
Suara tepuk tangan riuh disertai seruan dari arah pantry membuat semua yang sedang berada di sofa ruang tengah menengokkan kepala mereka ke arah pantry.
“Nice job, Dinda!” suara Layla
“Upload..! Upload..!” teriak Adisti dan Hana bersamaan.
“Woiyyy!” teriak Hans, “Kalian sedang apa sih?”
Mereka yang di pantry terkekeh keras.
“Dinda sedang bikin konten,” seru Layla, “Keren tahu..”
“Gak nyangka, Kak. Dinda selama ini bikin video konten tapi gak punya keberanian untuk diupload,” Adisti melongokkan wajahnya pada Agung.
“Konten?” Anton mengernyit, kemudian menatap Agung, “Memangnya selama ini Lu gak tahu Dinda ngonten?"
Agung masih mengernyit ketika dia mengendikkan bahunya. Dia berdiri lalu berjalan ke arah pantry. Diikuti oleh yang lainnya yang mengekor di belakangnya.
"Konten apaan?" Agung menatap Adinda yang sedang tersenyum malu-malu.
“Konten baking, Om.”
“Jadi selama ini, kamu di dapur nge-baking sambil pegang handphone itu karena sedang bikin video juga?” Agung menaikkan alisnya.
“Kirain konten joget-joget kayak uget-uget...” Bramasta bergidik geli.
“Uget-uget... jadi pertama kali ke rumah ini deh,” Indra tersenyum lebar teringat saat mereka pertama kalinya berada di rumah ini saat mengantar Adisti pulang dari rumah sakit pasca jatuh di jurang.
“Hah, iya..” Brammmasta terkekeh, “Password wifi di rumah ini.”
Agung dan Adisti tertawa. Sementara yang lainnya terdiam penasaran karena tidak mengerti.
“Sudah berapa video yang dibuat?” Anton menatap Adisti.
“Sudah ada 6. Dengan yang ini 7, tapi yang ini kan masih mentahan belum diedit,” Adinda memperlihatkan gawainya pada semuanya. Vide-videonya tersimpan rapi di galerinya dengan folder baking.
“Handphone kamu ganti aja, Din. Ganti dengan handphone yang RAMnya lebih besar. Nanti Abang ambilkan dari divisi gadget ya. Hadiah Abang buat kamu. Tapi jangan dipakai buat konten yang nggak-nggak ya..” Bramasta menatap Adinda sambil menyentuh tengkuk Adisti yang tertutup hijab. Adisti membalas dengan melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya.
“Handphone canggih, cap apel digigit, Bram?” Hana tertawa.
Bramasta menggeleng. Pertanyaan Hana dijawab oleh suaminya.
“Justru untuk kamera, lebih bagus handphone buatan Korea ataupun Cina. Kalau cap apel kroak justru kurang bagus dan gak sebebas handphone lainnya dalam berkreasi gambar dan editingnya karena apel kroak itu aplikasinya beda sendiri.”
“Buat editing, nanti saya kasih hadiah tablet ya, Din. Supaya mempermudah Dinda buat ngedit. Pakai Capcut atau Adobe Lightroom?” Anton tersenyum.
“Capcut, Kak.”
Anton mengangguk, “Biasanya para pemula memang memakai aplikasi itu. Tapi gak apa-apa sih.”
“Tablet yang seperti Hyung pakai? Daebak!” Adisti menaikkan kedua alisnya.
“Bukan. Itu sih lebih ke grafis design. Kalau spek yang nanti untuk Dinda, spek untuk video editing.”
Adinda menatap terkejut pada Anton.
“Kak.. jangan terlalu canggih. Dinda gak mau. Itu mahal, terlalu mahal. Dinda kan baru pemula. Ini juga Dinda buat dengan peralatan seadanya dengan apa yang ada.”
“Gak apa-apa, Din. Terima saja. Kamu bisa buktikan ke pemirsa kamu, bikin konten dengan peralatan seadanya bisa menghasilkan video yang bagus dengan bantuan editing,” Indra menyemangati Adinda.
“Kalem saja, abang-abang kamu bakal ajarin kamu buat ngedit video gak pakai ribet. Tinggal sat set sat set doang..” Layla menepuk-nepuk pundak Adinda.
“Kalau bisa pakai dwi bahasa, Din. Supaya bisa go international juga,” Leon ikut berkomentar.
Adinda mengangguk, “Nanti Dinda masukkan teks bahasa Inggrisnya juga. Thanks sarannya Bang Leon..”
“Kenapa gak langsung diupload sih?”
“Dinda mau minta persetujuan dulu sama Om Agung,” Adinda memandang takut-takut pada Agung, “Takut Om Agung bakal marah karena gak setuju..”
“DIH!” semua kompak mencibir pada Agung.
“Apa? Kenapa gue?” Agung mengangkat kedua alisnya karena merasa tiba-tiba menjadi terdakwa.
“Lu sering jutekin Dinda ya?”
“Lu sering galakin Dinda ya?”
“Dasar kanebo kering!”
“Hisssh! Su’udzhon. Gue kan baru tahu Dinda sering buat video baking. Kalau dia ngomong juga bakal gue ijinin kok. Selama dia gak lupa dengan kewajibannya. Selama tidak membebani dia...” Agung mencebik.
“Tuh, dibolehin Din..” Layla dan Hana kompak bersuara.
“Makasih ya Om. Saya janji gak akan mengecewakan kepercayaan yang Om beri pada Adinda. Makasih banyak! Makasih Om sudah dibolehin..” Adinda menggoyang-goyangkan lengan atas Agung.
“Iya..sama-sama. Tapi gak gini juga kali Din. Gak usah goyang-goyangin lengan saya juga.. Takut khilaf nih..”
“WOIIYYY!” semua berseru ke arah Agung.
“Din, tolong jangan panggil “Om” lagi ke saya dong.. Kalau lagi jalan kayak tadi, rasanya jadi gak enak..” Agung menatap Adinda sambil tersenyum lebar.
“Gak bisa Om. Sudah nyamannya seperti itu,” Adinda kembali ke dekat microwave untuk mengecek kuenya.
“Kenapa Din?” iseng Indra bertanya.
“Takut khilaf, Bang.”
Serentak semuanya tertawa mendengar jawaban dan ekspresi polos Adinda.
Wajah Mommy dan Bu Dhani muncul di ambang pintu samping.
“Ramai banget sih?”
“Dah buruan kita makan siang bareng. Sudah selesai nobarnya?”
“Nobarnya sudah. Tapi bagaimananya belum kami bahas, Mom. Pending makan siang dulu,” Bramasta menjelaskan pada Mommy dan Bu Dhani.
“Onti Hana!” suara Eric terdengar.
Semua menoleh ke arah kamar depan.
“Wah..jagoan Moman sudah bangun,” Layla tersenyum cerah pada Eric sambil mengembangkan tangannya.
“Ya, ada apa, Sayang?” tanya Hana.
Eric berlari ke arah Layla yang langsung memeluknya.
“Baby Andra ntut kewlas banget. Au!_Baby Andra kentut keras banget. Bau!” Eric memijat hidung mancungnya sambil tangan satunya mengibas-ibaskan udara.
Semuanya tertawa melihat celoteh dan tingkah Eric. Hans dan Hana segera ke kamar depan untuk memeriksa Baby Andra.
Usai makan siang, para orang tua masih berleyeh-leyeh di gazebo. Ada juga yang mengobrol di dekat kolam ikan.
Gank Kuping Merah kembali ke sofa ruang tengah. Adinda kembali ke pantry menyelesaikan cake dibantu para istri anggota gank. Adisti memegang gawainya untuk merekam kegiatan Adinda.
“Nanti gak pakai suara kan Din?” Hana mengerutkan keningnya mengingat suara yang sedang berbicara di sofa tengah akan terdengar di rekaman Adinda.
“Nggak Mbak. Suara selalu dimatikan. Dinda timpa dengan suara musik."
Hana mengangguk-angguk.
Di sofa tengah, pembicaraan kembali ke hal serius.
“Bukan gak mungkin anak buah Tuan Thakur mengincar Adinda, Gung,” Hans menatap Agung cemas.
“Dia bisa bela diri?” tanya Anton.
Agung menggeleng.
“Beberapa kali Adisti mengajari Dinda, dasar-dasar pertahanan saat diserang dan bagaimana menyerang balik,” Bramasta menatap Hans.
“Kuda-kudanya bagus gak?” Indra menatap Bramasta.
Bramasta mengendikkan bahunya, “Gue gak pernah melihat mereka berlatih.”
Bramasta menatap Agung, “Sepertinya Kakak Ipar harus ikut melatih Adinda beladiri..”
Agung termangu, sejenak terdiam untuk berpikir kemudian menggeleng.
“Jangan gue, Bang. Gue gak sanggup.”
“Kenapa?” yang lainnya serentak bertanya.
“Takut khilaf!”
.
***
Dih, Bang Agung..
Disuruh jadi guru beladiri Adinda bawaannya takut khilaf mulu..
Maaf, baru bisa up lagi. Ada banyak kesibukan lain yang mendesak 🙏🏼🙏🏼