
Adisti balas menatap kakaknya.
"Kakak ngapain ke sini?" Adisti menunjuk kepada Indra, "Kalau Bang Indra ke sini wajar, karena Bang Indra sekretarisnya Abang Bram. Kalau Kakak?"
"Diminta Big Boss untuk menyelesaikan masalah kamera penyadap dan konsolidasi langsung antara Kuping Merah dan temannya Bang Leon."
"Lah kan ada Bang Hans?" tanya Bramasta.
Agung menggeleng, "Bang Hans gak bisa kemana-mana hari ini. Dia tersandera urusan kantor. Ada beberapa meeting penting yang gak bisa digeser lagi jadwalnya. Apalagi meetingnya sekarang jadi pindah tempat, tidak di Sanjaya Group lagi."
Bramasta mengangguk, "Hanya hingga Sanjaya Group clear setelah dipindai dengan detektor."
"Bang Hans memantau dari jauh," lanjut Agung.
Indra memanaskan croissant dengan microwave. Menoleh pada Agung, "Jadi kita berkomunikasi di WAG saja supaya tidak double report."
Agung mengangguk, "Bang Leon sudah terbang belum?"
"Sudah. Sebentar lagi sampai," jawab Bramasta.
"Sama Kak Layla?" tanya Adisti.
"Iya. Katanya Eric mau diajari mancing ya oleh Ayah?" Bramasta balik bertanya.
"Eh, kok Ayah dan Bunda gak cerita apa-apa sih ke Kakak?" Agung mencebik.
"Kakak pulangnya malam terus sih..." jawab Adisti, memandang Bramasta, "Abang, tolong ambilin minuman dingin..."
Bramasta mengangguk lalu berjalan ke arah pantry. Agung melongo dibuatnya
"Dek, kok seperti itu saja menyuruh Abang sih?" Agung menatap Bramasta, "Jangan terlalu dimanja, Bang..."
Cengiran Bramasta terlihat saat menyerahkan gelas pada Adisti, "Biarin, ke istri sendiri ini..."
"Makasih Abang Sayang..." Adisti tersenyum manis kepada suaminya.
"Kak," Adisti memandang Agung, "Kalau Adek bisa jalan sih pasti Adek gak bakal repoton Abang Bram..."
"Kenapa gak bisa jalan? Keseleo?"
Indra yang hendak menggigit croissantnya, urung dilakukan. Dia menatap Agung dan Adisti bergantian.
"Kakak kan tahu sendiri, Abang Bram itu cuma setengah Indonesia, seperempatnya Pakistan dan seperempatnya lagi Belgia. Itu sebabnya Adek gak bisa jalan ..." Adisti meneguk gelasnya.
Bramasta yang duduk di sebelahnya pura-pura tidak mendengar ucapan istrinya. Matanya menatap televisi dan wajahnya dibuat sedatar mungkin padahal setengah mati menahan tawa.
Indra meletakkan piring berisi croissantnya yang masih utuh. Menghampiri Agung yang melongo tidak mengerti.
Menepuk bahu Agung, "Gue bilang juga apa. Gak usah nanya.. Lu malah nanya. Kita jadi kena pukulan dobel dari Adik lu. Pukulan pertama, tepat di ulu hati seorang jomblo. Pukulan kedua, menyinggung perasaan sebagai laki-laki bercita rasa lokal, 100% dalam negeri."
"Haissszzzh si Adek... Kakak benar-benar gak nyangka..." Agung lalu memandang Bramasta yang tampak setengah mati menahan ekspresinya wajahnya untuk tetap datar.
Tapi akhirnya bobol juga dengan cengirannya yang semakin lebar dan terkekeh. Agung mendekati Bramasta, matanya penuh tuduhan: Lo apain Adek gue. Bramasta makin terkekeh ditatap Agung seperti itu. Agung langsung meloncat ke sofa samping Bramasta.
Memeluk erat adik iparnya sambil berbisik dengan suara tertahan, "Abang apain si Adek?!"
"Abang gak aneh-aneh kok... Kan memang prosesnya seperti itu..." Bramasta meringis ketika pelukan Agung semakin erat, "Isssh, sakit tahu, Kakak Ipar! Lepas gak??!"
"Gak!!" seru Agung galak.
"Sampai gak bisa jalan begitu... Tega amat sih.." Agung memukuli lengan atas Bramasta dengan gemas.
Bramasta terkekeh, "Ampun Kakak Ipar ..."
"Woiiiiyy Gung.... Itu Bos gue..." Indra meloncat ke sofa di samping Agung, memeluk Agung erat sambil memegangi tangan Agung supaya tidak memukuli lengan Bramasta lagi.
"Hepi banget kalian. Akrab banget..." suara Leon mengagetkan mereka, "Sampai-sampai gue mengucap salam dicuekin."
Mereka terkejut melihat kehadiran Leon di ruang tengah bersama temannya yang melongo melihat kelakuan mereka, "Wa'alaikumussalaam..." jawab mereka kompak.
"Kayaknya rame, gue ikutan juga ya..." Leon langsung menerjang sofa dan memeluk mereka bertiga.
Tidak siap dengan terjangan Leon, mereka terjerembab ke sandaran sofa Beruntung sofa tidak terjengkang ke arah belakang.
"Sekian reportase Kelakuan Masa Bocil Kurang Lama dari Landmark Residence Apartment, saya Adisti Maharani undur diri. Bye ..." Adisti melambai sambil tersenyum lebar ke arah kamera handphone milik suaminya.
Semua menatap Adisti, Adisti kemudian mengubah setelan video menjadi kamera. Lalu mengambil foto wefie dengan kamera depan, "Everyone, say duiiiiiiiit!"
Serentak gawai Indra, Agung dan Leon berdering notifikasi pesan chat.
"Aaaah Adek..."
"Ya, Disti... kenapa dikirimin sih?"
"Bos ... bini lu Bos..."
"Eh ada tamu," kata Adisti saat melihat teman Leon yang berdiri mematung melihat tingkah konyol tuan rumah dengan teman-temannya.
"Ma'af ya Pak. Mereka kalau sudah kumpul, kelakuannya bocah banget."
Lelaki itu tidak berekspresi apapun. Hanya memandangi Adisti sambil terdiam.
"Dia gak bisa bahasa Indonesia," kekeh Leon sambil terus memeluk.
"Pardon me, Sir," Adisti membungkukkan tubuhnya ke arah pria itu yang menganggukkan kepalanya. Lalu bergerak secepat kilat mencubit lengan Leon, Indra, Kakaknya dan suaminya, "Udahi gak nih kalian? Kelakuan... malu-maluin banget sih! Ada tamu juga!"
Semua mengaduh karena cubitan Adisti yang terasa panas.
"Dek, kirain kalau udah merid cubitannya bakal berkurang pedesnya. Tapi ini kok rasanya malah naik level kepedasannya..." Agung mengelus lengannya.
Bramasta langsung berdiri menyambut teman Leon. Leon memperkenalkan temannya sambil mengelus lengan atasnya.
"Danniel Chow, this is Bramasta Sanjaya, CEO of B Group, this is Indra Kusumawardhani the secretary of B Group and this is Agung Gumilar the accountant of Sanjaya Group and also as big bro of Bramasta's wife, Adisti."
Pria bernama Danniel Chow mengangguk dan tersenyum tipis. Mereka bicara dalam bahasa Inggris sekarang. Danniel Chow, tipikal pria yang tidak menyukai basa-basi. Dia langsung membahas tentang kamera penyadap. Bramasta menceritakan semuanya.
Danniel Chow langsung mengeluarkan alat dari tasnya. Berbentuk kotak tipis dan mulai memindai dari arah foyer. seluruh bagian apartemen dipindai. Termasuk kamar tidur utama. Tidak ditemukan penyadap lagi.
Danniel Chow memeriksa tanaman Anggrek Bulan, memperhatikan penjepit tangkai bunga yang tersisa. mengangguk mengerti bagaimana kamera diselipkan di jepitan tangkai bunga saat Indra menjelaskan.
"Sekarang ada dimana kamera yang sudah dihancurkan itu?" tanyanya sambil berdiri.
"Nanti kita ambil di kantor B Group sekalian memindai ruangan di sana," kata Bramasta.
"Disti ikut ya?" Bramasta memandang Adisti.
Adisti menggeleng, "Disti mau menyelesaikan lukisan."
"Gak apa-apa sendirian di rumah?"
Adisti menggeleng lagi, "Kalau boring, Disti bisa ke bawah."
Indra dan Leon memandang tajam pada Bramasta.
"Gak... nggak boleh ke bawah sendiri," Bramasta berkata cepat pada istrinya, "Setelah kejadian ini, Abang gak ijinkan Disti pergi sendirian."
Bramasta memandang Agung. Meminta Agung untuk membuat Adisti mengerti dan setuju dengan pengaturannya.
"Adek ikut Abang saja supaya gak bete ya. Lukisannya masih bisa menunggu kan? Kakak bawa masuk saja ya supaya gak kena hujan barangkali nanti sore hujan..." Agung langsung bergerak mengambil lukisan yang masih berada di balkon.
"Tapi Kak..."
"Dek, jangan buat kita semua khawatir ya. Kedua orang itu sudah berhasil menyusup ke dalam lobby penthouse, tempat yang tidak semua orang bisa masuk. Mengirim bunga dengan kamera penyadap yang kalian bawa ke dalam rumah. Jangan bantah Abang ataupun Kakak, ya."
Adisti mengangguk.
"Sekarang bersiap, gak pakai lama ya," perintah kakaknya lagi.
Bramasta menyusul istrinya ke dalam kamar. Dia juga harus berganti baju.
"Tolong mengerti keadaan saat ini..." bisik Bramasta setelah mengecup dahi istrinya.
"Tapi Abang buat Disti takut..."
"Takut apa?"
"Takut kehilangan kebebasan Disti lagi untuk bergaul dan berteman."
Bramasta terdiam, tidak berkata apa-apa lagi. Dia berganti pakaian. Membiarkan Adisti untuk berganti pakaian dan menungguinya berdandan tanpa berkata apapun. Hanya memandangi wajahnya saja dari pantulan cermin.
***
Marahan ya?