
Gawai Bramasta berdering. Panggilan telepon sebelum pukul 7 pagi membuat Adisti menghentikan aktifitasnya di dapur untuk menatap suaminya yang sedang menonton siaran berita ekonomi.
“Tumben..” kata Adisti sambil melanjutkan lagi mengiris lettuce.
Bramasta melirik istrinya sambil tersenyum lebar lalu menggeser tombol terima panggilan.
“Ohayō. Haruki-san_Selamat pagi, Tuan Haruki_.” Jeda.
Adisti berhenti mengiris. Mendongak menatap suaminya yang tengah meraih remote untuk mengecilkan volume suara TV.
“Ā, kesa hassō sa reta ndesu ka? Subarashī... Dōmo arigatōgozaimasu_ Oh, jadi sudah dikirim pagi ini? Hebat... Terimakasih banyak_.” Jeda.
“Yoi. Mentenansu setsumeisho mo arimasu yo ne? Eigo de? Watashi no tsuma wa nihongo o hanasemasen’node_Baik. Ada petunjuk perawatannya juga kan? Dalam bahasa Inggris? Karena istri saya tidak bisa berbahasa Jepang_.” Jeda.
“Hai. Kore wa tsuma e no tokubetsuna okurimono ni narimasu_Ya.. ini akan menjadi kado istomewa untuk istri saya_.” Jeda.
“Wakatta. Aratamete, hontōniarigatōgozaimashita. Hikaru-san, yoroshikuonegaishimasu_Baiklah. Sekali lagi terima kasih banyak. Senang berbisnis dengan Anda, Tuan Hikaru_.”
Bramasta tersenyum lalu mengakhiri panggilan teleponnya.
Adisti melepaskan apronnya lalu melipat dan menympannya di dalam laci. Tangannya membawa salad yang ia buat untuk suaminya ke meja makan.
“Breakfast is ready, Pak Suami..” panggil Adisti sambil menuangkan orange juice untuk suaminya dan apple juice untuk dirinya.
Bramasta tidak menjawab. Dia hanya menghampiri istrinya lalu memberikan kecupan di pipi sebelum duduk di kursinya.
“Hatur nuhun, Buk Istri..”
“Sawangsulna..” Adisti memicingkan matanya, tidak biasanya suaminya berbahasa Sunda padanya.
Saat makan pun, beberapa kali suaminya mencuri pandang ke arahnya dengan senyum simpul di bibir. Saat ketahuan sedang memandanginya, suaminya langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan malu-malu.
“Bang? Pagi ini kok agak lain sih?’
“Apanya?”
“Abangnya.”
“Nggak ah. Abang biasa aja..”
Mereka usai membereskan cucian piring kotor mereka di pantry.
Adisti menggeleng.
“Semenjak Abang menerima telepon berbahasa Jepang tadi, Abang jadi beda...”
“Beda bagaimana?”
“Ya.. gitu deh. Seperti ada yang disembunyikan..” Adisti menatap lekat suaminya, “Siapa itu Hikarusan?”
“Kenalan Abang..”
“Kenalan atau kenalan?” Adisti memicingkan matanya.
“Rekan bisnis.”
“Cewek atau cowok?”
Bramasta menatap istrinya sambil tersenyum kecil.
“Disti kenapa sih? Kok berasa diinterogasi ya..”
“Jawab dulu..”
“Cowok..” Bramasta mengambil dasi yang disiapkan Adisti. Seperti yang tersadar dengan sesuatu.
“Eh, Disti gak bisa bahasa Jepang kan?”
“Nggak. Kenapa?”
Bramasta tidak menjawab wajahnya tampak lega. Di tersenyum simpul saat memakai dasinya. Adisti memicingkan matanya.
“Mencurigakan banget sih..” gumam Adisti sambil melirik suaminya yang masih senyum-senyum sendiri.
“Tumben, minta disupirin,” Adisti menatap suaminya saat mereka berdua duduk di kursi penumpang.
“Lagi pengen aja dekat-dekat Buk Istri..” Bramasta menyandarkan kepalanya ke bahu Adisti.
“Eh.. Bang.. malu ih..” Adisti menatap panik ke arah driver yang sedang tersenyum sendiri menata ke arah jalanan.
“Nggak.. nggak malu..” Bramasta mode ngeyel, lalu menatap ke arah driver, “Saya gak malu-maluin kan Pak?”
Driver tampak tidak menyangka dengan pertanyaan yang dilontarkan Bramasta. Dia tergagap, tidak siap menjawab.
“Eh.. ng.. anu..nggak Tuan..”
“Anu kenapa, Pak?” mata Adisti berbinar jahil.
“Gak pakai anu, Nona..”
Mata Bramasta melebar.
“Siapa yang gak pakai anu?” Bramasta mencondongkan tubuhnya ke depan, “Anu itu apaan sih?”
“Anu yang mana sih?” Adisti memperumit pembicaraan.
Driver terdiam sejenak. Beberapa kali menarik dan menghembuskan nafas sambil berpikir keras.
“Tadi.. maksud saya, saya bicaranya gak pakai kata anu, Nona..”
“Memangnya tadi Bapak bicara apa?”
“Kan tadi Tuan Bramasta bertanya kepada saya, malu-maluin gak pak .. saya jawab, nggak Tuan..”
“Terus anunya mana?” Adisti tersenyum lebar.
“Eh?!” Driver terperanjat, “Maksud saya...”
“Udah Pak, gak usah dijelasin. Istri saya lagi kumat jahilnya...” Bramasta terkekeh sambil menjewer telinga istrinya yang terbungkus hijab.
Adisti meringis, “Ih, Abang gak asyik banget..”
“Anu adalah kosa kata dalam bahasa Indonesia yang paling gak jelas artinya...” Bramasa menyenderkan punggungnya kembali sambil menarik Adisti ke arahnya.
“Bang..” protes Adisti.
“Gak usah genit napa?”
Bramasta terkekeh. Lalu mengerutkan kening saat melihat istrinya melakukan panggilan telepon.
“Assalamu’alaikum, Hyung..” Jeda.
“Anton?” Bramasta bertanya tanpa suara pada istrinya. Adisti mengangguk.
“Iya.. ini juga sedang otewe kantor bareng Pak Suami..”
Bramasta berusaha meraih gawai Adisti.
“Bang.. Isssh apaan sih..”
“Loudspeakernya, nyalain,” perintah Bramasta tak terbantahkan.
“Dis.. nurut ke Pak Suami napah? Hyung gak mau gaji Hyung dipotong Pak Bos looooh,” suara Anton memenuhi mobil.
“Tuh dengerin..” Bramasta terkekeh pelan.
Adisti meleletkan lidahnya.
“Hyung.. ada yang mau Disti tanyakan. Urgent nih.”
Bramasta mengerutkan keningnya menatap Adisti.
“Apa? Kenapa gak ditanyain saja ke Pak Bos?”
“Justru itu sumbernya dari Beliau..” Adisti melirik suaminya.
Bramasta berdecak, “Apaan sih Disti nih...”
“Hikarusan itu nama cewek atau cowok?” pertanyaan Adisti membuat tawa Bramasta meledak.
“Hikaru namanya. San itu panggilan umum kepada laki-laki ataupun perempuan yang dihormati," Anton menjelaskan.
“Oke. Jadi Hikaru itu nama laki-laki atau perempuan?”
Anton terkekeh.
“Hikaru itu nama umum untuk anak laki-laki. Tapi orangtua Jepang sekarang kadang tidak melihat gender lagi dalam penamaan anak mereka. Mungkin saat itu anaknya lahir perempuan sedangkan orangtua si bayi menginginkan anak laki-laki, makanya diberi nama seperti anak laki-laki..”
“Means.. it’s unisex name for now. Just like Andy or Sydney_Artinya.. sekarang sudah jadi nama dengan gender apa saja ya. Seperti nama Andy atau Sydney..” Adisti menatap suaminya sambil memicingkan matanya.
“Exactly,” Anton terkekeh.
“Apaan sih? Beneran tadi yang nelepon Abang itu Hikaru cowok, Sayang...” Bramasta menjelaskan pada istrinya.
Dari gawai Adisti terdengar gelak tawa Anton.
“Ya Allah.. pagi-pagi gini ditemani kalian betul-betul hiburan banget..”
“Satu lagi, Hyung..”
“Apa?”
“Apa artinya watasinosuma? Cuma kata itu yang Disti ingat..”
Bramasta tergelak keras hingga airmata muncul di sudut matanya. Anton juga ikut tergelak.
“Hyuuuuung!”
“Iya..iya..” susah payah Anton menghentikan tawanya. Setelah mengatur nafasnya dia menjawab cepat sambil terkekeh geli, “Watashi no tsuma, penulisan latinnya 3 kata, artinya istri saya.”
“Eh?!” Adisti tidak menyangka dengan jawaban dari Anton.
Jadi, prasangkanya ternyata salah. Suaminya tidak merayu cewek Jepang bernama Hikaru. Tapi untuk menutupi rasa malu, Adisti bertanya pada suaminya. Tentu saja setalah mengakhiri teleponnya dengan Anton.
“Jadi, Abang ghibahin Disti dengan orang Jepang? Ghibah bilateral nih?”
Bramasta menyusut air matanya dengan ibu jarinya. Tangannya bergerak cepat meraih tubuh istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya.
Hidungnya mengunyel-unyel pipi Adisti dengan gemas. Adisti meringis kemudian mendorong suaminya.
“Sakit!”
“Eh, maaf. Apanya?”
“Bekas jahitan di punggung rasanya tertarik..” Adisti meringis memegangi punggungnya.
“Ma’af.. ma’af ya..” Bramasta terlihat panik sambil mengelus punggung Adisti.
Adisti mengangguk. Dia melepas sepatunya. Lalu melipat kakinya dan bergeser ke arah suaminya. Merebahkan tubuhnya ke dada suaminya.
“Jangan ditarik lagi seperti tadi.. sakit. Biarkan Disti yang bergerak secara sukarela sendiri..” kata Adisti sambil memejamkan matanya menikmati belaian tangan suaminya di tempat yang terasa sakit.
“Bergerak secara sukarela..... hmm,” Bramasta tersenyum simpul sambil menatap wajah istrinya yang terpejam.
Saat hendak memasuki lift, gawai notifikasi chat Bramasta berbunyi.
“Kakak Ipar?” Bramasta mengerutkan keningnya lalu membaca chat di WAG Kuping Merah.
“Kakak? Kenapa dengan Kakak?” tanya Adisti penasaran.
“Kakak Ipar meminta Hans untuk menghubungi Pak Raditya. Adinda bersedia menandatangani berkas ijin pembongkaran makam serta autopsi jenazah papanya.”
“Semudah itu? Secepat itu? Bagaimana bisa Adinda menerima itu semua?” Adisti penasaran, menyenderkan tubuhnya pada lengan Bramasta agar bisa ikut membaca chat WAG Kuping Merah.
“Itu juga yang ditanyakan oleh kami semua..” Bramasta menatap Adisti, “Alhamdulillah gitu loh..”
“Eh iya.. alhamdulillah. Disti kaget Bang.. Gak menyangka..” Adisti menatap layar gawai suaminya lagi, “Ih.. Kakak ngetiknya lama..”
Lift berdenting. Bramasta memasukkan gawainya ke saku jasnya.
“Yaaa yaaa kok malah dimasukin sih?”
“Nanti juga kalau Kakak Ipar sudah selesai mengetik notifikasinya bunyi...” Bramasta terkekeh sambil menggenggam jemari istrinya untuk keluar dari lift.
***
Baru dengar ada ghibah bilateral. Adisti cemburu langsung keluar kata-kata ajaib deh..😁
Habis nulis, langsung dengerin suaranya Hikaru Utada, First Love. 😍