CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 91 – GOOD MORNING, WORLD!



04.05


Bramasta terbangun entah pada dering alarm yang ke berapa. Mengerjap beberapa kali melirik ke arah jam digital yang ada di meja nakas. Kemudian berguling untuk ke kamar mandi.


Kembali lagi ke tempat tidur untuk membenahi selimut istrinya. Mengecup bekas jahitan di bahu istrinya lalu mengecup dahi istrinya lama. Sebelum akhirnya melangkah ke kamar mandi.


“Disti.. Sayang.. Cantiknya Abang.. bangun dulu yuk. Mandi dulu..” Bramasta menepuk-nepuk betis istrinya. Adisti berguman.


“Sayang..” Bramasta duduk di samping Adisti, membelai pelipis. Menyibak rambut untuk melihat luka jahitan di kepalanya. Sudah tidak ada yang merah lagi.


“Mrs. Bramasta, would you wake up, please?” Bramasta menciumi gemas pipi Adisti.


“Hmmmh,” Adisti membuka sebelah matanya, “Jam berapa ini?”


“Hampir jam 5..”


“Sudah adzan dari tadi dong..”


“Iya..”


“Oooh.”


“Eh, kok tidur lagi? Sayang..”


“Iya..”


“Melek.”


“Iya..” Adisti menahan matanya agar terbuka dengan jarinya, “Ini udah melek.”


“Isssh bener-bener ya..”


Bramasta menyingkap selimut yang membungkus Adisti. Adisti menjerit panik menutupi tubuhnya. Bramasta langsung mengangkat tubuh Adisti dalam gendongannya, lalu membawanya ke kamar mandi.


Memasukkannya ke dalam bathup yang sudah berisi air hangat dan penuh busa sabun. Aroma vanila menguar memenuhi udara


.


“Diam di sini dulu, ini akan membuat tubuh Disti nyaman.”


“Abang ih, baju koko Abang jadi basah kan?” Adisti menunjuk kedua lengan baju suaminya yang basah.


“Biarin, Abang masih punya banyak di lemari. Kalau habis juga tinggal beli lagi..”


“Isssh.. terus Abang mau di sini terus lihatin Disti mandi?”


“Mau. Boleh?” suara Bramasta terdengar antusias sekali.


“Nggaaaakkk. Go out laaah.”


“Abang udah lihat semuanya loh.. boleh dong lihat lagi..”


“Nggak ih.. sana. Ngambek nih Distinya. Nanti kehabisan waktu subuhnya..”


“Iya..iya...”


Adisti keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Memandang tempat tidur yang sudah rapi.


“Makasih Bang.. sudah rapiin tempat tidurnya..” Adisti tersenyum.


“Sama-sama, Sayang. Buruan sholat...”


“Iya Beib.”


Adisti melipat mukenanya menjadi dua lalu menggantungnya di tempat Bramasta menggantung sarung dan sajadah. Bentuknya seperti jemuran handuk dengan logam yang lebih estetik dan ada hiasan kristal di tiap ujungnya.


“Abang.. Abang Bramasta...” panggil Adisti.


Tidak terdengar suara Bramasta. Adisti keluar dari kamar, mendapati semua jendela dan pintu balkon sudah terbuka lebar berikut tirai tebalnya. Bramasta ada di balkon sedang melakukan body plank.


“Good morning, Suami..” Adisti berjongkok di samping Bramasta. Mengelap wajah suaminya yang berkeringat lalu memberi kecupan di dahinya.


“Good morning too, Istri..” Bramasta menyudahi body plank-nya. Menarik tangan istrinya ke handrail balkon, “Good morning, world!”


Adisti terkekeh sambil memeluk suaminya.


“Sewaktu pertama kali vicall-an sama Disti, Abang berjanji dalam hati, ingin mengajak Disti untuk menikmati sunrise setiap paginya di sini.”


Adisti mengetatkan pelukannya.


“Sunrise doang?”


“Balkon apartemen kita ini menghadap timur, Sayang...” Bramasta memandang Adisti dengan serius, “Disti juga ingin menikmati sunset dari balkon?”


“Memang bisa?”


“Bisa, kalau Abang beli 1 unit lagi di depan apartemen kita, for enjoying sunset only.”


“Plis deh Bang.. gak usah lebay. Memangnya duit Abang masih banyak setelah hajatan, The Cliff, belum lagi biaya rumah sakit, dan lain-lainnya..”


Bramasta memandang mata Adisti. Lalu mengecup dahinya. Tangannya merogoh saku celana joggernya untuk mengambil gawainya. Dia membuka aplikasi mBanking.


“Di bank ini, Abang punya 3 akun rekening. Jumlah saldonya, lihat sendiri..”


Adisti membelalakkan matanya, menghitung jumlah koma lalu menghitung angka di belakang koma.


“Sudah?”


Bramasta menutup mBankingnya lalu membuka mBanking yang lainnya.


“Di bank ini Abang punya 2 akun rekening. Jumlah saldonya, lihat sendiri..”


“Masyaa Allah, Bang.. Itu bukan rupiah ya..”


Bramasta hanya memamerkan cengirannya lalu menutup mBankingnya. Membuka mBanking yang bahkan nama bank-nya pun baru Adisti tahu saat ini.


“Abang sekaya itu? Bagaimana ceritanya”


“Isssh... Kalau nanya bagaimana ceritanya, pasti karena Allah sudah menggaris nasib Abang jadi orang kaya. Abang sudah mulai cari uang sendiri sejak SMP. Abang gak pernah pakai uang jajan yang diberi Mommy atau Daddy lagi.”


“Wah.. ceritain ya.”


“Nanti aja.”


Adisti memainkan jemari Bramasta yang ada di genggamannya.


“Andai terjadi inflasi besar, uang giral sudah tidak berharga lagi, bagaimana?”


“Ada akun rekening mata uang dinar dan dirham juga di salah satu bank di negara teluk. Abang juga punya simpanan logam mulia..”


“Di simpan di gua rahasia seperti di cerita Ali Baba? Password buka pintu guanya “Seezaam buka pintu!” Iya Bang? Seru amat..”


“Ya ampuuun, Disti..” Bramasta terkekeh.


Bramasta menggandeng tangan Adisti untuk duduk di sofa balkon.


“Abang gak lupa hak fakir miskin kan?”


“Insyaa Allah nggak, Sayang. Ini yang mau Abang omongin dengan Disti.”


Adisti berdiri tegak. Bramasta menatapnya serius.


“Untuk mengurangi beban kerja Indra, Disti ambil alih beberapa pekerjaannya ya? Kasihan, dia jadi gak punya kehidupan pribadi karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya.”


Adisti masih menunggu kelanjutan Bramasta berbicara.


“Untuk pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan sosial, dipegang oleh Disti ya?”


“Kegiatan sosial perusahaan atau pribadi Abang?”


“Dua-duanya. Jangan khawatir, nanti Indra pasti bantuin Disti dulu juga staf kesekretariatannya. Bagaimana? Mau ya?”


“Abang gak nanyain Disti ingin lanjutin kuliah atau nggak?”


Bramasta terdiam. Dia membuang pandangannya jauh, tidak berani memandang istrinya.


“Mungkin terdengar sangat egois, posesif dan juga kekanakan buat orang lain bahkan mungkin buat Disti sendiri. Tapi Abang ingin, Disti selalu ada di dekat Abang. Berada dalam jangkauan Abang. Abang gak mau merasa cemburu karena melihat Disti bergaul dengan teman-teman seumuran Disti. Rasanya gak nyaman banget buat Abang...”


Adisti tidak berkata apa-apa. Dia hanya merebahkan kepalanya di dada suaminya. Mendengarkan degup jantung suaminya. Beberapa waktu terdiam. Akhirnya Adisti berdiri melangkah ke dalam. Hati Bramasta mencelos.


“Disti..”


Adisti ada di pantry. Merebus air lalu sibuk menyiapkan nampan, teko dan teh, juga mug dan gula.


“Abang mau lemon tea atau teh manis?”


“Disti..”


“Iya?”


“Disti kecewa ke Abang?”


“Kecewa kenapa?”


“Karena Abang membuat batasan-batasan untuk Disti.”


“Nanti dulu jawabnya. Disti buat teh dulu.”


Adisti menuang air yang mendidih pada teko yang sudah diberi teh.


Mengiris lemon lalu menaruhnya di dalam mangkuk kecil. Mendorong nampan ke tepi meja pantry. Lalu membawanya ke sofa balkon.


Bramasta mengerucutkan bibirnya melihat kesibukan istrinya.


“Disti..”


Adisti tersenyum pada Bramasta.


“Abang gak nanyain Disti ingin lanjutin kuliah atau nggak?” Adisti mengulang pertanyaannya lagi pada Bramasta.


“Kalau Abang nanyain, Disti bakal jawab, Disti gak mau lanjutin kuliah. Bagi Disti, ilmu yang Disti miliki secara akademik sudah cukup tapi bukan berarti Disti akan berhenti belajar. Karena Disti akan terus belajar. Belajar kan tidak harus di bangku kuliah kan?”


Bramasta menatap Adisti dengan terperangah lalu mengangguk.


“Abang bisa secara langsung mengajari Disti. Jadi pembimbing Disti. Ilmu yang tidak akan pernah didapat di bangku kuliah adalah saat kita belajar langsung pada ahlinya, pada pelaku bisnisnya. Kita gak dijejali teori tapi langsung praktek, langsung berhadapan dengan real world.”


Bramasta mengangguk lagi.


“Disti akan terus belajar karena kelak Disti akan menjadi seorang ibu. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.”


Bramasta memeluk Adisti, “I love you, Istri.”


“Keputusan Disti juga karena Disti tahu betul Abang orangnya cemburuan. Kalau Disti kuliah lagi, bisa-bisa Abang bakal ikut nongkrongin Disti di kampus. Atau merintahin pengawal untuk jagain Disti supaya tidak ada teman atau dosen lawan jenis yang ingin mengobrol dengan Disti..” Adisti terkekeh.


Bramasta terkekeh.


“Tea please, without sugar.”


“OK.”


“I love you more, Istri..”


“Me too, Suami..”



***


Ngeteh yuk...