
Gelak tawa terdengar membahana dari ruangan rapat di markas Shadow Team di gedung AMANSecure Corp, salah satu anak perusahaan Sanjaya Group.
Agung baru saja bercerita tentang Adinda yang menyebut mereka seperti anggota Power Rangers.
“Gue sudah menyatakan diri sebagai Ranger Hijau,” Agung terkikik geli.
“Gue Ranger Biru ya,” Indra mengacungkan jarinya.
“Gue Ranger Silver,” kata Bramasta.
“Gak bisa. Mana ada Ranger Silver,” Agung menggeleng.
“Ranger Coklat?” Bramasta menawar lagi.
Agung menggeleng lagi sambil menepis tangannya.
“Gak ada..”
“Ya sudah, Ranger Hitam,” Bramasta tersenyum lebar sambil meraih spidol hitam di hadapannya.
“Gue Ranger Merah,” Hans tersenyum puas. Dia msih mendapat warna favoritnya.
“Ranger Oren ada gak Bro?” Anton melepas headset yang dikenakannya.
“Nope. Adanya Kuning, Ton..” Agung tersenyum lebar.
“It’S OK. Kuning gak apa-apa. Masih saudaraan dengan oren..” Anton terkekeh lagi.
“Bang Leon apa dong?” Indra memandangi Agung.
“Karena orangnya juga gak ada di sini, maka dia gak bisa milih warna. Ranger Cyan.”
“Memang ada? Ranger Cyan?” Bramasta terdengar sangsi.
“Ada. Di Power Rangers versi bule. Kalau versi Jepang, warna yang tersisa cuma pink. Tega mau ngasih warna pink untuk Bang Leon?”
“Eric bakal ngamuk-ngamuk kalau lihat bokapnya pakai warna pink..” Bramasta terkekeh.
“Kita ini lagi ngomongin apaan sih? Ributin warna apaan kayak yang betulan mau cosplay Power Rangers aja.." Indra tergelak.
“Why not?” Hans terkekeh sekarang, “Baby Andra bulan depan setahun. Kita pakai kostum Power Ranger saja bagaimana?”
Semua mendadak tertawa.
“Dih!”
Gawai Bramasta berdering. Layarnya tertulis Buk Istri dengan emot love. Panggilan video call.
“Assalamu’alaikum..” salam Bramasta.
Tidak ada suara Adisti yang menjawab. Layar gawai menampilkan teras rumah sempit di dalam gang. Teras yang hanya selebar 1 meter lebih sedikit. Di dalam ruang tamunya yang sempit, ada dua orang pria berseragam duduk di atas karpet sederhana dan seorang ibu yang berwajah kuyu dengan mata sembab diapit dua anaknya yang masih usia SD dan SMP.
Bramasta menatap heran pada gawainya. Beberapa kali memanggil nama istrinya tapi tidak ada respon. Agung tampak khawatir.
Gawai Hans berbunyi. Panggilan masuk.
“Assalamu’alaikum. Kamu bertugas mengawal Nona Adisti kan? Ada apa sebenarnya?” suara Hans terdengar menuntut. Jeda agak lama.
“OK. Thanks ya. Hati-hati. Jaga dengan baik. Segera kabari kalau ada apa-apa..” Hans mengakhiri panggilan masuknya.
“Bram, sambungkan ke layar monitor. Ton, langsung rekam ya.”
“Ini udah gue rekam semenjak panggilan masuk, Hans,” Bramasta menyerahkan gawainya pada Anton. Hans mengacungkan jempolnya.
Anton dengan sigap menyambungkan konektor dengan kabel data yang menghubungkan gawai dengan layar proyektor. Audio dan visual dari handphone Adisti diterima dengan baik.
Pria berseragam yang berperut buncit mengangsurkan sebuah stofmap kuning kepada si Ibu, janda dari driver ojek.
“Kami menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas meninggalnya Bapak Anas. Sebagai bentuk rasa duka cita, kami berikan uang santunan kepada Ibu, mohon diterima dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Selain itu, kami juga memberikan bantuan sembako yang nanti akan diturunkan dari mobil oleh anak buah saya. Bantuan sembako selama tiga bulan ke depan dari kami.”
Pria berseragam satunya mengangkat amplop coklat di tangannya sambil tersenyum.
Pria berperut buncit melirik temannya. Dia memandang Janda Pak Anas sambil tersenyum.
“Tapi sebelum itu, tolong Ibu tanda tangani dulu surat perjanjian untuk tidak melakukan tuntutan hukum kepada kami.”
Dia menyodorkan stofmap kuning kepada Janda Pak Anas. Ibu itu menerima stofmap itu dengan tangan gemetar. Dia membukanya dengan perlahan.
“Saya harus menandatangani ini sebelum menerima uang duka?” Ibu Anas menatap lekat wajah pria berseragam di hadapannya, “Kalian butuh tanda terima untuk uang duka?”
Pria buncit itu mengangguk, “SOP-nya memang seperti itu, Bu..”
Ibu Anas mendengus kemudian tersenyum miring.
“Kalian masih butuh tanda terima dari keluarga yang tengah berduka karena kehilangan? Saya walau orang kecil dan bodoh, seumur-umur baru tahu harus memberikan tandatangan sebagai tanda terima pemberian uang duka..”
“Ini SOP kami Bu..” Pria Buncit itu mengulang lagi kalimatnya.
Pria yang satu lagi menepuk siku Pria Buncit. Menyuruhnya untuk berhenti berbicara.
“Ibu... ma’af kan rekan saya. Tanda tangan yang kami minta dari Ibu bukan untuk tanda terima uang duka ataupun bantuan sembako yang akan kami berikan.”
Anak sulung Ibu Anas mengambil stofmap kuning dari tangan ibunya. Dia mengambil kertas di dalamnya dan membaca cepat poin-poin penting di dalamnya.
“... meminta pihak keluarga almarhum Anas Abadi untuk tidak berbicara di depan media pers apapun terkait kematian almarhum,” anak laki-laki yang beranjak remaja itu memandangi kedua pria berseragam di hadapannya.
“... meminta pihak keluarga almarhum Anas Abadi untuk tidak menuntut instansi kami terkait insiden yang menyebabkan tewasnya almarhum,” anak laki-laki itu memicingkan matanya.
“Sudah Bu, tidak usah ditandatangani,” anak itu mengambil stofmap lalu mengembalikan lagi kertas ke dalamnya.
Dia menyodorkan stofmap itu ke pria berperut buncit.
“Saya, Nazrul Abadi bin Anas Abadi, anak pertama dari almarhum Anas Abadi, mewakili keluarga almarhum, meminta dengan sangat untuk membawa kembali uang duka dan sembako yang tadi Bapak-Bapak maksudkan. Keluarga kami masih berduka dan kehilangan. Bapak saya baru semalam dikebumikan. Tolong jangan buat Ibu kami menjadi semakin sedih.”
“Nisa tidak mau uang kalian. Nisa tidak mau sembako kalian. Nisa hanya mau Bapak masih ada dan sehat. Nisa butuh Bapak. Kalian bisa bawa Bapak ke rumah ini lagi?” anak perempuan berkerudung biru pudar itu memandangi para pria berseragam dengan mata beningnya.
Ibu Anas membelai kepala anak perempuannya, “Nis, yang ikhlas ya. Ini sudah ketentuan Allah. Sudah takdir Bapak pergi lebih dulu daripada kita.”
Ibu Anas memandangi kedua pria berseragam itu, “Bila sudah tidak ada keperluan lagi, mohon tinggalkan kami, Pak. Kami masih sangat berduka dan kehilangan.”
“Tapi Bu...”
“Saya kira ucapan anak sulung saya jelas adanya untuk dimengerti Bapak-Bapak yang terhormat.”
“Ibu mengusir kami?!” Pria yang duduk di samping perut buncit menegakkan duduknya.
Gambar pada layar proyektor bergoyang. Sudut pandangnya berubah. Posisi kamera sekarang lebih tinggi dari posisi sebelumnya.
“Assalamu’alaikum.. Ma’af dengan keluarga almarhum Anas Abadi?”
Ibu Anas berdiri menatap Adisti. Begitu pula dengan kedua anaknya.
“Kak Adisti ya? Adistinya Bramasta yang terkenal itu?” anak perempuan pemilik mata bening menatap Adisti dengan penuh kekaguman.
“Oh..iya. Adisti yang itu..” Ibu Anas tampak terkejut.
Adisti menyalami Ibu Anas. Kedua anak Ibu Anas menyalimi Adisti. Perspektif kamera berubah lagi. Kali ini menyoroti ruang tamu dari sisi dalam ke arah luar.
Sempitnya ruangan membuat para pria berseragam itu terdesak di pojok. Sementara di luar rumah, dipenuhi oleh tetangga dan rekan-rekan kerja almarhum yang masih mengenakan jaket ojek online.
Si Sulung mendekati para pria berseragam itu.
“Silahkan, Bapak-Bapak. Seperti yang tadi saya dan Ibu sampaikan,” telapak tangannya diarahkan ke arah pintu, “Harap maklum. Rumah kami sempit, jadi saat seperti ini menerima tamu harus bergantian.”
“Tapi ini jumlah uangnya banyak loh Dek,” Si Perut Buncit masih mencoba berbicara dengan si Anak Sulung yang pemberani.
“Silahkan bawa kembali. Bila ingin memberi lakukan tanpa syarat apalagi ini berkaitan dengan uang duka. Silahkan Bapak-Bapak meninggalkan tempat kami.”
“Ma’af, ada apa ini ya?” suara Adisti terdengar.
Pria berperut buncit tampak tergagap. Pria yang satu lagi membisiki di telinganya.
“Kami permisi. Selamat siang. Assalamu’alaikum.”
Keduanya meninggalkan tempat itu diiringi sorakan “huuu” dari para rekan dan tetangga almarhum.
Adisti mendekati Anak Sulung. Dia menepuk bahunya.
“Kamu Nazrul? Saya yakin, Pak Anas pasti bangga punya anak laki-laki yang bisa menjaga Ibu dan adiknya. Kamu hebat. Kamu pemberani dan tahu harus bertindak apa.”
Adisti mematikan panggilan video callnya pada suaminya.
“Astaghfirullah.. selain minim empati ternyata minim adab juga ya..” Agung menggeleng tak percaya.
“Wow ada yang siaran langsung tentang kejadian di rumah duka..” Anton menghubungkan ke layar proyektor, “Komentarnya seru.”
Gawai Hans berdering. Membaca namanya, Hans langsung menerima panggilannya dan mengaktifkan tombol loudspeaker.
“Assalamu’alaikum Pak Raditya..”
“Wa’alaikumussalam Tuan Hans. Lihat medsos sekarang?”
“Tentang siaran langsung di rumah duka?”
“Ya. Apa yang dilakukan Nona Adisti di sana?”
.
***
Waduh... Masalah lagi kah?