CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 109 – GERAI DONAT



Seorang remaja berkaos garis-garis navy-kuning langsung mengarahkan tinjunya pada Agung. Agung berhasil menangkap tinjunya, meremat dengan kuat lalu menarik tinjunya dengan sentakan keras.


Si Garis terhuyung ke depan, Agung menggeser tubuhnya, wajah si Garis menabrak dinding bangunan gerai donat. Hidungnya membentur tembok. Tubuhnya ambruk tak bergerak.


Kawan si Garis dengan obeng di tangan, menyerang Agung dari samping setelah terkejut melihat temannya dapat dilumpuhkan dengan cepat. Dia mengarahkan obeng pada leher Agung. Agung berkelit.


Tangannya mencengkeram baju si Obeng. Dengan sekali sentakan, tubuh si Obeng melayang salto di udara sebelum membentur paving block di bawahnya.


Si Obeng terbatuk tapi tidak bisa bangun. Teknik bantingan taekwondo Agung membuat tubuh si Obeng terasa lemas tak bertenaga.


Remaja berjaket jeans pudar langsung menyerang begitu si Obeng jatuh. Dia mengayunkan besi tangkai pel yang sudah tidak terpakai lagi ke arah kepala Agung.


Agung tidak sempat menghindar. Dia menangkis hantaman tongkat pel dengan lengan kanannya. Agung mengernyit. Lengannya terasa kebas dan panas.


Si Jaket Jeans menyeringai senang melihat pukulannya berhasil menyakiti lelaki dewasa di hadapannya. Dia menyodokkan tongkat pel ke arah perut Agung.


Dengan cepat, Agung menangkap tongkat pel dengan tangannya, menarik ke arahnya, membuat si Jaket Jeans terhuyung ke arah depan. Agung mengayunkan kakinya ke wajah si Jaket Jeans.


Si Jaket Jeans diam terduduk. Lalu menangis keras memegangi bibirnya yang sobek.


Remaja terakhir, dengan rambut berponi seperti pemuda dalam drama Korea, memegang cutter di tangannya. Tapi dia tidak berani maju. Tangannya gemetaran.


Bahkan saat Agung maju, dia beringsut mundur. Ketakutan. Lututnya gemetaran. Celana chino warna krem yang dikenakannya tampak basah di kedua bagian paha dalamnya.


“Ampun, Pak! Saya salah!” si Poni menjatuhkan pisau cutter-nya.


“Kamu, urus teman-teman kamu yang terluka!” Agung menatap galak pada si Poni yang mengangguk ketakutan.


“Dan ingat, kalau kalian ganggu anak perempuan ini lagi, kalian akan benar-benar berurusan dengan saya. Saya tidak segan-segan menjebloskan kalian ke penjara! ” Agung menyentuh bahu remaja putri ber-hoodie kuning yang tengah jongkok ketakutan sambil melindungi kepalanya dengan tangannya.


Si Poni beberapa kali mengangguk ketakutan.


“DENGAR KAMU??” Agung melotot dan membentak si Jaket Jeans.


Si Jaket Jeans semakin melolong ketakutan dibentak seperti itu. Celananya juga tampak basah oleh urinnya sendiri.


Agung menghampiri Hoodie Kuning. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh area tempat itu. Kemudian dia tersenyum samar setelah melihat apa yang dia cari.


Ada 2 CCTV yang sudutnya mengarah ke gang samping gerai donat ini.


Dia menepuk bahu si Hoodie Kuning. Tapi si Hoodie Kuning bergeming. Tubuhnya bergetar karena shock.


Agung berjongkok di samping si Hoodie.


“Kamu baik-baik saja?” tanyanya lembut pada si Hoodie.


Si Hoodie Kuning tidak menjawab, hanya menggeleng lemah.


“Ikut saya ke dalam,” Agung membantu remaja putri ber-hoodie kuning itu untuk berdiri dengan menarik tangannya.


“Bisa jalan?”


Si Hoodie Kuning tidak menjawab. Dari lututnya yang gemetaran, Agung bisa memastikan anak tersebut tidak bisa berjalan dengan benar.


Agung membantu dengan memapahnya. Pegawai gerai donat yang melihat kedatangan mereka membantu membukakan pintu. Dia membantu memapah Hoodie Kuning untuk duduk di tempat duduk terdekat.


“CCTV yang mengarah ke samping bangunan ini masih berfungsi?” tanya Agung pada pegawai gerai donat yang membantunya.


“Iya Pak. Masih. Ada apa ya?”


“Gadis ini mengalami bullying oleh 4 remaja pria tepat di samping bangunan ini.”


Pegawai gerai donat tampak terkejut.


“Sebentar Pak, saya panggilkan manager on duty.”


Dia bergegas meninggalkan meja Agung dan Hoodie Kuning yang masih menundukkan wajahnya.


Agung menuju meja pemesanan. Dia memesan 2 gelas coklat panas dan pie apple dan donat keju. Saat dia duduk di kursinya, pegawai yang tadi datang menghampiri dengan seorang pria berpenampilan rapi, manager on duty gerai donat itu.


“Saya Virgo, Manager On Duty,” tangannya terulur pada Agung.


Agung menerima ukuran tangannya dan menjabat tangannya.


“Saya Agung. Kebetulan saat saya baru datang, saya melihat gadis ini sedang dibully oleh 4 remaja berandalan. Dan mereka juga ikut menyerang saya.”


“Bapak baik-baik saja? Ada yang terluka kah?”


“Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Keempat berandalan itu juga sudah diurus oleh temannya yang tidak terluka. Mereka baru saja keluar dari parkiran mobil di sini.”


“Syukurlah. Ada yang bisa kami bantu, Pak Agung?”


“Bisa saya minta salinan CCTV 25 menit dari sekarang?” Agung menatap Virgo, “Ini penting untuk saya, berjaga-jaga apabila orangtua dari keempat berandalan itu mengajukan tuntutan pada saya.”


Manager On Duty mengangguk mengerti. Tampak berpikir sejenak.


“Baiklah Pak Agung. Bapak tunggu di sini, nanti saya berikan salinan rekaman CCTV yang mengarah pada gang di samping.”


“Baik Pak Virgo. Terimakasih banyak sebelumnya.”


Baru beberapa langkah meninggalkan meja, Manager On Duty berbalik lagi ke arah meja Agung.


“Ya?” Agung menaikkan sebelah alisnya.


“Wajah Pak Agung, terlihat familiar. Apakah Anda ini Agung, kakaknya Adisti? Adistinya Bramasta? Bramasta CEO B Group?”


Agung menaikkan kedua alisnya sekarang.


“Iya.. Adisti adik saya. Bramasta adik ipar saya. Ada apa?”


Wajah Manager On Duty mendadak sumringah. Senyum lebar tampak di wajahnya.


“Ah.. Tidak ada apa-apa Pak Agung. Dengan senang hati saya, eh ma’af, kami akan membantu Bapak.”


Manager On Duty membungkukkan tubuhnya sebelum meninggalkan meja Agung.


Hoodie Kuning mendongakkan wajahnya ke arah Agung. Menatap Agung lekat. Dia membuka tudung hoodie-nya. Agung terhenyak.


Rambut coklat bergelombang membingkai pipi kuning langsat. Mata itu dan hidung mancung berlekuk itu yang selama beberapa malam ini hadir dalam mimpinya sekarang ada di hadapannya.


“Kamu??”


“Jadi Om kakaknya Adistinya Bramasta? Pantas saya merasa wajah Om familiar.”


“Kamu??”


“Iya Om, ini saya. Yang waktu itu Om antar sampai rumah saat Papa meninggal.”


Agung tidak mampu berkata-kata. Dia hanya memandangi raut wajah di hadapannya.


“Saya Adinda,” tangannya terulur pada Agung.


[Saya sudah tahu] Agung hanya memandangi tangan Adinda lalu mengangguk. Dia menangkupkan kedua belah telapak tangannya di dadanya.


“Saya Agung.”


Adinda menarik kembali tangannya.


“Kamu sudah tidak apa-apa?”


“Saya sudah tidak gemetaran lagi setelah minum coklat panas yang ditraktir Om Agung.”


Hati Agung berdenyut saat mendengar dirinya disebut Om Agung. Dia meraup wajahnya dengan gusar.


“Ma’af tadi saya minum coklatnya duluan, tidak menunggu Om untuk mempersilahkan," Adinda menatap Agung dengan takut-takut, “Soalnya, tangan saya tadi terasa dingin sekali, sedangkan cangkir coklatnya hangat sekali.”


Agung mengangguk tidak peduli. Dia menatap mata Adinda kemudian beralih ke rambut coklatnya.


“Bagaimana kamu sampai terlibat dengan mereka? Kamu kenal mereka?”


Adinda mengangguk.


“Mereka satu sekolahan dengan saya. Beda kelas. Mereka sudah terkenal sebagai biang kerok di sekolah.”


“Kenapa bisa mereka membully kamu?”


“Saya menolak cintanya ketua gank mereka.”


“Yang bernama Ivan?”Adinda mengangguk.


“Om kenal?”


“Ya nggak lah. Kan tadi saya dengar pembicaraan kalian.”


“Ooh.”


Adinda terdiam. Menyesap cangkir coklatnya untuk mengusir kecanggungan.


“Kenapa kamu tolak cintanya Ivan?”


“Hidup saya sudah cukup rumit untuk ditambah semakin rumit karena pacaran dengan bosnya biang kerok sekolah,” Adinda menundukkan wajahnya.


“Bagaimana kamu bisa berada di tempat tadi?”


“Tadi saya sedang berada di toko buku. Kemudian bertemu mereka di lantai dasar saat saya hendak keluar dari gedung. Mereka menggiring saya ke gang samping gedung ini.”


“Kenapa kamu menurut saat mereka menggiring kamu? Kenapa kamu tidak berteriak meminta tolong pada petugas security toko buku?”


“Bagaimana bisa?” Adinda mengangkat wajahnya menatap Agung dengan mata coklatnya, “Saya cuma sendiri. Mereka berempat. Mereka memepet saya, mengurung saya dengan rapat sambil berjalan menggiring saya.”


“Bagaimana kalau mereka melecehkan kamu?” Agung memicingkan matanya menatap cangkir coklat di hadapannya. Dia benci dengan pemikirannya sendiri.


Adinda terdiam. Lalu menunduk dalam memutar-mutar cangkir coklatnya dalam kedua telapak tangannya.



“Mereka memang melakukannya pada saya...” Adinda bergumam lirih sambil menyeka sudut matanya dengan cepat. Tapi bulir bening mengalir lagi di pipinya, menetes mengenai punggung tangannya yang tengah menggenggam cangkir.


***