentang acara semalam, medsos bagaimana?”


“Biasa saja. Divisi multi media sudah meng-handle semuanya. Video-video amatir yang beredar hanya dianggap angin lalu sebelum ada pengumuman resmi dari Sanjaya dan B Group.”


“Pantas saja, tidak terjadi kehebohan seperti waktu bocornya video dulu..”


“Jadi, menurut A Agung, Adisti ingin pernikahan seperti apa?”


Agung terkekeh. Dia berhenti sejenak lalu duduk di bangku taman di bawah pohon. Bramasta mengikutinya.


“Warna yang Adek suka itu ungu, “Bramasta mengangguk, “Karena bagi Adek, ungu itu misteri, ungu penuh kerahasiaan sama seperti hidup kita, ungu juga warna keajaiban,” Agung terdiam sejenak.


“Adek walaupun berpikiran dewasa, tapi masih ada jiwa anak-anaknya di dalam dirinya. Dia terjebak dengan pesona film Thinkerbell.”


“Thinkerbell peri hijau yang punya bubuk terbang?” tanya Bramasta. Agung mengangguk.


“Thinkerbell-nya Pieter Pan?” tanyanya lagi. Agung mengangguk tapi kemudian menggelengkan kepalanya.


“Iya itu Thinkerbell yang sama tapi bukan yang di Pieter Pan. Coba cari di Youtube film-film tentang Thinkerbell dan teman-temannya sesama peri kecil.”


Bramasta tertawa. Jelas sudah bagaimana nanti konsep pesta resepsi nanti.


“Ada film thinkerbell yang selalu membuat Adek menangis saat menontonnya walau dia sudah menontonnya berulangkali,” kata Agung.


“Apa itu?”


“Yang judulnya Neverbeast. Tentang monster yang muncul 1000 tahun sekali yang ternyata tidak jahat.”


“Waaaah,” Bramasta terkekeh lagi, “A Agung, terima kasih banyak ya. Saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan. Jangan cerita ke Adisti tentang ini ya.”


Agung mengacungkan kedua jempolnya.


“A, siapa itu Andrew Smith?”


Bramasta membawa motornya dengan terampil di tengah padatnya lalu lintas Bandung.


“Aa juga kurang begitu tahu. Tapi Adek pernah cerita, punya teman bule, ketemu di sosmed. Mereka tertarik hal yang sama yaitu lukisan. Terutama lukisan cat air.”


Bramasta mengangguk mengerti, “Kalau yang di Lunar Art & Gallery itu lukisan cat minyak atau cat air?”


“Cat minyak. Adek belum berani ekspos lukisan cat airnya.”


“Kenapa sih Adisti tidak mengambil jurusan seni rupa saja?”


Agung tertawa. “Adek orangnya teguh memegang prinsip. Bagi dia, seni itu spontanitas, hadir karena feelingnya ada, bukan dari sesuatu yang dipaksakan, dipelajari atau didoktrinkan. Sedangkan untuk teknik bagaimana menyapukan kuas, menggoreskan pensil, atau memadukan warna, bagi Adek bukan sesuatu untuk ditiru. Tehniknya akan semakin baik dan sempurna dengan semakin seringnya berlatih.”


Bramasta memarkirkan motornya di carport. Adisti tengah menyapu teras. Agung mengucap salam lalu melangkah masuk membawa kantong kresek ke meja makan. Bramasta membuka helmnya dengan lambat. Matanya lekat mengamati Adisti yang tidak sadar sedang diperhatikan olehnya.


“Assalamu’alaikum cantiknya Abang..”


Adisti menoleh lalu mencibir, “Hmmh, wa’alaikumussalam. Mulai deh gombalnya..”


“Emang gak boleh ya?”


“Geli tau Bang dengernya.”


“Geli bagaimana? Noel juga nggak..”


“Issh Abang ini.”


“Gak apa-apa dipakai buat nyapu?”


“Bang, yang cedera itu bahu kiri Disti. Disti juga nggak kidal. Nyapu mah, ceteeeek,” Adisti menyatukan ujung jempol dengan kelingkingnya.


Agung muncul dari dalam, “Dek, bisa kayak gini gak?”


Tangan kanannya menjulur ke depan.


“Ya bisa dong,” Adisti mengikuti gerakan kakaknya.


“Kalau tangan satu lagi?” Agung menjulurkan tangan kirinya juga sejajar dengan tangan kanannya.


“Bisa. Tar dulu,” Adisti melepaskan kain gendongan tangannya. Tangan kirinya menjulur ke depan dengan hati-hati. Lidahnya dileletkan ke kakaknya.


“Kalau kayak gini?” Kedua tangan Agung saling memutar bergantian, seperti gerakan tangan berenang gaya bebas. Bramasta meringis, khawatir Adisti ikut nekat memutar tangannya.


Adisti menatap kakaknya dengan sebal, “Teruuuuus. Gaskeun Kaaaak! Ejek terus Adeknya..”


Agung tertawa jahat. Bramasta menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kakak beradik ini.


“Diiih, Adek Kakak yang paling cantik sedunia ngambek. Maaf deh..” tangan Agung memegang kedua pipi adiknya lalu menekan pipinya sampai bibir adiknya membentuk huruf O, “Mumpung masih bisa diunyel-unyel pipinya. Minggu depan, Kakak udah gak bisa unyel-unyel pipi Adek. Adek udah ada yang punya. Kakak gak bakal berani unyel-unyel pipi kamu. Suami Adek bakalan ngamuk ke Kakak.”


“Iiiish… sakit tau!” Adisti memukul lengan kakaknya.


“Abang,” Adisti memijat-mijat pipinya, “Kalau begini caranya, kita nikahnya besok aja deh.”


“Eh?” Bramasta terkejut tapi kemudian terkekeh geli, “Boleh..boleh..”


Bunda keluar, “Apaan sih rame banget? Tuh kupat tahu gak dimakan? Ayo buruan.”


“Ini judulnya makan siang yang kepagian,” kata Ayah sambil tertawa saat membuka bungkusan kupat tahu. Mereka makan di gazebo. Duduk lesehan melingkari meja lipat bundar.


“Enak kan?” tanya Agung pada Bramasta.


Bramasta mengangguk tersenyum puas saat merasakan suapan pertama. Bumbu kacang dan kecapnya benar-benar meresap pada tahu dan taugenya. Perpaduan rasa gurihnya kacang dan manisnya kecap memang tidak ada duanya.


“Porsinya banyak ya,” kata Bramasta, “Disti habis?”


“Selalu ada tempat tersendiri buat kupat tahu Gempol, Bang,” kata Adisti sambil menepuk-nepuk perut ratanya.


“Halah, ngaku aja, perut karet..” Agung bergumam keras.


“Bun.. Kakak dari tadi rese nih..” Adisti menatap jengkel pada kakaknya.


“Ih, ribut terus sih? Malu dong sama Nak Bram,” kata Bunda sambil menuangkan air putih.


“Nak Bram, daripada kita capek dengerin mereka berdua ribut terus, lebih baik Nak Bram cerita tentang keluarga Nak Bram deh,” kata Ayah.


“Cerita apa?” Bramasta menatap Ayah bingung.


“Apa saja.. tentang kakaknya Mas Bram yang menikah sama Akang Bule itu deh.”


“Oh, Kak Layla dan Bang Leon?” semuanya mengangguk, “Mereka ketemu di kantor Daddy. Bang Leon lama tinggal di Bandung. Ayahnya orang Sunda asli makanya bisa berbahasa Sunda , ibunya Perancis. Gen ibunya lebih dominan ya makanya Bang Leon terlihat bule banget. Dia pengusaha property. Sedangkan Kak Layla interior designer. Sekarang mereka tinggal di Singapura. Menikah 2 tahun yang lalu dan alhamdulillah sudah dikaruniai putra, Eric Iskandardinata.”


“Jadi Bang Leon itu Leonardo Iskandardinata?” tanya Agung dengan mata terbelalak.


“Iya, kenapa?”


“Pantes, pertama kali lihat, berasa pernah lihat wajahnya. Fotonya ada di sampul majalah keuangan Asia edisi bulan ini ya?”


Bramasta terkekeh sambil mengangguk.


“Waaah.. kita mah apa atuh ya. Hanya remahan bubuk rengginang..” Adisti menatap kakaknya.


“Dalam kaleng Khong Guan pula,” Agung menimpali adiknya. Ayah dan Bunda terkekeh.


“Mulai deh inferior dan insecure-nya. Biasa aja kali..” kata Bramasta.


“Bang, abang udah pernah fotonya jadi sampul majalah keuangan itu?”


Bramasta mengangguk, “Udah, 2 kali.”


“Whattt?!” Agung dan Adisti kompak berteriak.


Agung membuka gawainya. Searching google tentang Bramasta Sanjaya. Tercantum data yang hanya sedikit di Wikipedia, tapi disana disebutkan dua kali profilnya tertulis dalam majalah keuangan itu dan majalah keuangan lainnya. Agung semakin terpana. Menyenggol adiknya untuk melihat yang tertulis di layar.


“Bang, kenapa profil Abang di mesin pencarian kok minim banget sih?” tanya Adisti.


“Abang gak suka kehidupan Abang diketahui orang banyak. Orang lebih cenderung melihat apa-apa yang sudah dimiliki kita. Abang tidak nyaman dengan itu semua. Harta dan kekuasaan itu hanya titipan saja,” Bramasta meneguk air putih yang sudah disediakan Bunda, “Itu sebabnya untuk acara nanti, Abang gak ingin mengundang banyak orang. 350 undangan, Abang rasa cukup ya. 100 undangan buat keluarga dan tetangga di sini. 50 undangan buat keluarga Abang, karena keluarga Abang tidak banyak. Daddy dan Mommy anak tunggal. Sisanya untuk kolega bisnis Abang dan Daddy. Status baru Abang perlu diumumkan di kalangan pengusaha supaya tidak ada upaya lagi untuk menjodoh-jodohkan anak gadis mereka dengan Abang.”


Bramasta menatap Ayah dan Bunda. Keduanya mengangguk setuju.


“Acara nanti sekalian soft opening untuk The Cliff. Private party,” Bramasta memandang Disti, “Beneran nih Disti menyerahkan semua urusan konsep pesta dan dekornya ke Abang? Jangan nyesel ya nantinya..”


“Iya.. Disti serahin semua ke Abang, selera Abang aja deh.”


“Ya bukan selera Abang juga, pokoknya ini bakal jadi surprisenya Disti ya,” Abang tersenyum pada Disti lalu ber-hi five dengan Agung.


“Apaan Kak? Surprise apa? Cerita dong..” desak Adisti.


“Bukan surprise kalau diceritain, Dek..” kata Agung.


“Besok Adisti ke rumah sakit ya?” tanya Bramasta, “Abang gak bisa antar Disti, jadwal Abang penuh banget.”


Ayah mengangguk, “Ayah juga gak bisa ikut antar ya. Ayah harus mengurus surat-surat untuk ke KUA.”


“Kakak juga gak bisa, Dek. Ada rapat dengan direksi besok.”


“Ya udah, Adek sama Bunda aja,” kata Bunda. Disti mengangguk.


“Mommy mau anterin Disti. Nanti dijemput Mommy ya Bun. Bertiga ke rumah sakitnya,” kata Bramasta.


Semuanya mengangguk. Agung menaikkan satu alisnya pada Bramasta. Bramasta mengangguk samar.


“Hari Selasa pagi, kita ukur baju ya,” Bramasta menatap Disti, “Siangnya Disti ditunggu kurator dan buyer kan di Lunar Art & Gallery? Nanti Abang sekalian antar Disti ke sana.”


Disti mengangguk.


“Nanti harus fitting baju ya?” Disti bertanya pelan. Matanya bergerak gelisah tidak nyaman. Bramasta mengerti.


“Fitting baju nanti, Disti ditemani Bunda. Abang ditemani A Agung atau Bang Indra. Bagaimana?”


Adisti terdiam. Tetapi matanya berhenti bergerak gelisah. Adisti mengangguk. Terlihat lebih lega wajahnya. Bunda mengelus lengan Adisti.


Bunda membuka bungkusan kue yang tadi dibeli Agung. Mata Adisti berbinar melihat kue kesukaannya.


“Itu apa sih?” tanya Bramasta melihat potongan kecil-kecil kue yang terlihat lengket dengan warna pink dan putih bertabur kelapa parut dan gula pasir.


“Ini namanya cenil, dari tepung kanji. Enak loh. Kenyal tapi empuk,” Adisti mengambilkannya untuk Bramasta pada piring kertas kecil, “Ini uli bumbu. Ketan yang ditumbuk. Favorit banget ini mah..”


Tangan Adisti mengambil 2 potong uli bumbu di piring kue Bramasta.


“Yang ini namanya…”


“Klepon,” potong Bramasta, “Abang juga tahu ini klepon. Tapi kok kecil-kecil banget ukurannya ya?”


“Biar kecil tapi istimewa, Bang. Disebut juga klepon nge…”


Belum selesai Adisti menjelaskan, insiden itu terjadi.


Bramasta langsung memasukkan klepon ke dalam mulutnya dan klepon pun meletus. Gula merah cair isiannya muncrat mengenai wajah Ayah yang duduk di depannya. Tepat masuk ke lubang hidung Ayah. Ayah terbatuk kaget. Bunda bergegas menyodorkan tisu pada Ayah.


“Eh!” Bramasta kaget, “Ayah, maaf. Saya gak sengaja..”


“Ya… Abang kok nge-**** sih makan kleponnya? Baru aja Disti jelasin ini klepon istimewa. Istimewa karena pasti nge-**** isiannya,” Adisti menahan tawanya.


Agung terbahak sambil memegangi perutnya. Adisti tak tahan, ikut terbahak. Bunda juga.


“Perih Bun, hidungnya..” kata Ayah.


“Ya udah cuci sana di kran air,” kata Bunda sambil tertawa.


“Si Abang, upil Ayah dimanisin segala…” kata Adisti.


Tawa mereka bertiga semakin meledak.


Bramasta merasa serba salah karena bersalah hingga membuatnya salah tingkah.