
Pagi yang basah dengan kabut menutupi pemandangan di bawah balkon. Gerimis kecil membuat Adisti membuka lebar semua jendela balkon.
“No sunrise view this morning?_Gak ada pemandangan matahari terbit ya pagi ini_” Bramasta datang langsung memeluk pinggang istrinya yang sedang menatap luar.
“Hu um. Tapi gerimisnya indah..”
“Abang ingat lukisan Disti tentang hujan. Sedih banget melihatnya...” Bramasta mengecup pundak kanannya.
“Karena dulu Disti melukis disaat sedih.. warna-warnanya juga cenderung gelap dan suram ya,” Adisti menoleh pada suaminya. Dia harus mendongak untuk menatap suaminya dari jarak yang sedekat ini.
“Kalau Abang lihat, lukisan Disti sekarang berbeda jauh dengan lukisan Disti sebelum menikah. Garis dan goresan pisau paletnya masih sama. Tapi warnanya lebih cerah. Bright and in love_Terang dan kasmaran_.”
Adisti memeluk suaminya erat. Menempelkan pipinya di dada suaminya yang terbalut T-shirt bertuliskan Tokyo. Sebelum akhirnya berjinjit untuk mengecup bawah dagu suaminya.
“Because I’m in love with you. Thank you so much..”
Bramasta menatap ke bawah. Tepat ke manik coklat istrinya.
“Buk Istri...”
“Ada kejutan yang menunggu Abang di kantor nanti,” Adisti buru-buru memotong ucapan suaminya sebelum suaminya mengajak yang iya-iya.
“Apaan?”
“Surprise Bang..”
“Ke kantor yuk, sekarang..”
“Dih!” Adisti mencibirkan bibirnya.
“Laah!”
“Sarapan dulu. Croissant sama saladnya sudah siap dari tadi..”
“Merci beaucoup, Buk Istri..” Bramasta menggandeng tangan Adisti ke meja makan.
“Bang Hans dan Anton bagaimana kabarnya?”
“Bang Hans pulang jam 1 dini hari. Anton masih di markas. Kakak Ipar bergabung dengan Anton jam 4.”
“Kakak ikut gabung?”
“Iya. Gak bisa tidur katanya. Kepikiran Anton,” Bramasta terkekeh.
“Terus Prince Zuko bagaimana?” Adisti menyodorkan wadah himalayan salt.
“Alhamdulillah aman. Gak ada yellow light lagi sejak kita ada di sana...”
“Terus, kenapa Anton gak pulang saja?”
“Abang juga udah ngomong begitu. Tapi Disti tahu sendiri, Anton kan insomnia parah..”
“Nanti Disti mau WA Tante Dhani. Minta teh buat Hyung Anton..”
Bramasta terkekeh.
“Kok sepemikiran dengan Indra sih?”
“Woyyadooong.”
“Issssh.”
“Nanti malam launcing isi flashdisk dari Pak Raditya?”
Bramasta mengangguk. Menatap pada mangkuk salad yang sudah kosong.
“Kenapa Bang?” Adisti mengernyit.
“Kok Abang masih lapar lagi ya?”
“Mungkin pengaruh cuaca Bang,,”
“Cari jajanan di jalan yuk,” Bramasta berdiri sambil mengangkut peralatan bekas makannya ke pantry, “Abang ingin makan bubur kacang ijo..”
“Bubur kacang ijo di pagi hari? Di pinggir jalan??” Adisti memandang keheranan, “Gak bakalan nemu, Bang. Yang di pinggir jalan adanya buka saat sore. Kalau yang pagi hari ada di komplek perumahan tapi biasanya keliling.”
“Ya sudah bubur ayam saja. Yuk.”
“Bang..”
“Pakai baju kayak gini aja. Kan gak enak kalau kita pakai baju kantor.”
“Baju kerjanya dibawa saja ya, supaya gak usah bolak-balik.”
“Buk Istri pintar!” Bramasta mengecup puncak kepala Adisti yang tengah meletakkan mangkuk bekas salad di bak cuci piring.
***
Indra bersidekap melihat Bramasta dan Adisti di lobby B Group. Kedua alisnya terangkat. Matanya menatap penampilan keduanya dari atas hingga bawah.
“Ih, Bang Indra kenapa sih?” ketiganya berjalan menuju lift.
Beberapa karyawan yang berpapasan mengucap salam.
Begitu sampai di dalam lift yang hanya berisi mereka bertiga, Indra baru berbicara.
“Bagus ya.. kalian. Ke kantor pakai baju santai banget...”
“Tapi gue juga pakai jas, Ndra,” Bramasta mulai protes.
“Hmmh! Mau jadi contoh yang buruk bagi bawahannya?” Indra masih bersidekap.
“Nanti kita ganti kok di atas. Baju kami dibawakan driver ke atas..” Adisti .
“Tadi kami jajan bubur ayam kaki lima,” Bramasta menampilkan cengirannya, “Makanya kami pakai baju santai. Kan gak enak dengan pengunjung lainnya kalau pakai baju kerja.”
“Gak ada cerita!” Indra melengos dengan tangan masih bersidekap.
Indra yang sedang meletakkan tas kerjanya di meja menatap mereka dengan keheranan.
“Kalian kenapa ngikutin gue? Katanya mau ganti baju?”
“Mau ngasihin ini...” Bramasta mengangkat tinggi-tinggi tas plasik jinjing.
Alis Indra berkerut.
“Bubur ayam, Bang..” Adisti menjelaskan.
Bramasta meletakkannya di atas meja sofa.
“Tuh Disti ingat sama Lu, Ndra. Dibeliin dua. Berbagi dengan Anton gih. Tuh anak udah datang belum?”
Indra terkekeh lalu menekan nomor extension ruangan Anton.
“Assalamu’alaikum.. Ton ke ruangan gue ya. Ada rejeki enak nih pagi-pagi...”
Indra meletakkan lagi gagang teleponnya.
“Bang Indra udah duluan su’udzhon ih. Jelek tahu tampang Bang Indra tadi..”
“Jelek bagaimana?” Indra mendongak menatap Adisti yang sedang mencebik.
“Tadi tuh... di lift..” Adisti menirukan tingkah Indra di lift tadi.
Tangannya bersidekap dengan alis terangkat dan tatapan sombong. Bibirnya tersenyum miring, sinis.
Bramasta tertawa keras.
“Abang gak kayak gitu ah,” protes Indra.
“Jelek tahu Bang!” Adisti tidak peduli dengan protes Indra, “Udah mirip Jin Tomang!”
“Eitttss! Setdah! Astaghfirullah...” Indra mengusap wajahnya lalu menatap Bramasta yang kian terkekeh, “Bram.. bini Lu tuh Bram..”
“Assalamu’alaikum.. Siapa yang mirip Jin Tomang?” Anton memasuki pintu sambil terkekeh.
Bramasta menunjuk Indra. Keduanya lalu terkekeh lagi bersama.
Indra mencebik. Menatap Adisti dengan sorot mata kesal.
“Pak Bos tumben bajunya casual looks?” Anton menatap Bramasta, “Keren!”
“Tuh, Bang..” Adisti menepak lengan Indra dengan keras membuat Indra mengernyit.
“Dis..!”
“Eh, ma’af Bang.. terlalu kencang ya. Ma’af... ma’af ya...”
“Braaaaaam!” Indra menatap kesal pada Bramasta yang kian terkekeh bersama Anton, “Bini Lu.. udah verbal bullying ke gue, main fisik pula...”
“Halaaagh!” Adisti menepis tangannya di udara, "Cemen amat sih Bang Indra ini.”
“Sudah, kalian berdua duduk di sini,” Bramasta menepuk sofa di sampingnya sambil menatap istrinya, “Kalian berdua makan dulu. Nanti keburu dingin buburnya.”
Adisti mengeluarkan wadah sterofoam dari plastik jinjing. Dia menyodorkannya pada Indra dan Anton berikut sendoknya.
“Weissz disiapkan oleh Buk Bos.. Makasih ya Buk..” Anton terkekeh senang.
“Sambalnya buka sendiri ya. Pakai gunting jangan digigit plastik sambalnya. Nanti kena baju, berabe..”
“Perhatian banget memang istri Lu, Bos..” Indra terkekeh sambil berdiri mengambil gunting di atas mejanya.
“Woyyadoooong...” Bramasta terkekeh.
“Hyung Anton sama sekali belum tidur?”
Anton yang sedang mengaduk buburnya menatap Adisti sejenak.
“Sempat tidur sebentar. Jam 3 dini hari..”
“Terus saat Kakak datang jam 4, Hyung bangun lagi dong?”
Anton menggeleng.
“Gak. Bang Agung tidur bareng gue..”
“Lah tuh bocah cuma pindah tidur doang dari apartemen ke markas?” Indra mengaduk bubur ayamnya.
“Please deh kalian berdua. Bisa gak sih makan bubur ayam gak usah diaduk seperti itu?” Bramasta menatap sebal kepada mereka.
“Iya nih. Merusak pemandangan tahu. Bikin ilfil lihanya..” Adisti menggamit lengan suaminya.
“Oh..tidak bisa..!” Keduanya serempak menjawab.
“Kita kan tim bubur diaduk, ya Bang,” Anton memandang Indra yang mengangguk-anggukkan kepala.
“Yuk ah, kita cabut aja. Jadi eneg lihat bubur yang diaduk,” Bramasta berdiri sambil menggenggam jemari Adisti.
“Woiyy, kemana woiyy?” Indra mengipas-ngipas mulutnya yang kepanasan.
“Ganti baju!”
.
***
Babang Indra dikatain mirip Jin Tomang padahal dia lebih mirip Chow Yun Fat. Adisti tuh ya.. benar-benar deh.
Btw, kalian tim mana?
Tim Bubur Diaduk atau Tidak Diaduk?