CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 230 – COFFEE BREAK



Agung berdiri. Dia berjalan menuju mikrofon berada. Adinda membelalakkan matanya.


Agung tersenyum lebar dengan wajah tengilnya menatap Adinda. Menambah berkali lipat ketampanannya.


“Kepada CEO B Group, Tuan Bramasta Sanjaya, pagi ini Anda bertugas sebagai barista. Waktu dan tempat kami persiapkan.”


Semua tertawa riuh dan bertepuk tangan sambil menyerukan nama Bramasta.


Adisti menepuk-nepuk punggung suaminya lalu mendaratkan kecupan di pipi kirinya. Bramasta tersenyum lebar.


Dia berdiri lalu berjalan ke arah Agung. Lalu membungkukkan tubuhnya kepada semua orang.


“Kepada sponsor kita pagi ini, Mr. Architect dari B Group, Anton Nicholas Akbar, terima kasih banyak untuk kopi Torajanya. Sering-sering saja ya mensponsori acara kita dengan kopi-kopi nusantara.”


Semua orang memandang Anton yang sedang melongo mendengar ucapan Agung.


“Kepada Mr. Architect, pertemuan nanti mungkin bisa menyediakan Kopi Gayo, Kopi Mandailing dan lain-lain hingga Kopi Papua..”


Hans tertawa terbahak. Sangat jarang melihat Hans terbahak. Apalagi dengan busana casual seperti pagi ini. Kaos polo dan celana pendek dibawah lutut.


“Kepada Buk Istrinya CEO B Group mohon dibantu Pak Suaminya..” Agung menatap Adisti yang tengah mengobrol dengan Adinda, “Dek, bantuin Abang sonoh..”


Adisti berdiri sambil tertawa. Berlari ke arah suaminya yang menunggu di ambang pintu samping.


“Kepada Calon Istri, mau menyanyi lagi?”


Sorakan terdengar baik dari arah tikar, Gazebo bahkan ambang pintu. Wajah Adinda memerah. Dia menutupi wajahnya. Layla menepuk-nepuk punggungnya sambil tertawa.


***


Mereka pindah ke ruang tengah karena anak-anak tertidur. Nyamuk kebun membuat tidur mereka terganggu.


Adinda masih menyanyi menemani Daddy, Pak Dhani dan Ayah. Kuartet karaoke lagu-lagu nostalgia.


“Katanya ada aroma berry-nya Ton?” Hana mengamati cangkir kopi yang baru disesapnya.


“Untuk menikmati rasa asli kopi, jangan tambahkan gula,” Anton mengambil cangkir kopinya.


“Tanpa gula? Pahit dong..” Layla mengernyit.


“Justru itu seninya ngopi, Kak,” Bramasta menjelaskan, “Sesapan pertama dan kedua terasa pahit. Tapi di sesapan ketiga akan berkurang rasa pahitnya karena lidah sudah beradaptasi. Sesapan berikutnya kita bisa menikmati kopi dari rasa dan aromanya.”


“Udah kadung pakai gula..” Layla mengangkat cangkir kopinya.


“Nih cobain. Punya Abang masih pure,” Leon menyodorkan cangkirnya pada Layla.


“Merci beaucoup, Mon cher_Terimakasih banyak, Sayang_."


Agung meletakkan cangkirnya.


“Adinda mencurigai kita ada kaitannya dengan Prince Zuko. Dia menuntut penjelasan.”


Semua memandang Agung.


“Lu bilang apa ke Dinda?” Indra menyilangkan kakinya.


“Gue bilang, fokus dulu ke ujian. Setelah itu nanti gue jelasin semuanya.”


“Aman?” Adisti memandang kakaknya.


Agung mengangguk, “Insyaa Allah, aman. Dia harus tahu juga tentang ini.”


Yang lain mengangguk setuju pada Agung.


“Mr. Karl menelepon tadi,” Indra meletakkan jari telunjuk di pipi dan ibu jari menyangga rahang bawahnya.


“Terus?”


“Publik dan Netizen Jerman marah besar. Menuntut Kanselir untuk mundur dari jabatannya.”


“Padahal ini gak berhubungan langsung dengan kanselir, ya?” Hana menimpali.


Hans menggeleng, “Etos kerja masyarakat Jerman berbeda dengan kita. Apalagi di bidang politik. 11 12 dengan Jepang.”


“Terus bagaimana, Ndra?” Leon menatap Indra.


“Cincin yang dipakai Helena langsung disita dan diperiksa pihak forensik. Dia rupanya seperti Bryan. Darah korban pada cincinnya dianggap sebagai suvenir.”


Semua meringis ngeri mendengar cerita Indra.


“Beberapa kali dia diketahui sering menciumi cincinnya baik saat sendiri ataupun di tempat umum.”


“Oh my God!”


“Hasil forensiknya bagaimana?”


Indra mengangguk, “Positif. Ada darah manusia yang ditemukan di antara batu permata dan logam pengikatnya. Bisa dipastikan bukan dari satu orang. Karena petugas forensik menemukan ada tiga golongan darah yang berbeda. Pelacakan DNA sedang dilakukan.”


“Lama ya pelacakan DNA?” Adisti m


“Untuk normal saja butuh waktu 2 minggu,” Agung menjawab.


“Bagaimana dengan Bryan?”


“Bryan sudah di dalam sel bersamaan waktunya dengan Helena. Awalnya dia tidak mengakui semua perbuatannya. Tetapi setelah didesak dengan bukti-bukti yang ada, terutama video dari rekaman CCTV nightclub belasan tahun yang lalu, akhirnya dia mengakuinya.”


“Suvenir Bryan, dimana dia menyembunyikannya?”


“Dia selalu membawanya kemanapun dia ditugaskan. Kekebalan diplomatiknya membuatnya bebas membawanya kemanapun.”


“Mon Dieu!”


“Dia menyimpannya dalam kotak kaleng bekas biskuit. Ada sekitar seratus lebih k*nd*π bekas di dalamnya. Semuanya terikat dan masih terdapat cairan di dalamnya."


"Kok gue jadi mual ya?" Agung mengusap wajahnya.


“Gue gak tahan.. gue nemenin Eric saja,” Layla beranjak dari sofa menuju ruang tidur tamu.


“Ma’af..” Indra menatap Bang Leon. Lalu menatap Adisti dan Hana, “Kalian tidak apa-apa?”


Keduanya mengangguk.


Hans menggosok punggung istrinya. Mengecup rahang bawah istrinya.


“Thanks,” bisiknya.


Bramasta meremat tangan istrinya lalu mengecup jemarinya. Adisti tersenyum menatap suaminya.


“Bukti gigitan pada punggung korban terlihat jelas dan sama dengan bentuk giginya. Tapi dia bersikeras dia tidak membunuh gadis itu.”


“Bisa ya bisa juga tidak,” Hana yang duduk di pegangan sofa di samping Hans, menyandarkan tubuhnya pada suaminya.


“Para pelaku sadisme akan meningkatkan kekejaman mereka pada korbannya.”


“Bryan berkata dia tidak menyukai pisau atau benda tajam lainnya,” Indra memandang Hana.


“Berarti ada orang lain setelah Bryan yang menggarap gadis itu. Kasihan..” Hana mencekal keras lengan atas suaminya.


“Biarlah itu menjadi PR bagi aparat Filipina. Mudah-mudahan siapa saja yang terlibat bisa terungkap,” Hans menyesap kembali cangkirnya.


“Mudah-mudahan para korban Bryan berani speech up di media,” Adisti menegakkan duduknya.


“Tentang itu, tadi gue udah bagiin di WAG ya. Ada cuitan dari teman korban Bryan. Yang dibooking oleh Bryan via The Ritz,” Bramasta mengambil cangkir kopinya.


Hans mengangguk.


“Gue udah suruh anak buah gue untuk mengecek cuitan itu. Katanya kondisi gadis itu masih koma hingga sekarang.”


“Innalillaahi.. Kasihan..” Adisti dan Hana berseru bersamaan.


“Hasil pelacakannya?”


Hans membuka gawainya. Lalu membagikan laporan anak buahnya ke WAG Kuping Merah. Serentak gawai mereka berbunyi bersamaan.


“Lu dapat rekam medis korban?” Indra memandang Hans.


“Masih diusahakan.”


“Temannya itu, punya bukti apalagi selain chat dari korban tentang “tamu”nya malam itu?”


“Dia memegang handphone temannya. Perintah dari The Ritz masih tersimpan. Sedang diminta untuk difotokan oleh orang gue.”


“Kita serahkan saja kepada Pak Radit sebagai bukti. Gue rasa, kasus Bryan yang ditangani Prince Zuko is closed,” Bramasta menatap yang lainnya.


“Lothar Schuemaker sudah menghubungi Lu lagi, Ndra?”


“Belum..” Indra menggeleng.


Suara orang-orang memasuki ruangan dari pintu samping membuat semuanya menoleh. Pak Dhani yang bertubuh besar berjalan di depan. Dia tengah menerima panggilan telepon dan berbicara dengan bahasa Jerman.


“Lothar... warte mal. Mein Sohn Indra ist im moment bei seinen freunden. Du sprichst direkt mit ihm, ja_Lothar.. tunggu sebentar. Anakku, Indra sedang bersama teman-temannya saat ini. Kamu bicara langsung dengan dia, ya_.”


Semuanya masuk ke ruang tengah. Ruang tengah mendadak penuh.


“Ndra, Onkel Lothar.._Paman Lothar.._”


Indra mengangguk lalu meletakkan gawai papinya di atas meja ruang tengah. Dia menyalakan loudspeaker.


“Ja, Onkel Lothar. Was ist es?_Ya, Paman Lothar. Ada apa? _”


“Ich möchte nur Danke sagen. Vielen Dank_Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih. Terimakasih banyak._” suara Lothar sengau, beberapa kali terdengar suarat tarikan ingus. Lothar Schuemaker menangis.


“Bitte übermitteln Sie Ihren Freunden meinen Dank, Indra_Tolong sampaikan rasa terimakasih saya kepada teman-teman kamu, Indra_.”


“Sei nicht schüchtern, Onkel. Wir haben nicht viel gemacht..._Jangan merasa sungkan, Paman. Kami tidak berbuat banyak kok.._” Indra menatap pada Hans dan Bramasta. Keduanya mengangguk.


“Nein... nein... Du und deine Freunde seid großartig. Dein Vater hat mir erzählt, dass das Videoüberwachungsband schwer beschädigt war_Tidak.. tidak.. Kamu dan teman-teman kamu hebat. Ayah kamu sudah bercerita tentang pita rekaman CCTV sudah rusak parah.”


Indra terdiam tidak tahu harus bagaimana menanggapinya.


“Ich bin mir sicher, Tante Elise ist dort von Natur aus ruhig. Sein Wunsch, Bryan Amsel inhaftiert zu sehen, wurde erfüllt_Saya yakin, Tante Elise sudah tenang di alam sana. Keinginannya untuk melihat Bryan Amsel dipenjara sudah terlaksana_”


“Wir können nur so viel helfen, wie wir können, Onkel. Den Rest hat Prinz Zuko erledigt_Kami hanya bisa membantu semampu kami, Paman. Selebihnya Prince Zuko menyelesaikannya_” Indra menjawab sambil mencondongkan tubuhnya ke arah gawai.


“Die Jahre, in denen ich auf die genesung von Elise gewartet habe, haben sich ausgezahlt, da Bryan eine schwere strafe drohen könnte_Bertahun-tahun saya menunggu Elise untuk pulih terbayar sudah melihat Bryan bisa dihukum berat_.”


Indra mengangguk, “Onkel und Tante sind gute Menschen. Auf jeden Fall werde ich auch gute Leute kennenlernen _Paman dan Bibi orang baik. Pasti akan bertemu orang baik juga_.”


“Onkel ist dankbar, dich zu kennen, Indra. Wenn Sie in Deutschland sind, kommen Sie zu Onkels Haus_Paman bersyukur mengenal kamu, Indra. Kalau kamu sedang di Jerman, datanglah ke rumah Paman_.”


Indra tersenyum, “So Gott will, Onkel. Ich werde Onkel besuchen_Insyaa Allah, Paman. Saya akan mengunjungi Paman_.”


Indra tersenyum pada papinya sambil menaikkan alis sekejap. Pak Dhani mengambil gawainya lalu kembali berbicara dengan Lothar.


“Kalian bicara apa saja?” Agung menatap Indra.


Indra menjelaskan semuanya.


“Lothar Schuemaker ini.. Pria yang luar biasa ya,” Leon menatap cangkir kopinya yang sudah kosong.


“Dia menangis..” Adisti menoleh pada Indra.


“Mommy rasa bukan tangisan sedih. Dia menangis karena merasa lega dan bahagia. Bryan Amsel sudah dipenjara untuk dihukum atas kejahatannya,” kata Mommy dari ruang makan.


Para orangtua berkumpul di meja makan sekarang.


“Bryan Amsel.. Case is closed, agree? _ Kasus Bryan Amsel ditutup, setuju?_” Bramasta butuh suara bulat.


“Setuju!” suara setuju pertama terdengar dari ruang makan. Dilanjut dengan suara-suara SETUJU dari sofa ruang tengah.


Adisti menaikkan sebelah alisnya pada Agung. Agung tersenyum kecil lalu mengusap pelan puncak kepalanya.


“Nanti ya. Saya janji akan menjelaskan semuanya. Sabar..” mata Agung menatap langsung manik mata Adinda.


.


***


Satu demi satu, kasus diselesaikan.


Kasus Liliana Sukma diselesaikan oleh Shadow Team.


Kasus The Ritz diselesaikan oleh Prince Zuko.


Kasus Adinda diselesaikan oleh Shadow Team dan Prince Zuko.


Kasus Ibu Tiri Adinda – Bryan Amsel diselesaikan oleh Shadow Team dan Prince Zuko.


Mau kasus lagi? Ntar gak tamat-tamat nih novel..


🤭


Sabar ya... ❤