CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 147 – ABEGE BROKEN HEART



Bramasta sedang menghubungi rekannya di Jerman untuk melanjutkan meeting yang sempat tertunda saat Adisti pamit untuk menunggu Adinda di sekolahan.


Bramasta menatap Adisti dengan mata sedih.


“Please Bang.. ngelihatinnya jangan begitu dong.. kan tadi pagi udah oke.”


“Tapi tetap saja..”


“Cuma sebentar, Bang..”


“Tapi tetap saja...”


“Supaya kita bisa saling kangen..”


“Iya..”


“Udah ah, kelamaan. Disti pamit ya Bang..”


“Nanti dulu,” Bramasta menahan kedua lengan Adisti, “Janji ke Abang, jangan menghilang dari pengawalan. Nanti saat di sekolah Adinda, Disti jangan menurunkan kaca mobil apalagi turun dari mobil, meskipun ada pengawal.”


“Iya Bang..”


“Jangan ke mall biasa tanpa ada Abang. Ke mall milik B Group saja. Atau toko-toko mitra B Group saja. Akan ada pengawalan ekstra di sana untuk kalian berdua. Begitu juga kalau mau makan. Cari resto ataupun cafe milik B Group ataupun mitra B Group.”


“Iya Abang Sayang..”


“Disti sudah punya daftar mall, toko, resto atau cafenya kan?”


“Iya Abang Bramasta Sayang..”


“Jangan ngeyel. Abang gak mau lihat Disti cedera..”


Adisti menghela nafas panjang. Menatap suaminya yang hendak berkata-kata lagi.


Untung saja saat ini suaminya tengah duduk.


Sebelum suaminya sempat berkata-kata lagi, dia memajukan tubuhnya. Memegang leher belakang dengan kedua tangannya. Mendekatkan bibirnya, lalu CUP.


Bramasta terkejut. Tidak siap dengan tindakan Adisti. Adsiti mengakhiri ciumannya sebelum Bramasta tersadar. Gawat kalau sampai Bramasta tersadar. Bisa-bisa acara girl time-nya akan batal.


Adisti terkekeh kecil dengan pipi memerah.


“Susah amat sih pamitan buat pergi beberapa jam saja..”


“Kok udahan sih? Abang kan belum sempat bales?”


“Nanti malam saja balasnya. Salim..”


Bramasta menyodorkan tangannya. Adisti mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.


“Abang ikut ke bawah, anterin Disti.”


“Gak usah. Abang lanjutin meetingnya.”


“Abang mau bicara dengan para pengawal.”


“Abang kan tadi pagi sudah bicara tentang pengawalan Disti. Udah jangan lebay. Abang di sini saja.”


Adisti menahan lengan Bramasta untuk tetap di kursinya.


“Assalamu’alaikum Abang Bramasta. I love you Pak Suami..”


“Wa’alaikumussalam..”


Adisti bergegas berlalu dari ruangan Bramasta.


Adisti tiba di sekolah Adinda beberapa menit sebelum bel pulang terdengar. Mendengar suara bel sekolah, Adisti jadi merindukan masa-masa putih abunya dulu.


Mobil diparkir agak jauh di luar sekolah. Di bawah pohon rindang. Seorang pengawal menunggu Adinda di depan gerbang.


Pintu gerbang terbuka dari dalam, anak-anak yang berjalan kaki berhamburan keluar dari halaman sekolah. Pengawal yang ditugasi menunggu Adinda tampak kebingungan mencari Adinda.


“Pak Imron?” suara halus menyapanya.


“Nona Adinda? Wah.. ma’af, saya sampai tidak mengenali Nona..”


Pengawal yang bernama Imron itu mengamati wajah Adinda untuk meyakinkan penglihatannya.


“Kenapa Pak? Saya terlihat aneh ya?”


“Tidak, bukan begitu, Nona. Hanya saja saya pangling melihat Nona seperti ini.”


Pipi Adinda merona.


“Silahkan, Nona. Mobil sedan Lexus silver di bawah pohon di sana. Nona Adisti sudah menunggu di dalam.”


Adisti yang melihat dari kejauhan tampak sangat antusias sekali. Tidak sabar ingin bertemu Adinda. Saat hendak membuka pintu, driver menekan central lock.


“Kok dikunci?”


“Tuan Bramasta melarang Nona untuk turun dari mobil selama berada di lingkungan sekolah.”


“Saya pakai masker dan sunglasses ya?”


Driver menggeleng.


“Ma’af Nona. Saya tidak mau mengambil resiko. Apalagi sekarang adalah jam pulang. Banyak anak-anak sekolah di luar mobil. Kehadiran Nona bisa menimbulkan chaos. Pikirkan juga dampaknya bagi Nona Adinda, Nona.”


“Ah ya. Ma’af. Terimakasih sudah diingatkan.”


Adisti kembali menyandarkan punggungnya. Menyimpan lagi masker dan kacamata hitamnya di tas selempangnya.


Pintu diketuk dari luar. Driver menekan tombol central lock. Pengawal Imron membukakan pintu untuk Adinda. Adinda masuk ke dalam mobil sambil mengucap salam.


“Masyaa Allah, Adinda. Tabarakallahu. Kamu cantik sekali.”


“Cantikan juga Teh Disti..”


“Eh beneran loh. By the way, Kakak tahu gak dengan hal ini?”


Adinda menggeleng sambil tersenyum.


“Beneran?” kedua alis Adisti terangkat.


Adinda mengangguk.


“Dinda masih marah pada Kakak?”


“Om Agung menelepon Dinda kemarin malam. Meminta ma’af..”


“Oh ya?” Adisti berpura-pura tidak tahu.


“Kata Om Agung, dia tidak bermaksud untuk menyakiti hati Dinda. Tapi.. tetap saja..”


“Kenapa?” Diam-diam Adisti menekan tombol voice note di pesan chat untuk kakaknya.


Adinda menghembuskan nafas kasar. Berusaha menghalau kegelisahannya.


“Bagi Om Agung, Dinda hanya seorang anak kecil saja yang harus dijaga, dilindungi. Seperti janji Om Agung pada Papa dan Mama.”


“Memangnya Kakak ngomong apa saja kemarin?”


"Seperti biasa, Om Agung tidak banyak bicara. Hanya minta ma’af. Itu saja poin telepon semalam.”


“Aneh. Biasanya Kakak tuh orangnya bawel banget..”


“Kalau bersama teman-temannya dan keluarganya sih iya seperti itu. Tapi kalau bersama Dinda, Om Agung irit bicara. Seperti ada yang tengah dipikirkannya.”


“Maksudnya?”


“Pernah gak Teh Disti ngobrol dengan seseorang tapi pikiran orang itu sedang memikirkan hal lain. Seperti yang setengah hati mengobrol dengan kita. Tubuhnya memang di dekat kita tapi pikiran dan hatinya ada di tempat lain..?”


Adisti teringat dengan Tiyo sebelum kejadian The Ritz dengan Rita Gunaldi. Dia mengangguk.


“Teteh merasa nyaman gak?”


Adisti menggeleng.


“Dinda juga kemarin merasa seperti itu.”


Adisti melepas ikon mikrofon pada voice note. Voice note-nya terkirim kepada Agung.


“Yang Teteh tahu, Kakak tidak bermaksud seperti itu. Semalam Kakak curhat pada kami.”


“Kami?”


“Teteh dan Abang Bram.”


“Ooh..”


“Kakak belum pernah suka dengan lawan jenis seperti saat ini. Kakak tertarik dengan Dinda sejak pertama kalian bertemu.”


“Teman-teman Om Agung juga bilang begitu. Yang membuat Dinda jadi salah persepsi dengan kebaikan Om Agung.”


Adisti menatap bingung pada Adinda. Membuatnya menekan ikon mikrofon untuk membuat voice note lagi.


“Salah persepsi bagaimana?”


“Abang Hans, Abang Indra juga Kak Anton berkata, Dinda adalah wanita istimewanya Om Agung karena mampu membuat dunianya jungkir balik,” Adinda jeda sejenak. Mengatur nafasnya.


“Bayangkan, Teh. Seorang Adinda mendapat kalimat-kalimat seperti itu apa tidak merasa tersanjung? Rasanya meleleh hati ini, Teh. Membuat Dinda menyimpan harapan di sini,” Adinda menunjuk dadanya.


“Tapi kejadian kemarin sore menunjukkan bahwa persepsi Dinda salah. Om Agung hanya sebatas peduli dengan Dinda karena janjinya pada Papa dan Mama.”


“Tapi Kakak memang suka ke Dinda kok.”


Adinda menggeleng.


“Sukanya Om Agung ke Dinda bukan seperti sukanya Abang Bramasta ke Teh Adisti. Sukanya Om Agung Ke Dinda itu hanya seperti rasa sayangnya Om Agung ke Teh Disti. Itu saja.”


Adisti melepas ikon mikrofon. Voice note terkirim. Kemudian menghela nafas panjang sambil menatap wajah Adinda. Adisti menekan ikon mikrofon lagi.


“Seberapa suka Dinda kepada Kakak?”


Adinda menatap sendu pada jalanan di depan. Matanya mengembun.


“Dinda pernah menyimpan rasa untuk Om Agung. Rasa seorang perempuan kepada laki-laki. Dinda juga belum pernah merasa jatuh cinta sebelumnya. Untuk pertama kalinya Dinda merasa jatuh cinta, tapi hanya dalam hitungan hari saja, Dinda harus melupakan rasa itu.”


Hati Adisti mencelos mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan Adinda. Dia menyesali sikap kakaknya yang terlalu kaku kepada Adinda. Bahkan dalam berbicara pun memakai saya-kamu.


Dia melepas ikon mikrofon. Voice note terkirim. Biarlah kakaknya mengambil keputusan dan bertindak sendiri.


Adisti memeluk Adinda. Menepuk-nepuk punggungnya.


“Jangan terlalu cepat mengambil keputusan disaat hati dikuasai kekecewaan ataupun amarah. Bersabarlah. Semuanya butuh proses.”


Adinda menyusut air matanya dengan menggunakan punggung tangannya.


.


***


Ajarin Agung buat nembak Dinda dong ... 🤣🤣😁