CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 134 – PAK RT & TETANGGA ADINDA



Bu RT datang membawa nampan berisi teh manis dalam cangkir. Saat meletakkan nampan di atas meja, dia terkesiap.


“Ya Allah...Pak, kita mimpi apa semalam? Rumah kita kedatangan seleb?”


Pak RT terperangah lalu menatap istrinya dengan pandangan bertanya.


“Ibu ngomong apa sih?”


“Itu loh.. Bramasta dan Adisti.. pasangan pengantin baru, sultan dan jagoan cewek..”


Para bapak menatap Bramasta dan Adisti bergantian.


“Pantas saja.. serasa pernah lihat wajahnya tapi entah dimana,” kata seorang bapak berbaju kaos berkerah.


Bramasta dan Adisti tersenyum kepada mereka.


“Perkenalkan, saya Bramasta dan ini istri saya, Adisti. Dan ini adalah ayah mertua saya, Pak Gumilar.”


Mereka saling berjabat tangan dan berkenalan kecuali Adisti yang hanya berjabat tangan dengan Bu RT.


“Bagaimana kabar Nak Agung?” tanya Pak RT kepada Ayah.


“Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan baik dan masa kritisnya sudah lewat. Kondisinya insyaa Allah berangsur pulih,” Ayah menjawab sambil tersenyum.


“Kejadian yang tidak disangka-sangka ya Pak,” kata Pak Ilham, bapak yang berbaju kaos berkerah.


“Bagaimana Adinda bisa mengenal Pak Bramasta dan keluarga?” tanya Pak Toni yang berkemeja kota-kotak.


“Ceritanya panjang, Pak,” jawab Adinda, “Semua terjadi karena kebetulan..”


Adisti menyentuh bahu Adinda, “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur oleh Allah.”


‘”Sebenarnya yang kenal dengan Adinda adalah Agung, Pak,” Ayah memulai bercerita, “Mereka dipertemukan di perempatan jalan Pahlawan, Adinda hampir tertabrak motor anak saya waktu itu karena Adinda berjalan sambil menangis.”


“Itu saat Papa meninggal, Pak,” Adinda ikut menjelaskan, “Om Agung mengantarkan saya ke rumah karena saya sudah kehabisan ongkos akibat salah naik angkot."


"Saya ingat, ada laki-laki yang mengantarkan Adinda pada saat Pak Rahmat meninggal. Laki-laki tersebut ikut bertakziah, ”Pak Toni menatap Adinda.


Adinda mengangguk.


“Mengenai kedatangan kami kemari, kami ingin meminta kerja sama dari Bapak-Bapak selaku tetangga Adinda untuk melindunginya. Karena Adinda sekarang sudah menjadi anak yatim piatu walau masih ada ibu sambungnya tapi sepertinya ibu sambungnya adalah tipikal orangtua yang abai,” Bramasta menjelaskan sebelum pembicaraan menjadi melenceng kemana-mana.


“Mengenai bagaimana hubungan Adinda dan ibu sambungnya, saya rasa para tetangga di sini lebih tahu daripada kami,” lanjut Bramasta lagi.


Pak RT menganggukkan kepalanya beberapa kali, “Sebenarnya warga di sini risih dengan kelakuan ibu sambungnya Adinda, Pak Bramasta dan Pak Gumilar.”


Pak RT menatap Adinda, “Tidak apa-apa kalau Bapak berterus terang kepada Adinda?”


“Tidak apa-apa, Pak. Saya juga bingung harus bagaimana menghadapi Ibu.”


“Warga risih, belum seminggu Pak Adang meninggal dunia, rumah yang ditempati ditawar-tawarkan kepada kami. Padahal kami tahu, Pak Adang tidak sedang dalam kekurangan uang.”


Ayah mengernyitkan dahi.


“Saya tetangga sebelah kanan rumah Pak Adang,” kata Pak Ilham, “Dua hari sebelum meninggal, Beliau bercerita baru saja menerima transferan dalam jumlah besar dari kerja sama bisnis yang dia lakukan dengan sahabatnya di Sukabumi.”


“Waktu itu, ada tukang roti lewat, Beliau memborong semua dagangannya untuk dibagikan kepada saya dan tetangga lainnya,” lajut Pak Ilham lagi.


“Masyaa Allah..” gumam Ayah.


“Pak Adang juga aktif di masjid. Sholat fardhunya selalu di masjid kecuali saat Beliau sedang sakit atau hujan deras,” Pak RT menatap Pak Gumilar, “Sehari sebelum meninggal, dia memberikan uang sebesar 10 juta rupiah kepada DKM, kebetulan saya pengurus DKM. Kata Beliau, uang itu untuk membeli sajadah, karena sajadah masjid kami memang sudah usang.”


“Masyaa Allah..” kali ini Ayah dan Bramasta bergumam bersamaan.


Adinda menyeka air matanya.


“Papa tidak pernah bercerita pada saya tentang semua ini. Tapi Papa mentransfer banyak sekali ke rekening saya. Kata Papa, untuk bekal persiapan kuliah nanti.”


Adisti memeluk Adinda.


“Semoga Pak Adang wafat dalam keadaan husnul khotimah, akhir yang baik. Dan kelak, bapak-bapak semua menjadi saksi atas kebaikan Pak Adang,” kata Ayah yang diaminkan oleh semua orang.


“Yang tadi kerisihan pertama yang dirasakan warga sini, kerisihan kedua adalah tentang laki-laki yang selalu tampak bersama ibu sambungnya Adinda,” Pak RT menatap Adinda dengan tatapan prihatin.


Adinda memaksakan diri untuk tersenyum.


“Kira-kira sebulan sebelum Pak Adang meninggal dunia, keduanya sering terlihat bepergian bersama tanpa mengajak Pak Adang ataupun Adinda,” Pak RT melanjutkan.


“Sebenarnya kemana mereka pergi?” tanya Pak Toni kepada Adinda.


Adinda menggeleng, “Saya juga tidak tahu, Pak. Saya tidak pernah mengobrol dengan Ibu karena teman laki-lakinya selalu menempel seperti lintah. Saya risih dengan tatapan laki-laki itu kepada saya.”


Adinda menundukkan wajahnya.


“Karena hal itulah kami meminta pertemuan ini diadakan, Bapak-Bapak,” kata Ayah, “Kami ingin meminta tolong kepada Bapak-Bapak dan warga lainnya untuk turut serta menjaga putri satu-satunya dari Bapak Adang Rahmat.”


“Bagaimana caranya kami bisa turut menjaga Adinda karena kami tidak bisa mengawasi Adinda 24 jam sehari palagi saat Adinda berada di dalam rumah?” tanya Pak RT.


Bramasta mengangguk sambil tersenyum. Lalu dia menceritakan semua rencananya tentang pemasangan CCTV di dalam rumah Adinda. Bapak-bapak mengangguk mengerti. Lalu sepakat untuk membantu menjaga Adinda.


“Dinda,” kata Bu RT, “Teman laki-laki Ibu kamu itu selalu pulang kan? Tidak ikut menginap di rumah?”


Adinda menatap Bu RT lalu menatap Ayah.


“Saya tidak tahu. Tapi semalam sewaktu saya pulang dari rumah sakit setelah menjenguk Om Agung, ada Ibu dan teman laki-lakinya. Saya tidak mengobrol dengan mereka, langsung masuk ke dalam kamar. Tapi pagi harinya saat saya hendak berangkat sekolah, Ibu belum keluar dari kamarnya dan saya melihat jaket teman laki-laki Ibu di atas sofa ruang tengah.”


“Apakah jaketnya tertinggal ataukah memang menginap di rumah, saya tidak tahu,” lanjut Adinda lagi.


“Ini yang kami khawatirkan, Pak Gumilar dan Pak Bramasta,” ujar Pak RT.


“Lingkungan kita bisa terkena sial dan 40 rumah tetangganya ikut berdosa karena perilaku zina mereka,” kata Pak Sani yang sedari tadi menyimak ikut bersuara, “Ada pada hadist kan?”


Pak Rt, Pak Toni dan pak Ilham mengangguk.


Ayah mengangkat tangannya, “Hadist tersebut termasuk hadist yang dhaif, Bapak-bapak. Tetangga ikut berdosa jika mengetahui perbuatan zina yang dilakukannya kemudian tidak memberikan nasehat atau upaya untuk mencegahnya.”


“Wah.. jadi ternyata hadist tersebut dhaif?” ujar Pak Toni.


Ayah mengangguk, “Iya, termasuk ke dalam hadist yang lemah. Karena dalam Islam, perbuatan dholim seseorang tidak ditimpakan atau ditanggungkan dosanya kepada orang lain.”


Semua orang mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ayah.


“Saya juga tidak rela rumah peninggalan Papa dan Mama dikotori oleh mereka,” Adinda berkata pelan.


Adisti mengelus-elus punggung Adinda.


“Eh, itu pipi Dinda kenapa?” tanya Bu RT memperhatikan lekat kedua pipi Adinda. Masih tampak bekas jarinya.


Adisti menceritakan secara garis besarnya tentang apa yang terjadi. Semua orang memandang Adinda dengan tatapan iba.


“Dinda... Yang kuat dan sabar ya Nak..” Bu RT memeluk Adinda.


“Semenjak Pak Adang meninggal, Ibu masih memberikan uang untuk Adinda kan?” tanya Bu RT.


Adinda menggeleng. Ayah dan Bramasta mengangkat kedua alisnya sedangkan yang lainnya terperangah.


“Maksud Adinda bagaimana?” tanya Adisti.


“Ibu mengambil semuanya. ATM ayah juga tabungan ayah. Teman laki-laki Ibu menguruskan surat kematian Papa. Lalu mereka berdua mengambil alih semuanya menjadi nama Ibu.”


“Dinda tahu itu semua?” Adisti bertanya.


Adinda mengangguk, “Sewaktu saya meminta uang untuk ongkos ke sekolah, Ibu tidak mau memberikannya. Biasanya diberikan Papa, ongkos dan uang jajan untuk satu minggu. Kata Ibu, sekarang keadaan keuangan tidak sama seperti dulu karena Papa sudah meninggal, jadi Ibu harus berhemat.”


Adinda menundukkan wajahnya, “Kami bertengkar. Saat saya berkata tabungan Papa tidak sedikit, Ibu berkata, sekarang sudah menjadi milik Ibu, sebagai warisan Papa. Ibu menunjukkan buku-buku tabungan Papa yang sudah diguntung sampulnya oleh pihak bank dan diganti dengan buku tabungan atas nama Ibu.”


“Subhanallah..” Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Jadi selama ini ongkos sekolah Dinda bagaimana?” tanya Bramasta.


“Uang takziah dari Om Agung..” Adinda menatap Bramasta, “Yang Om Agung beri waktu itu, lupa saya masukkan ke dalam tempatnya.”


“Tadi siang Adinda beli kue, Ayah yakin kue yang Adinda beli bukan kue murah kan?” tanya Ayah.


Adinda tersenyum lebar.


“Sewaktu mengantarkan saya naik ke taksi online dari gerai donat, Om Agung menyelipkan banyak uang di saku hoodie saya, Yah.”


“Kakak, maksud Teteh, Om Agung sudah tahu Ibu tidak memberi uang kepada kamu?” tanya Adisti.


Adinda menggeleng.


“Buat berjaga-jaga, Adinda jangan mau menandatangani apapun yang diminta oleh Ibu, ya,”kata Pak RT.


Adinda mengangguk, “Beberapa hari yang lalu, saya diminta untuk tanda tangan di atas kertas kosong. Saya tidak mau..”


“Untuk apa?” tanya Bu RT.


“Katanya untuk surat kuasa ahli waris untuk pengurusan sertifikat tanah.”


“Ah.. sudah gak bener nih..” Pak Toni menggelengkan kepalanya.


“Ibu membawa sertifikat tanah yang di Sukabumi dan Soreang.”


“Adinda punya salinan sertifikatnya gak?” tanya Pak Ilham.


“Ada Pak. Kenapa?” tanya Adinda.


“Saya butuh nomor sertifikatnya. Nanti saya akan buat notice di kantor agar pengurusan sertifikat tanah tersebut ditangguhkan dulu.”


Bramasta mengerutkan keningnya, “Memangnya Pak Ilham di kantor apa ya?”


“Ah, saya bekerja di BPN, Pak Bram,” Pak Ilham menjawab sambil tersenyum.


“Alhamdulillah,” Bramasta tersenyum lebar, “Berarti aset-aset tak bergerak milik Pak Adang Rahmat bisa diamankan ya Pak dari penguasaan sepihak.”


“Insyaa Allah, Pak Bram,” Pak Ilham mengangguk, “Saya yakin, si Ibu ini sedang berusaha membaliknamakan sertifikat ke ahli waris karena sertifikat sebelumnya atas nama Pak Adang Rahmat.”


“Tanpa balik nama ke ahli waris, mustahil transaksi resmi terjadi. Kecuali bila transaksi di bawah tangan,” Pak Ilham menjelaskan, “Ada kemungkinan, tanda tangan Adinda dipalsukan. Ada kemungkinan juga ada oknum dari kantor yang bekerja sama dengan si Ibu ini.”


“Tikus ada dimana-mana ya. Baik di instansi pemerintah ataupun di swasta,” ujar Ayah.


“Jangankan di perkantoran, di rumah tangga juga ada tikusnya. Contohnya Ibu sambungnya Adinda ini..” kata Pak Toni yang disambut tawa oleh semuanya.


.


***